Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Perihal masa lalu Gabriela


__ADS_3

Pertengkaran tidak terelakkan. Vas bunga pecah mengenai kepala Gabriela yang kemudian berlumuran darah. Gabriela bisa merasakan darah mengalir di pipinya dengan deras.


Sedangkan Sheila berusaha menarik tangan Gabriela agar memindai sidik jari dan juga mendapatkan tanda tangan. Di saat Gabriela lemah seperti ini Sheila berusaha memaksimalkan kinerja untuk mendapatkan tanda tangan adik sepupunya.


"Aku minta padamu dengan baik baik kan! tapi kau menghiraukan ku" Sheila menahan tangan kanan Gabriela dengan keras. Menempelkan tiga jari pada tinta dan hendak memindai ke atas kertas. "Jika bicara baik baik tidak bisa padamu. Maka aku akan gunakan kekerasan Geby!"


Gabriela yang tau kelicikan kakak sepupunya pun tidak mau tinggal diam. Aku memang lemah. Tapi aku tidak akan membiarkan mu menguasai aku.


"Sudah ku bilang aku tidak akan mau!"


Gabriela bangun dan menjambak rambut panjang Sheila hingga gadis itu meringis. "Beraninya kau bersikap kurang ajar padaku" Sheila menendang paha kanan Gabriela hingga dia terpental.


"Kemari kau!!!" Sheila menyeret paksa Gabriela.


"Tidak! aku tidak mau" Gabriela mempertahankan tangannya di belakang punggung. "Aku tau kakak mau menjual ku, dan aku tidak sebodoh itu terperangkap"


Mereka saling bergulat di lantai. Gabriela berkali kali menampar pipi Sheila dengan tangan kosongnya.


Kekuatan Gabriela bertambah seketika mengingat semua hal yang dilakukan Sheila dulu padanya.


Sakit hati dengan mahalini yang menjualnya dan juga sakit hati atas kelicikan kakak sepupunya Gabriela seperti meluapkan kemarahan dan juga emosi.


"Kau harus mati" Sheila menerjang tubuh mungil Gabriela ke lantai. Gadis itu tidak berdaya lagi setelah kehabisan tenaga melawan Sheila. Tubuh mungilnya kalah dengan tubuh tinggi Sheila. Namun begitu dia telah meluapkan emosi dengan melawan dengan sisa tenaga walau harus kalah.


"Kau dan ibumu yang gila itu hanya benalu yang bisanya merepotkan!!" Sheila menarik pistol.


"Diam kau! jangan mengatai ibuku! ibuku tidak gila. Ibuku hanya sakit"


"Hahahah sakit jiwa apa bedanya dengan gila dek. Tanda tangan disini atau kau akan mati" Sheila bangun dan membenarkan pakaiannya yang melorot. Kemudian mengancam dengan pistol di tangannya.


Tubuh Gabriela langsung lemas. Debaran jantungnya semakin kencang kala Sheila mendekatkan senjata ke kepalanya. Gabriela berusaha mempertahankan kesadarannya ketika benda besi yang mengancam dikepalanya.


"Tanda tangan cepat!"


Dor!


Gabriela menutup mata. Tembakan tepat di plafon rumah. Ini adalah isyarat bahwa Sheila serius dengan ancamannya. "Tanda tangan!!" Dor! Plafon di tembak lagi.


Gabriella membeku membayangkan peluru akan bersarang di tubuhnya. Bagiamana ini! aku takut. Apa aku akan mati hari ini juga. Masih adakah yang menolongku.


Gabriela teringat dengan penculikannya dua minggu lalu. Tuan Marco datang menolongnya. Apakah semua akan terulang lagi. Tidak mungkin! jangan berharap Geby. Wanita yang di sayangi tuan Marco bukan kau. sadar! sadar!


Gabriela perlahan meraih kertas dan pulpen di atas meja. Sekilas Gabriela membaca tentang tulisan di atas kertas. Surat pengalihan hak?


Gabriela menatap Sheila meminta keterangan. Hak apa ini? Ada dua lembar lagi.


"Aku menyuruhmu tanda tangan! bukan membaca" Suara Sheila masih memenuhi ruangan. Tanda tangan gadis itu akan menjadi pengubah masa depannya. Namun terlihat Gabriela masih enggan membubuhkan coretan di atas kertas. Sepertinya aku trauma mengenai tanda tangan!

