Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Karena sedikit paksaan


__ADS_3

"Makan dengan pelan, tidak ada yang mengejar mu" Marco mengambil tissue kemudian membersihkan sisa makanan yang membekas di bibir istrinya diselingi senyum tipis. Dia merasa bersalah karena membiarkan Gabriela melewatkan makan malam. Itu karena ulahnya yang tidak bisa menahan emosi hingga melampiaskan semua pada istrinya.


Marco menyadari itu setelah terbangun tengah malam.


Dia melirik istrinya yang masih setia meringkuk nyaman di dekapannya. Awalnya dia ingin membangunkan Gabriela makan malam namun dia tidak tega. Akhirnya dia mendekap kembali tubuh polos itu dengan penuh kehangatan. Saat angin malam berhembus Marco mengeratkan pelukannya. Dibawah selimut yang sama dua orang manusia yang mengaku saling membenci malah saling menikmati kenyamanan.


Yang satu nyaman karena hangatnya pelukan laki-laki gila ini, yang satunya nyaman karena dia telah berhasil menghasut pikiran gadis polos.


Pagi ini Marco cukup mandiri. Mulai dari bangun sampai berjalan ke meja makan dia sama sekali tidak merepotkan Gabriela. Laki laki itu bahkan membantu Gabriela untuk memakai baju. Meskipun menolak dia sama sekali tidak menggubris. "Untuk apa kau malu, Aku bahkan tau dimana letak semua tahi lalat di tubuhmu" Gabriela melempar handuk hingga mendarat tepat di wajah Marco, pria itu tertawa hangat.


Dasar gila! bagaimana bisa kau membahas itu sekarang!


Masih di meja makan. Raut wajah malu malu Gabriela menguap. Kalau bukan karena lapar aku bahkan malas melihat wajahmu gila! Malas atau malu geby? ayo jujur kau. Bohong itu dosa loh.


Dari mana urat malu mu terbentuk? kau bahkan biasa aja sekarang. Aaaaaaa aku malu sekali bagaimana nanti malam malam berikutnya! Gabriela reflek menutup wajahnya.


"Hei apa yang kau lakukan geby" Gadis itu tersentak. Hah! dia buru buru membuka tangan yang menutupi wajahnya. "Kau membayangkan apa geby" Ah lucunya. Apa dia mengingat kejadian semalam ya. Malah timbul ide cemerlang untuk mengerjai istrinya. "Apa masih terasa?" Marco mengerlingkan matanya sebelah.


Apa sih? Kumohon berhenti membahas itu. Jangan buat aku mengeluarkan asap dari kedua telingaku. Wajah gabriela sudah merah padam dan marco sangat menyukai itu. Tunjukkan lagi sifat malu malu mu. Sial aku jadi malas berangkat ke kantor. Marco menyudahi kegiatannya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk. Bukan tidak mungkin Marco malah membuka jasnya dan memilih rapat dari ruang kerja jika dia meneruskan kegiatannya mengerjai Gabriela.


Wajah imut Gabriela yang menggemaskan bisa menjadi racun. Marco belum tentu hanya akan membuka jasnya. Tidak tertutup kemungkinan dia juga akan melucuti semua pakaiannya. Tidak, pakaian Gabriela juga pasti akan terbuka otomatis.


Marco menyunggingkan senyumnya saat tangan Gabriela melambai. "Dada" Marco menoleh lagi sambil berkacak pinggang. "Dada??? hanya dada???" Marco menatapnya dengan penuh intimidasi seperti telah melakukan kesalahan besar.


Dada siapa yang kalian bicarakan! Gerald.


"Sayangnya dimana?" sumpah rahang gerald rasanya ingin jatuh. Aku tidak salah dengarkan? Tadi apa katanya? sayang? jadi tuan dan nona gabriela sudah sejauh ini. Marco seperti merasa jika hipotesanya kemarin benar. Tuan menyukai nona?

__ADS_1


Mobil melaju dengan tenang. Dua manusia dengan pikiran masing. Marco melayang dengan pikirannya tentang malam yang bahkan pertama kali dia lalui. Dia mengusap layar ponselnya, membuka galery. Dia tersenyum dengan apa yang dia lihat. Foto gabriela yang tertidur lelap dalam pelukannya. Masih dengan tubuh polos di tutupi selimut hingga bahu. Foto yang terambil  hanya dari bahu ke wajah.


Lagi lagi marco tergelak. Namun gelak tawa itu hanya sebentar. Ada hal yang dia khawatirkan kedepannya. Tidak tau kenapa rasa takut kehilangan itu muncul melintas dalam benaknya. Masih jelas teringat pelukan hangat semalam setelah pertempuran membara.


Marco menyentuh jantungnya. Apa semua akan baik baik saja kedepannya? Mungkin semalam dia begitu menikmati adegan itu. Namun bagaimana dengan gadis belia itu? Apa pemikirannya sama dengan keremajaan tubuhnya. Dia melawan semalam tapi ujung ujungnya menurut karena aku menekannya.


