Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Kejadian di malam hari


__ADS_3

Tidak tahu malam ini sudah jam berapa. Seluruh penghuni bumi terlelap dalam mimpinya. Hanya ada lampu pendar yang berjaga di sunyi malam. Suara jangkrik masih terdengar bersamaan dengan suara dengkuran halus manusia-manusia.


Gabriela melirik laki laki gila yang tidur sambil memeluknya. Kenapa wajahnya tampan menawan jika tidur seperti ini?


Coba kalau dia sudah bangun. Mulutnya yang pedas dan tajam itu bahkan bisa mengoyak tubuhku.


Gabriela gusar saat tangan laki laki ini memeluknya dengan erat. Dia tidak nyaman sama sekali tapi bagaimana ini. Aku tidak bisa melawannya.


Gabriela mengingat tindakan kasar Marco tadi malam.


Setelah mereka selesai makan malam, dia masih duduk sambil memakan buah pencuci mulut. Melihat Gabriela makan dengan lahap akhirnya Marco menunggu Gadis selesai.


Buah di dalam piring sudah mulai habis. Tapi gadis itu seperti tidak ingin meninggalkan meja makan. "Tuan kalau mau ke kamar duluan saja" Gabriela masih terus memasukkan buah ke dalam mulutnya.


"Habiskan makan mu!" Gabriela merengut saat Marco tidak menggubris. Kenapa sih 24 jam aku harus disampingnya terus. Aku lelah tau! lelah. Seharian dihina, di kasari di maki lagi. Kasi aku ruang kenapa!


Sendok berdeting keras. Gabriela menutup mulut saat tatapan Marco mengintimidasinya.


Kenapa kalau aku marah susah mengendalikan diri sendiri. Aaaaaa


Aku tidak sadar menjatuhkan sendok itu tuan maafkan aku.


Aaaa bagaimana ini. Dia sepertinya sadar aku sedang marah padanya. Gabriela ikut berdiri saat Marco mulai meninggalkan meja makan. Gadis itu sedikit berlari mengimbangi langkah lelaki itu.


"Tuan mau tidur?" sial! dia benar benar tidak mau mendengarkan ku. Gabriela berhenti di depan pintu tepat saat Marco menutupnya dengan keras.


Dasar laki laki gila! Bagaimana kalau wajahku kena tadi? ya kalau kena juga resiko mu sendiri Gabriela! Tidak usah sok ingin di kasihani. Kau itu hanya istri berkedok budak.


Gabriela merengut saat lagi lagi sapaannya di abaikan begitu saja. Aku bahkan tidak tahu kenapa dia marah. Tapi kau bicara Kenapa sih seperti perempuan saja kalau lagi ngambek.


"Tuan aku tidur di kamarku yang....


Kalimat Gabriela berhenti saat Marco menengadah dengan tatapan tajamnya. Gadis itu menunduk dan mulai mendekat. "Baik tuan aku akan tidur disini" puas kau laki laki gila! aaaa kenapa sih aku harus jadi budak mu.


Gabriela meraih bantal guling dan membuat batas. karena masih mode takut dia tidak mau sampai Marco melakukan yang tidak tidak padanya. Gadis itu tidak merasa kalau tindakannya sudah memancing amarah laki-laki yang di sampingnya.


Marco tergelak melihat bantal guling yang disiapkan Gabriella sebagai pemisah mereka. Bantal guling itu sudah melayang dengan sekali tendangan. Melihat itu Gabriel langsung was-was.


Apalagi saat merasakan kakinya terhimpit oleh sepasang kaki besar.


"Tuan sa...saya mau tidur" entah mengapa kalau Marco sudah bermain dengannya Gadis itu langsung ketakutan dan gelagapan sendiri.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu tidur? Aku saja belum tidur" Marco menutup ponselnya Dan meletakkan di atas meja nakas.


Enak saja kau langsung tidur Setelah membuatku menunggumu di meja makan tadi. Kau sengaja kan lama lama makan mau menghindari ku.


