Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Saling menuduh


__ADS_3

Marco menyeret paksa Gabriela masuk kedalam mobil. Melihat kemarahan Marco gadis itu menjerit ketakutan, dia melirik pengawal. Bantu saya, saya mohon. Tapi pengawal bisa apa?


"Masuk!!" Gadis itu menggeleng. Gelengan Gabriela malah semakin memancing emosi dan kemarahan Marco. Gadis itu di dorong paksa masuk kemudian menutup pintu dengan keras.


Kode isyarat tangannya ditangkap oleh pengawal. Dan mereka langsung bubar entah kemana.


Gerald mulai menghidupkan mobil. Dia tidak berani melirik ke belakang. Cengkeraman tangan Marco pada lengan Gabriela menunjukkan betapa marahnya pria itu.


Saat mobil meninggalkan area itu. Pria yang tersungkur tadi mulai bangun, pria itu memegang dagunya. Setitik darah menetes dari hidung. Kurang ajar!


Mobil berjalan semakin kencang. Entah mengapa Gerald tau saja apa yang harus dia lakukan meskipun Marco belum bicara.


Agar segera sampai di rumah dia harus menggunakan jalan jalan pintas, karena kemacetan tidak terelakkan di tengah malam.


"Lepaskan tangan saya tuan" Gadis itu bercicit sambil memberontak pelan.


Saya mohon nona. Jangan bersuara, tuan Marco sedang marah. Kalau anda kena amukan kemarahan tuan disini saya bahkan tidak bisa walau hanya melerai kalian.


Diam lah nona. Gerald merutuki kesalahannya. Harusnya aku memberi tahu nona kalau tuan marah jangan pernah bicara didepannya cukup diam saja. Tapi saya pikir anda paham nona. hah! menyusahkan sekali dunia ini.


Mobil memasuki gerbang. Marco langsung menarik tangan mungil Gabriela kedalam rumah. Pengawal yang sedang berjaga hanya bisa memalingkan wajahnya.


"Langkahkan kaki mu Geby!!!" Gadis itu memegang pinggiran tangga tidak mau naik.


"Aku tidak mau, nanti kau memukulku" Gadis itu berusaha keras agar tidak sampai naik ke kamar. Naik ke kamar adalah sidang terakhir. Pasti kau akan berteriak marah padaku. Menciumiku dengan paksa lalu..... Gabriela tidak melanjutkan isi pikirannya lagi.


kurang ajar! Sudah salah melawan lagi. Marco langsung mengangkat Gabriela. Gadis itu semakin histeris ketakutan. "Turunkan aku tuan" Marco menendang pintu kamar. Brak!!!!


"turunkan aku...."


"DIAM!!!!!" Seperdetik kemudian Marco sudah melempar Gabriela ke atas sofa. Gadis itu beringsut menjauh.


"Hah... hebatnya kau ya" Jas Marco melayang entah kemana dia juga membuka sepatunya dengan kasar melempar begitu saja. "Hebatnya kau masih bisa melawan padahal kau sudah salah!" Marco menahan lengan Gabriela yang semakin menjauh. "Jangan pancing kemarahanku Geby" Pelan tapi penuh tekanan.


"Niat sekali kau selingkuh sepertinya ya"


Apa selingkuh! kau yang selingkuh. Jangan pernah menuduh orang lain tanpa bukti. Gabriela memalingkan wajah.


Marco kesal menarik rambut Gabriela hingga gadis itu mau tidak mau menoleh padanya. "Niat sekali kau selingkuh ya Geby" Senyum tipis yang sedang menahan diri.


"Tuan saya tidak selingkuh jangan....


"Tutup mulut mu!!! Berani sekali kau masih membantah seolah jika penglihatan ku salah!"


Gabriela meringis saat tarikan rambutnya semakin mengeras. Marco bahkan tidak perduli. Semakin melawan Marco semakin Marah. Adegan laki laki memasangkan sepatu Gabriela tadi menari nari di kepala Marco. Brakkk! Meja terpukul dengan keras. Untung saja Marco masih bisa menahan diri tidak memukul kepala Gabriela.

__ADS_1


"Kau berbohong padaku, menipuku kemudian menghianatiku Gabriela!!!! Kau mau main main denganku? hah!" Kan kan, level kemarahan naik turun. Marco mencengkeram Dagu Gabriela. Gadis itu tidak berani membuka suara. Laki laki di depannya ini patut di waspadai. Bagaimana bisa kau semarah itu.


