Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Kejadian di mall


__ADS_3

"Aku butuh wanita itu hidup!!!!" Max Menggebrak meja sambil mengacungkan senjata api miliknya di kepala anak buahnya. Dia tidak boleh lepas dariku. Gadis itu adalah milikku. Tidak boleh ada yang memilikinya selain aku.


"Bawa dia kehadapan ku" Senjata max masih terus mengancam. "Apa kau dengar!"


"Tapi tuan"


Dor! Tembakan tepat di kepala. Anak buah yang dulunya patuh dan turut padanya sudah meninggal di tempat. "Beraninya kau membantah padaku! Jika ragu sana pulang!" Max kembali duduk di sofa.


Dia memandangi anak buahnya yang berdiri tidak jauh dari manusia yang baru saja menjadi mayat. Darah sudah menganak sungai. Bisa jadi anak buahnya itu masih tertolong jika segera di tangani tapi Max tidak akan pernah mengampuni orang yang tidak patuh padanya.


"Bawa gadis itu ke hadapanku" Max mengusir anak buahnya melalui isyarat tangan.


"Baik tuan" Mereka semua meninggalkan ruangan dengan gemetar. Tuan Max manusia berdarah dingin. Apa pun yang dia perintahkan harus di iyakan. Tidak ada alasan apalagi penolakan.


Hasil belakangan tapi di depan harus berani berkata iya. Jangan sampai mulut mu banyak alasan padahal kau belum mencoba. Begitulah prinsipnya.


Seseorang datang mengetuk pintu. Max menoleh dan mempersilahkan pria itu masuk dan membacakan laporan.


"Tuan perusahaan yang sedang kita incar juga sedang dikepung oleh anak buah Andika ayah Marco" Max sudah terlihat mengepalkan tangan sambil menatap tajam anak buah yang memeri laporan.


"satu langkah lagi perusahaan itu akan diambil alih oleh Andika karena Andika sudah kembali ke tanah air dan yang pasti memiliki wilayah yang lebih luas"


Max bangun dari tempat duduknya. mencengkeram kerah baju anak buah yang memberi laporan. "Jangan sampai itu lepas"


"Jalan satu satunya adalah bawa Mahalini dan Gabriella ke hadapanku!" Karena hanya gadis itu yang bisa mendorongku mengambil perusahaan itu. Anak buah sudah ketar ketir melihat kemarahan tuannya. "Keluar!"


"Baik tuan" Anak buah hampir terpeleset di lantai. Dia sekilas menoleh tuannya. Siapa yang baru terbunuh?


Kalau ada darah di lantai berarti ada yang sudah meninggal.


Anak buah sekaligus tangan kanan Max bernama Pedro. Dia adalah pimpinan dalam kelompoknya.


Hari ini dia akan membuat skenario untuk melakukan kericuhan di wilayah Marco. Dengan begitu maka sebagian berpencar mengamankan Mahalini dan sebagian menangkap Gabriela.


"Ingan Gabriela harus dalam keadaan hidup. Jangan menyiksanya! kita butuh dia baik. Bila perlu berikan iming iming" Pedro mengakhiri briefing sore ini.


...


Gabriela sedang berada di mall. Hari ini dia di ajak oleh nyonya Reva berbelanja. Itu hanya alasan saja, sebenarnya Reva ingin menghabiskan waktu dengan menantunya.

__ADS_1


Di ikuti oleh pengawal dari radius beberapa meter. Mereka menuju sebuah toko pakaian yang sedang ramai di kunjungi orang orang kelas atas.


Barang branded original berjejer di rak dan juga terpampang di etalase kaca. Patung patung pakaian juga terlihat memampangkan nama nama brand yang sedang meluncurkan produk terbarunya.


"Ayo Geby coba yang ini" Nyonya Reva mengambil sebuah dres lalu mencobanya pada Gabriela. Kurang pas. Warnanya mencolok padahal sebenarnya bagus. Ganti lagi.


Gabriela sampai kewalahan sendiri. Bagaimana nyonya Reva tidak henti hentinya mencobakan pakaian padanya seperti ibu muda yang sedang berusaha mendandani anak perempuan kecilnya.


