Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Kau sudah siap mati?


__ADS_3

Gabriela menangis sesenggukan


menahan panas perih serta nyeri yang menjalar di sekitar punggung dam juga


kaki tangannya. Bahkan untuk mengeluarkan suara tangisan pun dia sudah tidak


punya tenaga. Terlihat gadis itu berusaha untuk berdiri. Sambil tertatih dia


mulai melangkah selangkah demi selangkah. Tapi sisa tenaganya sama sekali tidak


bisa mengimbangi berat badannya. Dan pada akhirnya dia terjatuh, gadis malang


itu terlihat lemas tak berdaya. Saat akan berdiri tangan kokoh terulur


didepannya. Dia menegakkan kepalanya dan ternyata orang itu adalah pria yang


sangat ditakutinya.


Marco segera menggendong tubuh


Gabriela ke dalam mobilnya. Sungguh saat ini dia tidak bisa berkata apa apa.


Dia tau apa yang di rasakan gadis itu. Marco menyibak lengan baju Gabriela,


seketika hatinya teriris dengan pemandangan itu. Kulit putih itu penuh dengan


kemerahan yang mulai terlihat membiru. Dia melihat bagaimana brutalnya dia di


pukuli. Bahkan bekas kemerahan itu terlihat seperti bekas cambuk.


"Kita kerumah sakit


Ger!!" ucap Marco mengarahkan Gerald asistennya.


"Tidak tuan...saya..saya


baik baik saja. nanti ini akan sembuh sendiri:"


Marco menatap nanar gadis yang


masih sesenggukan itu.Tanpa sadar marco menyibak rambut kusam yang menutupi


wajah Gabriela. Nafas gadis itu naik turun berlomba dengan detak jantungnya.


Tubuhnya gemetar serta terlihat sudut bibir Gabriela berdarah.


Marco mengusap sudut bibir

__ADS_1


Gabriela dengan tissue. Sambil terisak gadis itu menolak dan meraih tissue dari


tangan Marco. Marco tau jika gadis yang di depannya ini sedang menahan tangis.


"Lebih cepat Ger!!"


"Jangan khawatirkan saya


tuan saya baik baik saja" Ucap gabriela. Mendengar itu marco geleng geleng


kepala. Kata baik baik saja terang terangan terucap padahal dia sedang terluka.


Sisi elegan perempuan yang jarang diketahui banyak orang. Tidak semua namun


kebanyakan perempuan seperti itu.


Pagi hari tiba.


Marco terusik dari tidurnya saat getar ponsel miliknya terasa. Marco bangun dan ternyata ini sudah pagi.


Marco duduk memandangi wajah teduh Gabriela. Gadis itu bisa tidur setelah subuh. Selama beberapa jam dia meraung meraung bagaikan serigala di tengah malam. Panas perih di sekujur tubuhnya terasa dua kali lipat saat dokter dan perawat mulai mengolesi tubuhnya dengan seleb. Bekas pukulan yang lebih mirip bekas cambuk itu terlihat mulai bengkak kebiruan. Bahkan tidur pun dia tidak bisa telentang karena bekas itu paling banyak di punggungnya.


Walau jarak radius beberapa meter namun Marco bisa melihat


gadis kecil yang malang sedang terbaring tidak berdaya diatas bed ruang super VIP yang baru saja dia pesan.


Manusia apa yang tega mencambuk anak remaja seusia Gabriela. Apa dia tidak punya pikiran? Siapa dia ?


Entahlah ada banyak pertanyaan yang muncul di hatinya yang mungkin sebentar lagi bakal terjawab.


Mendengar Gabriela kabur dari rumahnya awalnya dia emosi karena gadis itu nekat mengkhianatinya. Namun sekarang dia merasa ada hal yang sulit di ungkapkan. Mungkin itu rasa  kasihan atau entahlah Marco juga bingung.


Beberapa menit kemudian Marco menerima laporan dari anak buahnya bahwa Mahalini berhasil lari keluar dari negeri ini. "Bukankah sudah kubilang blok semua identitasnya agar dia tidak bisa lari!!" Seru Marco geram. Dan ternyata suaranya membuat Gabriela terbangun. Gadis itu duduk sambil meringis.


"Apa yang kau lakukan! tetap disini!" Marco melompat dari sofa untuk menghalangi gadis itu turun. Seketika sekujur tubuhnya bergetar saat tatapannya dengan Marco bertemu.


Kesadaran Gabriella sepertinya sudah pulih seratus persen. Gadis itu melirik lengannya yang berdenyut karena di pegang keras Marco.


"Maaf" ucap Marco sambil menurunkan tangannya. "Apa yang kau rasakan? " Tanya Marco dengan suara datarnya. Gadis itu menggeleng. "Aku tidak apa apa tuan"


"Kenapa kau dicambuk? siapa wanita itu?" Tanya Marco bercecer.