Gabriela membeku, meja kaca itu pecah karena pukulan tangan laki laki ini. Diam Geby! Jangan pancing kemarahannya lagi. Kau mau bernasib sama dengan meja malang itu. Enggak kan.


"Kenapa kau diam ******!" Marco melepaskan cengkeramannya. "Kenapa kau diam? ayo bela dirimu dulu. Buktikan kau bukan ****** murahan" Marco tersenyum tipis. Suaranya bahkan masih meninggi. Kemarahan belum memudar.


"HENTIKAN TUAN!!!" Bukan hanya Marco yang terkejut. Gabriela sendiri juga terkejut dengan tindakannya. Suara lantang menggema di dalam kamar. Bahkan kekuatan suaranya mengalahkan suara Marco.


"Wah wah wah.... Sudah sejauh ini kau berani ya. SUDAH SALAH! BUKANNYA MINTA MAAF MALAH KAU MEMBENTAK KU!!"


Suara dentuman keras menyadarkan Gabriela. Meja yang tadinya pecah sudah terbang karena tendangan Marco.


"Maaf tuan" Gabriela menutup mulutnya. Air matanya jatuh, lututnya bahkan gemetar ketakutan. "Maafkan saya, saya tidak membentak anda tuan" Dia melirik kaca. Apa nanti kau akan menendang ku keluar. Gadis itu beringsut mendekat. Mengatupkan tangan.


"Maafkan saya tuan" Marco mendorong tubuh mungilnya hingga tersungkur di atas sofa. "Aku bilang apa tadi ha!! Ayo bela dirimu!"


"Saya bukan wanita seperti itu tuan" Akhirnya terdengar juga suara jelas Gabriela. Setengah berteriak tapi tergolong tegas. "Saya bukan ******" Airmata mengucur deras. "Saya tidak selingkuh jangan salah sangka tuan"


"Cih! tidak usah pakai senjata air matamu yang tidak berguna itu" Marco tergelak dengan seringai tipisnya. tatapannya penuh cibiran.


Gabriela buru-buru menyeka air matanya. kemudian memperbaiki posisi duduk, menarik dressnya yang tersingkap menutupi lututnya yang gemetar.


"saya tidak selingkuh tuan, saya juga tidak akan berani menghianati tuan sebagai suami saya" ayo pakai senjata mengangkat-angkat namanya agar dia tidak marah lagi.


"Suami???" Marco menyeringai sinis. "jadi kau sudah merasa jadi istriku" Marco menatap gadis yang menunduk di depannya. " Hei jawab aku bicara" Bantal sofa melayang, untung saja Gabriela menepisnya.


"Kita memang menikah sah kan tuan, jadi anda suami saya kan" Gabriela bahkan malas sekali untuk mengatakan ini tapi sepertinya cara ini berhasil. Marco tersenyum tipis.


Terserahlah senyum mu itu mengejek atau menghinaku. Aku tau aku budak mu tapi memang kenyataan kan kita menikah sah.


"Kalau kau merasa jadi istriku kenapa kau beraninya selingkuh di belakang ku" Sial! Dia masih mengungkit soal selingkuh.


"Aku tidak selingkuh tuan berapa kali harus aku katakan" jangan cari cari kesalahanku. Apa perlu aku menuduh balik kamu selingkuh. Jangan Gabriela. Jangan siram bensin di atas kobaran api. Mati kau nanti.


"Lalu???" Marco masih menatap Gabriela dengan penuh ejekan. Meminta penjelasan.


Gabriela menghela nafas. mengumpulkan kepulan oksigen di rongga dadanya. Gadis itu menyeka air matanya lagi.


"Tuan apa yang Anda lihat tadi bukan seperti apa yang anda pikirkan"


"jangan berbelit-belit Gabriela!" artinya langsung ke intinya saja. Jelaskan ada hubungan apa kau dengan laki laki itu.


"Laki laki yang tuan lihat tadi adalah laki laki yang baik"


Prang!!!! Sesuatu terlempar dengan keras. Entah benda apa itu. Gabriela hanya menutup mata tanpa berani melihat.

__ADS_1


"Beraninya kau membela selingkuhan mu di depanku" Ucapan ini datar namun penuh dengan kemarahan.


Bagaimana aku menjelaskan padamu tuan. memang kenyataanya seperti itu. "Dia hanya membantuku tuan, tadi aku tidak tau jalan pulang makanya dia berniat baik mengantarku" Niat baik laki laki itu terungkap dari bibir Gabriela. Tapi mana percaya Marco soal itu.


