
"Apa yang kau lakukan pada istrimu mu Marco!!!" Nyonya Reva datang sambil menjewer telinga anaknya. "Ahhh mama apa apa sih"
"Bodoh! kenapa kau mencekik istrimu! kalau kau tidak sayang padanya kembalikan dia pada orangtuanya jangan menyiksanya!" Nyonya Reva berkacak pinggang sambil memukul kepala anaknya, matanya menyapu semua sudut kamar. Hancur! bantal berserak, selimut teronggok dan juga semua isi meja sudah berhamburan kemana mana.
"Apa kau sudah tidak waras!!!" Lagi lagi Marco memukul bahu anaknya dengan keras.
Tuan Andika hanya diam berdiri mengamati keadaan kamar. Sedangkan Gabriela sudah melarikan diri ke ke walk in closet untuk mengganti bajunya.
"Ayo tidur dengan mama saja" Nyonya Reva menarik tangan Gabriela ketika gadis itu sudah keluar dengan baju tidur kebesaran milik Marco yang dia pakai. Tubuhnya tenggelam karena baju itu tiga kali ukuran bajunya. Marco terkejut melihat tampilan istrinya.
Hahaha manis sekali Geby memakai baju ku pasti karena bajunya semua Kurang bahan dan malu pada mama.
Tapi tunggu mau di bawa kemana Geby.
Marco masih dengan celana boxer miliknya mengejar nyonya Reva yang membawa kabur istrinya.
"Mama apaan sih" Tangan Marco menahan nyonya Puspa membuka pintu. "Kami tidak berantem mah, kami sedang....
"Diam kau! beraninya kau berbuat kasar pada perempuan, dasar!"
"Aw sakit mah" Marco melirik istrinya yang hanya diam sambil menahan tawa. Jelaskan pada mama. Ahh bagaimana bisa mama menuduhku berbuat kasar padamu. Padahal jelas jelas tadi kau kan yang lebih banyak memukul ku. Kau kan yang duluan menghajar ku!
Tapi Gabriela hanya diam sambil sesekali menjulurkan lidahnya kemudian masuk mengikuti nyonya Reva kedalam kamar tamu.
"Panggil mama kalau dia menyakiti mu. Jangan ikuti kemauannya. Dia itu kadang waras kadang tidak. Beraninya dia berbuat seperti itu padamu" Nyonya Reva menepuk ranjang menyuruh Gabriela tidur. "Tidur disini saja malam ini agar dia tidak menyentuh mu" Nafas nyonya Reva masih naik turun.
Gadis itu cekikikan melihat mertuanya marah pada anaknya. "Makasi ya ma" Dia tersenyum kemudian mengusap lengan nyonya Reva. Kenapa akhir akhir ini keluarga besar ini semakin menyenangkan ya. Hahaha Gabriela tertawa membayangkan wajah Marco yang di jewer tadi.
Gadis itu itu melompat ke atas tempat tidur setelah nyonya Reva menghilang di balik pintu. Senang bukan main lepas dari tuan Marco.
Lagi lagi Gabriela tergelak sendiri.
Bagaimana bisa pria sangar seperti suaminya diperlakukan seperti anak kecil oleh ibunya. Hahaha tapi tuan Marco menggemaskan sih. Eh tapi tuan Andika?
Gabriela sampai hari ini sangat segan pada mertuanya laki laki. Bahkan saat di meja makan sekalipun dia tidak berani melirik mertua laki lakinya. Apa papa tidak menyukai ku ya?
__ADS_1
Jika pun tuan Andika tidak menyukainya sesuatu hal yang wajar sih. Gabriela menarik selimut menutupi bagian tubuhnya sambil menatap langit langit.
Kamar tamu saja semewah ini. Semua lengkap. TV nya besar, kamar mandi luas, tempat tidur empuk bahkan tersedia beberapa baju di lemari. Jika di bandingkan dengan kamar ku sebelum menikah, wah sama sekali tidak sebanding.
Luas kamar ini sama dengan luas ruang tamu di rumah ibu. Gabriela menghela nafas sambil sesekali menguap, "keluarga Tuan Marco memang bukan orang sembarangan"
........
Hembusan angin menerpa wajah Marco yang sedang menikmati angin malam di balkon paviliun belakang. Marco menarik kancing jeket miliknya kemudian merebahkan diri di kamar Gerald.
Kamar itu sebenarnya kamar kosong yang tersedia untuk jaga jaga. Namun Gerald sering menempatinya ketika tidak memungkin pulang ke apartemen, atau terkadang juga Gerald menempati kamar itu sesukanya.
Mama bahkan menghukum aku untuk tidur disini! Shiit! Marco menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas tempat tidur. Lalu Geby tidur dimana ya!
