Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Mencemaskan Gabriela


__ADS_3

Sisa tawa Marco masih terdengar sampai mereka memasuki ruangan CEO. Dari cara Marco menyuruh Gerald duduk, sudah bisa dipastikan bahwa akan ada hal penting yang harus di bicarakan.


Walau pikirannya sedang berkecamuk, Gerald duduk sesuai dengan instruksi Tuannya.


"Bagaimana dengan mahalini dan max" Marco melirik berkas di meja kerjanya. Tangan kiri langsung mendorong berkas itu. Minggir kau kesana. Untuk saat ini bukan kau yang lebih penting. Marco fokus dengan topik yang dia buka.


"Untuk saat ini belum ada informasi mengenai keduanya. Seperti yang tuan tahu Max akan hati hati kan dengan langkahnya. Danri tetap mengawasi semuanya. Anda tidak perlu memusingkan hal itu" Yang perlu anda pusingkan adalah tentang perasaan anda terhadap nona Gabriela.


"Apa Mahalini masih menghubungi Gabriela?" Marco mengkhawatirkan hal ini. Ide Mahalini akan menikahkan Gabriela masih terus membayangi pikiran Marco.


Saat mengingat hal itu Marco baru sadar tentang kerusakan ponsel Gabriela. "Nanti belikan Geby ponsel baru, yang kemarin pecah"


"Saya akan memastikan semua berjalan dengan baik tuan muda. Anda tidak perlu cemas. Ada Hugo juga mengawasi setiap pergerakan" sejauh ini Gerald tidak pernah gagal menjalankan setiap tugasnya sebagai tangan kanan serta orang kepercayaan tuan Marco.


Sisi kejeniusan Gerald bahkan berada satu garis di atas kejeniusan Marco. Untuk itulah Dia dipilih langsung oleh Presdir Andika untuk mendampinginya anaknya. Sikap dingin Gerald pun jauh lebih beku ketimbang Marco hanya saja, itu diketahui oleh orang orang tertentu.


Marco menyandarkan punggungnya. "Aku hanya mencemaskan Gabriela"


Marco memejamkan matanya. Bayang bayang Gabriela sedang gemetar dan sedang menggeliut semalam silih berganti menghiasi pikirannya. "Dia gadis polos yang tidak mengerti apa apa. Bagaimana kalau dia termakan umpan Mahalini"


Gerald memperhatikan setiap raut wajah tuannya. Tatapan penuh khawatir.


"Anda kan berhak untuk menghalangi Mahalini tuan. Nona Gabriela terikat kontrak seumur hidup kan? sampai anda bosan" walaupun hal ini tidak ingin diungkit. namun Gerald perlu mengatakannya untuk menenangkan hati tuannya yang bergemuruh.


"Lagi pula anda sudah menikahi nona Gabriela, itu artinya nona kan milik anda" tidak ada yang perlu anda cemaskan tuan. yang perlu sekarang itu adalah sadari perasaan Anda untuk nona Gabriela.


"Kalau Gabriela lebih memilih Max bagaimana?" Tatapan penuh khawatir Itu bukannya surut. alah semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Saya yakin Nona tidak akan berani melakukan itu tuan"


"Kau tidak tahu bagaimana dia saat di depanku. Aku belum bicara saja dia sudah ketakutan. Gabriela bahkan selalu mencari cara menghindariku"


"Itukan karena anda menunjukan sikap anda yang tidak menyukai nona Gabriela" Marco menoleh meminta penjelasan lebih dari Gerald. "Nona tidak akan mungkin berani mengkhianati anda tuan percayalah"


"Pastikan Mahalini tidak menyentuh Gabriela. Aku tidak mau Geby termakan rayuannya" Mahalini masuk dalam daftar orang yang patut di waspadai. "Satu lagi Gabriela jangan sampai diam diam menemui ibunya"


Kekerasan wanita itu sampai hari ini belum bisa diterima Marco. Beraninya dia memukul istriku tanpa ampun. Momen dimana Gabriela meringkuk ketakutan di pelukannya saat mereka menuju rumah sakit benar benar mengiris perasaan.


"Kekerasan apa lagi yang pernah di alami Geby?"


Akhirnya Gerald menceritakan beberapa info yang dia dapatkan. Saat itu hari sangat mendung Gabriela menghidupkan kompor dan memanaskan air untuk memandikan ibu. entah apa yang dipikiran Gabriela saat itu namun dia tidak segera menyeimbangkan antara air panas dan dingin.