"Lalu kau pikir aku percaya begitu?" Marco menyeringai. "Kau keluar dari hotel meninggalkan aku untuk berdua duaan dengan laki laki sialan itu, itu baru benar" Marco tergelak sinis.


"Tidak tuan, aku tidak bermaksud meninggalkan anda" Kekesalan Gabriela sudah mengepul di ujung tanduk. Bagaimana bisa laki laki ini bersikukuh mengatakan aku selingkuh. Jelas jelas dia yang duduk berduaan dengan perempuan.


"Aku hanya tidak mau mengganggu anda sedang berduaan dengan wanita" Bensin benar benar tersiram di atas api.


Wajah Marco langsung tersambar. "Kau menuduhku? membalikkan fakta aku selingkuh"


Kemarahan semakin meluap luap. "Hebat sekali kau membalikkan fakta ya" Marco sudah mendorong tubuh mungil Gabriela. Api kemarahan semakin besar.


"Kan memang kenyataan begitu, anda duduk dengan seorang wanita kan. Bahkan dia melirik lirik mu dengan genit"


"Hahahaha"


Keadaan semakin memanas saat Gabriela tidak menunjukkan rasa takutnya lagi. Gadis itu mulai membela dirinya dengan mengatakan fakta fakta. "Dan tuan Diam saja kan! tidak merasa risih begitu" Gabriela mengusap lengan dan tangannya seperti membersihkan noda noda yang tinggal karena tangganya di hinggapi sesuatu yang menjijikkan.


"Pura pura membawa aku ke pesta biar apa? biar aku melihatmu wanita cantik yang selevel dengan mu begitu?" Wah wah wah... sakit hati memang bisa menghilangkan kewarasan ya. Marco masih diam mencoba mencerna.


"Wanita itu duduk kan di kursi yang tadinya aku tempati? kau yang mengizinkannya kan!" Ingatan Gabriela di ballroom tadi semakin membakar semangatnya. Jangan menuduhku selingkuh padahal kau yang selingkuh.


"Apa! kenapa tuan melihat ku begitu! kenyataan kan! padahal tas ku saja aku tinggal disitu tapi tuan malah menyuruhnya duduk disitu, itu sama saja tuan yang mengusirku tau!" Gabriela menaikkan volumenya merasa kenyataan ini perlu di keluarkan.


"Tidak perlu menunjukkan kalau aku perempuan menyedihkan! aku sadar pada diri sendiri" Dan aku tidak pernah berharap apa apa darimu. Cicit Gabriela yang hanya dia sendiri yang mendengar.


"Sekarang jelaskan! jelaskan kenapa kau bersikukuh menikahi ku! untuk menyiksa ku? membuat ku menderita begitu?" Suara Gabriela bergetar. "Memberikan aku semua fasilitas tapi ujung ujung nya menambah utangku! agar aku semakin terikat padamu dan aku hanya bisa hidup dalam bayang bayangmu begitu kan!"


"Jahat sekali" Gabriela memegang dadanya. Merasa pasokan oksigen yang dia kepulkan tadi perlahan menipis. Hening sejenak.


"Sudah selesai?" Marco menuding bahu Gabriela yang terbuka. Gadis itu meringis.


"Sudah selesai menghinaku? menuduhku dengan yang tidak tidak!" Marco menunjuk dirinya sendiri penuh ejekan. Pintar sekali kau membalikkan fakta.


Bodoh!


"Apa menuduh! tuan yang menuduh saya! saya hanya mengatakan fakta" Lepaskan tanganmu jangan sentuh aku. Aku jijik.


Tapi Gabriela bahkan tidak berani walau hanya menepis tangan Marco yang membelai pipinya. Diakan sensitif kalau aku menepisnya.


"Ada ya orang bodoh seperti mu" Marco menyandarkan tubuhnya. "Kebodohan mu memang tidak tertolong, makanya kau sekolah sana! biar otak bodoh mu ini sedikit terbuka!"


Terserah! Terserah anda tuan! Terserah anda mau sampai mana menghinaku. Aku memang tidak tamat sekolah berbanding terbalik dengan anda penguasa dunia ini. Gabriela mengepalkan tangan meninju pahanya sendiri.

__ADS_1


"Jadi kau menuduhku selingkuh?"


Sepertinya masalah perselingkuhan belum selesai. Marco melempar semua bantal yang ada di sofa. Menendang sepatu Gabriela jauh. Jarak mereka semakin dekat.


__ADS_2