Senyum tipis Marco membuat Gabriela merinding. Tangan kekarnya merayap di betis Gabriella gadis itu menggelincang kegelian.


"Teriakan mu membuatku terkejut Gabriela!" suara Marco naik satu oktaf karena memang dia benar-benar terkejut Gabriela berteriak kencang.


"Tuan mau apa!" Gabriela menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan. Marco tergelak lagi.


"Apa yang kau tutupi Gaby sayang?" kalau suara Marco meninggi Gabriela takut. Kalau suara Marco rendah Gabriela merinding. Kalau suara Marco lembut terdengar tulus Gabriela waspada. Serba salah kan.


Saat ini Gabriela sedang mode waspada. Marco menyentuh kacang baju Gabriela tanpa perduli Gadis itu memberontak. Kegelisahan dan ketakutan Gabriela memang hiburan kan untuk Marco. Jadi semakin Gabriela ketakutan Marco semakin terhibur.


"Gabriela kau mau mencobanya?" Marco melepaskan kaos yang menempel di tubuhnya terbang entah mendarat di mana. sekarang yang terlihat adalah otot-otot yang mirip roti sobek dengan beberapa kotak-kotak.


Mencoba apa gila! mencoba..mencoba.. aaa Aku tau maksud mu!


Glek! Gabriela gusar sendiri. Apalagi saat Marco menindih tubuhnya membuat posisi mereka agak gimana gitu. Wkwkw.


Posisi Gabriela terbaring, sedangkan Marco di atasnya dengan senyuman jahat yang menghanyutkan.


"Kenapa tutup mata?" Hembusan angin langsung menerjang kesadaran Gabriela. Tengkuknya merinding saat merasakan ada bibir yang menempel di lehernya. "Aaaaaa" Gabriela menjerit. Gigitan laki laki gila ini tidak punya hati nurani.


"Aaaaa" Lagi lagi berteriak saat ada satu tangan merayap ke bagian wilayah yang dilindungi oleh undang-undang tidak tertulis. Gadis itu merinding.


"Berhenti berteriak Gaby! kau membuat suami mu terkejut.


Suami? Gabriela antara sedih dan ingin tertawa mendengar kata suami yang terucap dari bibir laki-laki yang sedang menggerayangi tubuhnya ini. Aku ini budak mu tau. Tidak usah banyak sandiwara kalau ada mau mu.


Sambil menahan geli Gadis itu kesal menahan satu tangan Marco. Gabriela sudah memprediksi kemana tujuan tangan nakal itu akan berlabuh.


"Kenapa kau menahan tanganku? kau tidak tahan lagi?"


Hei gila! berhenti bermain-main di perutku. rasanya jantungku sudah mau meledak. aaaaa rasa apa ini.


"Gabriela..." Halus tapi terdengar mengancam. "Lepaskan tanganmu"


Harusnya yang melepaskan tanga itu kau! Kau gila! Bagaimana kau dengan santai menyentuhku padahal kau jijik denganku. Bukan itu! kenapa tangan mu semakin naik. Hei gila!


"Naik ke atasku" Marco menghempaskan tubuhnya terlentang di samping Gabriela. sepertinya tangannya sudah puas bermain-main. Sekarang dia tinggal mau menikmati permainan. "Gaby!! aku tidak suka bicara mengulang ya. Naik ke atasku"

__ADS_1


"Tapi..." Gadis itu bangun perlahan sambil menghapus peluh di wajahnya. Bagaimana bisa aku berkeringat. Dia melirik Marco terlihat memejamkan mata. Tidurnya telentang.


Gadis itu perlahan bergeser. "Naik ke atas tuan bagaimana maksudnya ya" Padahal perintahnya sudah jelas. Naik ke atasku. Berarti aku naik ke atas perutnya kah? Seperti yang dia buat tadi padaku? Gabriela tetap saja tidak paham apa maksudnya.


