
Gabriela baru saja masuk kedalam walk in closet. Dia akan menyandang status peran sebagai istri penurut yang di kontrak selama tuan Marco membutuhkan nya. Kontrak itu hanya akan batal jika Marco menandatangani pembatalan kontrak. Luar biasa ya.
Gadis itu menggeleng sambil terus mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper. Hari ini dia akan menyusun sendiri pakaiannya di dalam lemari. Sembari menyusun pikiran terus melayang memikirkan nasibnya yang tidak jelas. Entahlah Tuhan sedang melipat gandakan beban untuknya.
Bagaimana bisa pernikahan secepat ini. Hati Gabriela selalu sakit jika memikirkan ini. Jadi bagaimana caranya aku bisa keluar dari goa pernikahan ini? hidup yang tidak jelas ini.
Gabriela teringat akan janji Mahalini. Dia meraih hp.
Tidak! Jangan Gabriela! jangan
Kau mau cari mati? sudah jelas jelas tuan Marco mengatakan kau tidak boleh berhubungan dengan siapa pun.
Memangnya kenapa kalau aku berhubungan dengan orang lain dia kan tidak tau.
matanya ada di mana mana Gabriela!
Intinya jangan sampai kau menyesal karena tidak bisa menahan dirimu
"Lantas apa gunanya ponsel ini!!" Prang!!! Gabriela berteriak marah. Membanting hp ke lantai. Berperang dengan batin memang cukup menguji kesabaran.
"Kenapa kau menghancurkan ponsel mu?"
Gabriela terkejut dengan apa yang dia lakukan. Ponselnya terbanting. Pasti sudah rusak. Dan betul saja layar depan sudah retak parah. Ponsel ku!! padahal kemarin aku sudah mendownload banyak aplikasi.
huaa!! Gabriela menangis dalam hati. Sambil terus mengusap usap layar ponsel berharap masih bisa digunakan. Dia lupa Marco sedang memperhatikan setiap gerakannya.
Sama siapa dia bicara tadi?
Lantas apa gunanya ponsel ini. Kata kata ini langsung menjawab pertanyaan Marco. Pasti dia kesal karna tidak bisa berhubungan dengan siapa pun. Apa itu dia menangis??
"Heii kau menangis?"
Gadis itu mendongak. "Tidak tuan mataku kelilipan" Bohong. Dia sedang menangis sedih atas kehancuran ponselnya. Dan lebih parah pagi dia yang hancurkan. Aaaa itu semua gara gara kau yang sesuka hati ngambil keputusan. Dia melirik Marco yang masih memandanginya. Sorot mata tidak suka.
"Baguslah aku tidak suka wanita cengeng" Marco melewati Gabriela yang sedang bersimpuh di lantai meratapi kehancuran ponsel mahal miliknya. Matanya membulat saat Marco sengaja memijak beberapa barang Gabriela yang masih berserak di lantai.
"Kau marah padaku?" Marco berjongkok mensejajarkan kepalanya dengan Gabriela. Melihat bibir gadis itu menggumam dia tau jika Gabriela memakinya tadi.
"Tidak tuan... saya tidak marah kok" Mau sekalian aku kau pijak pijak pun aku tetap senang. Kan haram marah padamu iblis. Gabriela terus menggumam dalam hati.
"Masa?" Marco lagi lagi mengajak senam jantung. Dicengkeramnya dagu gadis itu. Gabriela sudah memohon namun di abaikan.
__ADS_1
Karena kesal Gabriela mendorong dan juga menepis tangan kurang ajar Marco. Lagi lagi dia terkejut dengan tindakannya sendiri.
Terkejut bercampur menyesal.
"Sudah kubilang kan! hati hati dengan tangan mu!" Nada Marco sudah naik beberapa Oktaf.
"Maaf tuan"
"Kau mau aku patahkan kedua tanganmu" Marco sudah meraih tangan Gabriela. Gadis itu jijik namun tidak berani menepis lagi. "Hukuman apa yang cocok dengan tangan kecil mu ini ya. Di panggang kayaknya ini enak" Marco menimang nimang. Gabriela reflek menarik tangannya.
Dasar kanibal!
"Anda juga salah tuan, tidak seharusnya anda sembarang menyentuh perempuan!" Kesal juga nengok laki laki yang tidak tau malu ini.
Tapi bagaimana ini....
Aku sudah kelewatan bicara dan juga... Gabriela memandangi tangan yang dia pakai menepis Marco Tadi.
"Aku? sembarang menyentuh perempuan? hahaha"
Ketawa mu itu. Seperti tidak merasa bersalah sedikitpun pun.
