
Mobil yang di kendarai Gerald melaju dengan kecepatan sedang. Marco duduk di sebelah Gerald di kursi kemudi. Tangan Marco sibuk scroll tab mahal miliknya sambil melihat saham saham Adicipta Grup yang tertanam di dalam perusahaan perusahaan tertentu.
Tidak ada yang meresahkan. Semua laporan dari manager menunjukkan hasil yang luar biasa. Kinerja mereka memang luar biasa. Kenaikan harga saham yang berkali lipat ditengah pasaran semakin menunjukkan tidak terlihat adanya resiko kerugian. Marco menghela nafas. Setiap akhir bulan dia selalu memeriksa sedetail mungkin semua laporan termasuk laporan yang di berikan Gerald.
Marco menutup layar tab nya. "Ger Carikan gaun untuk Geby". Melihat wajah murung geby yang di tinggal tadi Marco tersenyum. Dia gemas sendiri saat wajahnya mayun ditinggal di rumah. "Katakan juga pada pelayan agar membantunya dandan".
"Apa untuk acara nanti malam tuan?" Marco melirik malas asistennya. Kenapa kau masih bertanya tanya. Memangnya untuk apa lagi. Marco menyandarkan kepalanya. "Dia minta pergi keluar tadi, katanya dia sangat bosan di rumah".
"Baik tuan nanti saya siapkan" Nona kan selalu kesulitan walau hanya keluar dengan temannya. Gerald mengutuk kebodohannya nona tidak punya teman dari riwayat yang dia cari tau. Tapi tetap saja seusia nona memang wajar bosan walau hanya di rumah.
"Nona punya akun media sosial yang baru tuan" Marco yang tadinya menyandar langsung tersambar. "Akun apa? apa namanya?"
Kenapa anda seperti tersambar petir begitu.
Akhirnya Gerald memberi tahu. Marco sigap membuka ponselnya mencari nama Gabriela. Sebuah akun baru.
Marco terbahak. Hahaha foto profilnya bahkan kaku begitu. "Sepertinya dia perlu belajar senyum dan belajar pose"
Gerald mengernyit. "Nona memang tidak begitu menyukai media sosial tuan, nona sepertinya suka memasak"
"Biarkan saja dia memasak, kalau dia suka memasak" Biar dia tidak begitu bosan di rumah. Eh apa masakannya enak? Tiba tiba saja hal ini terlintas di benaknya. Dia tersenyum menyeringai. Kalau sudah begini berarti Marco mendapatkan ide baru untuk membuat Gabriela tersulut.
Kemarin dia negoisasi denganku di panti asuhan taruhannya lingerie. Kali ini apa ya kira kira. Marco tampak berpikir keras sambil melihat ke luar jendela. Pohon satu persatu lewat udara begitu sejuk. Marco membuka kaca mobil merasakan udara yang berhembus, kaca mata hitam bertengger di hidungnya.
Mereka tiba di sebuah pemakaman umum. Gerald membuka bagasi mobil mengambil sekuntum bunga yang dia simpan sebelum berangkat tadi. "Anda sudah siap tuan? ayo" Marco masih menggunakan kacamata hitam miliknya. Di ikuti oleh Gerald, mereka mulai menyusuri makam demi makam. Melewati banyak sekali tanda tanda dan juga nama siapa yang bersemayam disana.
Kicauan burung dan juga suara hewan hewan kecil saling sahut menyahut. Cahaya matahari menembus ranting pohon. Rumput liar yang hijau tumbuh subur walau tidak di rawat. Dedaunan jatuh menyambut kedatangan mereka. Marco menyisihkan daun kering yang menutupi batu nisan. Sebuah nama tertulis disitu, lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal wafat. Marco menarik nafas menatap pusara sedetik kemudian dedaunan yang kekuningan mulai jatuh satu persatu di atas pusara.
Gerald menyerahkan bunga ke tangan Marco. Pria itu mengambilnya dan meletakkan di atas pusara. Tangan Marco lagi lagi menyisihkan dauh yang berjatuhan.
Apa kabarmu di sana? Aku masih seperti dulu dan akan selalu mendoakan mu.
Kau akan selalu hidup didalam hati kamu baik papa ataupun aku. Akhir akhir ini aku sibuk maafkan aku. Aku akan mengunjungi mu selalu aku janji.
Marco menatap pusara. Orang yang istirahat di bawah sana adalah pahlawannya. Pria yang rela mengorbankan dirinya untuk melindungi Andika Ayah Marco. Pria yang maju tidak gentar saat oknum oknum muncul untuk memecah belah Adicipta Grup. Saat itu musim para penghianat yang mempropagandakan misinya masing masing untuk menguasai perusaahan besar yang mulai merangkak di pasaran.
__ADS_1
Tidak ada dosa dan salahnya namun dia harus mati kena serangan balik. Marco saat itu masih muda. Namun dia mengingat jelas adegan itu. Dimana seorang gadis kecil menjerit jerit melihat ayahnya meninggal.
Saat itu Marco tidak bisa turun membantu, dia hanya menyaksikan adegan memilukan itu dari dalam mobil. Marco di larang turun besar kemungkinan masih banyak oknum di luaran sana yang kemungkinan mengincar ayahnya maka dari itu Andika tidak mau mengambil resiko.
Hal ini menjadi awal mula dimana Andika ayah Marco harus mengasingkan diri ke luar negeri. Mengamankan semua aset penting perusahaan. Meninggalkan Marco untuk dijadikan sebagai penggantinya.
Akhirnya Marco besar di tangan orang orang hebat pengikut ayahnya. Banyak hal yang sama sekali belum bisa di pecahkan dalam kasus penembakan itu.
