
"Kemari kau brengsek!" Gerald menarik kerah baju Danri dan melayangkan pukulan telak di wajah pemuda itu. "Kau mau mati masih berani memperlihatkan wajahmu di depan tuan Marco?" Gerald mendorong kasar Danri hingga pemuda itu tersungkur. Keributan tidak terelakkan. Danri sama sekali tidak melawan. Dia pasrah menerima pukulan dan makian Gerald padanya.
"Pulang dan kurung sendiri dirimu sendiri. Bila perlu kau pergi ke kutub utara agar kau bisa belajar dari kesalahanmu. Gerald sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meledakkan kemarahannya.
Gerald masuk kedalam rumah sakit. Terserahlah kalau tuan Marco menjadikan ku makanan ikan piranha nya aku pasrah. Gerald menyuruh semua pengawal pulang ke markas untuk menyadari kesalahannya. Jika tuan Marco melihat mereka bukan tidak mungkin mereka semua akan mati di tangan Marco.
Gerald memberanikan diri memutar handle pintu dia memang begitu selalu memasang badan untuk mempertahankan semua anggota. Rela di maki dan di tendang sekalipun sudah menjadi sarapannya sebagai tangan kanan Marco. Tanpa anggota aku bisa apa. Bukan bermaksud melindungi anggota tapi kesalahan anggota adalah kesalahannya juga.
"Kau lihat ini!" Marco masih memandangi Gabriela yang berbaring di atas bed. Tangan Marco bahkan tidak berani menyentuh wajah istrinya yang lebam. Bagaimana mereka tega memukul wajahnya yang imut dan menggemaskan. Marco mengepalkan tangan. Wajah manis yang selalu tersenyum palsu padanya seperti hilang, wajah yang selalu dia kecup kecup basah sekarang lebam lebam.
"Maafkan saya tuan"
"Keluar!" Gerald memandangi punggung tuannya dengan nanar. Rasa bersalah tentu saja menyiksanya. "Aku saja belum bisa memaafkan diriku, beraninya kau datang meminta maafku" Marco mengecup tangan kurus istrinya yang terbaring lemah.
Gerald memilih berdiri di sudut ruangan. Dia juga tidak akan mau meninggalkan tuan Marco dalam keadaan seperti ini. Maafkan aku tuan, hanya kata ini yang selalu terucap dari hatinya dan tentu saja Marco tidak bisa mendengar itu.
"Hancurkan perusahaan itu tanpa sisa!" Marco bangun dari tempat duduknya. "Kau dengar!!!!!! gara gara perusahaan yang tidak jelas itu istriku jadi korban!!" Marco menerjang tubuh Gerald hingga terbentur ke lantai. Wajah penuh kemarahan dengan nafas saling memburu Bug! Satu pukulan di wajah.
"Ayo pulang tuan, anda boleh melakukan apa saja padaku di rumah tolong jangan disini nona Gabriela akan terganggu" Marco segera melepaskan cengkeramannya.
"Pergi kau!" Marco kembali duduk.
"Saya akan tetap disini tuan memastikan anda dan nona baik baik saja" Gerald mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Namun dia tetap berdiri tidak jauh dari tuannya.
Terlihat Marco menekan emergency call. Seorang perawat datang. "Berikan dia obat" Marco menunjuk Gerald dengan ekor matanya. Perawat langsung pergi kemudian datang lagi mendorong troly obat kedalam ruangan.
"Aku bisa sendiri" Gerald mengusir perawat lewat isyarat tangannya. Marco langsung menoleh.
"Bodoh! kau mau luka mu semakin parah!" Artinya perawat harus mengobati luka mu. Gerald duduk di kursi. Perawat melakukan tindakan untuk membersihkan luka Gerald akibat pukulan Marco di wajahnya.
__ADS_1
Setelah selesai perawat keluar. Marco dan Gerald sama sama bisu berperang dalam pikiran masing masing. Sesekali Marco mengecup bagian wajah istrinya yang tidak lebam. Tidak semua kesalahan Anggotanya, namun dia sadar ini juga kesalahannya.
"Apakah aku sudah bisa bicara tuan" Gerald maju satu langkah setelah memastikan Marco sudah bisa menguasai dirinya. Marco tersenyum tipis. Marco tau jika tangan kanannya ini pasti ingin memberi tahu sesuatu hal yang sangat penting.
"Aku memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan" Mereka sekarang berada di ruangan terpisah dari ruangan tempat Gabriela di rawat.
"Sebaiknya anda harus memperkenalkan nona sebagai istri anda ke publik bila perlu ke dunia tuan"
"Apa maksudmu!"