Ibu berjalan sudah membuka pakaiannya tiba tiba menjerit. Gabriela berlari, tatapan ibu setajam ujung tombak langsung menarik Gabriela dan menyiram gadis itu dengan sisa air panas dari dalam ceret.


Gadis itu meringis saat bahunya melepuh.


Hukum saja aku tuan, pukul saja. Aku tidak akan keberatan tuan. Kata kata tulus penuh permohonan ini terus terngiang di kepalanya.


Melihat tuannya yang terluka Gerald tidak berniat lagi melanjutkan ceritanya. Tentang kebenaran Gabriela yang dia temukan dari hasil laporan Danri, pengawal khusus yang memiliki keistimewaan tersendiri.


Satu saja sudah membuat anda marah tuan. Bagaimana kalau anda tau semua masa lalu nona. Bisa bisa anda akan membebani diri anda sendiri. Gerald menyudahi pembicaraannya.


"Aku belum mengizinkanmu keluar Ger!" ceritakan semuanya. Semua! tanpa terkecuali. Bagaimana istrinya selama ini. Aku perlu tau.


Marco mendesah kesal saat melihat Gerald yang tidak berniat untuk melanjutkan laporannya. "Tuan jangan fokus kesini. Sebaiknya anda fokus untuk Nona Gabriela kan" Cih! lagi lagi wajah Marco kesal.

__ADS_1


"Saya akan urus semua tuan. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuh nona kedepannya" Marco menghela nafas. Sejauh mana dia mendesak Gerald, laki laki itu tidak tertarik melanjutkan laporannya.


Anda adalah orang yang harus saya lindungi tuan. Anda tidak boleh terluka baik fisik maupun batin anda. Biar saya yang urus perihal masa lalu nona. Termasuk laki laki yang pernah ingin mencoba menodai nona. Laki laki itu tidak akan mendapatkan pengampunan.


.........


Gabriela menahan tangan bibi ketika wanita paruh baya itu terlihat ingin mengganti sprei. "Tidak usah bi, aku saja" gadis itu menghadang bibi agar tidak melanjutkan pekerjaan mengganti sprei.


"nona ini sudah menjadi tugas saya" Tapi Gabriela tetap bersikukuh tidak mau. "Baik nona, jika nona butuh sesuatu silahkan panggil saya non" wanita paruh baya itu menutup pintu dan menuruni tangga.


Gabriella pergi ke ruangan tempat penyimpanan sprei. dia menemukan warna yang cocok dengan selera Marco. walaupun kamar itu adalah miliknya juga Tapi semua desain di situ adalah selera Marco. titik.


Saat berjalan menuju kamar, dia melewati beberapa pelayan yang melihat ke arahnya. Gadis itu tersenyum dan menyapa mereka sekenanya.


Bagaimana wanita seperti ini menaklukkan hati Tuan Marco ya.


tatapan sinis salah satu pekerja yang menjadi penggemar ataupun fans Marco. Tiga tahun bekerja di dalam rumah itu dia sama sekali belum pernah memiliki kesempatan untuk berbicara langsung dengan Tuan Marco. pokoknya kalau Tuan Marco lewat dia harus menundukkan kepala. Itu adalah aturan tertulis. Di depan Tuan Marco semua harus menjaga sikap masing-masing jangan ada yang berlebihan.


Begitulah ketegasan pak Haris saat mendidik semua pelayan di rumah itu.


Setelah memasang sprei yang baru. Gabriella mulai merapikan barang barang yang berjatuhan di lantai akibat kerusuhan tsunami besar tadi malam. Bagaimana benda ini semua bisa tercecer. Gabriela mengutip satu persatu. Setelah itu dia menelentangkan tubuhnya kembali. Aku sudah selesai mandi, makan dan beberes.


Aku masih lelah! aku juga capek! Kira kira tuan Marco pulang jam berapa ya?


Gadis itu melepaskan sendal. Berjalan ke sofa dan mulai menelentangkan tubuhnya.


Sama halnya dengan Marco. pikiran Gabriela pun terus saja di penuhi dengan insiden horor semalam.

__ADS_1


Tidak apa apa kan tuhan! ini bukan dosa kan? dia suami sah ku. Walaupun dia mengontrak aku tapi pernikahan kami sah kan. Apa yang terjadi semalam bukan perzinahan kan?


Bersambung


__ADS_2