
Marco membawa jas kerja di pundaknya. Tidak lupa kaca mata hitam bertengger di atas hidung. Senyum tipis mewakili perasaanya pagi ini. Di lobby semua karyawan merasa bahwa kiamat sudah dekat.
Tuan Marco datang tanpa asistennya. Biasanya Gerald selalu ada kan setiap saat. Bukan hanya itu. Tapi senyum nya! tuan Marco bisa senyum juga?
wah wah wah... badai apa yang akan datang menerpa kota ini ya.
Marco masih dengan senyumnya duduk di kursi kebesaran miliknya. Si Raja agung penguasa. Dia membuka kaca mata tergelak sendiri lagi. Entah apa yang membuat hatinya terhibur. Intinya dia sedang senang.
Rahang Gerald hampir terjatuh. Selain karyawan lobby, dia adalah orang yang paling mengenal manusia ini. Senyum senyum sendiri bukan tipe Marco. Terbiasa dengan pembawaan serius membuat tampilan Marco Dingin dan misterius.
Gerald meletakkan paper bag di atas meja. "Selamat pagi tuan" Sial tuan Marco bahkan belum menyadari keberadaan ku. Tapi kenapa tuan Marco senyum menggelikan begitu. Gerald mengernyit. Dahinya berkerut, berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan tuannya.
Gerald memilih keluar. Sepertinya dia penting memberikan ruang untuk Marco menikmati suasana hatinya yang sedang dilanda bahagia.
"Ger!!!" Tepat saat tangan Gerald menyentuh handle pintu, suara sang raja terdengar. Gerald berbalik dan lagi lagi melihat wajah sumringah itu. Sebenarnya ada apa sih tuan?
"Aku punya candu baru" Marco tertawa lepas sambil memukul mukul meja. Gerald semakin penasaran, terlihat dahinya semakin berkerut.
"Candu baru? candu baru apa yang membuat hati anda bahagia tuan? saya lihat....
"Gabriela bahkan tidak pernah...." Marco menutup mulutnya. Tidak jadi. "Keluarlah Ger siapkan pertemuan kita dengan Central TPN" Sepertinya Marco tidak berniat melanjutkan pembicaraannya.
"Baik tuan saya akan persiapkan" Pintu tertutup sambil berjalan Gerald masih memikirkan tuannya. Nona Gabriela. Satu nama yang mungkin penyebab Marco pagi ini adalah Gabriela.
Apa hubungan tuan dengan nona Gabriela sudah baik? Ah Gerald semakin pusing. Dia terlihat menghubungi seseorang. "Pertemuan sebelum makan siang. Pastikan semua berjalan dengan baik Tuan Marco ingin bertemu langsung" Intinya jangan sampai kau menyesal karena kurang persiapan. Gerald menutup pembicaraan kemudian memasukkan ponsel kedalam saku jasnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Terlihat Tuan Marco dan Gerald berjalan sejajar. Tapi senyum yang mereka lihat tadi pagi sudah pudar. Pembawaannya sudah kembali seperti biasa. Karyawan hanya menunduk sekilas ketika kebetulan berpapasan.
"Kau jadi membeli ponsel untuk Gabriela?"
"Sudah tuan, saya akan memberikannya nanti pada nona" Gerald mulai menjalankan mobil.
"Cih... kau lupa Ger? Kau lupa Gabriela sekarang istriku?" Gerald mengernyit. Trus? kenapa kalau dia istri tuan? Sial Gerald baru sadar kalau tuan Marco tidak suka Gabriela berhubungan dengan siapa pun. Jadi termasuk aku begitu?
"Maaf tuan....
"Jangan coba coba menemui istriku diam diam Ger" Dari peringatan itu Gerald menyimpulkan bahwa Tuan Marco sepertinya terjebak dalam permainannya sendiri. "Baik tuan saya akan hati hati kedepannya".
__ADS_1
"Hanya aku yang boleh terhibur dengannya" Wajah Marco sumringah membayangkan Gabriela.
Gerald tidak menjawab. Namun, ada sedikit yang tergelitik di hari Gerald. Anda meminta saya jangan menemui nona diam diam. Padahal kemarin kemarin anda kemana tuan? melihat nona Gabriela saja anda tidak sudi. Anda selalu mengatakan urus gadis bodoh itu. Kepalaku sakit melihat kebodohannya.
Dan jangan bilang anda sekarang terhibur karena adanya nona Gabriela. Tapi bagian mana yang menghibur anda. Ahh kepalaku sakitnya jadinya.
Mereka tiba di sebuah restoran. Gerald mendorong pintu kaca menuju ruang VIP. Disana sudah ada yang menunggu. Seorang pria paruh baya dengan dua wanita bisa jadi itu sekretarisnya.
Pria tua itu bergetar saat melihat penampakan asli tuan Marco. Dari tampilannya saja sepertinya dia sudah membenarkan ucapan bawahannya bahwa tuan Marco bukan orang sembarangan.
Marco duduk. Tanpa bersuara dia menunjuk Map di atas meja. Ehh Pria tua itu gelagapan tidak mengerti.
Hah dasar bodoh.
"Berikan berkasnya pada tuan Marco" Gerald si manusia yang mengerti semua hal mengenai tuan Marco memberikan terjemahan.
"Silahkan tuan" Pria paruh baya itu menelan ludah dan menarik tangannya dari atas meja. Pandangan marco menusuk ke ulu hatinya. Isyarat tangan Marco mengatakan agar jangan banyak bicara.
