
Walau berat hati Marco akhirnya mengizinkan tuan Andika ke kantor. Padahal Marco tau ini akan memancing musuh di luaran sana namun tuan andika tidak mau mundur. Entah mengapa dia semakin terpancing untuk duduk di perusahaan.
Walaupun selama ini Tuan Andika memang memantau perusahaan, bahkan nama tuan Andika bukan lagi asing di telinga semua karyawan Adicipta group.
Nama tuan Andika terpampang di struktur kedudukan perusahaan Adicipta group.
Namun para pegawai tidak ada yang tau seperti apa wujud Tuan Andika yang katanya adalah presdir sekaligus pendiri perusahaan tempat mereka bekerja.
Aku tidak mau bersembunyi seperti pengecut. Toh Marco sudah berhasil menyingkirkan penjahat yang dulu berkhianat padanya. Anak ku sudah besar, Tuan andika menatap map yang berjejer rapi di lemari kaca. Itu adalah beberapa dokumen penting serta beberapa sertifikat yang berkaitan dengan puncak pencapaian terbaik Adicipta group selama ini.
Dokumen itu berada di lantai yang sama dengan ruangannya. Bahkan ada pintu penghubung dari ruangan itu menuju ruangan presdir.
Semua masih sama! Gumamnya dalam hati.
Tuan Andika menduduki kursi kebesarannya dulu. Kursi yang menjadi saksi bisu perjuangannya mendirikan perusahaan ini. Dia mengelus meja kerjanya, tidak ada debu sama sekali. Karena ruangan ini memang rutin dibersihkan setiap hari oleh OB tertentu. Suhu dan pencahayaan juga teramat terjaga disini. Jadi semua berkas dan interior dalam ruangan sangat terawat dengan baik.
Tuan Andika mengeluarkan album foto dari dalam laci. Dia memandangi orang orang yang ada dalam foto. Itu semua adalah pengawal dan rekannya yang telah gugur. Kemudian lembar kedua ada foto dirinya dengan seseorang, yang ada difoto itu masih hidup. Tapi entah dimana sekarang berada.
Lembar ketiga, ada gambar yang menyayat hati disana. Insiden kematian sahabat sekaligus orang yang mempengaruhi kesuksesannya. Orang yang melindungi tuan Andika hingga mengorbankan nyawanya. Sehari setelah itu terjadi perebutan kekuasaan di perusahaan hingga aksi saling menembak terjadi di lantai lobby. "aaaaa" Bayangan peluru yang melesat di kepala temannya langsung memenuhi pikiran tuan Andika.
Marco membuka pintu. "Papa ada apa!!" Tuan Andika terduduk di lantai. "PAPA!!" Marco memapah tuan Andika menuju sofa.
"Ada apa pa? papa kenapa?" Rasa panik Marco tidak dapat disembunyikan. Tuan Andika mengelus bahu anaknya. "Tidak apa apa nak papa hanya teringat masa lalu" Marco menghela nafas. Untuk itu makanya aku melarang mu kemari pah! tapi papa tidak mendengarkan aku.
"Aku akan memanggil pengawal mengantar papa pulang" Marco sudah memegang gagang telepon. Tuan andika menghentikan.
"Tidak usah. Papa baik baik saja"
"Sampai terjatuh begitu papa bilang baik baik saja" Suara Marco naik satu oktaf.
"Berikan papa kepercayaan agar papa bisa bangkit dari trauma papa" Marco menghela nafas. "Aku tidak akan izinkan papa jika semua beresiko pah".
Tuan Andika hanya tersenyum. "Kembalilah ke dalam ruangan mu boy" Tuan Andika berdiri kemudian kembali kedalam kursi kebesarannya. "Kau tau pintu keluar kan boy? mau ku panggil pengawal menyeret mu dari sini?" Tuan Andika menyeringai sepertinya dia serius. "Pekerjaanku banyak boy, jadi jangan menggangguku".
Marco memutar bola mata malas. Memang apa yang mau papa kerjakan? semua pekerjaan mu sudah ku handle.
Tuan Andika mengusir anaknya melalui isyarat tangan. Walaupun dia bercanda tapi Marco kesal kemudian berlalu menutup pintu. "Tetap pantau papa dari sini" Pengawal di depan menunduk sopan.
Tuan Andika sedang menunggu seseorang masuk kedalam ruangannya. Hari ini dia sudah bertekad akan mencari tau semua detail mengenai menantunya, mulai dari latar belakang keluarga dan juga mencari keluarga dari rekan rekan dan pengawal yang tewas pada waktu insiden penembakan di lobby kantor.
