Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Aku akan membangunkanmu


__ADS_3

Terjadi kehebohan di sebuah rumah sakit. Istri tuan Marco sakit tolong semua dokter stand by. Pasien sedang menuju UGD. Begitulah info dari pihak rumah sakit yang terdengar.


Para petinggi langsung berinisiatif untuk menyiapkan kamar VIP. Mana tau istri tuan Marco perlu tindakan lebih bahkan ruangan ICU pun sudah di boking.


Mobil berhenti di depan rumah sakit. Marco dengan gaya cool nya keluar sambil memegang tangan istri yang cemberut sambil protes dengan goyangan tangannya. "Sekali lagi kau protes jangan salahkan aku mencium mu disini" Ancaman sarkas mematikan. Gadis itu benar benar langsung bungkam.


Dia naik ke atas bed untuk melanjutkan pemeriksaan.


Sudah ku bilang aku naik baik saja!


Dokter langsung sigap mengambil tindakan layaknya memeriksa pasien. Kali ini dokter tidak tersenyum sedikit pun. Tatapan intimidasi dari Marco benar benar menyulutkan niatnya untuk menyibak dress Gabriela.


Lantas bagaimana aku memeriksa perut nona kalau menyentuh perut saja tidak bisa.


"Apa nona mengalami mual muntah?"


Gadis itu menggeleng. Dokter bingung lagi. Berarti bukan sakit perut. "Lalu apa nona sudah menstruasi" Gadis itu menggeleng lagi.


Walau ragu dokter meminta perawat untuk cek keadaan pasien untuk keseluruhan.


"Oh begitu ya, silahkan berbaring nona perawat akan membantu cek suhu dan tensi nona ya" Gadis itu berbaring lagi tapi masih dengan raut wajah tidak bersahabat.


Perawat melakukan prosedur seperti biasa, sambil mencatat hasil hasil yang baru saja dia edukasi. Kemudian menyerahkan hasil tersebut ke tangan dokter.


jadi tidak ada tanda tanda kehamilan ya. Dokter berdehem sebentar.


"Ah..nona perlu istirahat saja tuan. Secara klinis semua baik"


Tatapan Marco memberikan sinyal tidak percaya. Tapi memang begitu kenyataannya tuan! Istri anda tidak apa apa.


"Terimakasih dokter kalau begitu kami permisi ya" Gadis itu turun dari tempat tidur. Karena sesungguhnya aku tidak sakit. Aku sehat!


"Hei siapa yang mengizinkanmu turun?" Marco yang sedang mengintimidasi dokter langsung marah. "Naik!"


Sambil cemberut dan sudah pasti di dalam hatinya banyak makian yang berkeluaran. Tapi gadis itu tetap patuh tidak berani turun.


"Apa dia perlu di rawat?"


"Saya pikir tidak perlu tuan jika nona merasa lebih baik" Untuk apa di rawat kalau semua sehat. Dokter sama seperti Gabriela yang hanya bisa bicara dalam hati.


"Saya baik baik saja sayang, aku tidak sakit" Gadis itu mengangkat lengannya menunjukkan kedua otot lengan yang sama sekali tidak berisi. Ayolah! aku tau kau kaya raya. Sampai hal beginian saja harus melarikan aku ke rumah sakit. Eh! bentar dulu. Apa rumah sakit ini miliknya? makanya dia bersuka suka? ah terserah lah.


Setelah melewati perdebatan. Akhirnya Gabriela di izinkan pulang. Gadis itu sekarang sedang duduk di kursi mobil sambil mengerucutkan bibirnya. Protes karena hari ini PHP alias harapan palsu!

__ADS_1


Sekuat apa pun dia memohon agar jalan jalan hari ini tetap terlaksana tapi nihil. Marco tidak luluh dengan wajah memohon gadis itu.


Kau sedang sakit perut jadi harus istirahat. Jangan membantahku atau aku menambah hukuman mu. Kata kata ini langsung membungkam mulut Gabriela.


