
Meja kecil berbentuk bundar sudah di isi dengan dua box makanan. Tim yang bertugas di bagian konsumsi datang lagi menyerahkan minuman hangat. Marco membuka box miliknya terlebih dahulu kemudian beralih pada milik Gabriela. Mereka menikmati makan malam di bawah langit lepas berbalut syal yang menggulung di leher. Suhu udara terasa dingin Marco meminta agar Gabriela mengeratkan syal miliknya.
Kendati semakin malam lokasi semakin ramai pengunjung. Mereka menikmati makan malam ditemani oleh serangkaian acara khusus dari band band yang di undang oleh tim Adicipta grup.
Keramaian tidak lagi terelakkan saat karyawan cabang perusahaan Adicipta group turun dari bus. Mereka membawa banyak sekali peralatan suara riuh pecah. Sambil menikmati makan malam Gabriela menangkap sosok yang dia kenali.
Itu kan tuan Gerald kenapa dia disini
"Sayang kita tidak kesana?" Gabriela menunjuk arah yang lebih ramai. Gadis itu ingin tau ada apa sih disana kok ramai. "Boleh?"
Marco yang tadinya malas akhirnya berdiri juga. Sambil memakai topi hodienya dia menarik tangan mungil Gabriela, menggenggamnya sepertinya takut hilang. "Hati hati! lihat jalan mu!" Marco melirik beberapa pengawal yang berjaga di sekitarnya.
"Sayang... apa ini acara perusahaan mu?" Gabriela tidak sengaja melihat logo Adicipta group. Diamnya Marco dianggap jawaban iya. Gadis itu mengangguk. Mereka berhenti di jarak yang lebih aman.
Acara ini merupakan puncak perayaan Grand opening taman hiburan yang di bangun oleh Adicipta group.
Proyek yang memakan dana triliunan rupiah selama pembangunan. Acara ini juga di buka untuk umum. Namun karyawan Adicipta group memang semua kendali acara.
Semua lampu tiba tiba padam. Sunyi sebentar, hanya ada alunan musik. Terlihat di depan sana para petugas sudah menyalakan lampion.
Gabriela menengadah ke langit mengikuti lampion bentuk balon balon yang mulai beterbangan. Kehangatan menyelimuti hatinya. Bagaimana pemandangan indah seperti ini bisa aku saksikan.
Ribuan lampion di terbangkan bersama dengan harapan harapan para karyawan Adicipta group terbawa oleh angin ke angkasa. Tepuk tangan sangat meriah di iringi dengan teriakan pengunjung.
Kegelapan langit menyajikan pemandangan lampion menghiasai angkasa. Gabriela terkagum, semenjak lahir ini pertama kali dia menyaksikan hal seperti ini.
Kehangatan itu semakin terasa ketika tangan mereka saling menggenggam.
__ADS_1
"Sayang ini cantik sekali" Gabriela berputar sambil menengadah. Hati kecilnya bersorak senang sambil terus memandangi langit.
Aku hampir saja menangis karena jalan jalan ke mall tidak jadi. Dan ternyata laki laki gila ini masih punya hati hehehe. Ini bahkan lebih menyenangkan. Marco seperti tidak tertarik sama sekali. Dia hanya sibuk menyembunyikan wajahnya di balik topi hodienya sambil mengintip wajah berseri istrinya. Ada rasa senang dihatinya melihat ekspresi istrinya yang jarang bahkan tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Ya begitulah, walaupun ini acara Adicipta group namun dia tidak mau menampakkan diri. Semua dia serahkan pada Gerald dan tim Adicipta group. Bukan dia tidak respon dengan acara ini tapi dia tidak mau di sorot kamera.
Marco tidak mau ada yang mengenalinya itu sebabnya dia datang seperti pengunjung biasa. Apalagi gebyar ini di liput dan juga di tayangkan langsung di televisi. Belum lagi ada Gabriela di sampingnya. Banyak hal yang akan dia jaga.
Gadis disampingnya tertawa hangat. Marco hanya melirik kemudian ekspresinya datar seperti biasa. Pengawal yang berjaga di sekitar mereka mengawas dengan ketat, apalagi keberadaan tuan marco di antara lautan manusia. Walau merasa tidak nyaman dia berusaha untuk bertahan karena gadis yang disampingnya.
Acara masih tetap berlanjut bersamaan dengan undian berhadiah yang dinantikan semua orang. Gabriela antusias ingin mendapatkan kesempatan memiliki salah satu hadiah yang sudah disiapkan petugas.