"Tuan??" tidak ada sahutan. Apa dia sudah tidur. Gabriela memberanikan diri menggoyangkan telapak tangan di depan mata Marco. "Tuan!!" panggilan terakhir. Tidak ada reaksi, sepertinya dia sudah tidur.


Gabriela memperbaiki posisinya. Membenarkan bajunya yang berhamburan. "Selamat malam tuan Marco" Gadis itu menurunkan kakinya. Malam ini dia berniat tidur di sofa. Tapi terlambat. Marco menahan kakinya satu lagi.


"Aku bilang apa tadi hah! aku menyuruhmu apa?"


"Maaf tuan aku pikir tuan sudah tidur" Matamu saja kan tertutup rapat tadi seperti segel botol air mineral. Aku bahkan memanggil mu berkali kali kau tidak menyahut. Aaa kenapa sih aku hanya bisa marah didalam hati.


"Aku menyuruhmu naik ke atasku kan!! lantas kenapa tidak kau lakukan" Berteriak marah. Gadis itu beringsut. "I...iya tuan" dia merayap di atas tempat tidur mulai mendekati Marco.


Pelan pelan.. pelan lagi. Satu tangannya sudah menyentuh perut Marco. Tapi tetap saja tidak berani naik. Dia melirik laki laki itu memejamkan mata, seperti tadi. Dia sedang menunggu Gabriela naik ke atasnya. Tapi tak kunjung naik.


Karena tidak sabar Marco mengangkat tubuh mungil Gabriela dengan kasar ke atasnya. Gadis itu memberontak karena terkejut. Apalagi saat Marco Menegakkan punggungnya sehingga posisi Gabriela tepat berada di pinggangnya.


"Kiss!!" Marco menunjuk lehernya. Gabriela menelan ludah. Aku tidak mau! tidak mau!! Gabriela ingin memberontak namun pinggangnya di tahan. Akhirnya dia melabuhkan ciuman di leher Marco. Tapi gilanya Marco menunjuk area lain. Lagi lagi dengan kesal Gabriela menciumnya. Yang terakhir adalah Marco menunjuk bibirnya.


Gabriela terdiam. Dia tidak mau melakukan sampai ke situ. Marco menikmati wajah pucat Gabriela. "Kiss me Gaby" Suara parau yang membuat salah paham telinga kanan Gabriela.


Namun gadis itu tetap tidak mau. Marco kesal akhirnya menyambar bibir Gabriela. Ciuman yang tadinya hanya nempel saja, semakin dalam. Apalagi saat Gabriela tidak mau membuka mulut. Marco membuat pemaksaan dengan gigitan kecil di bibir gadis itu. Marco sepertinya tidak dapat mengendalikan dirinya hingga terjebak dalam permainan sendiri malam ini.


Dia terus memaksa Gabriela membuka mulut. Namun lagi lagi harus berakhir dengan pemaksaan. Gabriela hanya bisa meremas jarinya saat Marco melakukan tindakan yang membuat dirinya melayang layang. Walau hanya sebatas itu Tapi ini membuat jantungnya sukses olah raga di malam hari.


Setelah adegan ciuman selesai. Marco membiarkan Gabriela turun dari atasnya. Hap! Tubuh mungil itu di tangkap lagi.


Marco memeluk tubuh kecil Gabriela. Walau gadis itu protes dia tidak peduli. Kemudian satu tangannya meraih remote dan mematikan lampu.


"Tidurlah..."


Bagaimana aku bisa tidur gila! kau memeluk ku seperti guling. Aku tidak bisa bernafas. Lepaskan aku! lepaskan!!


"Gabriela!!!"


"Iya tuan"


"Kau mau ku buat tidur di luar pagar?" Gadis itu tidak memberontak lagi saat ancaman datang. Dia pasrah. Pasrah di perlakukan seperti guling.


Merasa Gabriela sudah tidak gusar lagi senyum merekah di wajah Marco. Di semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2