Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Jangan melirik istriku


__ADS_3

"Kamu seperti tidak senang mama dan papa pulang?" Nyonya Reva protes sikap anaknya yang dingin tidak jelas. Sejak pulang dari rumah sakit nyonya Reva hanya melihat sikap dingin anaknya. "Mama dan papa tidak mau diam terus sayang, mau sampai kapan mama dan papamu hanya sembunyi?" Marco bisa menerima alasan kedua orangtuanya. Tapi bukan itu masalahnya.


Bagaimana aku tidak kesal. Mama malah menguasai istriku daripada aku. Cih Gabriela juga bahkan tidak menggubris ku lagi setelah bertemu dengan mama. Lihat! dia sibuk dengan mu dan mengabaikan aku.


Padahal Gabriela Sebenarnya sangat canggung ketika nyonya Reva terus menempel padanya bercerita ini dan itu. Nyonya Reva memujinya yang masih muda cantik dan anggun.


Dan Gabriela hanya bisa terus menyambung percakapan mereka hingga melebar kesana kemari. Aku juga tidak enak hati pada ibumu kalau aku tidak menggubris perkataannya kan.


Tapi Kenapa aku baru bertemu dengan orang tua tuan Marco ya?


Kemana mereka selama ini? Ah kau jangan banyak bertanya Geby. Mereka kan orang kaya berat. Bisa saja mereka punya rumah dimana mana atau bahkan di luar negeri.


Lagi pula untuk apa mereka menemui mu. Memangnya kau siapa kali dalam hidup mereka? Walaupun mereka menyapa mu itu karena kau terkapar di rumah sakit.


Gabriela menerima buah yang masih belum di potong dari pelayan di dapur. Hari ini nyonya Reva mau masak sendiri tanpa pelayan. Aku merindukan dapur ini dan semua peralatan disini. Ayo sayang bantu mama.


Walau tatapan Marco tidak suka tapi Gabriela tetap melenggang masuk ke dapur menyusul nyonya Reva. Mana mungkin aku menolak ibu mu. Apalagi ini kali pertama mereka ketemu.


Dia mencuci buah kemudian mulai memotongnya jadi potongan kecil.


"Iya begitu sayang. Marco memang suka buah mangga di gabung dengan kiwi dengan potongan sedang seperti itu, jangan terlalu besar. Hati hati tangan mu jangan kena pisau ya" Gabriela tersenyum sambil mengangguk. Nyonya Reva kembali mengaduk sayur di atas kuali.


"Mama selalu rindu masakan Indonesia" Disela sela kesibukan mereka di dapur nyonya Reva masih terus memancing percakapan dengan Gabriela.


"Kalau mama rindu aku bisa membuatkan setiap hari" Gadis itu berani menawarkan jasanya walaupun dia tidak tau memasak.


Cih! bagaimana mama bisa santai membiarkan istriku memegang pisau. Aku saja melarangnya ke dapur. Marco masih menyandarkan tubuhnya di pintu. Melihat aktivitas dua wanita di dapur juga terlihat ada koki disana yang juga membantu. Hanya membantu memberi tahu dimana bahan bahan, kalau tukang masaknya sudah pastilah nyonya Reva.


"Hehehe tidak perlu sayang. Mama tidak mau merepotkan mu. Kan ada banyak koki disini. Bila perlu Marco saja mama suruh. Dia jago masak" Bisik nyonya Reva sambil mengacungkan jempolnya.


Gabriela tersenyum, iya mah. Aku tau kok, aku juga sudah pernah mencicipi masakan tuan Marco hehehe.


Sementara tuan Andika seperti tour guide ke seluruh sudut rumah. Pria tua yang mulai termakan usia namun masih terlihat bugar. Semua masih sama gumamnya. Desain ruangan, cat, dinding dan segala interior antik tidak ada yang hilang atau diganti.Tuan Andika berhenti didepan kamar anaknya. Dia melirik sekilas, ujung ujungnya penasaran namun dia tidak berani masuk apalagi Marco sudah menikah. Walaupun Marco anaknya dia tetap menghargai privasi.


Sambil menarik senyum tipisnya tuan Andika menuruni tangga. Bagaimana bisa anaknya yang matang menikah dengan gadis yang tergolong masih remaja. Sampai hari ini, tuan Andika masih mencari tau mengapa anaknya menikahi Gabriella.


