
Marco duduk dengan segelas soda di tangannya. Entah pesta apa ini tidak ada alkohol pikir Marco. Sambil menunggu Marco teringat dengan kata cinta yang di katakan Gerald tadi. Dia sebenarnya tidak mau ambil pusing. Namun kata cinta masih terus menerus menggema dalam pikiran Marco. Sial! apa yang terjadi padaku.
Suara deheman membuat Marco menoleh. Si sialan ini! Marco langsung meremas tissue dan melempar Daniel yang berpangku tangan di depannya. Marco bahkan tidak menyadari Daniel di depannya.
"hahaha apa yang kau pikirkan sampai kau tidak menyadari aku disini" Daniel mengulurkan tangan pada seorang wanita. Gadis itu mendekat. "Kenalkan ini Marco sepupuku, kenalkan ini Feren" gadis itu senyum sambil mengangguk.
"Wanitamu?" Tanya Marco sinis.
"Calon pacar" Ucap Daniel sambil tersenyum hangat memandangi wajah Feren yang bersemu malu.
Marco tidak tertarik melanjutkan obrolan dengan Daniel matanya terus melihat pintu masuk tapi nihil belum ada tanda tanda yang di tunggu datang. Rasanya Marco sudah hapal kebiasaan Daniel yang suka Gonta ganti wanita. Tapi sejauh ini sih baru kali ini dia membawa wanita dalam acara resmi. Biasanya Marco akan melihat Daniel dengan wanita ketika berada di Klub atau di tempat tempat tertentu. Marco tidak ambil pusing dia hanya fokus melihat pintu masuk. Kenapa Gerald lama sekali!
"Kak aku kesana dulu ya" Feren tersenyum saat seorang wanita disana melambaikan tangan padanya. "Iya sanalah jangan lari nanti kau jatuh" Daniel melambaikan tangan sambil tersenyum manis melepas wanita itu yang berlari kecil menghampiri seseorang.
Cih! Marco.
"Kau tidak di marahi paman terus terus begini" Marco menenggak habis soda di tangannya. Walau tidak mau ambil pusing entah kenapa Marco penasaran dengan hal ini. Ayah saja langsung menyuruhku menghadap ketika mereka mengendus kabar mengenai Gabriela. Bagaimana bisa paman se bodoh ini.
"Kalau yang ini di restui" Ucap Daniel dengan bangga. "Ini berbeda" Lagi lagi Marco menyeringai.
"Berhenti omong kosong, sana pergi! jumpai wanita mu! kursi ini untuk... " Marco menoleh ke arah pintu masuk. Gerald datang bersama seorang wanita.
__ADS_1
Mata Marco mengerjab. Bagaimana dia secantik itu. Marco tergagap saat tampilan Gabriela benar benar mengalihkan penglihatannya. Gadis itu berjalan di atas hells 4 centimeter. Tidak terlalu tinggi tapi kaki jenjangnya terlihat ayu saat melenggak memperlihatkan betis mungilnya yang putih bersih itu. Satu tangannya memegang ujung gaun dan satunya lagi memegang hand bag. Gabriela di sihir jadi princess malam ini.
"Berikan padaku tas anda nona" Gerald mengulurkan tangan. Gabriela yang kesusahan berjalan pun merasa terbantu saat Gerald membawakan tasnya.
Sial! Marco menggeram kesal dari kursinya, menatap Gerald dengan penuh Kemarahan. Bagaimana bisa kalian se mesra itu di depanku. Rasanya Marco ingin berdiri dan mendorong Gerald. Tapi karena ada Daniel dia tidak mau berlebihan. Padahal tanpa di tutupi pun Daniel tau tatapan kemarahan Marco komplikasi dengan rasa cemburu. Cemburu kan tandanya cinta? Daniel terlihat berpikir. Saat Feren menyapa Ibra kemarin aku cemburu. Jadi aku sudah mencintai Feren?
Daniel menoleh pada Feren yang sedang sibuk di ujung sana dengan temannya laki laki. Kurang ajar! Kemudian dia beralih pada Marco yang masih dengan tatapan tajamnya. Sudahlah fix Marco sedang jatuh cinta.
Terkutuk lah siapa pun yang mengubah Geby malam ini
Marco menghela nafas saat Gabriela sudah mulai dekat. Dia melirik Daniel yang juga tersenyum melihat Gabriela datang.
"Enyah kau sialan" Marco menendang kursi Daniel agar sepupunya itu pergi. Daniel langsung tertawa. "Mar!! dia cantik" Daniel melarikan diri setelah selesai mengedipkan mata.
Kembali lagi pada Gabriela, gadis itu sudah berdiri di sebelahnya. Marco jadi tidak tau bilang apa. "Kenapa lama sekali! kau tau aku menunggu disini hampir satu jam" Bisa tidak jangan marah marah sehari saja. "Dan ini apa lagi kau memakai baju kurang bahan seperti ini. Kau mau menggoda siapa?" Gabriela melirik Gerald meminta pertolongan namun Pria itu hanya berdiri dengan wajah datar. Maaf nona bujuk sendiri suami anda yang merajuk karena anda lama. Kira kira begitu isi hati Gerald.
