
Setelah Marco berangkat ke kantor Gabriela mengambil makanan ikan. Karena dia tidak boleh memegang pekerjaan apa pun di rumah yang mewah dan besar ini, akhirnya Marco mengizinkannya memberi makan ikan di kolam kolam kecil di pekarangan belakang rumah.
Dia mulai melemparkan butiran kedalam air. Gadis itu tertawa senang melihat ikan ikan berebut makanan. Gadis itu melempar lagi, lempar terus hingga habis. "Wahh senangnya ikan ikan memiliki kehidupan yang bebas bukan sepertiku" Gumamnya setelah melempar sisa makanan ikan di tangannya.
Hobby tuan Marco lucu juga ya, memelihara ikan dari segala jenis. Gabriela mulai berjalan untuk melihat koleksi ikan hias Marco di gelas aquarium.
"Maaf nona anda hanya bisa sampai disini saja" Salah seorang pekerja yang bertugas merawat ikan hias Marco menghadang langkah gadis itu.
"Oh begitu ya maaf" Gabriela berbalik namun sekilas dia melirik ke dalam ada sebuah Aquarium raksasa. Aku penasaran di dalam ada apa saja sih. Gabriela menyentuh kaca Aquarium kecil yang dia lewati, namun pikirannya masih terbayang dengan Aquarium yang di dalam.
"Pak kenapa aku tidak bisa masuk kedalam?" Gabriela bertemu dengan pak haris di lorong menuju dapur. "Maaf nona tempat itu tidak boleh sembarang dikunjungi orang, hanya tuan marco yang bisa masuk kedalam"
"Silahkan nona Gerald sudah menunggu anda di luar" Gadis itu buru buru mengambil tas kecilnya. Padahal isinya tidak ada hanya sepasang jeday dan ikat rambut saja.
"Silahkan nona" Gerald membuka pintu mobil agar gabriela masuk. Gadis itu sumringah saat mobil memasuki mobil dan mendudukkan bokongnya. Mengatur posisi yang enak menuju panti asuhan. "Tuan Ger"
"Panggil saya senyaman anda saja nona, tidak perlu formal begitu. Saya asisten tuan Marco jadi anda adalah nyonya saya juga" Gabriela tertawa. Kenapa mereka sebut aku nyonya menggelikan sekali.
"Hehehe iya tuan Gerald saya nyaman memanggil anda begitu" Gerald ingin membenturkan dahinya ke spion mobil. Gerald mulai menginjak pedal gas, Mobile mulai meninggalkan pekarangan rumah. Dua security penjaga gerbang sigap membuka dan menutup gerbang setelah mobil yang di kendarai Gerald berlalu.
Didalam mobil tidak ada suara yang terdengar. Gabriela enggan membuka obrolan sedangkan Gerald kan memang seperti itu wajahnya. Datar dan sikapnya dingin bahkan lebih dingin dari Marco.
"Tuan..." Ragu akhirnya Gabriela membuka suara juga.
"Iya nona"
"Apa aku bisa menggunakan kartu yang diberikan tuan Marco ini membeli buku buku untuk anak anak panti" Gabriela memperlihatkan kartu di tangannya. Gerald tersenyum tipis. "Tentu saja nona"
"Nanti tuan Marco tidak akan Marah kan?"
"Tidak nona. Itu fasilitas anda jadi nona bisa menggunakannya untuk keperluan nona"
"Tapi kan ini bukan keperluan saya tuan Gerald, saya ingin memberikan buku buku untuk anak panti"
__ADS_1
Gerald menghela nafas sejenak. "Tidak apa apa nona, itu tidak masalah". Marco membelok ke kiri mendahului kendaraan yang di depannya. "Kalau nanti tuan marco Marah bagaimana? Anda tanggungjawab ya" nona bertanya pada saya lantas kenapa nona malah mengancam untuk mengorbankan saya. "Iya nona".
Gabriela turun setelah Gerald membuka pintu. Mereka berhenti di sebuah toko buku besar di pinggiran jalan. Gadis itu mengambil troli dan mulai antusias memilih buku. Ahh lucunya ada gambar gambarnya. Dia tersenyum lalu memasukkan buku satu persatu kedalam troly. Buku bergambar lengkap dengan percakapan dia siapkan untuk anak anak.
"Kak apa disini ada buku tentang kerajinan??" Tanyanya kepada karyawan toko. "Ada mbak di sebelah sana" Gabriela melangkah dengan cepat di ikuti oleh Gerald. "Tuan gerald boleh tunggu disitu saja saya tidak lari kok" Ucapan Gabriela membuat Gerald menarik garis senyumnya. "Tidak apa apa nona, tugas saya melindungi anda"
Bilang aja kau takut aku lari kan! lagi pula aku mau lari kemana. Aku tidak akan lari! Gabriela melanjutkan mencari buku keterampilan.
Bagaimana tuan Marco tidak terhibur melihat anda polos begini. Memangnya anda masih bisa lari? anda sudah terikat dengan tuan Marco. Kemana pun anda lari tuan marco pasti akan mencari anda nona.?
Gerald tadi tidak sengaja melihat bekas kemerahan di leher Marco dan dia juga melihat bekas itu di leher Gabriela. Sebuah kesimpulan yang hanya bisa disimpulkan oleh Gerald bahwa Gabriela tidak akan bisa lari.
Gerald merogoh saku jasnya. Sepertinya ada getaran tanda pesan masuk. Baik tuan, Dia hanya mengetik itu saja Gerald kembali memasukkan ponsel kedalam saku jasnya. Kemudian mengamati gadis belia yang sibuk meminta pendapat dan rekomendasi buku yang keren dari karyawan toko.