Kehangatan selalu tercipta di dalam hatinya ketika melihat wanita paruh baya itu begitu menyayanginya. Nyonya reva bahkan tidak memilih satu baju pun untuknya. Semua yang mereka jalani dari tadi adalah keperluan Gabriela.


Mulai dari baju hingga sepatu semua mereka borong. Belanjaan di tangan sudah penuh. Pengawal sigap menerima paper bag dan menitipkan entah dimana.


Sekarang mereka sedang berjalan menuju tas. "Mama suka tas yang simpel tapi sepertinya geby lebih cocok pake yang imut imut gitu ya" Nyonya menarik tangan Gabriela menuju sebuah tas. "Gimana sayang? sini coba dulu" Gabriela hanya menurut dan mengangguk suka meskipun dia tidak tau bagian apa saja yang dijelaskan pramuniaga tadi. Keunggulan tas dan juga entah apa itu sertifikat. Seperti rumah saja pake sertifikat segala.


Tas menjadi daya tarik untuk nyonya Reva. Dia juga memilih satu tas yang sama dengan menantunya mungkin hanya beda ukuran. Gabriela iseng melihat harga tas. Gadis itu menutup mulut tidak percaya.


Satu,dua,tiga,empat,lima...Oh tuhan hanya untuk tas ini mama mengeluarkan uang ratusan juta? Gadis itu geleng geleng kepala bahkan terlihat ragu. Apa nyonya sama dengan tuan Marco membuatku semakin terikat pada mereka dengan menambah utang utangku.


"Aku tidak salah lihat kan" Seorang wanita mengepalkan tangan sambil melempar barang belanjaannya ke rak semula. Moodnya hilang seketika ketika. Siapa wanita tua itu? mereka terlihat sangat akrab dan juga mereka terlihat bahagia. Wanita itu mengambil foto Gabriela sedang tertawa bersama nyonya Reva. Kemudian dia mengirim gambar itu pada ibunya.


Dasar kurang ajar. Bagaimana dia masih bisa hidup dengan baik setelah di lempar ke hadapan tuan Marco yang katanya manusia berdarah dingin dan menyeramkan itu.


Tapi tolong dulu jawab aku wahai semesta!


Jiwa jiwa ingin tau datang. Sheila menggunakan kaca mata hitam kemudian mengenakan topi. Jadi wajahnya sulit di kenali. Sambil mendekat dia mulai mendengar percakapan kedua wanita yang sedang dia selidiki.


Mama? Gabriela memanggil wanita tua itu dengan sebutan mama? Siapa sih dia.


Sementara itu Nyonya Reva mengelus rambut menantunya. Geby capek ya? Nyonya Reva merapikan rambut panjang Gabriela yang sudah menyembul kesana kemari. Mereka sedang menunggu waiters menghidangkan makan siang.


Sambil menunggu hidangan, Gabriela berinisiatif membeli minuman segar dari stand yang tidak terlalu jauh.


"Ini ma, minum dulu"


"Terimakasih sayang" Nyonya Reva melirik merk kemasan minuman. Ini kan minuman yang haru saja di produksi oleh perusahaan Adicipta. Wah ternyata sudah se laris ini ya. Nyonya Reva menenggak hingga kandas.


Setelah hidangan makanan sudah tersaji. Mereka makan dengan lahap. Rasanya nyonya Reva ingin menyantap habis semua hidangan di depannya. Namun karena menjaga kesehatan dia hanya mengonsumsi sesuai dengan kesehatannya.


Hari menjelang malam, keramaian di mall mulai terlihat. Gabriela dan Nyonya Reva turun melalui eskalator, karena lift selalu penuh. Rencananya mereka akan pulang. Keduanya membelah keramaian mall.

__ADS_1


Saat hendak keluar, salah seorang pria menarik tangan Gabriela sambil membekap mulut. Keramaian di mall mempermudah beberapa oknum menculik paksa gadis itu. Saat melewati pintu keluar terlihat Security mall tidak ada yang peduli.