"Ayo pulang" Marco menarik tangan istrinya meninggalkan keramaian. Gadis itu merengut. "Sayang... mana tau nama kita keluar gimana" Belum lagi hadiahnya pada menarik semua. Pasti itu juga harganya lumayan itu bukan barang murah yang di jual bebas. Gabriela berusaha membujuk agar pulangnya di undur.
"Aku bahkan bisa memberikan mu apa pun" Artinya hadiah undian itu tidak penting ayo pulang. Gabriela menahan tangan Marco. "Sayang..."
Marco mengeraskan rahangnya saat menangkap wajah seseorang yang bersembunyi di balik masker. Mau apa kau kesini! Marco masih melirik punggung pria itu sebentar sebelum meninggalkan kerumunan untuk mengamankan Gabriela.
Marco mendorong tubuh Gabriela ke dalam mobil. "Bawa pulang Gabriela kerumah " Marco memberikan kode darurat pada pengawal. Mereka langsung siaga berpencar kemana mana.
Gadis itu bingung, kenapa ini kenapa wajah mereka seperti marah begini. "Sayang ada apa sih"
"Tetap disini jangan membantah" Marco menutup pintu mobil setelah memastikan keselamatan istrinya. Ada tawa mengejek yang terlintas di bibirnya kau mau menyerang ku dari segi mana. Senyum Marco menyurut ketika melihat kegaduhan di keramaian. Acara harus di bubarkan sebelum waktunya untuk menjamin keselamatan pengunjung. Lampu yang tadinya terang tiba tiba mati. Keributan tidak terelak lagi saat terdengar suara ledakan pistol. Ada yang kena tembak peluru?
.....
Mobil melaju dengan kencang. Sopir sudah berganti, bukan lagi sopir yang mengantar mereka tadi sore melainkan pengawal yang tidak asing bagi Gabriela. Dia sekilas mengenali pria yang mengendalikan kemudi tersebut.
__ADS_1
"Tuan ada apa ya, tuan Marco tidak kenapa kenapa kan?" Gabriela berpegangan pada sandaran kursi karena mobil benar benar melaju dengan sangat kencang.
"Nona jangan khawatir. Saya Imran panggil saja saya se nyaman anda nona saya bawahan tuan Marco" Imran menyalip kendaraan yang juga melaju kencang di depannya. Tatapannya penuh amarah. Itu plat mobil bukan daerah sini kan. Kurang ajar! sepertinya yang mereka inginkan adalah nona.
Dua mobil hitam saling mendahului di sebuah jalan tol. Walaupun sudah ahli namun Imran merasa mobil yang mengejarnya sangat ambisius. Imran mau tidak mau mengambil arah yang lebih dekat menuju jalan raya. Dan Sialnya di persimpangan jalan mobil yang mengejar semakin bertambah.
Sebuah peluru melesat mengenai ban belakang Imran. Gabriela berteriak. "Tenang nona semua baik baik saja"
Aksi kejar kejaran itu terus berlangsung.
Mobil berdecit. Tubuh kecil Gabriela hampir terlempar ke depan. Untung saja dia menggunakan seat belt. Sebuah mobil Jeep berhenti di depan mobil Imran.
Beberapa orang berpakaian hitam turun sambil mengacungkan senjata. Gabriela berteriak ketakutan dan lebih parahnya lagi Imran tidak bisa berbuat. Dia di suruh turun dari mobil, namun Imran tidak langsung keluar. Gedoran di kaca mobil semakin keras. Gabriela semakin panik. "Nona tetap disini, jangan kemana mana" Imran turun menantang orang orang yang datang entah dari mana mengejarnya.
"Apa mau kalian" Baru saja Imran membuka suara seseorang menutup kepalanya dengan balutan kain. Imran tampak melawan namun satu orang banding sepuluh orang apa imbang?
Tutup kepala terlepas. Imran menarik pistol dari pinggangnya menembak satu persatu orang orang yang menyerangnya namun dia gagal. Sebuah peluru melesat di kepalnya. Imran terkapar disaksikan langsung oleh Gabriela.
Gadis itu gemetar di dalam mobil Apalagi dua orang masuk kedalam mobil dan menghidupkan mobil
"Siapa kalian!" Gabriela berteriak sambil berusaha keluar. "Tolong!!!" Gadis itu meronta ketika dia di tarik paksa dan di masukkan ke dalam mobil Jeep.
"Tuan Imran!!! tolong aku"
"Tuan!! bangun!"
Mobil Jeep melaju dengan kencang. Gabriela berteriak marah sambil menangis. "Siapa kalian!"
__ADS_1
Bersambung