__ADS_1


Karena sebuah tanda tangan aku tidak bisa berkutik di depan Tante Mahalini dan juga tuan Marco. Tidak!


Srek! srek! kertas di robek menjadi beberapa bagian. "Aku tidak akan tanda tangan!"


"Kurang ajar" Sheila tidak menyangka bahwa Gabriela memiliki nyali sebesar ini masih bisa melawan padanya dengan merobek surat itu. "Baiklah sepertinya kau memilih mati ya!!"


"Tembak saja kak! aku lebih baik mati ketimbang hidup dengan bayangan bayangan pahit yang kalian hadiahkan padaku" Air mata gadis itu bercucuran dengan sendirinya. Dengan mati semua beban akan hilang dengan sendirinya kan. Toh aku tidak akan bisa lepas dari tuan Marco dan kembali pada ibu menjalani semua hari hari yang dulunya indah. Baiklah biarlah aku mati.


"Aku tidak main main dengan ucapanku geby! tanda tangan sekarang atau aku akan menghabisi mu"


"Tidak akan kak! habisi saja aku. Tapi aku tidak akan menjual diriku pada siapapun" Gabriela masih dengan mode keras kepalanya sedangkan Sheila sudah terbakar emosi.


Dor! Sebuah tembakan akhirnya melesat.


Gabriela menutup mata dan telinga. Apa aku sudah mati kena tembak. Apa aku sudah di surga? Eh tidak ada yang sakit. Apa memang kalau manusia sudah di surga maka tidak akan merasakan sakit lagi.


Tapi tunggu! Aku tidak tertembak kan? Dan suara langkah siapa itu? Gabriela masih menutup kedua matanya dengan tangan menutup telinga.


Gabriela mengintip kemudian perlahan membuka mata. Tidak. Aku tidak di surga, aku masih di bumi yang penuh misteri ini. Lantas siapa yang kena tembak?. Gabriela menutup mulut tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sheila kakak sepupunya sudah tergeletak di lantai. Perlahan dia melihat kaki jenjang berjalan ke arahnya.


"Siapa kalian!!" Gabriela sudah mengambil ancang ancang untuk lari. "Mau apa kalian? pergi!!!"


"Jangan takut nona. Kami akan membawa anda keluar dari sini" Seorang pengawal terlihat mendeteksi kesadaran Sheila. "Dia masih hidup bos"


"Baik amankan dia jangan sampai dia mati" Danri menyaratkan dengan jarinya.


"Kemarilah nona jangan takut, kami pengawal tuan Marco" Ucap Danri. Wajah Danri memang sulit di kenali karena dia menggunakan topeng sebagai penyamarannya menelusup ke villa ini.


"Nona tidak apa apa kan? apa ada lagi yang terluka?"


"Tidak Kak aku baik baik saja"


Mata Gabriela langsung berkaca kaca. Lagi lagi aku di selamatkan, pekik Gabriela dalam hati. Dia memandang jijik lantai penuh darah yang menjadi saksi bisu kebusukan Sheila kakak sepupunya.


Aku tidak terkejut lagi melihat kejahatan mu. Dari kecil kau selalu bersuka suka kan padaku. Tapi aku masih tidak percaya kau Setega itu padaku.


Beberapa menit kemudian haru langsung menyeruak dalam hatinya saat pintu kembali terbuka menampakkan seorang pria yang sangat dia rindukan datang.


"Sayang" Gabriela berlari memeluk Marco yang juga merentangkan tangan menyambut tubuh gadis itu menempel padanya.


"Are you oke?"


Ngomong apa sih? aku tidak mengerti.


"Maaf aku terlambat datang" Marco mendekap tubuh mungil itu dengan penuh rasa bersalah. Rasanya sakit ketika gadis polos miliknya di sentuh orang lain.


Dia menggeram kesal melihat luka di dahi istrinya. Beraninya kau menyentuh belahan jiwaku! Marco mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Amankan tempat ini. Aku akan pulang dengan Gaby" Pengawal langsung sigap menjalankan tugasnya.