__ADS_1
Sepertinya Tuan Andika perlu mengunjungi mereka. Ah itu satu lagi, rekan baiknya yang masih hidup. Sudah dimana dia sekarang. Tuan Andika meminta agar benar benar mencari informasi yang valid mengenai semua itu.
Aku akan memulai semua dari awal. Tidak ada dendam namun insiden penembakan itu masih menyisakan luka di hatinya. Dan Tuan Andika sepertinya akan memecahkan masalah itu hingga selesai.
Jam makan siang tiba. Para karyawan perusahaan mulai memenuhi cafe perusahaan. Selain cafe ada juga lounge untuk para supervisor dan petinggi Adicipta group. Namun lounge itu tidak menyediakan banyak jenis makanan bebas. Jadi terkadang baik para supervisor dan petinggi perusahaan masih terlihat antri di cafe lantai satu untuk menikmati makan siang.
Gerald menutup map di depannya, menatap Marco yang terlihat masih sibuk dengan dokumen. "Keluarlah kembali ke ruangan mu sana" Marco menutup dokumen kemudian menyandarkan punggungnya.
"Baik tuan aku akan menghubungi waiters untuk mengantarkan makan siang anda" Gerald merapikan jasnya kemudian berdiri.
"Tidak perlu Ger" Marco tersenyum mengejek. "Aku bukan jomblo, aku sudah punya istri yang akan mengantar makan siangku" Marco menggoyangkan hp di depannya.
Mengatakan bahwa barusan Gabriela mengabari bahwa dia akan datang ke kantor mengantar makan siang. "Punya istri itu enak Ger" Pamer! Marco sedang pamer pada seorang jomblo abadi.
Padahal dia tau kalau Gerald sampai hari ini tidak memikirkan pasangan hidup karena sibuk mengabdi pada Adicipta group.
Silahkan pamer sesuka hati anda tuan. Gerald hanya bisa membatin sambil berlalu menutup pintu. Jiwa jomblonya sepertinya tidak terusik sama sekali dengan kata kata Marco barusan. Gerald menghubungi waiters agar mengantar makan siang ke ruangannya. Setelah itu dia lanjut bekerja.
Sementara itu dua orang wanita masuk dari lift samping. Seorang wanita berbalut pakaian resmi juga terlihat mengawal mereka.
"Geby? mama nanti pulangnya sama Geby juga ya, jadi nanti mama telfon geby bolehkan" Nyonya reva berceloteh saat lift sudah tertutup.
Ibunya tuan rion baik sekali. Dia juga cantik dan anggun serta memiliki hati yang hangat. Aku nyaman dengannya, dia memperlakukan aku dengan baik tanpa menjaga jarak sedikit pun.
Tapi bagaimana...
Ting! lift terbuka. "Mari nona ruangan tuan Marco di lantai ini" Nyonya Reva tersenyum. "Geby ke ruangan Marco saja ya, mama akan ke ruangan papa" Ruangan presdir berada di lantai yang berbeda dengan Marco. Akhirnya Gabriela keluar dari lift mengikuti seorang staff wanita.
Nyonya Reva melambaikan tangan sebelum pintu lift tertutup. Manisnya menantuku malu malu begitu. Nyonya reva tersenyum sendiri mengingat kenangan masa lalunya yang menikah muda juga dulu. Dan malu malu saat bertemu suaminya di kantor ini.
Kenangan itu selalu terlintas di benak nyonya Reva dan masa masa itulah yang sedang dia ulangi saat ini. Mengantar makan siangnya para suami. Hahaha nyonya Reva tertawa saat keluar dari lift dan membuka pintu ruangan suaminya. Tuan Andika menyambut istrinya dengan senyum hangat.
Sementara itu Gabriela masih terlihat ragu ragu mengetuk pintu ruangan suaminya. Padahal Marco sudah menunggu didalam. Bahkan berkali kali terlihat melirik pintu menunggu istrinya masuk.
Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya dia mengetuk pintu. "Sayang a...aku masuk ya" Gadis itu meremas handle rantang yang dia pegang saat tatapannya bertemu dengan tatapan dingin suaminya.
Marco menjentikkan jarinya. Gabriela mendekat. "Apa yang kamu bawa itu?"
