
Gerald benar benar ekstra hati hati memilih kata. Dia melihat kilatan kemarahan yang menyambar nyambar di wajah Marco. Pria itu bahkan menghancurkan semua item di atas meja. Tidak tau itu berkas penting atau tidak.
Hari ini moodnya hancur.
Terlepas dari siapa Gabriela dalam hidupnya namun dia terusik setelah selesai menonton rekaman video full hd yang dikirim oleh pengawal yang berjaga di sudut sebuah restoran tempat dimana Gabriela bertemu dengan wanita yang menjijikkan itu.
Lihat! masih bisa atau tidak kau lari dariku! Terdengar Marco mengumpat kasar beberapakali sambil membuang muka ke luar.
"Danri baru saja mengirim informasi tuan, apa anda mau mendengarkan?" Gerald tau ini bukan situasi yang tepat. Namun informasi ini sangatlah penting. "Dana yang sudah digelapkan kemarin akan kembali tuan dan jaminannya nona Gabriela". Gerald membeku ketika nama Gabriela disebut tatapan Marco langsung tajam menghujam.
"Saya akan membereskan semuanya tuan, semuanya!" Gerald melirik prihatin pria berkarisma yang sedang amatir itu. Dan juga masalah perasaan anda pada non Gabriela yang selalu anda sebut gadis bodoh. Merepotkan juga ya langsung bikin kesimpulan belum lagi penelitianku selesai. Gerald menghembuskan nafasnya pelan.
Dari mana aku mulai ya. Tuan pasti tau inti dari semua ini. Tentang siasat wanita itu menarik nona Gabriela untuk mendapatkan informasi tentang tuan Marco.
"Antar aku kerumah dan siapkan Pernikahanku dengan Gabriela" Keputusan final setelah ide ide gila di kepalanya gugur.
Gerald melirik lagi. Tidak percaya. Pernikahan? Jadi anda dan nona Gabriela yang akan menikah?. Tunggu tadi anda juga mengatakan itu di kantor. Lalu? yang tadi anda bilang menyiapkan pernikahan, itu untuk anda tuan?
"Apa anda yakin tuan?" Ragu bertanya namun keceplosan juga. Yang di tanya malah semakin menakutkan. "Baik tuan akan saya siapkan". Pernikahan lo ini, pernikahan. Kenapa mau menikah anda seperti mau kencan tiba tiba. Ah sialan. Gerald semakin bingung.
"Jika dia menikah denganku maka pernikahannya dengan Max tidak akan terjadi. Dan gadis bodoh itu tetap di samping ku. haha aku masih ingin bermain main dengannya" Seringai serigala itu seperti ingin mencabik cabik mangsa. Marco merenggangkan jari jarinya dan juga memutar lehernya hingga terdengar suara krek.
"Jangan singkirkan dulu wanita penghianat itu. Aku mau lihat sejauh mana kejahatannya berkembang".
Demi melindungi dirimu kau mengorbankan gadis polos yang tidak berdosa ke hadapanku. Dan sekarang kau mau mengambil dia lagi untuk membeli perusahaan yang hampir bangkrut. Marco tertawa. "Menjijikkan"
Tuan Max akan menikahi Nona Gabriela dan memanfaatkan mengorek informasi mengenai anda Akhirnya terkuak lah cerita mengenai kerangka rencana Mahalini dan Maximus. Tentang biaya pengobatan ini dan juga jaminan hidup.
__ADS_1
Seniat itu kau ingin bermain denganku. Dan kau pikir aku tinggal diam. Aku akan menikmati permainanmu. Marco tersenyum. Se genting apa pun situasi dia tidak pernah gentar.
Marco memasukkan ponsel kedalam jasnya. "Aku akan menikah sore ini" Ucapnya tegas lugas tanpa titik koma. Dia keluar dan masuk ke dalam rumah.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah kosong. Tidak ada. tatapannya kosong namun dia tetap melanjutkan langkah. "Panggil Gabriela kesini" Marco duduk di sofa ruang kerjanya. Ya ampun marah aja tetap tampan ya.
Selang beberapa menit Gabriela sudah berdiri didepan ruangan kerjanya. Dia mau apa lagi ah. Biasanya dia memanggilku kesini karena ada masalah. "Aku takut" gumamnya sambil meremas jarinya.
"Apa kau hanya berdiri saja disitu!" Suara dentuman keras menyadarkan pikirannya.
