
Perkara make up sepertinya akan masuk ke babak persidangan. Marco duduk sebagai hakim penyidang sedangkan Gabriela tersangka.
"Hei nona! jangan bikin alasan klasik. Mana ada perempuan ke panti asuhan berdandan seperti wanita penggoda saja!" Marco memandang penuh cibiran. Di sentuhnya dagu Gabriela lalu melepaskan begitu saja.
Tersangka kasus dugaan mulai mengumpulkan kekuatan untuk bicara tentang fakta. Gabriela harus memutar otak agar bukti bukti itu tidak diragukan lagi. Apalagi laki laki gila ini seenaknya saja bicara tanpa menjaga perasaan orang. Ya iyalah kau kan budaknya Gabriela.
"Tuan maafkan saya. Saya memang sedang mengunjungi panti asuhan" Sakin tegangnya, Gabriela benar benar berbicara formal layaknya tersangka kasus dugaan tentang sebuah masalah di meja persidangan. Lagi lagi tatapan Marco penuh ejekan. Kau pikir aku percaya.
Bagaimana aku menjelaskan dengan hati-hati. Sedangkan melihat wajahnya aja aku sudah merinding ketakutan. Lagi pula aku mau memakai make up, aku mau tidak memakai make up apa masalahnya padamu? toh seperti katamu kau tidak peduli padaku kan? jangan banyak protes Kenapa sih.
hahaha. Gabriela...Gabriela kau sadar diri lah. Kau kan istri berkedok budak! jadi semua perintah yang kau jalankan adalah perintah Marco. Kau tidak boleh membangkang atau melanggarnya sekalipun lain hal kau mau mati.
Rasanya Gabriela ingin menikam hatinya yang berkhianat. Dasar kau hati!
"Aku tidak suka ya aku bicara disini kau diam saja! kau tidak menghargai ku Geby!" Gertakan tangan Marco di meja membuat Gabriela hampir kena serangan jantung.
Geby? Sejak kapan kau memanggilku dengan nama panggilanku gila! sok dekat kau sama ku! Ehh kenapa aku jadi sibuk memaki sih. Tadi dia bilang apa ya?
"Maaf tuan bukan begitu tapi saya kehabisan kata kata" Kan aku jadi jujur sekali aaa.
"Hei! kau pikir aku sedang main main?" Marco menggeram kesal. Dia menarik tangan Gabriela agar merapat padanya. "Kalau aku bertanya jawab yang jelas!"
"Kau Habis dari mana berdandan seperti ini hah!Menjumpai laki laki? kau mau selingkuh dariku?" Sepertinya level kemarahan Marco naik 3 tingkat. Suaranya menggema di seluruh ruangan. "Kau tidak sadar diri ya! aku bahkan sudah memberikan izin padamu menemui ibu mu yang gila itu!"
Pundak Gabriela seperti tertohok. Bagaimana kata kata menyakitkan ini keluar. Walaupun kenyataannya begitu tapi jujur saja Gabriela tersinggung dengan kata kata gila yang keluar dari mulut Marco.
Gabriela tidak pernah menganggap ibunya gila. Dokter bilang ibu terkena serangan mental. Depresi yang berkepanjangan membuat ibu tidak mengingat semua hal di masa lalu. Ibu hanya akan mengingat hal yang menyakitkan. Dan itulah penyebab dia sulit bangun dari masa depresi. Gabriela mengeraskan rahangnya. Walau begitu dia tetap terlihat lemah karena sama sekali tidak bisa menyangkal.
"Kau mau di hukum??"
__ADS_1
"Tuan maafkan saya" Tangan sudah terkatup di dada. "Saya tidak selingkuh" Gadis itu menahan tangan Marco yang mulai bermain dengan kancing bajunya. "Tuan percayalah padaku aku tidak berkhianat"
Marco membulatkan mata kesal. Harga dirinya sebagai laki laki sempurna seperti terlempar dari selera gadis kampungan yang lusuh seperti Gabriela. Bagaimana Gadis ini menolakku? Kurang ajar!
Sampai hari ini Marco selalu tersinggung ketika Gabriela menjaga jarak dengannya. Apalagi penolakan Gabriela seperti menginjak injak harga dirinya.
Hei nona! di luaran sana wanita dengan senang hati menawarkan dirinya padaku. Lantas apa maksudmu mencampakkan aku ha!
Siapa yang mencampakkan mu tuan Marco jelek! eh tampan! kau yang merasa di campakkan bodoh.
"Kau sedang belajar mengkhianati ku?" Marco menelusuri pipi manis Gabriela yang gemetaran. "Masa?". Lagi lagi Gabriela menghentikan aktivitas Marco di pipinya.