Marco mengangkat tubuh Gabriela menuruni tangga. "Diam lah kita akan pulang, mama menunggumu di rumah" Marco mengabaikan Gabriela yang memohon agar di turunkan.


Gabriela menutup mulut saat mereka melewati mayat mayat yang tergeletak di lantai. Mayat pengawal yang mendalangi penculikan istrinya.


Cih sudah kubilang bereskan tempat ini kenapa masih juga ada sampah disini. Marco melewati mereka begitu saja sambil menggendong istrinya.


"Sebenarnya siapa pah? siapa yang berani mencelakai menantu kita sampai segitunya!" Nyonya Reva berteriak marah di depan rumah sakit.


"Ayo ma kita turun saja. Kita lihat dulu bagaimana kondisi Geby" Dengan langkah terburu buru, tuan Andika dan nyonya Reva tiba di ruangan Gabriela.


"Sayang... siapa yang melakukan ini padamu" Nyonya Reva langsung memeluk menantunya. "Geby katakan pada mama, siapa yang melakukan ini padamu"


Gadis itu menggeleng sambil menyeka air mata. Tidak mungkin aku memberi tahu soal kak Sheila, kakak sepupuku sendiri. Ya walaupun dia sangat keterlaluan tapi aku tidak mau mencoreng nama keluarga ku. Serba salah kan jadinya.


"Katakan sayang siapa pelakunya" Nyonya Reva mengguncang bahu menantunya.


"Mama tenang dulu mah. Aku sudah mengamankan pelakunya" Marco membuka suara sambil memasukkan ponsel kedalam sakunya. "Dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya"


Manik biru Marco bertemu dengan manik abu Gabriela. Sorot mata tegas yang selalu membuat Gabriela gemetar sekarang seperti hilang di telan bumi.


Manik biru milik Marco seperti sorot mata yang melindunginya. Tatapan mereka saling mengunci. Namun seketika Gabriela memutus kontak mata dengan Marco.


"Makasih ya ma udah mengkhawatirkan Geby" mata Gabriela berkaca kaca. Andaikan saja aku benar benar jadi menantumu, pasti aku adalah orang yang paling bahagia.


Tapi, dia melirik Marco yang bicara pada ayahnya. Ada kontrak antara aku dengan anak mu. Ada pemisah diantara kami berdua. Dan aku harus siap kehilanganmu kapan saja. Gabriela menyeka air matanya. Menguatkan diri untuk segala kemungkinan buruk ke depannya ketika marco tidak menginginkannya lagi. Aku pasti akan terluka saat waktu itu datang.


Aku tidak bisa berbohong jika hatiku sudah mulai jatuh padamu. Tapi aku akan berusaha menepis semua rasa di dadaku.


Harusnya kau tidak usah datang menolongku. Agar rasa ini jangan semakin jatuh. Gabriela teringat lagi dengan foto foto yang di berikan Sheila padanya tadi.


Masuk akal jika seorang Marco pasti akan memilih pasangan ideal. Pria sempurna akan mencari pasangan hidup yang sempurna juga. Gabriela hanya bisa menguatkan hatinya jika nanti Marco benar benar membuangnya.


"Kau jangan khawatir" Andika hanya menatap sekilas menantunya yang sedang di suapi makan oleh Nyonya Reva.


Tuan Andika menghela nafas. Walaupun melihat langsung bagaimana anaknya memperlakukan Gabriela dengan penuh cinta namun keraguan di hatinya belum hilang sepenuhnya.


Anggapan jika Marco menikahi gadis itu karena sesuatu hal masih terus menari nari di pikirannya.


Apa Marco tau mengenai keseluruhan latar belakang istrinya? Tuan andika terlihat cemas. Jangan jangan hal ini yang membuat anaknya menikahi Gadis itu.


Apalagi insiden penculikan kali ini melibatkan sepupunya sendiri. Dan tuan Andika sudah mengetahui perihal surat pengalihan itu dari mata mata yang dia pekerjakan


Apa aku menanyakan langsung perihal masa lalu istrinya? Aku akan melihat reaksinya nanti. Tuan Andika menemui dokter dan meminta keterangan mengenai Gabriela.


Tidak ada luka parah. Jadi sepertinya Gabriela bisa pulang hari ini juga.

__ADS_1


Bersambung


.......


__ADS_2