Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Malam pertama


__ADS_3

Malam semakin larut. Marco yang sudah selesai dengan ritual mandinya segera menghampiri Gabriela yang masih tidur di sofa. Hari ini Gadis itu melewatkan makan malam. Mungkin karena terlalu lelah sekedar menangis dan berpikir dia tertidur di sofa hingga malam.


Gaun putih masih membungkus tubuh mungilnya. Bahkan make up tipis itu masih setia membingkai wajah Gabriela.


Awalnya Marco ingin membangunkannya namun melihat dengkuran halus dari tubuh gadis itu Marco tidak tega.


Mendekat ke arah Gabriela. Marco menelisik mata tertutup rapat milik gadis itu. Kau masih tidur juga ya. Setia dalam tidur pulasnya membuat Marco menebak nebak kira kira gadis ini mimpi apa ya? kenapa dia tidak terusik sama sekali?


Ingin mengangkat tubuh Gabriela eh gak jadi. Marco bingung sendiri. Akhirnya dia mendudukkan bokongnya dikursi yang berhadapan dengan sofa tempat tidur Gabriela.


Dia terus menatap gadis polos itu. Kadang senyum samar itu muncul ketika sesekali mulut Gabriela mengecap dalam ketidaksadaran. Damai sekali wajah bodoh mu.


"Ibu... ampun Bu jangan pukul kakak, kakak salah Bu" Marco mendekat memastikan jika gadis itu hanya bermimpi.


"Jangan kunci aku Bu. jangan!!" Gabriela krasak krusuk di atas sofa dan plak. Dia tersungkur jatuh beruntung Marco sigap menahan kepalanya hingga yang membentur lantai hanya bokongnya saja.


Merasakan sakit gadis itu membuka mata. "Ahh maaf tuan" Gadis itu berdiri merapikan gaunnya yang sudah lusuh. "Maaf saya ketiduran ya" Dia mulai panik saat tatapannya bertemu dengan Marco.


"Minumlah..." Marco memberikan air di dalam gelas. Gabriela sekilas merapikan rambutnya kemudian menerima gelas tersebut dan meminumnya. "Kau berkeringat" Marco kemudian mengambil tisu dan memberikannya kepada Gabriela. Gadis itu tersipu "Te... terimakasih tuan".


"Apa boleh saya permisi untuk membersihkan diri?" Gabriela sudah berdiri sambil memegang gaunnya yang menjuntai. Marco tidak menjawab. Namun diamnya Marco dianggap persetujuan.


"Nona semua barang barang anda sudah di pindahkan ke kamar tuan muda." Gabriela tersentak kaget. Dia melirik pak Haris tajam. "Kenapa pak??????"


"Agar tuan dan nona bisa satu kamar"


"Iya tapi kenapa aku harus satu kamar dengannya pak???" Gabriela mulai menggebu sepertinya gadis itu emosi. Ngapain aku satu kamar dengan iblis?


"Apa nona lupa jika anda sudah menjadi istri tuan Marco? Dan suami istri memang harus tidur sekamar kan?" Pak Haris mengernyit heran. Antara heran dan bingung. "Sekarang nona bisa membersihkan diri. Mari saya antar non" Pak Haris menaiki tangga menuju kamar Marco. "Silahkan"


Pemandangan pertama yang dilihat Gabriella adalah pria iblis itu sedang seloyoran di tempat tidur.


Iss kalau bisa aku tebas mukanya itu. Kenapa juga tadi kau tidak langsung bilang aku sekamar denganmu. Dasar gila. Gabriela mengumpat dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Tuan... apa saya bisa tidur ditempat lain saja" Nyali pemberani Gabriela mulai ada. Meskipun hanya secuil tapi dia sudah berani menatap wajah dingin Marco.


"Kenapa?" senyum tipis menyeringai. "Kau kan istriku sekarang." Marco bangun dari tempat tidur mendekati Gabriela.


"Bukan begitu tuan. Tapii....


"Kau tidak sadar diri ya dengan posisimu. Masih bisa bernegosiasi dengan ku setelah kau tidur seharian tanpa melayaniku sama sekali"


Gabriela mundur satu langkah ketika Marco maju satu langkah. "Mandi sekarang dan naik ketempat tidur. Pakaianmu ada disebelah lemariku"


Apa! Mandi sekarang dan naik ketempat tidur! Sesukamu saja! mau ngapain hei. Hei gila jawab pertanyaanku mau ngapain kau menyuruhku naik ketempat tidur mu. Marco terus berjalan tidak menggubris karena memang Gabriela hanya berteriak dalam hati. Wkwkw.


