Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Aku tidak akan menandatanganinya!


__ADS_3

Pagi ini matahari membangunkan semua orang di penjuru dunia. Angin berhembus ketika Marco membuka jendela menatap hamparan desa dengan penuh keheningan.


Pria itu duduk dengan hampa setelah bertempur satu malam mencari istrinya yang tak kunjung bertemu. Marco kembali ke villa setelah subuh tanpa membawa apa apa. Sepi bercampur rasa bersalah langsung menjalar dalam hatinya. Hanya jejak istrinya yang sempat terdeteksi oleh pengawalnya. Tapi jejak itu hilang setelah sinyal terputus di tengah jalan.


Pencarian di lanjut ke besok. Namun pengawal beserta Gerald tetap berada mengawasi setiap gerakan dalam Gps.


Marco menyibak selimut dan membuka semua pakaiannya, kemudian masuk kedalam kamar mandi.Tampilan yang lusuh dan juga acak acakan menandakan bahwa pria itu tidak baik baik saja.


Selang beberapa menit Marco sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang casual. Dia melihat ada sarapan di atas meja. Marco hanya melirik tanpa berniat untuk memakannya. Pikirannya terus menerus terbayang dengan tangisan gadis kecil yang mulai mengisi relung hatinya.


Bayangan Gabriela di siksa atau pun di kurung langsung memantik emosinya pagi ini. Entah siapa orang yang berani main main dengannya sekarang.


Kau dimana Geby.


Marco mengepalkan tangan dan meninju meja sampai retak. Sarapan yang di atas meja tadi sudah tumpah ruah di lantai. Marco memijat keningnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan sebenarnya siapa yang sedang main main dengannya sekarang?


Tinggal katakan saja apa maumu dan kembalikan Geby ku itu sudah lebih baik. Aku akan memberikan apa yang kau minta tanpa harus kita selesaikan menggunakan kekerasan.


Marco menghela nafas, semakin ke sini semakin banyak ke janggalan dan juga keraguan di hatinya. Marco tidak suka cari masalah, namun sekali masalah datang maka semua hanya akan selesai dengan pertumpahdarahan .


Baiklah. Kalau itu mau mu. Dengan raut wajah lesu bercampur dengan amarah Marco keluar dari kamar. Pengawal sudah berjejer menunduk. "Selamat pagi tuan"


Marco hanya melirik dengan tatapan datar. Sejak kapan bocah bocah ini depan kamar ku. dia melihat Danri yang juga berdiri sambil menundukkan kepala.


"Tuan Berita mengenai nona Gabriela" Tatapan Marco langsung menyambar keberanian Danri untuk bicara. Pria muda itu meremas jarinya untuk mempertahankan kesadaran. Dia tau tuan Marco sedang menahan diri. Danri kembali menunduk. Marco bukan marah pada Danri, tapi dia hanya sedang menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya pada semua pengawal.


"Lanjutkan bicaramu"


Denyut jantung Danri seketika kembali memompa darah dalam tubuhnya. Itu artinya aku bisa bicara kan? Kesadarannya tiba tiba hidup saat suara Marco terdengar ingin mengetahui laporan darinya.


.........

__ADS_1


Helikopter terbang menuju sebuah negara kecil di benua lain. Seorang gadis yang tidak berdaya diangkat dari helicopter saat benda besi yang terbang itu mendarat. Hanya dalam jangka waktu tempuh lima belas menit mereka telah sampai di sebuah villa elit di pegunungan.


"Buka penutup mulutnya" Seorang pria mendekat lalu mengelus pipi mulus Gabriela dengan senyum liciknya. "Wajahnya manis juga". Pria itu menatap anggota yang berhasil menangkap Gabriela hanya dengan durasi waktu yang tidak lama. Senyum licik menghiasi wajahnya, seperti mengapresiasi keberhasilan anggotanya. Tentu saja mereka sangat bangga dengan usaha dan kerja keras itu kan.


Selang beberapa menit muncul seorang wanita cantik dengan body eloknya membawa minyak kayu putih. Wanita itu mengoles sedikit minyak kayu putih di hidung Gabriela guna membangunkan. Dan benar saja gadis itu menggeliat pelan sambil membuka mata.


"Hai adikku yang manis" Sheila memamerkan senyum manisnya yang licik. "Eh maaf, bolehkah saya bicara berdua dengan adik saya?" Sheila menatap para pengawal yang berjaga. Satu persatu mereka akhirnya keluar memberikan ruang untuk Gabriela dan Sheila bicara.


Dua sepupu dengan beda kelas. Yang satu tampil lusuh dan juga menyedihkan. Dan satu lagi body ramping cantik dan juga menggoda. Tubuh indahnya menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang dia miliki dan tidak jarang media tanah air mengontraknya untuk menjadi seorang model atupun endorse product.


"Mau apa kakak!" Gabriela tersadar langsung memandang sepupunya dengan tatapan takut.


"Jangan takut adikku. Seorang kakak tidak akan menyakiti adiknya bukan" Rasanya Gabriela jijik dengan wanita yang sedang menyeringai di depannya. "Apa kabar geby" Sheila menyentuh rambut kecoklatan milik Gabriela yang terurai kemana mana.


