Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Terimakasih Geby


__ADS_3

Gabriela masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Saat Marco merangkak naik ke atas tempat tidur sap! Bantal, selimut, guling sudah teronggok di lantai. Gabriela antara takut namun jantungnya berdebar debar. Wajah Marco berada pas di atas wajahnya.


Gabriela meraba kanan kiri mencari sesuatu yang bisa menutupi bagian tubuhnya yang terbuka namun nihil. Tidak ada apa apa.


Lampu utama mati, tersisa hanya lampu pendar yang memberi cahaya remang. Namun begitu Gabriela masih bisa melihat tatapan buas laki laki yang sedang bertengger di atasnya. "Tuan...." Jari telunjuk Marco mengunci bibir gadis itu.


"Aku siapa mu Geby?" suara serak Marco malah membuat telinga Gabriela gagal fokus. Apalagi saat kepala Marco sudah menempel di bagian atasnya. Sekuat apa pun Gabriela menahan, suara menjengkelkan itu tetap saja keluar. Marco tersenyum tipis.


"Katakan dimana kau disentuh laki laki itu" Marco mulai mengabsen seluruh partikel di wajah Gabriela. Dan anehnya Gabriela sama sekali tidak bisa melawan. Dia hanya telentang dengan sejuta imajinasi. Rasanya kewarasan itu menghilang begitu saja.


"Disini?" lidah marco menyapu pipi gadis itu. Kemudian kembali berhenti tepat di bibir. "Buka mulut mu!" Seperti sihir Gabriela pasrah apalagi saat Marco mengajak pertengkaran kecil di dalam sana.


Ini salah kan! Ini tidak seharusnya terjadi kan! Akal sehatnya sudah kembali namun semua terlanjur. Kecupan halus sudah berlalu. Marco mulai melakukan gigitan kecil disekitar leher. Gabriela masih belum bisa terjun dalam permainannya.


Dekapan hangat membuat Gabriela tersadar. Tubuhnya berada di atas paha Marco. Tali satu satunya yang menempel di tubuhnya mulai turun. "Tuan....."


"Berapa kali lagi harus ku katakan panggil aku sayang" Nada serius itu terdengar biasa saja padahal itu adalah perintah serius. Mana paham Gabriela masalah itu. Apalagi sekarang kesadarannya tidak lagi 100%. Tatapan Marco benar benar bisa menghipnotisnya.


Gabriela berteriak kencang saat tiba tiba Marco mencium lehernya dengan keras. Dan pada akhirnya pakaian yang menjadi pertahanan terakhir runtuh juga.


"Kenapa kau kecil sekali Gaby?" Berapa sih umur mu? Kulitmu bahkan sangat sensitif. Sekali cium sudah merah begini. Marco mengusap dada Gabriela tempat dia mendaratkan bibir tadi.


"Kau tidak bersuara dari tadi Gaby kau tidak menyukai ku malam ini?" Marco sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Mencium sana sini.


Aku memang tidak pernah menyukaimu! Gabriela ingin berteriak kencang namun lagi lagi suaranya tercekat, Marco lebih dulu menutup bibir Gabriela dengan bibirnya.


Wajah Marco sudah mulai kesal saat merasa Gabriela tidak membalas apa pun. Dia meremas paha Gabriela hingga gadis itu menjerit. Dasar gila, kau pikir pahaku squizi!


Diselingi dengan kecupan basah sana sini gadis itu menggeliat.


"Sa... sayang" Aaaa lidahku bahkan kaku sekali menyebutmu dengan kata itu gila! Senyum Marco mengembang. "Panggil lagi" Perintah kedua. Gigitan di bahu Gabriela mengeras saat permintaan Marco hanya angin lewat. Gadis itu memalingkan wajah saat mata mereka bersitatap. "Hei lihat aku Geby"

__ADS_1


Gadis itu bersemu malu. Dia malu dengan dirinya sendiri. Bagaimana kau terlihat biasa aja menjelajah badanku gila! jantungku sudah mau meledak. Aaaaaa. Jeritan tanpa suara, tangan Marco seperti menemukan benda berharga yang sedari tadi hanya bisa di kekang Gabriela dengan tangannya.


"Baiklah karena kau menginginkan lebih dari ini maka aku akan berbaik hati padamu"


Apa! aku yang menginginkan atau kau gila! turun kau sana turun dari atasku! Gabriela hanya bisa berteriak dalam hati. Memaki laki laki gila yang sedang fokus mengabsen ulang seluruh interior antik milik sang putri yang sekarang sedang di dambakan Marco.


Bagaimana sih tubuh kecil,kurus seperti ini menjadi daya tarik untuk Marco. Belum lagi kulitnya terasa rentan seperti kulit bayi. Ahh organ tubuhnya juga pasti sedang masa pertumbuhan. Tinggi badannya saja tidak sampai sebahu ku. Tapii ah sudah lah. Marco tidak mau menghentikan apa yang sudah terlanjur dia lakukan.


Masih jadi misteri, kenapa tubuh kecil ini memiliki banyak daya tarik tersendiri untuk standar seorang Marco.


Hawa dingin mulai terasa padahal ruangan full AC. Marco mendekap erat tubuh kecil itu dibawah Kungkungannya. Saat merasakan tidak ada penolakan lagi wajah dingin menyebalkan menarik garis senyumnya.


