
Seperti janjinya Marco naik membuka kamar hendak membangunkan Gabriela. Matanya menyipit karena tidak menemukan gadis itu. Kemana dia? Marco menajamkan pendengarannya tapi tidak mendeteksi keberadaan istrinya.
Apa yang dia lakukan disana?
Gabriela terlihat sedang melamun di sofa balkon sambil menopang dagunya. Rambut panjang ikalnya menggerai di punggung dan juga sebagian jatuh dari bahu. Saat diam seperti ini kau manis ya.
Memikirkan hari ini ada rasa geli di hatinya. Bisa bisanya aku merajuk terus di turutin apa mauku tapi anehnya semua batal dengan dramatis. Bagaimana bisa laki laki gila itu khawatir padaku, itu bukan khawatir. Aku tau itu hanya modus untuk membuatku semakin sedih. ya ya aku kan istri budaknya walau dia sudah jarang marah marah tapi tetap saja karena dia sudah dengan sesukanya meniduri ku.
Cih...
Aku penasaran sebanyak apa kekayaan mu tuan Marco. Sampai dokter di rumah sakit tadi saja takut padamu.
Itu karena wajahmu yang menyeramkan sih. Sepertinya dia perlu belajar senyum agar tampang wajah dinginnya itu mencair sedikit.
Gadis itu tersentak kaget saat Marco tiba tiba duduk di depannya. "Apa yang sedang kau pikirkan Geby" Tidak tangannya juga sudah mulai membelai pipiku. Jantungku belum lagi netral karena terkejut dan sekarang dia menyerang ku.
Bibir mereka masih bertautan. Tidak tau apakah sama sama menginginkan atau memang karena gabriela takut menolak. Dibawah terik matahari yang di tangkis oleh atap balkon keduanya saling menatap mengabaikan semesta. Ada beberapa pasang mata tak sengaja melihat adegan dewasa ini, tapi mereka hanya mengabaikan begitu saja sambil di hati mungkin berkata oh jadi itu nona muda yang katanya memabukkan anda tuan. Mereka kembali pada aktifitas masing masing.
"Kenapa wajahmu pucat geby" Marco lagi lagi mengelus pipi istrinya sambil tersenyum. Kau bisa ya tersenyum tidak merasa berdosa menyerang ku sesuka mu gila! Gabriela memalingkan wajah sambil berdehem. "Maaf tuan aku hanya" Merasa malu dan juga jantungan. Kata kata terakhir ini sengaja dia ucapkan dengan gumaman.
"Hanya apa?" Sambil menyeringai Marco meraih dagu istrinya memaksa menoleh padanya. Gadis itu menunduk sambil memaki dalam hati.
"Kau degdegan saat aku menciummu?" Jari telunjuk Marco mengelus hidung mancung Gabriela. "Padahal ujung ujungnya kau tetap menikmatinya kan" Wajah gabriela merah padam.
Jadi saat aku diam kau anggap aku menikmati gila! tunggu besok aku menolak mu eh tapi aku tidak berani sih. Aduh! turunkan aku kenapa sih malah menjepit pinggangku lagi.
"Kau mau jalan jalan kan?" Marco sudah menurunkan Gabriela dari pangkuannya. "Cepat turun" Dia berjalan masuk ke kamar sambil mengambil jeket hoodie nya. "Pakai baju hangat mu" Ucapnya saat Gabriela sudah masuk ke kamar dengan langkah malu malu. Apa dia mau mengajakku jalan jalan aaaaa senangnya.
"Pakai yang putih" Marco menunggu di depan pintu kamar tanpa menoleh. Dia tidak suka saat jaket yang digunakan istrinya tidak sesuai dengan seleranya. Gabriela kembali lagi ke walk in closet mengganti baju hangatnya. Sambil protes, dari mana dia tahu apa yang ku pake ya. Apa matanya juga ada nempel di tembok ini!
Dan anehnya di dalam lemari hanya ada satu baju hangat warna putih dan modelnya sama dengan punya Marco. Jadi kami couple an ini ceritanya. Huh! siapa sih yang menyediakan ini. Kurang kerjaan! memaki lagi.