Sepanjang jalan dia hanya terdiam memandang luar dengan nanar. Gagal! jalan jalan hari ini gagal Gabriela. Jangan menangis. Kau harus kuat. Berkali kali dia mengabaikan panggilan Marco.


"Kau mau di cium Geby?" Marco sudah mengambil ancang-ancang untuk melakukan ciuman karena dengan keras Gabriela sudah menepis tangan Marco yang hendak berbaik hati mengecek keadaan perutnya. Tapi gadis itu memalingkan wajahnya.


Marco tergelak. Sepertinya Gadis kecil ini mencoba merajuk untuk melancarkan motifnya jalan jalan hari ini.


Masih menatap jalanan yang lenggang. Karena ini siang hari jadi tidak ada macet. "Geby" Panggilan kedua. Lagi lagi Gabriela hanya memalingkan wajahnya tanpa berniat untuk menoleh sedikit pun. Tapi lucunya Marco malah tertarik. Kenapa level merajuknya naik ya. Tadi dirumah tidak begini amat. Dia masih menoleh padaku walau kesal.


"Kau tidak ingin jalan jalan?" Memancing dengan halus.


Ayo kita lihat reaksi mu Geby sayang. Marco menunggu respon gadis itu tapi tidak ada juga. Marco mengerutkan kening, apa dia benar benar merajuk?


wah wah wah... Marco bergeser kesamping Gabriela mencoba menggoda gadis itu. "Kau mau aku batalkan jalan jalan mu hari ini" Menyeringai sambil tersenyum huh! dia sudah ingin menggigit telinga Gabriela.


Memang sudah batal! dasar PHP! kalau tau begitu lebih baik kau tidak memberikan aku izin kan! huaaaa......


Bagaimana ini maafkan aku kak Altea. Aku tidak menepati janji. Ini semua gara gara laki laki gila ini!


Gabriela mendengus saat tatapannya bertemu dengan Marco.


Sok tau kau perutku. Sudah kubilang kan aku tidak sakit tapi kau sengaja membawaku kerumah sakit agar apa? agar aku tidak jalan jalan kan. Bayangan mall yang katanya banyak jajanan enak dan juga diskon sudah melambaikan tangan padanya.


Huaaaa....


Aku terkurung lagi. Gadis itu turun dari mobil sambil cemberut meninggalkan Marco yang sedari tadi merayunya.


Sial gadis bodoh itu merajuk benaran.


"Hei!! kau jalan yang benar! jangan lari lari begitu kalau jatuh bagaimana" Marco buru buru melepaskan seat belt dari tubuhnya kemudian turun dengan tergesa gesa. Cepat sekali langkahnya. "Hei bodoh tunggu" Marco sedikit berlari mengejar Gabriela yang sudah masuk duluan.


Setelah Marco sudah hilang di balik pintu, supir yang tadi mengantar mereka tersenyum puas. Bagaimana bisa anda seperti ini tuan!


Supir itu memarkirkan mobil kemudian bergabung dengan security depan menikmati secangkir kopi. Walau penasaran tidak ada diantara mereka yang berani bertanya apa yang terjadi. Tapi mereka sadar jika akhir ini tuan Marco banyak perubahan.


Gabriela menggulung seluruh tubuhnya di dalam selimut. Inilah kan kena karma sendiri aku jadinya. Gadis itu merutuki kesalahannya telah pura pura sedih dan merajuk tadi pagi. Alhasil hari ini menjadi sial.


Yang awalnya pura pura, yang terjadi malah betulan sedih. Kesenangan sudah di dapan mata hancur hanya dengan dramatis. Cih bagaimana bisa dia langsung menilai aku sakit perut sementara aku tadi hanya memegang perutku. Memang dasar dia niat sekali tidak mengizinkan ku jalan jalan.


Sudah lah Gabriela. Sudah berapa kali ku katakan padamu. Batasi dirimu, dia hanya suami berkedok majikan. Kau tidak akan pernah bisa merasakan kasih sayang seperti istri istri di luaran sana. Jadi sadarlah posisi mu Gabriela.