Kurang ajar! Tersinggung lagi.
Ponsel bergetar. Marco membuka ponsel miliknya. Wajahnya langsung tersambar kenyataan. Pesan bergambar itu memperlihatkan Gabriela yang sedang di rias oleh laki. Kemarahan langsung memuncak. Marco tidak bisa menutupi wajahnya yang meluap luap.
Marco membanting ponselnya ke lantai. Entahlah, ponsel itu bernasib bagaimana nanti. Pokoknya layar depannya pas mengenai lantai.
Wajahmu bahkan di rias banyak laki laki tadi! tapi kau selalu menolakku! Aku tidak akan melepaskan mu malam ini!
Gabriela langsung bergetar saat melihat wajah Marco yang di bakar oleh kobaran emosi. Gadis itu mundur satu langkah, melangkah lagi dan pada akhirnya dia memilih berhenti karena mentok di tembok.
Marco mendekat. Dia mulai memandikan telinga kanan Gabriela. Kemarahan itu mulai memudar saat menyadari gadis itu gemetar.
"Katakan dengan jujur kau habis dari mana sebelum aku marah" Marco memilih duduk di sisi tempat tidur, tangannya langsung memeluk pinggang Gabriela hingga tidak tersisa jarak di antara mereka.
"Aku dari rumah ibu tuan, setelah itu ke pantai asuhan" Kalimatnya terbata-bata.
"Kenapa kau terlihat takut jika memang yang kau katakan benar?"
__ADS_1
Karena melihat wajahmu saja aku sudah takut duluan! Gabriela ingin teriak tapi tidak punya tenaga juga.
"Bicara yang jelas Geby. Aku tidak suka lelucon" Satu tangan Marco menggulung gulung ujung rambut Gabriela yang berhamburan kemana mana.
Gadis itu menarik nafas dengan dalam. Dia harus tenang saat bicara dengan raja maha agung ini. "Aku tidak berbohong tuan. percayalah padaku" tangan mengatup di dada. Sepertinya Gabriela mulai belajar memohon yang benar.
"Yakin tidak berbohong?" Marco bukan tidak percaya. Hanya saja ada yang bergejolak di dadanya saat melihat Gabriela akrab dengan yang lain sementara padanya gadis itu ketakutan.
"Iya tuan saya tidak berbohong" Aku mohon lepaskan belitan tanganmu. Aku jadi jantungan kan! tangan Marco semakin erat saat merasakan gerakan Gabriela.
"Saya tidak mungkin mengkhianati anda tuan! anda kan suami saya. Saya tidak seberani itu tuan" Mata Marco memicing. Suami?
"Jadi kau merasa jadi istriku sekarang?" Marco melepaskan bajunya. Gabriela langsung panik. Kenapa tadi aku bilang gitu aaaaa.
Jika dia suami ku berarti aku istrinya dan... Aaaaa otak Gabriela langsung beterbangan.
"Baguslah kau merasa jadi istriku. Hai istri ku sayang" Lagi lagi Marco mulai melepaskan ikat pinggangnya. Hei gila! kau mau apa ha! Candaan mu sama sekali tidak lucu. Kau ngapain buka baju dan celana lagi. Gabriela menutup mata menggunakan tangan.
Gadis itu menggeliat saat merasa ada bibir yang menempel di ceruknya. "Hei istriku"
apa sih gak lucu. Hei! kau mau apa! mode was was langsung bekerja. Lengan baju Gabriela melorot.
Baru saja akan protes bibir Marco sudah menyuruhnya untuk tutup mulut. Bibir mereka menyatu dalam keheningan malam sambil menciptakan suara suara. Gabriela membeku! Ini bukan pertama kali Marco menciumnya. Tapi... ini sedikit berbeda. Gadis itu terkejut saat merasakan dress nya jatuh ke lantai.
"Panggil aku sayang!" Saat tautan bibir itu lepas. Gabriela bukannya menjawab dia seperti berusaha bangun dari fantasi liarnya. Hawa dingin mulai terasa. Dia melirik bahunya yang sudah terlihat, namun dia tidak berani melihat ke bawah untuk memastikan bajunya masih menempel atau tidak.
Marco meraih dagunya lagi. Memaksa gadis itu agar tetap menatapnya. Hah! dia akhirnya sadar tidak pakai baju lagi saat tangan Marco terasa merayap di punggungnya. Sentuhan itu membuat jantungnya memompa darah lebih cepat.
Darahnya berhenti mengalir tepat saat Marco mendorongnya dengan tenaga kecil hingga terjerembab di atas tempat tidur. Dan kemudian.....
__ADS_1
Bersambung.