Satu troly penuh. Gabriela sepertinya sudah merasa cukup dengan apa yang dia beli. Ada buku menggambar untuk anak anak lengkap dengan alat menggambar seperti krayon dan juga pensil. Gabriela juga membeli buku cerita dan buku latihan berhitung, dan aneka buku kerajinan untuk anak anak yang menginjak remaja. Gabriela juga membeli banyak puzzle sebagai permainan asah otak.
Huh! Gabriela menguncir rambutnya tinggi.
Kartu ajaib, sekali gesek langsung bisa membayar semua buku buku tadi. Berapa sih isinya ini? Gabriela memandangi kartu hitam yang dia pakai tadi. Kemudian memasukkannya ke dalam tas.
"Jangan sungkan nona sudah menjadi tanggung jawab saya" Mobil sudah tiba di panti asuhan. Anak anak antusias berlarian menyambut Gabriela.
"Mbakkkk akhirnya mbak datang juga" mereka menggandeng tangan Gabriela masuk. "Siapa om itu?" Salah satu bertanya.
"Ini namanya om Gerald"
"Halo om" Gerald hanya menundukkan kepala dengan ekspresi datarnya. Gabriela meminta anak anak remaja menurunkan buku buku dari dalam bagasi mobil. Jelas saja anak anak langsung ceria melihat apa yang dibawa Gabriela. Buku buku baru dengan jumlah yang banyak. Anak anak itu duduk rapi di dalam sebuah ruangan yang hanya berlapis karpet karakter. Tidak ada sofa atau sekedar kursi plastik.
"Nona ini ponsel anda baru anda tuan Marco akan menghubungi anda nanti" Marco menyerahkan ponsel baru untuk Gabriela. "Saya pamit dulu nona silahkan nikmati waktu anda" Gerald menundukkan kepala kemudian berlalu.
Baguslah, sana pergi tempatmu tidak disini. Wajah datar mu yang tidak ada senyum itu hanya akan membuat anak anak gemetar. Padahal mereka sudah berbaik hati menyapamu. Dasar tuan dan asisten sama sama menakutkan.
Gabriela melanjutkan langkahnya menuju ruangan tempat dimana anak anak membaca buku. Sambil bertukar cerita dengan para ibu asuh di panti dan juga kepala yayasan Gabriela sesekali terlihat membantu anak anak main puzzle. Ada yang tertawa riang karena berhasil menyusun puzzle ada juga yang mayun karena belum berhasil. Gabriela menikmati semua pemandangan itu.
__ADS_1
Mereka semua duduk bersantai di atas karpet. Bermain dengan anak anak. Sambil menikmati ubi goreng buatan ibu asuh. Pembicaraan sudah merembes kemana mana. Gabriela banyak menanyakan kegiatan anak anak mulai dari bangun sampai mereka tidur lagi.
Kalian lebih berbahagia ketimbang aku. Kalian bisa berkreasi disini bercanda dan tertawa. Ada ibu asuh juga yang memberikan kasih sayang.
Gabriela hanya bisa meratapi dirinya kembali. Masa kecil anak panti bahkan lebih indah darinya.
Masa kecil Gabriela sangat suram. Waktunya habis untuk bekerja hingga sampai dia se dewasa ini. Tidak ada puzzle apalagi buku buku. Sekolah dasar Gabriela kandas setelah tidak punya biaya lagi. Belum lagi tuntutan karena kesehatan ibu.
"Terimakasih atas kebaikan mbak sudah mau peduli dengan anak anak panti" Kepala yayasan terlebih dahulu membuka suara menghamburkan lamunan Gabriela.
"Anak anak menunggu anda datang dari kemarin mereka sangat senang melihat anda pada saat pertama kali datang kesini". Kepala yayasan juga ikut duduk di karpet.
Kepala yayasan meminta agar Gabriela ikut melihat ruang belajar. Mereka berjalan sama sama. Ibu kepala yayasan lagi lagi mengucapkan terimakasih.
"Sama sama bu saya senang sekali bisa bermain dengan anak anak." Gabriela bersyukur Marco mengizinkannya berkunjung ke panti lagi. Meskipun dia mengancam akan meratakan panti ini dengan tanah jika aku disentuh anak laki laki walau hanya alasan merias wajah. Eh aku tidak melihat anak laki laki remaja penghias wajah itu. Kemana dia ya?
Gabriela akhirnya bertanya kemana remaja yang kemarin digadang gadang bakal jadi seorang tata rias wajah profesional karena bakat dan kemampuannya di bidang make up cukup di pertimbangkan.
"Beliau dapat bantuan melanjutkan karirnya mbak. Ada yang berhati mulai membantunya masuk ke sekolah kejuruan tata rias" Ucap kepala yayasan
" Wahh hebatnya" Semoga kebaikanmu dibalas dengan baik wahai pemberi bantuan. Hatimu sangat mulia.
"Iya mbak. Tidak hanya beliau tapi ada 4 orang mereka yang melanjutkan pendidikan kejuruan tata rias dan semua dibantu orang yang sama" Ucap kepala yayasan penuh haru.
Ucapan mereka terhenti saat terdengar anak anak. Dengan suara riuh di halaman panti.
Ada dua mobil yang terparkir.
Gabriela memejamkan penglihatannya. Dan dia mengenali mobil itu.
Seseorang memakai jas turun dari mobil.
Deg.....
__ADS_1
Bersambung....