Semua kasus itu di tutup oleh pihak kepolisian karena tidak ada bukti dan saksi yang kuat. Seiring waktu berjalan masih terus ada penyerangan, Marco akhirnya mulai jengah kemudian mencoba trik baru latihan menembak. Kepribadian itu semakin kuat dan menjadikannya orang yang tidak akan mengenal takut.
Dalam diri Marco lahir Marco yang baru. Sikap lembut itu perlahan hilang berganti dengan sikap dinginnya yang sekarang. Dia mempelajari semua kepelatihan untuk menambah kemampuannya.
Saat ambulan memasuki kawasan kuburan Marco hanya bisa menahan diri di dalam mobil melihat dari kejauhan peti sudah memasuki liang kubur.
Marco mengusap air matanya. Kenangan ini memang selalu sensitif. Inilah penyebab dendamnya belum hilang. Nyawa orang tidak tertolong lagi. Sementara sekarang Marco sudah berhasil menguasai perusahaan. Dia menjadi orang yang paling ditakuti. Tidak akan ada celah sekecil apa pun untuk para pengganggu.
Andaikan om masih hidup dan melihatku sekarang. Baik papa dan aku, kita semua akan menjadi keluarga.
Gerald mundur tiga langkah memberikan ruang untuk Marco. Lelaki itu berbicara pada makam lewat hatinya. 15 Menit berlalu hanya terdengar suara burung burung yang mengudara.
Mereka sama sama mengucapkan salam perpisahan bersama sama dalam hati sebelum meninggalkan pusara.
"Tuan gunakan kacamata anda" Gerald memperingati. "Nanti penglihatan anda silau".
Mobil meninggalkan area pemakaman. Hal biasa selalu terjadi ketika mereka mengunjungi makam. Pulangnya mereka berdua selalu larut dalam kesedihan. Biasanya Marco akan duduk di kursi belakang dengan bayangan bayangan masa lalu.
Namun kali ini Marco duduk di sebelah Gerald, walau terlihat sedih wajah Marco kali ini jauh lebih bersahabat.
"Katakan pada Geby agar segera bersiap dan menyusul, kita langsung ke hotel menemui Matteo" Mereka telah tiba di kota. Lampu senja langsung menyambut. Mereka harus terkena macet karena ini weekend jadi semua lalu lintas ramai.
"Nona Gabriela sedang menuju hotel tuan beliau diantar oleh supir" Marco tersenyum.
"Ger"
"Iya tuan"
__ADS_1
"Kita ke apartemen dahulu" Gerald mengernyit. Ke apartemen? Mau ngapain? Walau bingung Gerald tidak berani bertanya.
"Aku mau mengganti pakaianku!" suara Marco menggelegar. "Kau mau Gabriela melihatku lusuh begini" Marco menyentuh blezernya caranya seperti menyentuh sesuatu yang menjijikkan.
"Baik tuan" Hanya ini yang bisa ku katakan. Mau apa lagi responku tuan muda? Tapi tolong anda jangan sensitif begitu. Aku kan hanya mengernyit saja. Wajar kan penasaran kita ngapain ke apartemen.
Dan juga untuk apa anda menyempurnakan penampilan di depan nona Gabriela. Upss. Biar apa coba. Anda sudah sempurna sejak lahir.
"Sepertinya anda sudah jatuh cinta tuan" Gerald menelan Salivanya. Terlalu berani mengatakan ini. Dia menyesal karena telah berani mengusik ketenangan Marco. Tapi jujur ini keceplosan. Dia melirik Marco yang bergeming.
"Kau terlalu banyak menonton drama" Marco mendengus saat mereka turun di Apartemen Marco. Bagaimana pula aku jatuh cinta sama gadis jelek yang lusuh seperti itu. Tapi jujur saja hal itu langsung memenuhi pikiran Marco. Aku jatuh cinta?
"Menyingkir kau!" Marco mendorong Gerald saat pintu apartemen terbuka. Aroma khas dan juga cahaya langsung menyambut kedatangannya.
Ini adalah Apartemen Marco. Dia juga memiliki banyak koleksi jas dan pakaian formal disini. Jika dia sedang banyak acara dia akan pulang ke sini mengganti pakaian. Karena ke rumah terlalu jauh.
Marco menatap dirinya di depan cermin. kurang cocok. Dia melangkah lagi mengambil setelan dari dalam lemari. Masih kurang, hampir tiga kali mengganti pakaian dan akhirnya dia merasa puas.
Aku memang tampan
Dia tersenyum saat memasuki ballroom sebuah hotel Mewah. Matanya mencari sesuatu tapi tidak ditemukan. "Apa Geby belum sampai?"
"Sepertinya belum tuan" Jadi anda tampil se elegan ini demi Nona Gabriela? Aku tidak menyesali kata kata ku tadi. Anda sudah jatuh cinta.
"Nona sepertinya akan datang beberapa menit lagi tuan, informasi dari sopir mereka sedang kejebak macet" Informasi akurat.
"Silahkan tuan duduk dahulu aku akan menjemput nona ke lobby"
Dengan wajah datar Marco duduk di sofa yang disiapkan untuk undangan khusus. Dia tidak tertarik sama sekali untuk maju mengucapkan selamat untuk pemilik pesta. Hatinya belum sepenuhnya disini.
Mata Marco mengerjab....
Bersambung
Hai reader setia ku. Makasih ya sudah membantu membaca karyaku. Tinggalkan like dan komentar ya bestii... 🥰🥰🥰🥰🤗🤗🤗
__ADS_1