Mereka akhirnya makan siang di meja makan yang dekat dengan kolam ikan. Angin sejuk dan aroma harum dari bunga bunga di pekarangan luas terasa hingga menciptakan kedamaian tersendiri.

__ADS_1


Marco melirik istrinya yang sibuk menuang jus kedalam gelas. Gadis itu salah tingkah karena kedipan mata suaminya yang licik.


Sampai dia kembali duduk masih salah tingkah juga, karena sepertinya yang melirik dia tidak hanya Marco tapi ayah mertuanya.


Entah mengapa tuan Andika melihat wanita ini bukan selera Marco.


Memang iya, tuan Andika sudah mendengar ciri ciri Gabriela dari mata matanya di rumah utama. Tapi melihat secara langsung tuan Andika semakin percaya kalau gadis ini di nikahi karena sebuah alasan bukan karena cinta.


Makan siang sudah selesai. Nyonya Reva pergi istirahat ke kamar. Rasanya dia ngantuk mungkin karena efek perbedaan jam. Kalau di Indonesia siang berarti di Eropa malam. Jadi mata nyonya Reva masih ikuti standar Eropa.


"Sayang kamu istirahat juga ya" Nyonya Reva mengelus rambut menantunya sebelum berlalu. "Iya ma"


Di meja makan tertinggal Marco dan tuan Andika. Gabriela sudah pergi karena permintaan tuan Andika mau bicara berdua dengan anaknya. "Kita bicara di ruangan papa" Andika bangkit dari tempat duduknya.


Marco mendengus kesal. Pasti yang papa tanyakan seputar Gabriela. Kenapa sih semua orang tidak ada yang percaya aku jatuh cinta sama gadis dekil seperti dia.


"Sekarang jelaskan pada papa apa alasan mu menikahi Gabriella" Tuan Andika orang yang tidak begitu suka mencampuri urusan orang lain. Namun kalau urusan Marco kali ini sepertinya dia harus terlibat. Karena ini masih urusan keluarga.


"Papa dan mama tidak memaksamu segera menikah, ya walaupun usiamu tidak muda lagi" Menikah dengan anak remaja lagi.


"Apa yang papa katakan? Apa papa memintaku untuk menceraikan Geby? atas dasar apa?" Marco seperti terpantik emosi saat Tuan Andika mengatakan tidak memaksa menikah. Seolah dia tidak mengakui pernikahan anaknya.


Tuan Andika mengernyit. "Tidak" Jawabnya dengan wajah merasa tidak bersalah telah menyinggung anaknya. Rasanya Tuan Andika ingin membenarkan ucapan Marco barusan.


"Lalu kenapa pernikahan kalian diam diam bahkan sampai sekarang kau tidak berniat mengenalkan istrimu pada publik?" Mustahil kau menyukainya. Tidak mungkin kau sampai jatuh cinta pada gadis itu. Ya memang kulitnya putih tapi usianya. Ah..Tuan Andika sama sekali tidak menemukan apa yang menarik dari gadis itu. Omong kosong kau bisa terperangkap padanya. Gadis itu bahkan gemetar saat melihatku tadi.


Marco menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Menerawang jauh ke masa lalu. "Papa dan mama saja harus aku sembunyikan dari sampingku" Aura ketakutan Marco semakin terasa jika suatu saat ada yang mencoba untuk menyakiti istri dan keluarganya.


"Papa sendiri tau kan alasan di balik 16 tahun papa dan mama di luar negeri. Alasan itu juga yang menjawab pertanyaan kenapa aku tidak mengenalkan istriku pada dunia"


Aku tidak mau ada yang mengincar Gabriela.


Tuan Andika seperti menampar pikirannya yang berpikir macam macam. Baiklah untuk part ini aku terima sebagai alasan yang masuk akal.


Tapi tetap saja aku tidak percaya kau menikahi gadis seperti itu karena cinta. Dimana keunggulannya aku tidak tau. Dan tidak mungkin kau jatuh cinta padanya dari semua wanita yang dekat denganmu. Aku bukan tidak tau wanita yang berusaha mendekati mu.


