
Gabriela melihat Marco sekilas yang santai dengan pakaian rumahan. Dia bingung sebentar. Biasanya kan jam segini Tuan Marco sudah memakai seragam kerja yang rapi. Dia sangat tampan setelah menyisir rambutnya dan juga memakai dasi di lehernya. Apa yang ku pikirkan emang iya sih dia memang tampan.
Tapi masalahnya kenapa dia memakai baju rumah apa dia tidak ke kantor? hidupnya kan dari pagi hingga siang sore ke malam adalah kerja kerja dan kerja. Lantas apa dia hari ini di rumah?
Coba aku tanya ya. Takut takut Gabriela melirik Tuan Marco yang juga menatap ke arahnya. "Tuan apa tuan tidak bekerja?" Gabriela meletakkan bantal dan merentangkan selimut sembari merapikan.
pergilah kau kerja sana bikin semak kau di sini.
"Bekerja" Ucap Marco singkat. "Aku tidak pengangguran". Jawaban yang bikin manusia di seluruh dunia ini kesal. Sudahlah Gabriela dia tuan Marco yang aneh dan ketus ketus.
"Lalu kenapa anda belum siap siap? Maksudku pakaian anda kan bukan pakaian kantor" Bagaimana aku mengatakan kaos mu yang ketat itu membingkai otot lengan mu dan itu ahh dasar otak.
"Memangnya harus berpakaian seperti apa kalau kerja" Marco menunjuk ke ruangan sebelah. Mengatakan jika aku akan bekerja dari rumah.
Oh... itulah bilang gila! Aku tidak ke kantor dan aku mau kerja dari sini. tinggal bilang kek gitu apa susahnya.
"Kenapa? kau berharap aku pergi saja agar kau bisa santai santai?" Marco mendekat. Gadis itu mundur. "Bekerja tidak harus memakai jas! kerja itu pake ini" Marco menunjuk kepalanya. Mengatakan bahwa kerjanya pake otak.
"Saya pikir..."
"Lagian ngapain aku kerja sementara aku baru saja menikah dengan istriku" Marco menekankan kata istri. Gabriela sendiri merinding mendengar itu. Ceruknya mengeras. 'Istriku' lembut seperti menghina.
"Hei apa otakmu lelet atau bagaimana? sudah kubilang kan jangan pernah pakai baju jelek-jelek mu itu di sini!" Marco menunjuk baju piyama Gabriela dengan tatapan jijik.
"Maaf tuan....." Gadis itu merutuki kesalahannya. Tapi baju ini bagus kok. Sopan lagi. "Piyama saya yang baru itu tidak sesuai selera saya tuan. Itu terlalu tipis dan terbuka" Senyum tipis tertarik di wajah Marco.
"Trus kalau terbuka memang kenapa?" Marco sudah kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang rapi.
Gabriela merengut di dalam hati padahal tadi dia udah capek merapikan tempat tidur malah hancur lagi. Tapi hanya memaki dalam hati saja tidak berani mengeluarkan kata-kata.
"Tapi tuan, anda kan laki laki saya perempuan tidak baik memakai pakaian seperti itu" Bagaimana aku menjelaskan padamu kalau pakaian itu terlalu seksi dan jelek.
"Kau kan istriku. Kenapa kau harus ragu memakai pakaian terbuka" senyum semakin mengembang saat wajah Gabriela lagi-lagi menunjukkan rasa ketidaksukaan. Bukan hanya itu wajah Gadis itu pucat dan gemetar.
"Kenapa kau gemetar? hei Gabriela Isler?" Marco menahan tawa saat gadis itu membuang muka. Melihat wajahnya yang kesal itu adalah hiburan tersendiri.
"Panggil saja saya Gaby tuan. Saya biasa dipanggil begitu supaya Anda lebih mudah memanggil saya" Tidak usah sok-sok memanggil nama panjangku seolah kau memberitahu jika semua biodataku dan kehidupanku sudah berada di genggaman mu. Aku sudah tahu itu. Aku tahu!
__ADS_1
"Terserah padaku mau memanggilmu apa" Ketus lagi kan! sukamu lah raja yang maha agung. Kau kan penguasa langit dan bumi terserah padamu.
"Baik tuan" Gadis itu memilih lebih diam.
"Kau tinggal pilih kau yang akan menyingkirkan pakaian jelek-jelekmu itu atau aku" ancaman tuan Marco tidak pernah main-main. Jadi hati hati ketika ada perintahnya.
Kata-kata peringatan dari Gerald terngiang yang di kepalanya. Tidak tidak. Dia tidak boleh sampai membuang baju-bajuku. Itu baju yang kubeli dengan hasil uang jerih payah aku sendiri dan itu harganya sangat mahal. "Iya tuan saya tidak akan memakainya lagi"
Marco bangkit dari tempat duduk. Sepertinya dia akan turun untuk sarapan pagi. Dan pas dia sudah menuruni tangga. Gadis itu mengikuti di belakangnya sambil menggumam kesal.