Adegan itu terjadi bukan karena suka sama suka, tapi karena Marco memberikan sedikit pemaksaan. Ahh.. Marco sendiri masih belum bisa mendeskripsikan perasaannya.


Sudah jatuh cinta dengan Gabriela atau hanya terobsesi sementara entahlah.


Berbeda dengan Gerald. Pria itu sudah cukup untuk mengesahkan penelitiannya. Itu semua fix karena bekas bekas kecupan di leher Marco.


Jadi hubungan nona dan tuan bukan sekedar kata sayang tadi? Sudah kecup kecupan?


Berarti mereka saling suka? hal begituan kan hanya di lakukan oleh orang yang saling menyukai. Di Lampu merah dia mengetuk ngetuk jarinya.


Tunggu dulu. Tapi kan harusnya tuan dan nona bangun kesiangan lalu tuan tidak akan mungkin ke kantor kan. Pasti kelelahan lalu tertidur lagi. Itu yang pernah kubaca sekilas di dalam adegan novel. Pikiran Gerald berperang.


Melihat semangat laki laki ini tadi pagi. Tidak mungkin. Pasti belum sampai ke tahap itu. Namun lagi lagi dia gagal fokus dengan kemerahan di leher Marco.


Ahh.. kalian sudah tidur bersama atau bukan sih. Ya tidur bersama lah bodoh. Kan satu tempat tidur, kau sendiri kan tau mereka sekamar dan satu tempat tidur.


Maksudku bukan itu, jadi maksudnya gimana?


Gerald memaki dirinya sendiri yang hanya berani berbicara di dalam hati.


Mobil berhenti di depan gedung kantor pusat perusahaan Adicipta group. Marco berjalan dengan gagah. Senyum terbit walau sedikit menyapa para karyawan yang menundukkan kepala saat tidak sengaja berpapasan dengan CEO mereka.

__ADS_1


Saat pintu lift terbuka Marco masuk kemudian tangannya menahan pintu lift saat melihat seorang wanita petugas kebersihan berjalan tergesa yang juga ingin menaiki lift karyawan.


Lift karyawan berdampingan dengan lift khusus CEO. Wanita itu masih berdiri menundukkan kepala saat melihat pintu lift CEO masih terbuka. Sepertinya wanita itu menunggu lift karyawan turun lagi.


"Hei kemarilah" Lagi lagi Gerald tergagap. Ini Marco Adicipta kan? Apa dia kerasukan setan? Setan atau malaikat yang memasuki tubuhnya?


"Kau tidak dengar tuan Marco mengizinkanmu naik dengan lift ini?" Gerald kesal saat wanita itu malah mengindari satu lift dengan CEO. Takut? sudah pastilah.


Seorang Marco bahkan sudah mau satu lift dengan karyawan. Dengan ragu wanita itu memasuki pintu lift. Hawa dingin mulai terasa. Wanita bertubuh mungil itu gemetar menekan angka lantai dimana dia akan turun.


Saat pintu terbuka wanita itu menunduk kepala sambil mengatupkan tangan di dada. "Terimakasih tuan saya permisi" Dia membungkukkan badan berkali kali sebelum pintu lift tertutup. Wanita itu mengelus dadanya berkali kali suatu keberuntungan kan bisa naik Lift CEO?


Ada kesenangan tersendiri baginya. Karena naik lift ini bersama CEO dan Sekretaris Ceo. Pembersihan lift CEO saja hanya dia tidak pernah mendapatkan kesempatan.


Wah sepertinya hari ini akan menjadi rejeki ku. Nanti aku akan cerita di office tentang keberuntungan ini. Aku bahkan bisa melihat wajah Tampan ceo dari jarak dekat. Wanita itu cengengesan sendiri.


Sementara itu Marco tergelak saat pintu lift tertutup. "Lihat dia mirip seperti Geby hahaha" Marco mengejek wanita bertubuh kecil tadi.


"Kau tidak lihat ger? dia gemetar sambil meremas tangannya haha itulah Ger makanya kau jangan menakutkan begitu'' Gerald mengernyit. Dia takut pada anda tuan bukan pada saya.


"Hahaha seperti itulah geby kalau bersamaku Ger. Dan pasti gemetar kalau kami sedang berdua" rasanya Gerald ingin memukul kepalanya ke dinding. Bagaimana anda bisa se senang ini menceritakan nona Gabriela pada saya tuan.


Nona Gabriel sudah pasti akan selalu takut pada anda. Anda kan selalu membuat nona kewalahan. Sikap anda kadang berlebihan.


Sisa tawa Marco masih terdengar sampai mereka memasuki ruangan CEO. Dari cara Marco menyuruh Gerald duduk, sudah bisa dipastikan bahwa akan ada hal penting yang harus di bicarakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2