Katakan apa yang terjadi setelah ini! Gabriela minim pengalaman. Tidak! aku bukan minim tapi gak ada pengalaman sama sekali sialan! Hei tubuhku yang tidak tau diri kau kenapa tidak memberontak saat dia melecehkan mu seperti ini. Kok di lecehkan pula! kau kan istrinya bodoh!


Gabriela berperang dengan batinnya sendiri. Antara sadar dan tidak sadar dia mulai menyukai sentuhan lembut yang mulai menjalar kemana mana. Badannya mulai geliut manja ke kiri kanan.


"Geby" Gadis itu menoleh. Alam sadarnya bekerja dengan keras berusaha menyalurkan kenyataan pada pikirannya yang dangkal. Wajah tuan Marco dekat sekali. Tapi bagaimana dia tidak gemetar ya? berbeda denganku.


"Selain di wajah, dimana lagi laki laki itu memegangi mu" Hah! laki laki yang mana gila! Aku bahkan tidak ingat apa apa lagi. Eh tolong! tanganmu tolong di kondisikan jangan main masuk aja. Dibawah selimut hanya sekali tarik Gabriela seperti lahir kembali. Polos tanpa sehelai benangpun pun.


"Tuan" Marco melirik tajam. Senyumnya yang mengambang tadi pudar sudah. Gabriela malah semakin tersulut. "Kau tidak dengar apa kubilang tadi? panggil aku sayang!" Nada penuh tekanan. Hanya saja tekanan itu tidak seperti biasanya ketika mereka sedang tidak seperti posisi sekarang.


"Sayang boleh aku bertanya?" Berikan tepuk tangan karena Gabriela berhasil bertanya dengan lancar tanpa terbata sedikit pun. Marco tersenyum, katakan apa yang mau kau tanya. Cepat jangan lama lama.


"Apa.. apa tidak apa apa?" Marco mengernyit? Apa maksudmu? Sebelah alis Marco naik. "Katakan dengan jelas. Kau kenapa kayak cacing kepanasan!"


Aaaa. Aku ingin menjambak rambutnya! Gimana aku tidak gemetar. Wajah tampannya dekat sekali! eh jangan memuji manusia kejam seperti ini. Gabriela memarahi hatinya yang berkhianat.


"Apa yang kau pikirkan" Marco sudah tidak sabar dia kembali menyambar bibir Gabriela dengan rakus. Gabriela tau ini bukan lagi sekedar ciuman biasa.


"Tuan! eh sayang... apa tidak dosa jika kau melakukannya padaku" Kumohon mundur lah. Aku gadis penebus hutang Tante kan. Walau kita nikah tapi tidak ada cinta diantara kita. Jangan jadikan aku pelampiasan nafsu mu. Gabriela ingin menangis rasanya saat kesadarannya mulai membaik.

__ADS_1


"Kalaupun dosa kau berani menolak ku?" Gadis itu menggigit bibirnya. Marco tidak tau kalimat barusan seperti mengoyak tubuh Gabriela. Sudah lah Geby. Kau kan sudah di kontrak terserah dia mau melakukan apa padamu.


Tapikan ini mahkota ku satu satunya. Harga diriku!


Memangnya kau masih punya harga? Tubuhmu bahkan sudah tersaji. Dan lagi kau kan sudah di jual bodoh!


Hembusan angin malam mulai terasa. Gerakan Marco sudah berada di fase berbeda. Ini sudah mulai memasuki tahap berhubungan. Gabriela meremas sprei sekuat tenaga. Tubuhnya membeku padahal ada keringat yang menetes dari dahinya.


Dia pasrah! Merasa terhina biarlah! Aku memang tidak bisa menolaknya lagi kan.


Hembusan nafas Marco mulai lagi membius kesadaran Gabriela.


Bisikan bisikan halus penuh perasaan menyempurnakan pembiusan.


Gabriela hilang kesadaran saat Marco membawanya healing. Rasa mereka menyatu kemudian saling berbagi.


Malam semakin larut. Suara halus mulai terdengar. Saat keringat dan peluh tidak menghentikan aktifitas dua orang yang sedang bergulingan di atas tempat tidur mencari posisi yang nyaman dan menyenangkan.


Bisikan kata sayang menjadi penyemangat keduanya saling berbagi.


Gabriela menarik nafas saat Marco sementara menghentikan aktifitasnya mencoba memberikan ruang untuk Gabriela. Dia tau gadis di bawah ini kewalahan, berbeda dengannya yang mungkin sudah lebih matang untuk melakukan hubungan sejauh ini.


Marco menarik dagu Gabriela bibir mereka bertemu lagi. Setelah itu Marco mulai serangan yang entah ini sudah yang ke berapa.


Sebuah kecupan manis yang hangat mendarat di kening Gabriela. Marco menyudahi permainannya saat melihat Gabriela sudah tidak berdaya lagi. Senyum samar itu membingkai wajahnya. Dia terlah berhasil mendewasakan seorang gadis polos yang masih berumur belia. Sekali lagi kecupan hangat, Marco memilih berdamai setelah peperangan berakhir.


Dibawah selimut dia memeluk erat tubuh istrinya yang kelelahan. Tubuh kecil itu meringkuk dalam dekapannya. Rambut nya terurai, Marco membiarkan saja.


Terimakasih Geby


Bagaimana kau bisa semanis ini. Senyum masih tergambar di wajahnya saat malam menyambut.

__ADS_1


Pelayan turun dari lantai dua. Dia menggeleng kecil. Tuan Marco sepertinya sudah tidur dan juga nona Gabriela. Dia kembali menutup semua makan malam yang sudah tersedia.


Bersambung...


__ADS_2