"Makan siang anda sayang" Gabriela meletakkan rantang di atas meja kemudian naik ke pangkuan Marco karena lelaki gila ini menariknya. Tidak ada gunanya menolak. Karena kalau menolak dia akan marah bahkan melakukan yang tidak tidak padaku. Eh pahanya kok empuk ya. Gabriela menertawakan isi pikirannya sendiri sambil menahan malu.
__ADS_1
"Padahal kau setiap malam duduk kan di pangkuanku tapi kau masih malu malu begitu" Marco menggigit daun telinga istrinya agar tersadar karena selalu diam membeku ketika berada di pangkuannya.
"Sayang sebaiknya anda makan siang dulu" Agar aku turun dari pangkuanmu. Ini kantor bukan rumah, bagaimana kalau orang lain masuk. Alih alih Gabriela mau turun namun pinggangnya di tahan.
Memang benar benar ya laki laki ini. Satu tangan jahil sudah merayap di paha Gabriela, gadis itu merinding geli apalagi jarinya mulai menari nari.
"Sayang ah" Sialan! kenapa juga suara kurang ajar ini keluar. Gabriela memaki dirinya apalagi melihat senyum licik Marco yang mulai menyeringai. "Kau selalu menolak padahal kau suka dan menikmatinya juga" Marco tertawa licik.
Siapa yang menikmati gila!
"Sayang anda harus makan siang segera, karena sebentar lagi aku dan mama akan pulang" Marco meremas paha Gabriela.
"Memangnya siapa yang mengizinkan mu pulang?" Marco meraih remote. Tirai kaca tertutup, pintu juga terkunci.
Marco melempar remote entah melayang kemana. Gabriela panik. Kenapa buka jas? eh bajunya juga dibuka? mau apa kau siang siang begini gila.
Hei hei! Gabriela sudah beringsut menjauh namun tubuh mungilnya langsung ditahan suaminya. "Aku akan menikmati mu, kau kan makan siangku" Senyum Marco meleleh saat ekspresi istrinya kaget. "Kau mau ku mulai dari mana? aku kasi waktu tiga detik untuk kau memilih geby" Belum satu detik Gabriela sudah di dorong hingga terjerembab di atas sofa.
Hei gila! kau bilang tiga detik tadi! Gabriela mencengkeram sofa. Udara yang dingin mulai memanas.
Gabriela merapikan kembali bajunya, menjepit rambutnya kemudian menatap tampilannya di cermin. Sudah rapi. Gadis itu keluar dari toilet. Dasar gila! bagaimana kalau ada orang yang masuk tadi heh!
"Pulanglah mama sudah menunggumu di lobby" Marco mengecup pipi Gabriela kemudian menunjuk pipinya agar di cium balik.
"Kalau mama bertanya kenapa aku belum makan jawab saja sejujurnya" Gabriela membulatkan kedua bola matanya. "Apa kau gila?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Gabriela.
"hahaha kau sudah berani mengatai aku gila ya geby" Marco sudah bersiap menangkap Gabriela beruntung gadis itu langsung lari sambil menyambar rantang di atas meja.
Marco tertawa saat istrinya buru buru menutup pintu sambil menenteng kembali rantang yang masih berisi tanpa di sentuh sedikitpun. Aku harus jawab apa pada mama nanti. Gadis itu merasa bersalah padahal tadi mama sudah sangat semangat menyiapkan makan siang untuk anak dan suaminya. Cih! malah memakan ku. Gabriela menutup mulutnya merasa malu memilih kosa kata itu.
Nyonya Reva sudah tersenyum melihat menantunya berjalan mendekatinya. "Maaf ma. aku lama ya" Gabriela merasa sangat sungkan telah membuat nyonya Reva menunggu.
"Tidak apa apa geby, Marco makan dengan baik kan" Mereka mulai berjalan menuju mobil. Nyonya melirik rantang sepertinya masih berisi.
"Maaf ma, tu...eh Marco makan siang yang lain" Gabriela jadi merasa tidak enak hati kan.
"Makan siang yang lain?" Oh mungkin Gerald keburu pesan makan siang dari luar ya. Nyonya Reva bisa memaklumi karena memang Gerald selalu memastikan Marco makan dengan baik. Tapi... Nyonya Reva memijat pelipisnya sejenak. Mobil sudah melaju dengan santai.
"Baiklah sayang, kalau Marco makan siang yang lain mama maklum kok" Nyonya Reva menekankan kata makan siang yang lain. Sepanjang jalan nyonya Reva hanya menahan senyum melihat bekas kemerahan di leher menantunya. Papa bagaimana anak mu bisa begitu mirip denganmu. Hahaha.
__ADS_1
Bersambung