__ADS_1
Marco menuruni tangga disusul oleh istrinya yang protes kenapa jeket kita harus sama. Aku bahkan tidak sudi couple an sama alien sepertimu. Untuk apa juga sih mengajakku jalan jalan sekarang. Ini sudah sore rupanya. Jam dinding menunjukkan pukul lima. Eh... jadi berapa lama aku tidur setelah makan siang tadi. Gabriela menutup mulutnya sambil cekikikan.
Pintu mobil terbuka gadis itu masuk duluan masih dengan tangan menutup mulut. Setelah makan siang tadi aku hanya ingin tidur lima belas menit rupanya bablas hingga tiga jam hahaha dasar aku.
Marco mengambil sesuatu dari dalam saku kursi mobil. "Ambil ini" Kartu limit tanpa batas dan juga ponsel Gabriela. "Masukkan ke dalam tas mu" Artinya jangan main hp. Walau cemberut dia tetap patuh memasukkan dua benda itu ke dalam tas.
Supir mengambil jalan pintas untuk sampai ke tujuan. Walau penasaran Gabriela tidak membuka mulut. Terserahlah mau dibawa kemana aku.Toh dia kan yang menguasai hidupku. Bodo ah aku mau tidur. Dasar mata bisa bisanya kau minta tidur lagi padahal sudah seharian ini tidur tidur.
"Kita mau kemana tuan?" Dasar mulut kurang ajar. Tadi kau bilang tidak peduli dia mau membawamu kemana. Trus kenapa sekarang kau bertanya. Gabriela melirik laki laki disampingnya, kok dia diam saja ya. Eh dia menatapku dengan tajam. Dasar! apa yang salah sih. Gadis itu memilih bersandar tidak berani lagi melirik pria gila disampingnya.
"Panggil aku sayang geby" Suara bisikan halus di telinga Gabriela. Tapi saat menoleh Marco bahkan melihat keluar kaca mobil.
Trus siapa yang berbisik tadi. Apa aku yang berhalusinasi ya. "Sayang berbicara padaku barusan?" Marco menoleh. "Pak supir apa kau mendengar aku membuka suara dari tadi?" mengatakan jika dia tidak mengeluarkan kata dari tadi.
Sopir gelagapan "Tidak tuan"
Marco melirik Gabriela, mengatakan kau dengar? Gadis itu bingung sambil melirik ke kanan. Tidak mungkin kan aku salah dengar. Jelas jelas tadi ada suara panggil aku sayang geby. Lalu itu suara siapa donk.
Marco tergelak saat istrinya benar benar bungkam tidak bersuara semenjak insiden bisikan itu.
Mobil berjalan semakin jauh. Tidak tau kemana akan singgah tapi ini sepertinya sudah memasuki kawasan yang sunyi. Soalnya keributan kendaraan sudah mulai hilang.
Hari mulai gelap. Perpaduan sore ke senja terlihat indah. Langit sedikit berwarna orange bercampur putih, dihiasi oleh awan awan gelap di barat sana. Sinar matahari sepertinya akan berganti dengan sinar bulan. Mobil berhenti di sebuah dataran tinggi yang juga sudah di penuhi oleh orang orang.
Gabriela bersemu senang saat supir membuka pintu. Dia tidak sabar turun melihat keindahan senja yang mulai berganti ke malam. Mengabaikan Marco gadis itu buru buru keluar sambil menengadah ke langit.
Bintang bintang juga terlihat malu malu menampakkan sinarnya. Gadis itu melirik sekeliling. Ada api unggun di setiap ujung. Para anak anak muda ada yang main gitar sambil lesehan beralas tikar di atas tanah kering.
Suara tawa terdengar dari setiap sudut. Gabriela mengeratkan tangan di dalam saku Hoodie nya. Udara berhembus dingin. Karena ini adalah dataran tinggi jadi hembusan angin terasa.
Gabriela menarik senyumnya sambil menoleh ke kanan. Sepertinya ada aroma yang menyeruak. Ibu ibu mengipas jagung bakar disana. Sepertinya enak, jagung yang masih panas di gigit pada saat udara dingin begini.
__ADS_1
Dia melirik Marco yang berwajah datar. "Sayang..." Dia mendekat sebentar lalu tersenyum tulus. "Terimakasih ya, ini cantik sekali" menunjuk langit yang berhias bintang di sana.
Marco menunjuk pipinya. Gabriela berjinjit melabuhkan kecupan singkat.
