Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Pertengkaran masih berlanjut


__ADS_3

Angin malam berhembus di luar. Seorang pria mengehentikan sebuah taksi di kegelapan malam. Sepertinya pinggang pria itu sedang sakit. Saat taksi berhenti dia masih menahan pinggang lalu mulai perlahan masuk kedalam taxi.


Sementara itu didalam sebuah kamar lantai dua, ada sepasang manusia yang saling melempar bola panas. Keduanya saling adu kekuatan siapa yang paling benar.


Dibuka dengan adu mulut soal perselingkuhan, Gabriela tidak terima dengan hujatan Marco terhadap dirinya sebagai perempuan murahan. Apalagi laki laki gila ini pintar sekali mencari kelemahan.


Walau dalam pertengkaran ini Gabriela terlihat lebih lemah namun kata kata telak darinya mampu memompa kesabaran Marco dalam adu mulut. Cipratan api kemarahan semakin besar saat gadis itu tidak mau mengalah.


Gerald hanya bisa mendengar suara suara denting dari dalam kamar tuannya. Bagaimana ini? Tuan tidak memberikan instruksi padanya tadi. Berarti aku tidak bisa meninggalkan rumah utama kan.


Eh, walaupun tuan Marco menyuruhku pergi fix kali ini aku akan melawan tuan.


Bagaimana bisa aku meninggalkan anda dalam keadaan seperti ini.


Prang!! Gerald terhenyak saat terdengar suara barang jatuh dari kamar. Aku bahkan lebih mengkhawatirkan anda tuan ketimbang nona Gabriela.


Hal yang sumur umur paling bodoh dia pikirkan adalah saat ini. Bagaimana bisa dia lebih takut Tuan Marco kenapa kenapa dari pada Gabriela.


Ya iyalah, Nona kecil kecil begitu bisakan membuat anda kacau balau. Dan itu lagi nona masih berani menjawab anda dengan kemarahan. Marco ingin tepuk tangan gadis paling berani yang menantang tuan Marco.


Nona sudah salah tapi masih bisa mengacau tuan Marco. Tapi tunggu! Gerald menghentikan langkahnya. Sejak kapan tuan Marco seperti ini? Biasanya dia tidak suka melayani orang banyak bicara. Kemana sikap dingin anda tuan!


Marco tidak akan perhitungan untuk menembak kepala seseorang yang melakukan kesalahan-kesalahan kecil sekalipun.


Atau bahkan menebas leher penghianat dengan tangannya sendiri.


Lalu anda adu mulut di atas? dengan perempuan lagi. Gerald geleng geleng sendiri sambil berlalu ke dapur. Sepertinya minum air dingin bisa membuatku lebih tenang. Cih! kenapa otakku aneh begini ya. Beraninya otak ku berpikir nona Gabriela yang akan menganiaya anda. Tapi kalau betulan bagaimana?


"Jawab!!!!!!" Prang!!!! "Kau menuduhku selingkuh?" Marco menunjuk dirinya sendiri. Tatapannya sudah seperti ingin melahap habis Gabriela.


"JAWAB!!!!"


"iya! aku menuduh mu selingkuh sana kau jangan sentuh aku, tidur saja sana dengan selingkuhan mu. Dia lebih cantik kan! lebih sexy kan! Sana pergi kau jumpai selingkuhan mu"


Gila Gabriela ngeri sendiri mendengar ucapannya. Hei iblis yang bersemayam di dalam tubuhku, keluar kau! keluar! Bagaimana bisa kau mengontrol pikiranku berbuat tidak waras begini. Lihat! lihat dia aaa dia semakin marah lagi kan. Bagaimana ini.


Tetap maju Gabriela! Bela dirimu. Jangan mau ditindas laki laki laki ini. Ayo hadapi dia jangan tunjukkan wajahmu yang menyedihkan itu. Semangat Gabriela.


Dan hebatnya wajah Gabriela benar benar menantang. Tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Toh aku tidak selingkuh kan. Persetan, jika dia mengusirku lebih baik. Aku bisa hidup bebas di luar.


"Aku baru saja ingin memberimu kebebasan kau sudah bertingkah dan hebatnya kau malah MENUDUHKU!!!!"


"Kau punya bukti aku selingkuh??? hah!" Bentakan keras dan nyaring. Gabriela terhentak saat suara itu rasanya membuat gendang telinga ingin pecah.


"Kau punya bukti!!!!!!" Gabriela refleks mendorong. Gila! hei ada berapa iblis di tubuhku ini. Ini bukan aku. Ini iblis yang mendorong anda tuan. Aku mohon kendalikan aku wahai malaikat yang baik hati.