__ADS_1


Tapi aku benar benar sakit hati. Bagaimana bisa aku terkurung terus. Lalu kapan dong bisa keluar dari penjara ini. Menyedihkan sekali, kemarin ke pesta malah kesialan. Sekarang malah semakin sial. Gadis itu menendang nendang selimut yang menutupi tubuhnya. Marco di pintu tergelak.


Kasihan juga melihatnya begitu. Marco menghela nafas sambil berjalan mendekat. "Hei buka selimut ini, kau mau mati konyol kehabisan udara" Marco menarik selimut tapi Gabriela malah semakin menggulung.


Dasar gadis bodoh


Marco masih sabar menunggu Gabriela membuka selimut. Walaupun sebenarnya hanya satu tarikan tangan saja selimut itu pasti akan lepas.


Aku masih mau melihat sejauh mana merajuk mu berjalan. "Nanti aku sita kartu kredit dan ponsel mu mau"


Gabriela membuka selimut lalu berjalan mengambil ponsel dan juga kartu kredit. Menyerahkan dengan kasar.


Toh itu tidak berguna bagiku kan.


Marco bengong sendiri. Gadis dari mana ini segampang ini memberikan akses pribadinya yang seharusnya ini dia lindungi. Karena ini kan benda penunjang dia nanti. Kalau aku sita kartu mu kau mau belanja pake apa bodoh.


"Ambil saja tuan!" Intonasi tuan dengan jelas. "Toh aku tidak membutuhkannya kan, main hp tidak bisa, keluar bentar tidak bisa. Lantas untuk apa itu ada padaku" Iya juga. Marco melirik dua benda di telapak tangannya sambil menelan saliva. Apa aku berlebihan ya mengekangnya. Menghela nafas sebentar.


"Kemarilah" Marco mengulurkan tangannya.


"Saya mau istirahat tuan" Selimut tidak tergulung lagi. Tapi Gabriela membelakangi Marco.


Kau kan yang mengatakan aku harus istirahat!


"KEMARI!!!" Gabriela tersentak kaget saat suara Marco naik satu oktaf. Gadis itu langsung berbalik karena terkejut. "Aku kaget tuan" Dia memegang jantungnya sambil mengelus pelan.


"Kau semakin tidak bisa di atur ya!" Marco sebenarnya ingin marah tapi entah kenapa dia tidak tega.


"Tuan kan yang menyuruh saya istirahat" Lagi lagi mengingatkan fakta.


"Kemarilah" Marco merentangkan tangan menunggu Gabriela masuk kedalam pelukannya. "Kemari!"


"i....iya" Gabriela takut juga jika laki laki gila ini mengamuk padanya. Dia perlahan masuk kedalam pelukan hangat laki laki gila yang menghancurkan keindahan hari ini.


"Istirahatlah sebentar, kau mau jalan jalan kan" usapan lembut tangan Marco menandakan dia serius dengan ucapannya. "Nanti aku akan membangunkan mu"


"Aku tidak apa apa sayang" Aku baik baik saja. Ini baru jam 11 pagi masa aku tidur lagi. "Lagi pula aku tidak mengantuk sayang"


"Kau benar benar tidak bisa di atur lagi ya!" Bagaimana bisa kau membantah toleransiku. Marco gemas sendiri, sebenarnya kau ini bodoh atau keras kepala. Atau jangan jangan keduanya. Bodoh dan keras kepala makanya kau tidak sadar jika perlakuan ku padamu sudah sangat istimewa. Ini di luar kebiasaanku memperhatikan orang lain.


Walau kesal gadis itu membaringkan tubuhnya. "Tiga puluh menit saja ya" masih melakukan penawaran. Marco menatap tajam. "Kalau satu jam gimana?" penawaran kedua.


Marco lagi lagi harus elus dada. "Istirahatlah, nanti aku akan membangunkan mu" Marco menutup pintu dengan pelan. Tergelak sambil menuruni tangga.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia menggemaskan begitu. Hahaha


Bersambung....


__ADS_2