"Maaf, tas anda nona" Sopir menyerahkan tas kecil Gabriela yang ketinggalan di mobil, "Eh terima kasih banyak pak, hehehe tadi saya buru buru keluar sampai tas saya tinggal ya" Gabriela menerima tas dan menyilangkan di tubuhnya. Sopir itu menunduk lalu pergi memarkir mobil di tempat parkir.
Gabriela menunjuk penjual jagung bakar. "Makan itu boleh" Memohon dengan sorot mata binarnya seperti anak kecil pada ibunya memohon dibelikan jajanan. "Tidak ingat perutmu lagi?" Marco kesal. Kau tidak boleh makan makanan yang sembarang di jual.
Gabriela mayun. "Aku kan tidak sakit perut sayang" Ayolah beli itu enak tau. "Lihat mereka" Gabriela menunjuk sepasang kekasih yang sedang duduk berdua. Si cowok memberikan jagung miliknya untuk di cicipi si cewek, lalu mereka terlihat tertawa bersama. Melihatnya saja Gabriela menghangat.
Aku tidak merasakan hal hal menyenangkan seperti ini. Punya kekasih lalu berkencan di akhir pekan menikmati kebersamaan. Gadis itu menghela nafas, masa muda ku sudah hilang jadi tidak akan ada lagi moment seperti itu datang. Aku sudah menikah dan masa masa indah itu telah di skip menjadi lembaran baru. Jangan tanya lembaran itu seperti apa.
Sudahlah mau nangis rasanya. Gabriela menggenggam tas mungilnya sambil menyapu sekitar banyak pasangan dan juga kelompok anak anak muda yang duduk menikmati kebersamaan di bawah sinar rembulan yang mulai datang.
Ada kesedihan yang datang tiba tiba dihatinya. Ini bukan salahku, bukan salah orang orang. Aku tidak tau mungkin tuhan sedang menjungkirbalikkan hidupku. Terlalu terus menerus menyalahkan tante Mahalini atas semua yang terjadi hanya akan semakin menyiksaku saja.
Sudahlah terima saja dunia ini Geby, seperti dunia ini menerimamu geby. Kau mau seperti apa pun dunia ini tidak pernah protes kan padamu. Kau yang selalu protes kan kalau sesuatu tidak pas di hatimu. Jadi tolong Gabriela perbanyak bersyukur, kurangi mengeluh.
Eh apa ini! Gabriela kaget saat ada jagung bakar besar di depan mata. Dia mengikuti ujung jagung ada tangan yang kekar memegang ujung jagung. Eh tangan siapa ini.
Gabriela tersenyum saat mengenali tangan itu. Hehehe. "Terimakasih sayang" Kenapa aku masih geli memanggilnya dengan sebutan sayang ya. Ini lagi kok jagung ini besar sekali! Kan kau yang protes Gabriela memperingati dirinya kembali. Jangan banyak protes.
"Apa yang kau pikirkan dari tadi sampai kau tidak tau aku datang" Marco menarik tangan Gabriela untuk duduk di kursi yang memiliki meja kecil. Gabriela cengengesan sambil mengusap saus jagung yang belepotan di mulutnya. "Tidak ada sayang, aku cuma penasaran saja disana sepertinya lebih ramai ya" Gabriela menunjuk depan sana yang banyak di kerumuni orang orang.
"Nanti kita akan kesana" Ucap Marco datar, sambil memegang jagung miliknya. Marco tidak terbiasa mengonsumsi jajanan luar. Jadi rasanya agak aneh saat bumbu jagung bakar masuk kedalam mulutnya. Hanya satu gigitan dia hanya memegang jagung di tangannya, dahinya mengerut melihat jagung besar milik istrinya sudah habis. Dia tersenyum dan menyodorkan jagung miliknya ke depan mulut Gabriela.
Hap,hap,hap. "Habiskan" Gabriela cengengesan lagi sambil tidak tahu malunya menerima stik jagung dari Marco. Memakannya dengan lahap.
Senyum tertarik di bibir Marco melihat gadis kecil di depannya yang lahap mengonsumsi makanan sederhana. Penampakan ini sangat langka baginya. lain dari perempuan yang sering dia temui.
Marco tergelak lagi. Bagaimana bisa mulutnya sibuk menggigit dan mengunyah makanan tapi matanya berkeliling kemana mana, seperti tidak pernah melihat apa apa saja.
__ADS_1
Bersambung...