"Aku tidak pernah sembarang menyentuh perempuan. Aku kan menyentuh istriku" Glek! Gabriela menelan Salivanya. Iya juga ya. Aku kan istrinya. Istri berkedok budak. Tapi jangan berlebihan ya. Pandangan Gabriela mengancam.
Is kalau bisa ya ku jambak rambut mu gila!
Gabriela cepat cepat menyusun pakaian. Tidak peduli pakaian itu tidak rapi. Bodo amat. Dia mau segera keluar dari ruangan ini.
Getar ponsel miliknya mengalihkan perhatian. Gabriela mengenali nomor itu. Dia secepat mungkin ingin membuka pesan. Namun terlambat Marco sudah meraihnya duluan.
Entah apa isi pesan itu. Karena layar ponsel pecah jadi sama sekali blank. Tidak bisa dibuka, hanya menyala begitu saja.
"Kau masih menghubungi orang lain?" suara jahil tadi sudah hilang. Berganti dengan nada serius. Ponsel retak retak itu dia goyangkan menunggu respon Gabriela, namun gadis itu tidak merespon.
"Gabriela!!!"
"Tidak tuan!!!" Suara Gabriela sama tingginya dengan Marco. Dia buru buru menutup mulutnya. "Maaf"
Suara mu membuatku terkejut tau
"Kau sudah berani berteriak padaku ya" Marco masih terus ingin tau soal pesan di ponsel dia terus menggoyangkan Hp. "Sepertinya aku akan kembali seperti dulu lagi ya. Sikap mu
__ADS_1
sudah mulai membuatku kesal"
Seperti dulu? memangnya aku mengenal mu dari dulu gila?
Kita kenal baru hitungan bulan. Gabriela sibuk lagi memasukkan baju ke dalam lemari.
"GABRIELA! "
"Apa tuan!" Jangan bikin terkejut kenapa sih! Aku tau suara mu keras. Sama dengan kepala mu. Gabriela tidak menggubris. Dia masih sibuk memasukkan baju kedalam lemari mengabaikan Marco yang menggoyangkan ponselnya. Seperti bertanya pesan siapa yang baru masuk itu.
Prang!!!! Akhirnya ponsel itu berubah menjadi serpihan yang sudah berserak kemana mana. Gabriela terlonjak. Kenapa kau jadi marah padaku.
Marco menendang semua pakaian yang tersisa di lantai. "Ikut aku!!" Gadis itu diseret. Tidak berdaya untuk melawan. Karena kalah kekuatan.
Dengan kasar Marco melempar Gabriela ke atas tempat tidur. Gadis itu beringsut saat Marco membuka kaos dan melemparnya ke sembarang tempat.
Beraninya sekali kau masih punya kekuatan menghianatiku. Aku bahkan sudah menyelamatkan mu.
"Buka mata mu!" Gadis itu memalingkan wajah saat tangan Marco menahan kedua tangannya di atas kepala. Wajah mereka berhadapan. "Buka matamu Gabriela!"
Karena tidak sabar Marco yang tadinya hanya berniat mengancam malah betul betul mencium paksa bibir Gabriela. Gadis itu menangis saat merasakan ciuman itu brutal penuh paksaan.
Air matanya jatuh bersamaan dengan Marco menurunkan tangannya.
"Ini hukuman mu karena kau berani berkhianat" Suara Marco penuh kemarahan. "Kau tau kenapa kau di jual padaku? Karena pengkhianatan Mahalini? Jadi jangan pernah berkhianat! kau sayang ibu mu kan?" Marco tahu kelemahan terbesar Gabriela adalah ibunya.
"Rapikan baju mu" Marco turun dari tempat tidur. "Aku benci pengkhianat!"
Saat pintu sudah tertutup. Gadis itu terisak sambil berlari ke kamar mandi. Dia melihat cerminan dirinya. Fokus pada bibirnya yang dicium Marco tadi. Rasanya dia jijik sekali melihat bibirnya sekarang. Gadis itu merasa dilecehkan, ternodai sudah
Gabriela menghidupkan air. Mencuci mulutnya sampai bersih. Dia tidak mau kuman kegilaan pria itu tinggal di mulutnya.
Sudahlah Gabriela!
Berhenti sampai disini. Kau tidak akan bisa lepas lagi.
Lupakan janji Tante Mahalini. Ikuti saja kemauan tuan Marco jika kau ingin nyaman dirumah neraka ini.
Gadis itu duduk di sofa. Dia mengedarkan pandangannya. Tuan Marco sepertinya keluar.
Persetan dengan laki laki gila itu.
__ADS_1
Tapi....
Bersambung......