Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Satu hari di panti asuhan (2)


__ADS_3

Ucapan mereka terhenti saat terdengar anak anak. Dengan suara riuh di halaman panti.


Ada dua mobil yang terparkir.


Gabriela menajamkan penglihatannya. Dan dia mengenali mobil itu.


Dua orang memakai jas turun dari mobil.


Deg.....


Gabriela mengucek kedua matanya. Apalagi laki laki sok keren itu berjalan ke arahnya. Kedua kakinya seolah tidak sanggup menahan seluruh tubuhnya. Ingin tumbang tapi rasanya.


Ngapain kau datang ke sini gila! Mau membuat keributan apa sih kau kemari.


"Sayang" Marco melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Dia melingkarkan tangan di bahu Gabriela yang membeku. Ibu kepala yayasan menundukkan kepala karena mengenali pria yang berhati mulia ini. Berhati mulia menurut ibu kepala yayasan ya. Kalau menurut Gabriela laki laki ini adalah pria gila yang tidak tau melihat tempat.


"Tuan... Anda mau ngapain kesini?" Tangan Marco sudah di tarik oleh Gabriela. Cari aman dari ibu yayasan.


"Tuan?" Intonasi sudah menunjukkan rasa kesal.


"Sayang mau apa kesini?" Gabriela geram geram tapi memperbaiki ucapannya.


"Terserah padaku" Ucapnya asuh. Dia membuka jas nya. "Apa disini tidak ada AC" Marco membuka jasnya kemudian memberikan kepada Gabriela. Gadis itu gelagapan sendiri. Dia memeluk jas Marco menjaga benda itu dengan hati hati.


"Panas sekali" Marco meletakkan tangan di pinggang sambil melirik anak anak yang berebut mainan di halaman.


Ya jelas panas lah. Ini kan luar, apa kau tidak waras mana ada AC di luar. Dasar bodoh. Maaf ya aku mengatakan kau bodoh karena kau juga seperti itukan. Terus bilang aku bodoh walaupun kau yang keterlaluan. Ih ngapain juga aku minta maaf.


Marco membuka pintu dan masuk kedalam sebuah ruangan yang ada kursinya. "Huh apa disini tidak ada tempat duduk yang empuk" Marco pindah dari kursi yang satu ke kursi yang lain. Mencoba merasakan kursi mana yang empuk.


Anda benar benar ya! apa kau tau ini ruangan siapa? asal masuk saja. Gabriela menggerutu kesal melihat tingkah laki laki ini. Dan itu apa lagi kau bahkan membawa mainan sebanyak itu. Mending kau membeli buku biar mereka bisa belajar. Gabriela masih melirik anak anak yang berebut mainan di luar. Walaupun jendela kaca itu tertutup tapi masih bisa tembus suara.


"Hei... kau akan berdiri saja disitu?" Marco terlihat kesal karena tatapan Gabriela malah keluar tidak tertarik sama sekali padanya.


Marco menepuk pundaknya. Artinya pijat pundakku. Gadis itu meletakkan jas Marco di sandaran kursi kemudian mulai memijat sang raja. "Tidak cukup di pijat Geby tapi perlu di cium juga" Seringai tipis yang kemudian membingkai wajah Marco. Gabriela memutar bola mata malas.


"Kau tidak mau mencium ku?" Marco berdecak. "Padahal aku sudah meluangkan waktuku yang berharga hanya untuk datang ke tempat kumuh seperti ini".


Memangnya siapa yang menyuruhmu datang kesini gila!


Sana pulang! kau tidak di butuhkan disini.

__ADS_1


Sok dibutuhkan pula kau dasar kegeeran. Kau hanya bikin semak disini


Ahhh. Marco menjerit. "Kau tidak ikhlas memijat ku"


"Ehh maat Tuan, eh sayang terlalu keras ya" Gabriela meneruskan pijatan nya dengan lembut.


"Tidak terasa"


Rasanya Gabriela ingin menjambak rambut pria gila yang tidak memiliki kewarasan ini. Kenapa apa ada orang sepertimu. Dipijat keras kekerasan, lembut dibilang gak terasa. Gabriela menambah sedikit kekuatannya.


"Nah seperti ini" Marco memejamkan matanya. Menikmati sentuhan Gabriela. Sebenarnya pijatan Gabriela dianggap sentuhan wee, biar tau kalian semua. Sentuhan ya kalian catat itu. Dia suka disentuh berarti bukan di pijat.


"Sepertinya akan terasa enak jika si selingi ciuman Geby" Marco tergelak tipis yang hanya di sadari dia sendiri. Walau kesal Gabriela benar benar melabuhkan ciuman di leher Marco.


Dia tersentak kaget saat ibu kepala yayasan masuk. Gabriela mendorong tubuh Marco.


"Maaf tuan saya mengganggu ya" Ibu kepala yayasan menyambar sebuah berkas kemudian keluar dengan senyum tipisnya.


Waduh gawat sekali tuan anda memakai ruangan saya hanya untuk berciuman Hehehe tidak apa apa karena anda baik hati aku bisa apa tuan


Jadi wanita yang baik hati itu juga adalah istri anda


Dua malaikat dengan kebaikan hatinya. Begitulah deskripsi Marco dan Gabriela didalam hati ibu yayasan. Dia melangkah mendekati Gerald. Asisten Marco juga duduk di kursi di teras panti asuhan. Ibu yayasan Menyerahkan berkas itu dengan hati hati.


