Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Akhir dari pertengkaran


__ADS_3

Untuk sementara Marco dan Gabriela tidur di kamar sebelah. Kamar kosong yang punya banyak kenangan. Kamar pribadinya sedang di rapikan kembali. Gerald memberikan instruksi pada dua pekerja laki laki agar mengganti barang yang tidak layak lagi digunakan. Serpihan kaca telah disapu kamar sudah terlihat bersih dan juga rapi. Tinggal menambahkan meja dan mengganti vas bunga yang sudah pecah tadi.


Melihat Gabriela yang masih bernafas tadi gerald lega. Dia menggeleng sebenarnya tuan muda begitu sayang padamu nona. Tapi beliau tidak dapat sungguh sungguh menunjukkan. Melihat kehancuran kamar Marco bisa mengukur bahwa level kemarahan Marco sudah layak di waspadai. Namun anda baik baik saja kan. Nona hanya terlihat baru selesai menangis.


Ya mungkin karena teriakan tuan Marco selalu membuat takut semua orang termasuk aku. Tidak mungkin kan tuan memukul nona. Apa mungkin ya?


Masalah kamar selesai, Gerald memilih menginap saja di kamar tamu di lantai bawah. Mau pulang pun tidak memungkinkan, entah nanti tuan Marco membutuhkan sesuatu.


Sementara itu di kamar lantai dua, Keadaan sudah jauh lebih baik. Tidak se genting ketika di kamar pribadi Marco tadi.


Tapi terlihat mereka masih di atas tempat tidur, Gabriela menunduk dengan bantal di pahanya berkali kali meminta maaf dengan tulus namun selalu gagal.


Marco belum puas dengan jawaban Gabriela mengenai siapa laki laki yang tadi bersama istrinya. Cemburu bisa jadi tapi Marco terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan.


Marco meraih lagi dagu Gabriela.


"Kau tau kan akibatnya jika kau mencoba membohongiku"


"Aku tidak berbohong tuan!" Aku jujur. Dia laki laki malaikat tau. Kalau kakak itu tidak ada mungkin aku sudah menyusul ayah ke surga.


Dia yang menarik tanganku tadi supaya tidak tertabrak. Tapi Gabriela tidak berani memaparkan hal ini. Untuk sekedar bicara saja dia sudah tidak memiliki nyali.


"Oke.... aku percaya walau tidak seratus persen" Jemari Marco menyusuri pipi istrinya. Kemudian berpindah ke leher.


"Sepertinya kau harus berusaha memadamkan emosiku geby" Bisikan Marco mengundang bulu bulu kuduk Gabriela merinding. Suara sensual sedikit menggelitik.


"Kau kan yang memancing emosiku" srekk baju atasan gabriela lepas. Gabriela menarik selimut menutupi dadanya. Tapi tangan Marco menyusup dari bawah. Aaa dia bahkan sudah hapal dari mana dia mau masuk!


Gadis itu hanya pasrah saat pengait di belakang lepas. Ada yang terasa menyembul tapi belum tampak.


"Kau tau apa yang sudah ku korbankan untuk mengejar mu?" Marco menyusuri leher istrinya dengan bibir.


Siapa yang menyuruhmu mencari ku ha! tidak ada. Gabriela menggeliat. Bisa tidak sih kalau menyentuh itu jangan pelan pelan gitu.


Katakan dimana kau disentuh pria kurang ajar" Biar aku hapus jejaknya. Tatapannya padamu bukan sekedar menolong. Aku benci kau dekat dekat dengan laki laki. Hanya aku yang bisa menyentuhmu. Hanya aku tidak boleh ada yang lain.


"Aaaaa" Gabriela terkejut karena Marco menggigit sesuatu. Hah!kau bahkan terlihat biasa saja. Tidak merasa bersalah sudah menggigitku. "Jangan sampai aku menyuruh Gerald menanyakan langsung padanya dimana kau disentuhnya" Gabriela memalingkan wajah.


"Atau mau kusuruh Gerald membawa laki laki itu kemari dan menanyakan langsung padanya?" Marco masih sibuk dengan aktivitasnya tapi, dia menunggu jawaban istrinya yang enggak membuka mulut.


Hah! Bagaimana jika asistennya yang sama gilanya dengan laki laki ini benar benar menyeret kak Anggara ke sini. Gabriela tidak tau apa yang akan terjadi nanti.


Tadi saja dia begitu kasihan saat kaki Gerald melayang pada kak Anggara. Padahal dia sudah berbaik hati menolongku.


Tapi kak Angga sih! kenapa dia malah menantang tuan Marco pake melangkahi mayat segala lagi.

__ADS_1


"Aaaa" Teriakan kedua.


"Mau berapa lama aku menunggu jawabanmu"


Apa! dia menunggu jawabanku? padahal lihat bibirnya sibuk menjelajah sana dan sini. Aww aww. Sial dia menggigit ku lagi.


"Disini tuan" Gerald memberikan pergelangan tangan. Iya kan tadi kak Angga menarik tanganku pas aku menyebrang.


Marco menyadarkan banyak kecupan di tangan Gabriela. "Lagi??"


"Ini tuan" Gabriela menunjuk bahu, Marco mengecup kecup lagi dengan bibirnya.


"Lagi???"


Apa!


"Dimana lagi kau disentuh? aku akan menghapus jejaknya"


Cih menghapus Bagaimana! Kau itu namanya mencium bukan menghapus! Aw jangan gigit gigit kenapa sih!