Dia menatap punggung tegap yang bidang di depannya.
kalau ku tinju dari belakang gimana ya? Hahaha
Kau akan tercampak Gabriela. Gadis itu tertawa membayangkan.
Meja makan berubah. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan.
"Kau mau berdiri disitu?" Gadis itu tersentak kaget. Setiap pagi mereka selalu makan bersama dan itu aneh hanya di awal-awal aja. Hari ini Gabriela merasa keanehan itu berlipat kali ganda.
Seketika Gabriela merasakan makanan ini sudah tidak enak lagi. Padahal tadi aromanya sudah tercium dan Gabriela menelan ludah.
Kau selalu mengancam dan membuatku gemetar. Gabriela hanya makan sedikit dia sudah tidak berselera lagi. Makanan di piringnya hanya diaduk-aduk.
Setelah selesai sarapan pagi. Marco berjalan menuju ruang kerjanya. Gabriela reflek mengekor di belakangnya. Saat pintu sudah tertutup Gabriela merasa hawa dingin sudah mulai menyeruak.
Gadis itu duduk di sofa setelah Marco memberi kode.
"Dengarkan aku baik baik!" baru mendengar pembukaan saja seluruh tubuh Gabriella sudah menegang. Aura aura mengancam mulai terasa. Dia tau pernikahan ini pasti sudah di atur tujuannya apa. Karena semua terjadi tanpa cinta. Tidak mungkin tuan Marco menikahi ku kalau tidak ada maunya. Sabar Gabriela.
"Mulai hari ini aku melarangmu berhubungan dengan siapapun" Wajah Gabriela menganga. Dia mau protes tapi isyarat tangan Marco membungkam mulutnya. Kalimat penuh tekanan itu menunjukkan Marco serius dengan kata kata nya. "Termasuk dengan menggunakan ibumu"
"Tuan!!! jangan tuan" Ibu itu hidup dan mati ku. Bagaimana aku tidak bisa berhubungan dengannya. "Tuan saya mohon" Ibu adalah tempatku kembali. Dia hartaku satu satunya. Meskipun dia membenciku. Tidak! ibu sedang sakit.
"Aku tidak suka dibantah Geby" Gabriela menoleh. Nama 'Gaby' Akhirnya terdengar. "Jangan membantahku karena aku tidak akan bisa mengontrol diri dan itu akan merugikan mu.
"Aku melarangmu berhubungan dengan siapapun! ponsel mu sudah keluaran terbaru nanti aku juga akan mengganti SIM mu yang baru" Aku tidak mau kau berhubungan dengan Mahalini.
__ADS_1
Bahkan ibu mu saja tidak bisa. Mendengar masa lalu mu saja aku sudah sangat kesal. Bagaimana ibu kandung tega memukul anaknya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Keterlaluan! Marco mengeraskan rahangnya.
"Tuan..." Gadis itu merosot ke lantai. Lagi lagi jurus andalan bersimpuh di bawah kaki Marco
"Jangan jauhkan saya dari ibu saya tuan. Ibu sedang sakit. Bagaimana nanti kondisinya? siapa yang akan memperhatikan dia tuan" Gadis itu memohon seperti biasa jika serius air matanya akan turun.
"Aku akan mengirim uang untuk pengobatan ibumu"
"Hah? te..terimakasih tuan"
"Aku belum selesai bicara Geby sayang"
"Eh maaf"
Marco mangalus pipi Gabriella , wajah mereka dekat sekali hembusan nafas Marco meniup ceruk Gabriela yang mulus. Terbuai bisa jadi karena dia perempuan normal.
"Tapi......" Kan lagi lagi nada sinis penuh ancaman. "Jangan berhubungan dengan siapa pun! kau paham?" Gadis itu mengangguk. "Sekali saja kau ketahuan lihat akibatnya". Aku tidak akan segampang itu memaafkan mu saat Mahalini si penghianat itu berhasil menghasut pikiran mu.
Kau bodoh! tidak tau apa apa. Orang orang akan gampang menjual mu.
"Satu lagi. Papa dan mama pasti sudah tau pernikahan ini. jadi persiapkan dirimu karena aku akan mengenalkan mu pada mama.
Gabriela mengangguk. Marco mendekat lagi.
"Kiss me..." Senyum devil Marco tertarik. Saat Gabriela memalingkan wajah. Sikap malu malu Gabriela berhasil membuat es kutub mencair.
"Geby" Panggilan kedua pelan nada mendayu. Marco menunjuk pipi kanannya. "Kiss me"
Gadis itu pucat pasi. Gemetar ketakutan. Namun Marco sebaliknya. Dia semakin menikmati wajah mau malu yang gemetar itu.
Aku tidak mau!
Namun melihat tatapan membunuh Marco gadis itu ciut dia mendekat.
Lihat kan! Kesal mu adalah kesenanganku. Hahaha. Marco tertawa renyah saat bibir Gabriela mendarat sekilas di wajahnya.
Bersambung....
__ADS_1