Sementara itu terlihat Gabriela dan Marco berjalan menuju arah mereka. Marco sengaja membuka kancing atas bajunya. "Mampus kau mereka akan melihat kejahatan mu" Marco masih menggoda Gabriela yang murung.


Masuknya ibu yayasan tadi membuatnya terkejut hingga tidak sengaja menggigit leher Marco.


"Aku akan bilang ke mereka kau tadi sengaja menarik ku ke dalam ruangan itu dan menganiaya ku"


"Hentikan tuan, kan anda yang menarik saya tadi" Gabriela murung sambil terdengar bergumam sedikit. Marco tergelak melihat kepalan tangan istrinya. "Kau ingin meninju ku"


"Ahh tidak tuan, hehehe aku hanya... ah saya mana seberani itu pada anda tuan hehe"


"Tuan!!" kesal lagi.


"Ah sayang maksudnya" Kau selalu ingat kesalahanku ya gila! "Ah sayang apa tidak sebaiknya kancing baju mu di tutup ya" Ayolah ahh itu memalukan sekali.


"Kenapa di tutup? biarkan sajalah.. biar mereka melihat keganasan mu" Marco menyeringai saat matanya bertemu dengan bola mata redup Gabriela yang menahan kesal.


"Nanti kalau ketampanan anda berkurang bagaimana?" Gabriela mencoba memprovokasi. Sial dia tidak menggubris. Aaaa bagaimana ini!!!

__ADS_1


"Sayang nanti aku akan mencium anda dimana pun anda mau. Tapi Syaratnya kancing dulu baju anda ya" Gabriela buru buru menutup mulutnya. Bagaimana ini bisa keluar dari mulutku. Tidak! otak ku yang kurang ajar. Kenapa bisa bisanya berpikir dengan kata kata yang tidak pantas begitu.


Dia semakin kesal apalagi saat melihat senyum licik Marco. Hah! apa itu! dia langsung mengancingkan bajunya. Aaaa habis aku nanti malam.


"Baiklah karena kau sudah memohon jadi aku berbaik hati padamu" Aaa Gabriela menggigit bibirnya. Aku memohon dan aku jadi korbannya.


Mereka tiba di teras. Anak anak juga sudah berkumpul sambil tertawa karena mainan baru.


"Anak anak silahkan mainannya disimpan dulu, Perkenalkan ini tuan Marco. Ayo bilang apa sama tuan Marco" Ibu kepala yayasan bersuara mengalihkan perhatian anak anak.


"Terimakasih tuan" Anak anak serempak mengucapkan terima kasih.


Marco hanya tersenyum sekenanya. Dia lebih tertarik dengan ekspresi wajah gadis yang di sampingnya. Ketegangan wajah Gabriela lebih menghibur.


Pengawal datang membawa makanan. Nasi yang di kemas di dalam kotak. Anak anak bersorak senang. Gabriela sampai terharu melihat ekspresi bahagia mereka apalagi saat mereka melahap makanan itu dengan penuh kebahagiaan.


Menu makanan yang berbeda dari menu yang biasa makan sehari-hari di panti. Porsi makanan terlihat lebih banyak. Ada juga jus yang di kemas di dalam cup dan beberapa buah buahan yang sudah di potong. Menu hari ini spesial.


Marco ikut bergabung dengan penghuni panti asuhan. Dia duduk sendiri di sofa yang sengaja di keluarkan oleh ibu asuh dari ruangan. Tempat duduk sang raja. Baiklah kau kan memang raja. Raja yang tidak punya kesadaran diri. Bagaimana kau bisa duduk sendiri di sofa sedangkan ibu kepala yayasan saja duduk di karpet.


Dia melirik Gerald yang berdiri tidak jauh dari tuannya. Kau juga kenapa ekspresi wajah mu ketat begitu. Duduk kau di karpet gabung sama mereka kenapa sih.


Gabriela melirik pengawal yang juga berdiri, tidak ada yang duduk. Apa pantat kalian alergi lantai!


Gabriela terus saja mengomel didalam hati.


Sambil membuka kotak nasi dan menyodorkannya ke depan Marco. "Sayang juga harus makan kan, ini sudah siang" Nanti kau sakit perut aku lagi tumbal mu!


"Aku mau disuap" Ucap Marco datar seperti biasa. Gabriela tersentak marah. Apa kau benar benar gila! ini panti asuhan! didepan anak anak lagi. Apa yang mereka pikirkan nanti. "Sayang tapi ini kan diluar, ada anak anak lagi"


"Apa masalahnya? mereka tidak akan ada yang protes" Gabriela kehabisan kata kata makian. Akhirnya dengan pasrah dia benar benar menyuapi sang raja dengan tangan telanjangnya. Dari pada berteka toh juga aku bakal kalah. Semoga kau tersedak! Gabriela menyuapkan suapan pertama.


Sial! makian ku mujarab. Gabriela buru buru menerima botol air mineral yang sudah dibuka oleh Gerald. "Makan pelan pelan sayang"


Sayang? hihihi makan pelan pelan sayang. jijiknya aku. Gabriela mencibir dirinya sendiri.


Bersambung.......


Hai besti....


Author berharap juga loh sama komentar dan like kalian tentang karya recehan ini.

__ADS_1


Itu untuk semangatku. Aku pasti akan semangat kalau reader semua rajin komen apa kekurangan dan kritik kalian 🤗


Tinggalkan like dan komen ya bestii 🥰


__ADS_2