"Di kaki saya tuan" Di luar dugaan, Marco memang betul betul mengecup kaki gadis itu.


Jadi kemarahannya sudah reda kan. Dia bahkan menciumi kakiku. Walau geli Gabriela tidak berani bergerak. Nanti kalau mulutnya tidak sengaja aku tendang bagaimana. Akhirnya dia hanya menggeliat pelan saat geli itu datang. Atau gimana kalau aku coba tentang kepalanya, bilang aku tidak sengaja.


Marco masih mengecup kedua kaki mungil Gabriela bergantian. Naik ke betis, Naik ke lutut. Kecupan sudah mulai terasa di paha. Gabriela reflek duduk menahan kepala Marco. Kalau sudah sampai di paha. lanjut kemana coba?


Marco memperbaiki posisinya. Keduanya saling berhadapan. "Aku mau kau cemburu padaku saat aku bersama wanita" Tatapan datar Marco menandakan dia serius dengan omongannya. "Kau paham!"


Apa! kau gila atau bagaimana tuan. Apa faedahnya anda menyuruhku harus cemburuan padamu? Cemburuan itu tidak di buat buat tuan. Cemburu itu datang sendiri.


"Tapi tuan....


"Marco mencengkeram Dagu Gabriela"


"Iya tuan" Gadis itu langsung mengangguk. Baiklah baiklah. Toh aku tidak boleh membantah anda kan.


"Yang kedua, ini terakhir aku mendengar bibirmu memanggilku formal" Marco menunjuk bibir Gabriela. "Panggil aku sayang seperti biasa"


Cih! biasanya aku memanggil mu tuan kok. jangan banyak protes Gabriela. Kau mau di amuk? Jawab saja iya apa susahnya. Wahai dunia di tubuh Gabriela bersemayam banyak makhluk. Yang satu mengingatkan kebaikan, yang satu bisa mengarahkan Gabriela berbuat di luar akal sehat.


"Tidak menjawab?"


"Iya tuan" Marco langsung menyergap bibir Gabriela dengan penuh gelora. Rakus membuas dengan isapan kecil yang menghabiskan pasokan oksigen dalam kerongkongan.


"Iya sayang" Sadar akan kesalahannya, Gabriela segera memperbaiki. Dari pada urusan semakin panjang kan.

__ADS_1


"Bagus... aku berharap kau selalu salah" Marco menyeringai. "Karena aku suka menghukum orang"


Apa! gila ya. Gabriela merengut. Lagi lagi Marco meraih dagu istrinya. "Kau mau aku panggil apa, katakan saja. Aku jarang memberikan kesempatan orang bicara"


"Panggil aja sesuka mu tu.. sayang.." hmhmh "Geby.... panggil aku Geby keluarga sering memanggilku Geby" Gabriela memalingkan wajah.


"Hei lihat aku" Lagi lagi Marco mengarahkan pandangan Gabriela padanya. Sebentar mereka bersitatap. Saling mendekat dan pada akhirnya penyatuan bibir terjadi lagi.


Tangan Marco sudah bergerilya kemana mana. Garis senyumnya terukir saat merasakan Gabriela mulai mencari posisi yang nyaman. Baiklah malam ini milik kita berdua.


Saat kuku lentik Gabriela yang baru tumbuh menancap di punggung suaminya, Marco tidak protes. Dia tetap melanjutkan apa yang sudah di mulai.


Tempat tidur sudah plong. Bantal dan selimut berserak di lantai. Dua penghuni kamar saling bergulingan di atas tempat tidur.


Setelah pertengkaran keduanya bukan saling bermusuhan, atau berdamai. Tapi malah melanjutkan pertarungan yang lebih sengit.


Gila, belum beberapa menit suara halus mulai terdengar menghiasi kesunyian malam


Mereka berdua belum ada yang tau tentang dari mana rasa nyaman itu muncul.


Gabriela hanya pasrah ketika pria yang menjadi suaminya sudah bertahta di atasnya. Keduanya saling mendekap menyalurkan rasa masing masing.


Tidak ada cinta yang terucap, tapi keduanya berbagi koneksi agar bisa saling terhubung.


Jam dinding berdetak perlahan. Perguliran waktu semakin terasa. Sunyi senyap dan tenteram di luaran sana tidak menyurutkan semangat keduanya.


Marco menarik selimut menutupi istrinya yang terlelap. Setelah subuh urusan mereka baru selesai.


Harusnya kau datang padaku tadi. Bukan pergi tanpa alasan yang tidak jelas. Aku takut saat kau pergi tadi.


Marco frustasi sendiri mengingat semua hal tadi malam. Entah sejak kapan dia mulai peduli dengan Gabriela.


Mungkinkah Gabriela yang mulai berhasil menguasai pikirannya atau dia yang mulai tertarik dengan gadis lusuh itu.


Gadis yang dia kontrak seumur hidup. Tidak tau angin dari mana dia kesal saat ada orang yang ingin mempermainkan Gabriela. Hingga akhirnya pernikahan tidak terelakkan.


Rasa jijik berubah menjadi rasa nyaman. Hal hal romantis kadang sering terjadi meskipun Gabriela tidak sadar.


Posisinya sebagai istri Marco banyak yang menginginkan. Lantas kenapa kau berusaha lari dariku? Aku sudah menunjukkan perasaanku padamu kan.


Perasaan sayangku, kamu sudah merasakan sendiri.


Akhir dari perdebatan malam ini adalah ketika Marco mendekap erat tubuh gadis kecilnya yang sudah dewasa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2