Marco terjungkal saat tiba tiba Gabriela mendorong. Posisi Marco tadi memang sedikit menepi di ujung sofa. Cara duduknya juga tidak begitu pas. Pria itu meremas sofa dengan cengkeraman yang keras sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


"Kau menguji kesabaranku ya" Sekejap Marco sudah menyergap tubuh gadis itu. Mengangkat tangan gadis itu ke atas dan mencium paksa bibir ranumnya yang sedari tadi mengoceh tidak jelas. Walaupun memberontak, dia tidak bisa lepas begitu saja. Cengkeraman tangan Marco semakin mengeras pada kedua pergelangan tangannya.


"Jangan buat aku gelap mata padamu! sepertinya aku sudah sangat baik ya sehingga kau sudah tidak bisa menguasai batasan mu!!! Kau mau mati!" Marco melepaskan cengkeramannya saat gadis itu meringis kesakitan. Walau sakit Gabriela bahkan tidak berani meniup pergelangan tangan nya. Sambil berusaha menahan tangis. Tapi ujung ujungnya dia terisak isak juga.


"Ganti bajumu!" Marco mengambil ponselnya kemudian keluar. Tapi sebelum itu dia masih sempat menendang fas bunga yang menghalangi jalan. Ngeri kali abang Marco ini. Semua di tendangnya. Harusnya kau jadi pemain sepak bola bang. Bukan pengusaha.


Gabriela menghapus air mata mencoba untuk memberikan semangat pada dirinya.


Sudahlah Gabriela, jangan menangis lagi ya. Lebih dari sini kau sudah menghadapinya kan.


Masalah sudah selesai kok. Kau sudah bisa tidur. Dia sudah pergi kan. Gabriela menatap kamar yang hancur. Serpihan kaca dimana mana. Gadis itu duduk sebentar, baru sadar jika pergelangan tangannya merah. Baru sekarang dia berani meniup tangannya. Setelah merasa tenang dia berjalan mengambil handuk.


Air dingin sepertinya bisa menghilangkan iblis di tubuhnya. Sambil menangis dia mulai membersihkan diri.


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan nya. Untung saja dia sudah menggunakan pakaian lengkap. Satu set baju tidur.


"Saya bisa masuk nona?"


"Silahkan" Gadis itu menoleh ke pintu. Gerald masuk dengan ekspresi datarnya. "Nona di minta tuan Marco ke kamar sebelah." Gabriela yang tadinya sudah tenang semakin kesal.


Jadi masalah ini masih berlanjut. Dia melempar sisir ke atas meja. Berjalan dengan hentakan kakinya. "Hati hati nona nanti kaki anda kena serpihan kaca"


Gabriela tidak menggubris. Dia berjalan sambil terus memaki Marco dalam hatinya. Dasar laki laki gila! Bagaimana bisa kau melanjutkan masalah ini. Baiklah baiklah, tenang Gabriela jangan panik. Kalau dia marah kau jangan diam saja.


Tolong! tolong kau iblis keluar dari tubuhku jangan menghasut pikiranku. Masalah tidak akan sepanjang ini kalau kau tidak menghasut otakku.


Aku bahkan gemetar mau masuk.


"Kau mau disitu saja terus!!" Dentuman suara dari dalam kamar. "Masuk!"


Kepala altea menyembul duluan, dilihatnya laki laki itu sudah berada di atas tempat tidur dengan baju tidurnya. Kapan dia mandi?


Kakinya melangkah mendekati akar masalah. Dia berhenti tepat di ujung tempat tidur sambil menunduk. Marco tertawa sinis "Kau mau ngapain disitu?" Karena masih kesal Marco melempar bantal tapi tidak kena Gabriela.


"Kesini!!" Marco menepuk ranjang kosong di sampingnya.


Gak mau!


"Masih mau melawan?" Suara Marco sudah kesal. Gabriela reflek naik sambil menarik guling di sampingnya untuk menutupi pahanya. Dia tidak berani melirik Marco sedikit pun.


Marco melemparkan ponsel miliknya jatuh tepat di pangkuan Gabriela. "Tonton baik baik pake matamu" Pria itu memilih menyandarkan punggungnya.


Gabriela gemetar tapi tangannya mengambil ponsel memutar video yang di perbesar melalui rekaman CCTV. Penasaran juga ada apa di dalam ponsel milik sang raja. Suaranya tidak meninggi lagi kan itu artinya dia sudah lebih baik.