"Tuan aku tidur di sofa saja ya" Seperti anak kecil yang merasa terancam sedang mencari jarak aman. Gabriela menunjuk sofa. Tangannya meremas sambil menggulung gulung ujung piyama yang dia gunakan.


"Aku bilang apa tadi!"


Kenapa suara mu langsung marah begitu


"Hei jawab! Aku bilang apa tadi" Marco mengulang kembali pertanyaannya. Nada ketus mulai kesal. Mandi lama sekali udah itu banyak bernegosiasi lagi. Marco meremas sprei kesal. "Jawab!!!"


Mampus lah kau disitu. Aku tidur lagi . Gabriela memiringkan tubuhnya saat melihat Marco masih sibuk dengan laptop di pangkuannya.


"Hei kemari" Marco menunjuk kepalanya


Tidak mau!


Tidak ada reaksi. Marco menggeser posisinya. Sial dasar pemalas. Dia bahkan dengan entengnya tidur lagi, padahal tadi dia sudah tidur dengan nyenyak. Marco menutup laptopnya. Kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh Gabriela hingga ke bahu. "Baiklah baik.. tidurlah". Marco berjalan menuju sofa. Memandangi gadis yang terlelap itu.


*Apa yang terjadi padaku?


Untung aku sadar. Pikiran ku refleks ingin mengecupnya tadi. Gadis bodoh itu*.


Saat sedang memandangi Gabriela timbul rasa penasaran. "Dia mimpi apa tadi ya". Tadi dia panggil bapak, ibu. Marco menebak nebak isi mimpi buruk Gabriela Sampai akhirnya dia kembali ke tempat tidur sambil mengelus rambut panjang Gabriela yang berhamburan. Semakin dipikirkan semakin penasaran.

__ADS_1


*******


Menjelang subuh.


"Bapak... Aku ikut pak." Gabriela mulai berlari kecil saat mobil ayahnya berjalan meninggalkan halaman rumah. "Bapakku!!! aku ikut" Ibu yang tadinya sedang menyuapi bayi kecil makan langsung berlari mengejar.


"Kakak!! bapak mau kerja nak kita dirumah ya sayang. sana main sama Adek" Ibu tampak membujuk Gabriela kecil yang merengek rengek agar masuk namun gadis kecil itu tidak mau.


Bersamaan dengan itu bayi yang masih belajar berjalan mulai menggerakkan kakinya mencari ibu yang sedang membujuk kakaknya di pinggir jalan. Ibu berteriak saat terlihat bayi itu mulai dekat ke pinggir jalan.


Sepeda motor melaju kencang hingga nyaris menabrak bayi itu. Ibu berteriak "Kenzie!!!!!"


Sedangkan bapak menoleh ke belakang karena teriakan ibu. Bapak keluar dari mobil dan naasnya pria yang bersepeda itu menabrak bapak hingga terpental.


Tidak sampai disitu. Dor!! dor!! suara tembakan mengenai kerangka kepalanya.


Gabriela kecil berlari hingga tersungkur menyelamatkan bapak. Gadis itu menangis histeris saat melihat darah mengalir deras dari kepala bapak. Ibu yang panik berjalan tergesa kakinya tersandung. Bayi di tangannya terjatuh ke aspal.


Beberapa jam kemudian kabar beredar bahwa Bapak meninggal dunia, dan disusul adik bayi yang juga meninggal setelah mengalami pendarahan otak.


Setelah penguburan. Ibu duduk termenung. Gabriela kecil datang membawa air di dalam gelas. Ibu menarik Gabriela kecil kedalam gudang. "Ibuuu jangan kurung kakak bu!! Ibu..." Teriakannya semakin keras saat terlihat tikus merayap di sudut ruangan. "Buu aku takut Bu, buka pintunya Bu" Gabriela menjerit jerit saat kecoa dan tikus berlewatan di bawah kakinya. Gadis itu melompat lompat sambil menangis menjerit jerit.


"Hei...hei heii" Marco yang terusik mendengar teriakan Gabriela terbangun. Tubuh gadis itu sudah tidak memakai selimut lagi.


"Bangun hei! apa kau mimpi buruk?"


Gabriela memeluk Marco erat. "Jangan kurung aku Bu".


Keringat membanjirinya dahinya. Marco yang merasa kasihan mengelus punggungnya. "its oke".


Getaran hebat dari tubuh gadis itu membuat dirinya merasakan hal yang sama sekali sulit di artikan.


Gabriela reflek mendorong Marco saat kesadaran sudah kembali. "Ah maaf tuan saya.. saya tidak sadar tadi"

__ADS_1


*Beraninya kau mendorongku. Aku sudah membantumu keluar dari mimpi buruk mu.


Bersambung*


__ADS_2