Mobil melaju dengan kencang. Gabriela tidur di kursi tengah dengan kesadaran yang hilang .


Nyonya baru sadar keberadaan menantunya yang tidak ada ketika hendak memasuki mobil. "Kemana Geby" melihat ke kiri dan ke kanan namun tidak ada.


"Nyonya tenang saja silahkan masuk" Pengawal perempuan membuka pintu. Dia sebenarnya sudah panik mendengar kalau nona Gabriela di bawa kabur.


"Tidak! dimana menantuku??" Reva mengguncang bahu pengawal wanita. "Hubungi Marco!" Melihat gelagat pengawal wanita itu nyonya Reva sudah tau jawabannya. "Ayo cari Geby sampai dapat" Air mata mengalir dari pelupuk mata.


Mobil meninggalkan mall. Pengawal bersama dengan Gerald sudah berpencar namun mereka sama sekali tenang. Tidak ada yang panik sedikitpun. Ayolah aku akan nikmati permainan mu. Gerald menarik pelatuk pistolnya dan menyelipkan di pinggang.


Beraninya kau mencuri nona kami. Ayo semua gerak! Gerald menyingsingkan kedua lengan bajunya. Ini adalah insiden penculikan kedua kali. Padahal luka di tubuh Gabriela saja belum sembuh total.


Nyonya Reva berada dalam dekapan tuan Andika. Pria paruh baya mengusap lengan  nyonya. "Bagaimana dengan menantu kita pah! kenapa dia di  culik?" Mereka sudah berada di rumah utama, saling menguatkan. Pelayan datang membawakan air hangat nyonya hanya melirik sekilas.


Sementara itu Marco membanting pintu dengan kasar. "Dimana istriku mah" Rapat paripurna bubar begitu saja ketika pemimpin rapat tiba tiba meninggalkan ruangan. Marco terduduk di sofa. Kemarahan sudah meluap luap di matanya. Namun dia tidak mampu mengekspresikan kemarahan di depan nyonya Reva. Nanti hal itu akan semakin memicu masalah. Biar bagaimana pun juga wanita yang sedang menangis itu adalah ibunya.


"Sayang maafkan mama. Aku salah harusnya mendengarkan mu untuk waspada pada geby"


Tuan andika memberikan kode kepada anaknya agar jangan memarahi mamanya. "Kita akan temukan geby, semua akan baik baik saja. Sekarang mama tetap disini oke! Papa dan Marco akan segera kembali" Tuan Andika menarik lengan anaknya yang terduduk di sofa sambil memijat keningnya.


Dia akan selau kena bahaya jika tidak bersamaku. Tidak! walaupun bersamaku dia juga terancam.Marco mengeraskan rahangnya, sementara tuan andika terlihat biasa saja. Seperti tidak terjadi apa apa. Bahkan senyum sinis tertarik di bibirnya. Tuan andika meminta pelayan membawa nyonya reva ke kamar.


Sedangkan dia sendiri menaiki tangga dan pergi ke ruangannya. Membuka jas dan duduk di kursi yang dekat dengan jendela.


Sementara itu Marco sudah berada di sebuah ruangan tertinggi di Mall. "Pecat semua operasional Mall Global land ini! Semua!" Semua tanda seru artinya tanpa terkecuali.


Sebanyak ini operasional tapi kalian tidak melihat ada kejahatan yang sedang beroperasi. Dimana otak kalian!


Kalian di gaji mau kerja! bukan mau tidur! Apa selama ini semua operasional hanya memakan Gaji buta!


Prang!


Meja terjungkal. Kertas dan juga komputer sudah terbuntang kemana mana mana. Manager operasional hanya berdiri sambil menunduk. Memohon dengan sorot matanya.


"Maafkan saya tuan" Ini salah saya. Tidak becus bekerja mengarahkan pengawasan ketat pada pengunjung Mall. Manager hanya bisa memaki kepala security dan juga operasional yang bertugas di bagian keamanan.


"Maafkan kesalahan kami tuan! saya akan....

__ADS_1


"Tutup mulutmu!" Marco meremas kertas di depannya.


Bersambung


__ADS_2