"Duduk!!" Perintah sang dewa. Gadis itu menurut. Padahal aku sempat merasa nyaman semalam waktu dia bersikap manis tapi sekarang? Sudahlah Gabriela kau jangan terlalu berharap banyak. Dia kan hanya ingin melampiaskan hasratnya saja padamu. Jadi kau jangan bodoh mau saja ketipu dengan sikap manisnya di atas tempat tidur. Intinya mulai sekarang bentengi dirimu jangan terlena dengan sikap manisnya.
Acara demi acara masih berlanjut. Marco duduk di kursi sofa khusus orang penting. Di sebelahnya Gabriela dan di belakang sudah pastilah si kutu Gerald. Kemana pun tuannya dia akan selalu ada. Gabriela hanya diam membisu.Tidak berani membuka suara. Pestanya kalangan atas memang berbeda ya gumamnya. Aku seperti mengenal wanita itu. Matanya mengernyit saat melihat nona muda pemilik pesta. Tapi dimana aku melihatnya ya?
Lirikan keduanya bertemu, Gabriela gelagapan saat nona muda pemilik pesta datang mendekatinya. "Hai ternyata kamu datang" Aku rada rada ingat siapa nona cantik ini. Gabriela melirik Marco meminta penjelasan tapi laki laki itu diam saja. "Aku Altea yang kemarin datang ke pesta nikahan mu" Ya Tuhan Gabriela menepuk jidat "Kau sudah ingat?"
__ADS_1
"Ah ia aku baru ingat maaf kak" Dia buru buru menunduk sambil minta maaf.
Altea mengulurkan tangannya. "Ayo kita ambil minum". Gabriela melirik Marco walau takut dia tetap meminta izin. "Sayang aku ambil minum dulu ya" laki laki itu tidak menjawab dia hanya diam saja. Namun diamnya Marco di anggap jadi persetujuan. Dia berdiri menerima uluran tangan Altea.
Mata marco kembali mengerjab sambil melihat Gabriela yang pergi meninggalkannya. Gaunnya jatuh menggerai dibelakang saat berjalan, belum lagi rambutnya begitu cantik saat mendayu mengikuti langkahnya. Rambut pirang gelombang yang selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk Marco. Jam tangan silver yang antik melingkar di tangannya. Kulitnya yang putih lebih bersinar saat Geby menggunakan dress seperti itu.
Kemana hilang tubuh mungilnya yang menggemaskan itu? Rasanya Marco melihat wujud Gabriela lebih dewasa malam ini. Tidak, aku suka dia imut dan menggemaskan. Aku lebih suka dia datang padaku sambil meremas tangan,netranya menatapku tanpa kedip meminta pengampunan seperti anak kecil yang minta dibelikan jajanan.
Marco menyeringai tatapannya masih mengikuti langkah kemana gadis itu pergi. Sial dia tertawa! Marco kesal lagi kan!
"Kau lihat kan? Katanya dia bosan di rumah, aku membawanya kesini tapi lihat! dia bahkan pergi meninggalkan aku" Walaupun Marco tidak melihat Gerald tau kalau ucapan itu untuknya.
Lantas aku harus bagaimana tuan. Aku tidak mungkin mencegah nona pergi tadi padahal anda saja diam kan. Bagaimana mungkin aku yang melarang nona pergi kan ada anda disini, tidak mungkin juga aku melarang istri Tuan Matteo membawa nona pergi.
"Kenapa kau diam saja Ger!" Gerald berdiri "Maafkan saya tuan, saya akan meminta nona agar tidak meninggalkan anda" Sambil berdiri gerald merapikan jasnya dan melangkah. "Ger!" suara Marco terdengar lagi, Gerald menoleh. "Kau mau kemana?"
"Saya akan meminta nona agar jangan lama lama meninggalkan anda" Kata kasarnya aku akan meminta nona kembali tuan.
"Biarkan saja dia. Aku mau lihat sejauh mana dia mengingat aku disini" Biar aku ada alasan untuk menghukumnya nanti. Marco menyeringai.
Bunuh saja aku tuan Marco. Aku gagal paham dengan kemauan anda kali ini. Lalu saya bisa apa tuan? Anda mau saya bertindak tapi anda sendiri malah melarang ku dan ingin bermain dengan nona. Aku serba salah ini tuan. Akhirnya Gerald duduk lagi di samping Marco. Aku harap nona tau waktu, Tapi aku penasaran sih melihat nanti bagaimana jika nona benar benar lupa akan keberadaan tuan Marco yang di abaikan. Gerald seperti mengetahui cara baru membuktikan bahwa tuan Marco memang sudah jatuh hati pada gadis itu.
__ADS_1
Bersambung.
Reader tinggalkan like dan komentar ya