Gabriela menutup mulut. Ponsel itu jatuh ke pangkuannya lagi. Dia melirik laki laki gila di depannya dengan merasa bersalah. Marco menatapnya dengan tatapan tajam.


Jadi dari tadi anda menunggu saya di kursi? Dan wanita itu? anda tidak mengenalnya? Aaaa bagaimana bisa seperti itu. Jadi wanita itu yang gila padamu tapi kamu tidak.

__ADS_1


Gabriela lagi lagi hanya bisa mengutuk dirinya. Pikirannya yang terlalu pendek. Aku bahkan menuduhnya selingkuh. Tapi dia juga salah menuduhku.


"Sudah selesai?" Marco mengambil ponsel dari pangkuan Gabriela, kemudian meletakkannya di atas nakas. Setelah itu dia menyandarkan punggungnya.


"Beraninya kau menuduhku dengan perbuatan rendah seperti itu" Terdengar suara Marco sudah cukup datar. Artinya emosi tidak lagi meledak ledak.


"Tuan kan juga menuduh saya selingkuh" cicit Gabriela yang samar samar terdengar.


"Masih berani menjawab" Suara naik satu oktaf.


"Maaf tuan" Gabriela seperti tertampar kenyataan pahit. Bagaimana tadi aku sudah berkoar koar padanya. Tapi semua omong kosong. "Maafkan aku yang menuduh anda yang tidak tidak" Dia belum berani mengangkat kepala. Padahal lehernya sudah kebas tapi dia tidak memiliki nyali untuk bersitatap dengan mata biru pria ini.


Marco menjentikkan jari, menyuruhnya mendekat. Gadis itu terlihat ragu tapi karena tatapan Marco dia beringsut mendekat.


"Maafkan saya tuan"


Marco menyisir rambutnya ke belakang. Kalau sudah seperti ini jujur saja Marco tidak bisa menguasai dirinya. Wajah tegang yang gemetaran ini entah mengapa selalu menumbangkan kekuasaan emosi yang berkobar dalam dirinya. Dia selalu luluh saat melihat wajah Gabriela yang menyedihkan. Wajah penuh emosi dan mengesalkan tadi sudah berubah menjadi wajah imut yang sedang memohon pengampunan.


"Hati hati dengan tindakan mu Geby, kau masih ingat perjanjian kita kan" Kaki Gabriela lemas. Kalau ini sudah disinggung entah mengapa udara kehabisan oksigen. Dadanya sesak.


"Aku bisa saja memulangkan mu ke pangkuan ibu mu sekarang tapi jangan harap kau dan semua keluargamu akan baik baik saja"


Inti dari kalimat ini perjanjian tetap perjanjian. Kau harus sadar sudah banyak di tolong Gabriela.


"Maafkan kelancangan saya tuan, saya salah. saya minta maaf"


"Kau cemburu?" Tadi Gerald menuduhku cemburu. Apa itu berlaku padamu. "Aku tidak suka mengulangi kata kata ku Geby, berapa kali harus kubilang"


Gadis itu mencengkeram lutut. Tidak tau dia cemburu atau tidak. Tapi sepertinya tidak sih. Aku hanya merasa dikhianati dan dipermalukan tadi di pesta.


"Maafkan aku tuan, aku pikir wanita itu kekasih anda, maaf sudah menuduhmu tuan"


Huh Marco mendengus kesal.


"Aku tanya apa, kau menjawab apa" Marco sedikit menyadari jika gadis yang dia peristiwa ini memang belum sama sekali memiliki perasaan padanya.


"Aku hanya merasa di permalukan tuan, itu makanya saya meninggalkan anda disitu toh aku tidak mengenal siapa siapa disana kan"


Marco tertawa renyah. "Lantas istri Matteo? lalu bayi yang kau cium cium itu?"


Gabriela lagi lagi merutuki pikiran dan kebodohannya.


"Kau benar benar bodoh ya! tadi kau bilang kau istriku lantas kenapa tidak menemui ku? Malah kau pergi"


Kalau kau datang padaku akan lebih baik bodoh. Wanita disampingku pasti akan segera pergi. Marco menjentikkan jarinya pada telinga Gabriela. Gadis itu terkejut sekaligus meringis.


Aku menunggumu datang padaku, tapi kau malah pergi dan mengatakan aku selingkuh lagi. Apa kau cemburu? Marco tersenyum tipis kemudian menarik lengan baju Gabriela hingga tersingkap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2