Jantung Gabriela langsung berdetak kencang. "Sa...saya tidak tau" Ucap Gabriela


"Tidak tahu? yakin?" Sebelah alis Marco naik membaca gelagat aneh gadis ini. "Lalu kenapa kau dipukul?"


Gabriela terdiam sejenak. Dia tidak mungkin memberitahu itu ibunya yang ada semua pasti semakin ruam.

__ADS_1


"Kau tau aku paling tidak suka menunggu" Nata datar Marco seperti mengatakan Jawab aku! Namun Gabriela tidak membuka suara dia masih memilah milah benang benang kusut yang sedang sangkut menyangkut didalam otaknya.


"Aku ganti pertanyaan" Ucap Marco menarik kursi kemudian duduk. "Kenapa kau lari dari rumah!" Tatapan membunuh penuh intimidasi. "Kau sudah siap mati?".


"maafkan saya tuan! saya tidak lari" Gabriela mulai bercucuran air mata. Ingatannya kembali saat Marco ingin memasukkannya ke dalam mesin. Wanita itu ketakutan. "Saya tidak lari tuan, saya .... "


Marco menatap kedua bola mata Gabriela mencari kebohongan.


"Aku hanya ingin memberi ibuku uang tabunganku membeli obatnya karena saya tidak punya gaji" Ucap gadis itu tanpa sadar kalimat itu benar benar semakin menambah banyak pertanyaan konyol yang mulai menari nari di kepalnya.


Beberapa saat kemudian home service datang. Dia meletakkan nampan di atas meja. Marco menggeser meja itu dan membuka penutup nampan.


"Makanlah aku keluar sebentar." Marco membenarkan jas nya dengan langkah panjang meninggalkan ruangan. "Aku tidak akan mengampuni mu jika kau berani melewati pintu ini" Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.


Saat pintu itu tertutup rapat gadis itu terisak. Entah bagaimana cerita hidupnya setelah ini. Ibu? dia sudah bagaimana? Entah apa yang terjadi pada ibu setelah ini Gabriela tidak tahu.


Tante Mahalini? kenapa kau berbohong padaku. Kenapa kau jahat samaku?


Sambil menangis dia mulai memakan bubur yang sudah bertabur dengan sup dan sayuran hijau. Perutnya yang kelaparan dari tadi malam memang sudah minta di isi.


"Awasi dia" Ucap Marco tepat saat dia menutup pintu. Dua pengawal yang berjaga di depan pintu mengangguk. "Jangan khawatir tuan".


Marco menenggerkan kaca mata hitam nya. Dia berjalan melewati koridor rumah sakit. Para staf dan petinggi rumah sakit menunduk saat berpapasan dengan pria maha kuasa ini. Bagaimana tidak rumah sakit itu adalah miliknya.


Di depan mobil Gerald sudah menunggu dan membuka pintu. "Silahkan tuan"


"Cari tau secara detail mengenai gadis bodoh itu. Detail!" Ucap Marco menegaskan semua informasi harus akurat dari yang kecil hingga besar tanpa terkecuali.


"Percayakan pada saya tuan" Ucap Gerald mulai melajukan mobilnya.


"Bagaimana dengan wanita penghianat itu?"


"Dia berhasil kabur tuan. informasi dari Danri wanita itu memakai identitas orang lain. kalau identitasnya tidak berlaku lagi"


Marco mengeraskan rahangnya. Dari awal dia sudah bisa menebak jika wanita itu adalah serangga yang layak di perhitungkan. "Nyalinya cukup kuat bermain denganku" Marco geram sendiri mengingat wanita itu.


Jika mengingat wanita itu rasanya Marco ingin benar benar menyiksa Gabriela sebagai gantinya untuk balas dendam,karena sepengetahuannya gadis itu anaknya.


Tapi entah kenapa Marco tidak tega melihat kedua bola mata bening gadis yang dia cap bodoh itu.


Marco sudah tiba di kantor. Untuk memulai pekerjaan hari ini pikirannya benar benar tidak fokus. Dia menutup laptopnya memilih berdiri di jendela kaca yang pernah di bersihkan Gabriela. Pria sangar yang berkuasa itu memandangi gedung gedung tinggi dengan pikiran melayang layang.


Sesekali dia membuka ponselnya melihat laporan Gerald yang di kirim pengawal di rumah sakit.


"Nona itu sudah selesai makan siang. Dokter sebentar lagi visit dan mungkin akan mengoles seleb dan memandikan nona" Marco memasukkan ponsel kedalam sakunya. Meninggalkan perusahaan tempat yang dia tuju adalah Rumah sakit.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2