Marco mengecek ponselnya sial! kenapa pas pula baterai nya habis. Dasar tidak mendukung! Marco melempar ponselnya entah kemana mematikan lampu dan mulai merebahkan diri.
Geby,Geby, Geby! sialan kenapa aku tidak bisa tidur. Marco bolak balik mencari posisi yang tepat bahkan menarik bantal guling dan memeluknya, membayangkan itu adalah Geby. ah! sialan kau bukan Geby. Marco memaki bantal tapi tetap saja dia memeluknya.
Sementara itu Gerald mulai menaiki tangga setelah menguap beberapa kali. Dia pulang larut malam kemudian menemui tuan Andika perihal laporan mengenai nona Gabriela.
Padahal Gerald memang selalu bisa diandalkan tapi mendapat pujian dari presdir dia merasakan angin segar membangkitkan semangat untuk mengabdikan diri pada Adicipta group. Aku berguna! aku berguna!
Gerald melompat ke atas tempat tidur.
Blar! Lampu menyala. "Apa yang kau lakukan Ger!" Marco menatap tajam sekretarisnya.
"Apa yang tuan lakukan disini?" Kenapa anda disini. Wah tuan! aku merasa hina! bagaimana aku memeluk mu barusan. Gerald sudah merasakan kunang kunang beterbangan di atas kepalanya.
"Kau normal kan Ger!"
Bagaimana anda menuduh saya begitu tuan. Jelas jelas anda kan tiba tiba berada di kamar saya. Gerald kehabisan kata kata. Mana saya tau anda disini tuan! Aku pikir aku memeluk bantal guling tadi!
Saraf malu Gerald langsung menjalar kemana mana.
"Wah wah Ger!" Marco menyeringai. "Aku jadi takut padamu"
__ADS_1
"Jangan seperti itu tuan saya tidak tau anda disini" Ah bagaimana aku menjelaskan padamu tuan. Lagi pula kenapa anda disini? Biasanya malam malam begini anda sudah mengunci kamar dan mematikan ponsel entah apa yang anda lakukan dengan nona di kamar. Cih! kau tau jawabannya tapi kau masih pura pura tidak tau Gerald!
"Aku di usir mama" Alis Gerald bertautan? Artinya dia secara tidak langsung bertanya kenapa anda di usir?
"Mama lebih sayang Geby daripadaku" Marco merebahkan diri di atas tempat tidur. Malas menanggapi Gerald.
Jadi anda di usir ceritanya ini?
"Baiklah selamat malam tuan, istirahatlah"
Gerald tau diri langsung meninggalkan kamar. Tidak mungkin juga dia tidur se kamar dengan tuannya. Bukan tidak mungkin tapi apa kata pengawal nanti jika besok pagi mereka terlihat keluar dari kamar yang sama. Gerald menutup pintu.
Lagi lagi Gerald terlonjak kaget, sama halnya dengan Gabriela. Setelah meninggalkan paviliun belakang, Gerald memilih untuk tidur di kamar tamu saja karena mau pulang pun dia malas sekali rasanya. Namun ternyata kamar itu di tempati Gabriela.
"Apa yang anda lakukan disini tuan?" Gabriela panik karena Gerald tiba tiba membuka pintu pada saat di berbaring.
"Maaf nona silahkan lanjut istirahat" Gerald membungkuk sopan. Aku pikir ini kosong!
"Kau ngapain kesini!!!" Belum selesai jantungnya senam dengan keterkejutannya melihat Gabriela sekarang semakin sempurna karena nyonya Reva datang tiba tiba.
"Ngapain kau mengunjungi menantuku?"
Salah paham apa lagi ini. Gerald semakin kesal melihat senyum tuan Marco yang mengejeknya. "Cari pacar sana Ger agar kau tidak sembarang pada istri orang"
Bunuh saja aku tuan! Bunuh aku ambil pistol mu. Bagaimana bisa anda memojokkan saya begini.
"Maaf nyonya saya tidak tau nona Gabriela ada disini" Lagi pula sejak kapan kalian pindah kamar dan pisah ranjang begini. Sial! Kutukan siapa ini! Leher Gerald kebas jadinya.
Gabriela mengintip dari balik selimut. Di depan pintu, nyonya Reva masih berdebat dengan Gerald dan Marco.
"Kalian ini bagaimana sih" Nyonya Reva menghardik keduanya dengan tatapan tajam.
Marco melirik tuan Andika yang berdiri tidak jauh. Pria paruh baya itu menaikkan bahu. Aku tidak tau cara menghentikan kemarahan mama mu.
Kenapa aku jadi imbasnya? Gerald pasrah saat Nyonya reva menggertak nya. Terserah anda nyonya.
__ADS_1
Bersambung.