Marco membubuhkan tanda tangan. "Aku tunggu kabar baik dari proyek ini. Jangan pernah lupa bahwa aku tidak suka lelucon" Datar seperti biasa namun penuh intimidasi. Marco berdiri di ikuti oleh Gerald.
Udah gitu aja? Gerald merasa tengkuknya dingin. Bagaimana aku menyimpulkan sikap anda tuan? Kenapa berubah drastis begini. Padahal mereka sudah siap saat anda menginjak injak mereka sekalipun. Tapi semua malah jauh lebih mudah.
Lelaki itu memohon agar diberi waktu dan kepercayaan. Iya tidak mau jadi pecundang.
Dibawah kaki Gerald dia bersimpuh mohon pengampunan. Dan berjanji akan memberikan semua usaha semaksimal mungkin. Karena dia tau kalau proyek ini hancur maka dia orang pertama yang lenyap dari bumi ini.
Marco menyandarkan kepalanya. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Gerald melirik sedikit melihat ekspresi wajah Marco. Sepertinya laki laki itu sedang berpikir.
Marco menghela nafas panjang. Melihat pria tua itu memohon tadi seperti menemukan sedikit ketulusan, ekspresi, suara dan juga bola mata menunjukkan keseriusan.
Tapi kan aku tidak pernah luluh dengan cara memohon seperti itu. Marco berdecak lahi. Tapi entah mengapa ekspresi Gabriela ketika membujuknya dan meminta maaf terbayang ketika pria tua itu memohon tadi.
Gaby sedang apa sekarang ya.
Marco meraih ponselnya ingin menghubungi seseorang. Tapi dia seketika sadar. "Ger.. secepatnya berikan ponsel baru Gabriela. Agar aku bisa menghubunginya" Mobil berdecit akibat rem mendadak. Marco bahkan mengambang sebentar tadi ke depan.
Dia melirik tajam Gerald. "Maaf tuan saya akan hati hati" Bagaimana aku tidak panik. Anda tiba tiba ingin menghubungi nona Gabriela. Ada angin apa lagi yang mau datang ini. Apa angin cinta sudah mulai berhembus?
__ADS_1
Gerald menggeleng kecil.
"Kau kenapa?"Marco mengerutkan keningnya.
"Tidak apa apa tuan" ekspresi datar Gerald membuat Marco memalingkan wajahnya. "Sepertinya ada yang tidak beres dengan dirimu. Perlu periksa ke dokter?"
Apa! anda yang harusnya periksa ke dokter tuan yang mulia Marco. Sikap anda semakin hari semakin aneh.
"Kau kenapa menggeleng lagi?" Marco kesal melihat Gerald lagi lagi menggeleng kecil. "Pergi periksa sana! pastikan semua saraf di kepalamu berada pada tempatnya Ger" Marco terlihat serius dengan ucapannya.
"Baik tuan" Puaskah anda tuan? tapi apakah hanya aku yang merasa anda aneh? Kalau iya maka aku akan mendatangi dokter besok. Mana tau memang aku yang salah.
Saat mobil sudah tiba di depan gerbang. Security menundukkan kepala lalu menutup gerbang lagi.
Marco melihat tampilan wajah di kaca spion mobil. Merapikan sedikit rambut dengan jari tangan dan tidak lupa jasnya juga di benarkan. Marco tergelak sendiri saat mulai melangkah memasuki rumah.
Kan! Anda bahkan tidak pernah seperti ini. Sejak kapan anda berkaca dahulu sebelum masuk. Bisa tidak ya aku menyimpulkan bahwa anda mulai termakan umpan anda sendiri tuan?
Aku akan mengumpulkan banyak bukti setelah ini. Gerald juga ikut masuk kedalam rumah. Namun langkahnya berhenti karena kibasan tangan Marco mengatakan sana pulang!
"Baik tuan. Jika ada perlu hubungi saya. Saya akan kembali ke kantor" Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Karena akhir akhir ini anda sibuk dirumah. Padahal tidak dibilang pun Marco akan menghubunginya jika perlu.
Menaiki tangga, Marco menyetel wajahnya tidak tersenyum lagi. Pokoknya Gabriela tidak boleh sampai melihat senyum di wajahnya. Karena membuat Gabriela gelagapan dan keteteran adalah misinya sekarang.
Gabriela kan selalu takut melihat wajah tegang Marco yang menyeramkan.
Tepat dugaan. Wajah tegang Marco membuat Gabriela langsung berjongkok membuka sepatu. Gadis itu tidak mau sampai membuat kesalahan. "Apa tuan mau mandi sekarang?"
"Tidak! tahun depan" Eee gila! jawab saja iya apa susahnya sih. Gabriela merengut sambil masuk kedalam kamar mandi. Menyiapkan air panas sambil mengutuk sikap Marco yang persis seperti iblis. Dipukulnya air di dalam bath up. Sepertinya melampiaskan marahnya. Semoga matamu kemasukan busa sabun!
Setelah bath up penuh. Gabriela menuang sedikit aroma terapi. "Sudah tuan" Gabriela berbalik hampir saja terjungkal melihat Marco sudah buka baju. Hanya menyisakan boxer.
Dasar tidak tau malu. Dengan wajah kesal dia keluar dari kamar mandi. Sementara Marco semakin puas. Lalu menceburkan badannya begitu saja ke dalam bath up.
"GABRIELA!!!!!!!!!!" Marco berteriak marah dari dalam kamar mandi.
Bersambung...
__ADS_1
Reader sayang. Aku butuh like dan komen kalian lho ðŸ¤. Biar aku semangat. Komen ya dan like juga 🤗