"Jika anda memperkenalkan nona ke publik kemungkinan besar nona tidak akan berpikir lancang untuk meninggalkan anda dan tidak akan tergiur dengan iming iming di luaran sana" Mahalini tidak akan menyerah. Dia tau kelemahan istri anda tuan.
Marco menghela nafasnya. Sampai saat ini tidak ada yang tau mengenai pernikahannya dengan gadis itu. Bukan tanpa alasan tapi Marco melakukan itu untuk melindungi Gabriela. Musuh musuh di luaran sana masih banyak yang mengincarnya. Bukan tidak mungkin Gabriela akan terseret nantinya.
"Aku akan memperkenalkan Gabriela jika sudah waktunya" Artinya jika nanti tidak akan ada lagi mengganggu istrinya karena dia orang yang aku sayangi.
"Kau tidak tau apa apa! Sana kau pergi!" Marco semakin kesal saat Gerald mendesaknya. Tidak papa tidak mama, kalian sama saja. Aku punya alasan tersendiri untuk tidak memperkenalkan istriku. Gabriela saja tidak tau aku menyayanginya. Dia hanya baik padaku agar aku tidak marah. Semua yang dia lakukan hanya paksaan tidak dari hatinya karena mencintai aku.
Dan Marco mungkin lupa jika Gerald mengerti akan hal itu.
"Pergi sana! bereskan semuanya"
"Tidak tuan, saya akan disini. Semua akan beres anda jangan khawatir"
Marco langsung menghambur ke tempat tidur. Gabriela terlihat sedang mencoba duduk sambil memegang kepalanya. "Saya dimana"
"Geby.... aku disini jangan khawatir" Gadis itu gemetar ketika Marco mendekap tubuhnya yang mungil. Air mata gadis itu jatuh membasahi pipi. Bayangan laki laki memukul dan melemparnya tadi masih terus menghantui pikirannya.
"Don't sad girl, i proud of you" Marco meringis melihat air mata gadis kecil dalam pelukannya. Bagaimana bisa orang tega menyiksa mu Geby ku yang manis. "Jangan banyak bergerak Geby nanti luka mu terkelupas" Marco membaringkan istrinya kembali.
__ADS_1
"I'm stay here girl don't sad" Marco mengelus rambut gadis itu dengan kepiluan.
"Aku haus" Gerald buru buru menuang air ke dalam gelas, memberikannya dengan hati hati pada Marco. "Apa kamu lapar juga?" Gadis itu menggeleng.
"Kita dimana?"
"Dirumah sakit sayang" Marco terus mengecup tangan Gabriela yang gemetaran. "Geby.... istirahatlah sebentar lagi aku mau bicara dengan Gerald ya" Marco mengecup kening Gabriela sebelum keluar disusul oleh Gerald.
"Aku ingin bertemu dengannya. Dengan orang yang sudah melukai istriku" Rupanya kemarahan Marco belum pudar. Kepalan tangan dan rahang yang mengeras menandakan pria itu sedang menahan marah.
"Jangan tambahi pekerjaan anda tuan, Mata anda terlalu berharga untuk melihat pemandangan menjijikkan seperti mereka. Saya akan menangani semua tuan"
"Lakukan pada mereka seperti yang mereka lakukan pada istriku lebih parah lebih baik" Marco menyeringai. Kau harus menanggung apa yang sudah kau lakukan pada istriku. Berani kau bermain main dengan ku lihat apa yang akan kau terima.
"Mereka tidak akan hidup tuan" Memang inikan akhir dari semua manusia yang mencoba bermain main pada anda. Tidak akan berhak menghirup udara lagi. Kecuali Mahalini. Dia masih harus hidup tuan. Masalah kita padanya belum selesai. Tunggu saja waktunya.
"Apa wajah mu masih sakit" Marco menatap sinis Gerald tangan kanannya yang tidak bergeming. Cih! menangis saja jika sakit untuk apa kau sok kuat begitu.
"Menangis saja jika kau kesakitan Ger" Gemas juga melihat laki laki yang satu ini tidak pernah menangis. Apa kau mau menangis. Marco sudah terpancing melihat wajah Marco jika menangis.
"Jangan khawatirkan saya tuan"
Cih! Kau selalu begitu. Menyembunyikan rasa sakit mu dan menunjukkan wajah mu yang datar itu. Marco masuk kedalam ruangan. "Pulang sana!! Aku mau berdua dengan istriku"
Gerald keluar dari area rumah sakit. Banyak sekali yang harus aku bereskan sekarang. Lagi lagi pria itu menghela nafas. Tuan Andika juga sudah mengancam mau datang kesini. Huh! bagaimana aku bisa tenang sekarang.
Bersambung...
........
__ADS_1