"Gabriela gadis yang sangat menarik pa" Akhirnya Marco berniat membela istrinya di depan tuan Andika. Menegaskan jika Gabriela adalah wanita yang pantas untuknya. "Terlepas dia yang jelek hahahaha" Marco menertawakan omongannya sendiri. Walau jelek aku tetap tergila gila padanya. Tiba tiba dia duduk. "Papa akan tau dia semenarik apa"

__ADS_1


"Eh tunggu! papa tidak boleh tau dia semenarik apa! dia istriku" Marco berdiri. Awas papa berani melirik istriku. Marco memaki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin papa berani melirik istrinya padahal jelas jelas Tuan Andika sangat mencintai nyonya Reva. Tapi tetap saja Marco tidak suka apalagi tadi Marco melihat tuan Andika memperhatikan istrinya.


Meskipun tuan Andika hanya ingin mencari sesuatu dibalik ekspresi wajah istrinya tetap saja Marco cemburu.


"Ingat pah jangan melirik lirik istriku lagi! Ku adukan sama mama mau?" Marco tertawa sambil menutup pintu dengan keras. Dia berlalu begitu saja. Sementara itu tuan Andika sama sekali tidak terhibur melihat tingkah anaknya.


Namun dia seperti melihat ada yang berbeda dari Marco. Sudah bisa tertawa lepas seperti ini. Apa gadis itu sudah berhasil menguasai pikiran anaknya dan mengubah anaknya jadi seperti ini.


Marco masih tertawa tanpa beban meninggalkan tuan Andika tanpa dosa sekalipun. Dimana Geby? Geby ku sayang kau dimana. Marco membuka pintu kamar, tidak ada. Kemana Geby ku?


Senyum merekah saat melihat istrinya ternyata berada di belakang sambil memberikan ikan makan. Suara percikan air terdengar semakin keras. Ikan ikan sedang berebut makanan.


"Hei bodoh!" Gabriela tersentak kaget. Marco datang tiba tiba, makanan ikan terjatuh dari tangannya.


"Kau sedang apa?" Marco mendekat sambil melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Gabriela menjawab sekenanya kalau dia sedang memberikan ikan makan.


"Bisa bisanya kau melayani ikan makan sampai mengabaikan ku" Selalu saja tidak terima kalau istrinya sibuk sendiri. Padahal ya mau se lengket apa lagi sih Geby padanya yakan.


"Anda kan sedang bicara sama papa, makanya saya kesini" Gabriela menyudahi aktivitasnya memberikan ikan makan.


"Aku menyuruhmu kemana tadi heh?" Marco menggigit daun telinga istrinya. Tangannya masih melingkar di pinggang. Jadi mereka terlihat menempel. Tidak, Marco yang terlihat menempel pada istrinya.


Aw aw... sakit sekali


"Aku menyuruhmu istirahat, kenapa malah kesini?" Main main dengan ikan lagi. Aku tidak mau kau sibuk selain padaku.


"Iya tuan maaf" Marco langsung membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Tubuh kecil Gabriela terangkat. Mereka menyudahi ciuman namun istrinya masih berada dalam gendongannya.


"Panggil aku sayang dengan mesra. Apalagi di depan mama dan papaku" Jangan sampai papa semakin curiga. "Kalau kau memanggilku formal sekali saja aku akan mencium mu walaupun di depan mama dan papa" Gadis itu mengangguk. Iya aku tau!


Aku tau kalau aku harus bersandiwara di depan kedua orangtuamu. Tapi kenapa? kenapa aku harus melakukan itu.


Marco menurunkan Gabriela dari gendongannya. "Sekarang cium aku Geby" Marco menunduk mengimbangi tubuh istrinya. Gabriela mendaratkan kecupan di bibir. Marco semakin menyeringai. "Kau sudah berani ya mencium bibirku padahal aku meminta mu mencium pipiku"


Gabriela merajuk. Nanti ujung ujungnya pasti kau memintaku mencium bibirmu juga nya. Pipinya menggembung di iringi dengan bibir yang mengerucut.


"Hahaha" Lucunya. Marco menusuk nusuk pipi istrinya yang menghangat sampai mengeluarkan rona merah alami. "Kau pasti senang ya mencium ku"

__ADS_1


Tuan Andika tersenyum tipis melihat keakraban anak dan menantu dari balik kaca. Tapi kecurigaan di hatinya belum juga menghilang. Namun bisa jadi tuan Andika mulai mempertimbangkan kalau memang anaknya mencintai istrinya. Jadi pernikahan itu bukanlah karena paksaan akan tetapi karena saling menyukai.


Bersambung....


__ADS_2