"Maaf tuan saya..." dari mana dia tau aku berdiri di luar? Gabriela menoleh lagi pintu tempat dia masuk tadi. Bukan kaca tapi dia kok tau aku disana. Apa matanya bisa menembus benda padat. Lagi lagi Gabriela memikirkan sesuatu di kepalanya.
Marco menepuk kursi disampingnya. Gadis itu duduk. "Berapa usia mu Gabriela?" Gadis itu terlonjak kaget saat jemari tangan Marco mengelus pipinya. "Sa...saya 16 tahun tu tuan" Wajarlah dia gugup. Pandangan Marco bukan pandangan jijik seperti biasanya. Tapi pandangan penuh ancaman.
"Berarti umurmu sudah cukup untuk menikah kan" Lengkung bibir Marco membentuk sebuah senyuman licik. Gadis itu menggeleng.
Gabriela sudah ingin mendorong wajah Marco yang hanya beberapa centi dari wajahnya. Deru nafas pria itu menghembus hingga ke dalam pori pori kulitnya.
"Kalau begitu persiapkan dirimu kita akan menikah sore ini" Marco mengibaskan rambut Gabriela yang dia kulum kulum tadi. Aku akan memaksa mu berada di sampingku Sampai aku puas main main dengan kebodohanmu.
"Tuan! tapi saya" Gabriela tiba tiba sesak. Menikah? dengan pria gila ini? Demi apa pun itu tidak pernah masuk dalam doanya.
"Kau mau menolak?" Marco yang tadinya sudah berdiri ingin keluar menoleh dan duduk lagi.
"Bukan seperti itu tuan, tapi ini tidak termasuk dengan kewajiban saya diatas kontrak yang saya tanda tangani kan?" Gadis itu protes. Deru nafasnya mulai memburu. "Tuan jangan seperti ini,Tante saya udah janji tadi dia akan melunasi utangnya dan saya bisa kembali kepada ibu saya" Gabriela menutup mulutnya keceplosan.
"Ibumu?" Melihat kepanikan Gabriela Marco semakin tertarik. "Tantemu?" Marco menyeringai. Rubah kecilku yang manis, kau tertangkap basah meskipun aku sudah tau itu dari awal. Tapi good! kau mengaku sendiri.
__ADS_1
"Jadi kau membohongiku selama ini?" Gabriela melorot ke lantai. "Maafkan saya tuan"
"Maaf? apa kau pikir maafmu bisa menghapus penghianatan mu ini" Marco tertawa renyah. "Kau mau bermain main denganku? Mau melihat ibumu tinggal mayat di depanmu sekarang? beraninya kau berbohong padaku" Suara Marco sudah berat. Meskipun dia sudah tau dari awal entah kenapa dia terluka saat kebenaran itu keluar dari mulut Gabriela.
Dan yang tidak diduga gadis itu berlari memeluk kakinya. "Tuan maafkan saya. Jangan bunuh ibu saya. Bunuh aja saya tuan" gadis kecil yang tidak tau apa apa rela mengorbankan dirinya untuk ibu.
Ada perasaan yang tersayat ketika tubuh mungil itu memohon di bawah kakinya. Memeluk kakinya.
"Tuan aku terpaksa. Maafkan aku". Rasanya dia ingin berjongkok meraih tubuh itu dan memeluknya.
Aku tidak boleh lemah. Marco tau air mata gadis itu asli. Tapi dia tidak segampang itu luluh."aku akan memaafkan mu" Marco berjongkok. "Menikah denganku untuk membayar semua penghianatan mu dan juga tantemu"
Gabriela lemas tidak berdaya. Baru saja dia bahagia mendapatkan kabar kebebasannya semua hilang hanya hitungan jam. Wajah ibunya yang meraung meraung ketika sakitnya kambuh terus melintas dibenaknya.
Ibu.....
Bagaimana ini...
"Jangan lupa kau menandatangani kontrak perjanjian denganku" Marco menggenggam map besar di tangannya. "Kau mau membaca ulang apa yang kau tanda tangani? aku rasa tidak perlu. Tanpa penghianatan mu ini aku bisa tetap melanjutkan pernikahan karena semua kuncinya ada padaku" menunjuk map lagi.
Berikan semua sisa tenaga dan hidupmu untuk mengganti apa yang sudah diperbuat ibu mu. Tertanda Gabriela.
Gadis itu semakin terluka. Dia sadar saat ini dia tidak akan bisa lepas dari Genggaman tuan Marco.
Suka atau tidak. Aku akan tetap memaksa mu di sampingku.
Bersambung...
__ADS_1