"Jangan menyentuhku" Tangan mungil Gabriela langsung menepis tangan Sheila dengan kasar.


"Baiklah adikku" Aku tidak akan mengganggumu. Karena kau adalah orang penting yang akan menyongsong hidupku kedepannya. Sheila tersenyum manis pada adik sepupunya yang terlihat masih mengumpulkan kesadaran. Sakit di kepala Gabriela tidak ada obatnya. Mungkin efek obat bius dia sedikit linglung antara sadar dan tidak.


Walaupun ragu  Sheila akan berusaha mendapatkan tanda tangan gabriela sekaligus stempel jarinya.


"Dek" Sheila menyodorkan map.


Gabriela langsung tersadar melihat apa yang ada di atas meja. "Apa ini kak? ini surat apa?" Surat lagi, surat lagi! Apa di dunia ini semua gila surat. Gabriela melirik sekilas dengan ekor. Surat pernyataan. Tidak! Gabriela menggeleng keras. Rasanya dia trauma membubuhkan tanda tangan di atas materai. Semua surat yang ada materai nya pasti itu bukan surat main main.


"Dek, kakak janji" Sheila menggenggam tangan Gabriela dengan hangat. Cara pertama adalah membujuk Gabriela dengan baik. Ayo lakukan akting mu Shei!


"Kakak, mama dan juga papa tidak akan menyusahkan mu lagi" Ini yang terakhir aku minta tolong. Karena setelah ini kau tidak akan penting dalam hidupku. Aku tidak akan butuh kau lagi. Tapi bubuhkan dulu tanda tangan mu disini. Sheila menggigit gerahamnya melihat Gabriela yang menjauhkan map.


"Ini surat apa kak? kakak jawab dulu aku dengan jujur" Padahal kau jujur pun aku tidak akan percaya. Gabriela menyeringai dalam hati. Aku tidak akan mau di perdaya lagi. Kau dan ibu mu sangat licik. "Dan" Gabriela melihat sekeliling. Hanya ada pohon di luar. "Dan untuk apa kakak membawaku kesini" Aku takut! aku sangat takut. Bagaimana kalau dia menyakiti ku. Gabriela mundur satu langkah. "Aku harus pulang, suamiku pasti sudah mencari ku".


Sheila terbahak. "Tuan Marco maksudmu? Apa kau yakin dek?" Dia tersenyum dengan licik. Padahal dalam hati sudah sangat kesal. Ternyata benar kata mama dia sudah menikah dengan tuan Marco. Tapi atas dasar apa tuan Marco mau menikahi gadis kurus jelek seperti ini. "Semua orang mengenal tuan Marco dan kau bukan tipenya. Dia menikahi mu karena dia menginginkan sesuatu darimu" Sheila tidak mau membeberkan arti kata sesuatu.

__ADS_1


"Bangun dek. Yang menyayangimu hanya aku dan mama. Jangan mimpi bisa mendapatkan kasih sayang tuan Marco" Sheila melempar beberapa foto di atas meja. "Itu wanita yang di sayangi tuan Marco. Jadi berhentilah berharap" Kau bukan seleranya. Tipe tuan Marco itu berkelas. Sepertiku contohnya. Sheila menyeringai sinis.


Gabriela menggigit bibirnya dengan kelu. Foto tuan Marco bersama seorang wanita sepertinya sedang menghadiri sebuah acara. Wanita dalam foto memang anggun, berbeda dengan dirinya.


Lantas apa yang anda lakukan pada saya selama ini tuan. Anda menikahi dan mengurung saya padahal anda punya kekasih. Itu alasan anda mengikat saya dalam bentuk kontrak? agar setelah anda bosan dengan saya maka anda bisa sesuka hati melempar saya? Rasanya Gabriela ingin menangis. Tapi Gabriela tidak mau menunjukkan sisi lemahnya pada sheila.


"Geby, kakak tidak punya waktu yang banyak dek" Sheila menyodorkan kembali map yang jauhkan Gabriela tadi. "Tanda tangan disini. Setelah ini geby boleh pulang sama kakak. Kau kangen ibumu kan" Mata Gabriela berkaca kaca. Ya se keji apa pun pukulan yang dia terima dari ibu namun dia tidak bisa berbohong jika setiap malam Gabriela hanya memikirkan ibu.


Dia gadis polos yang selalu lemah jika nama ibu di sebutkan. Tapi Mengingat yang dia jalan selama ini. Rasa sakit hati itu kembali lagi.


"Aku tidak akan menandatangani apa pun" Gabriela menggeser map hingga terjatuh ke lantai. "Aku tidak mau berurusan dengan kakak ataupun dengan tante lagi. Kalian jahat" Kalau bukan karen ulah ibu mu yang menjual ku maka aku tidak akan terikat pada tuan Marco sejauh ini.


"Aku mau pulang kak" Gabriela berjalan menuju pintu namun langkahnya langsung di hadang oleh Sheila. "Kakak mau apa kak!"


"Aku tidak suka kekerasan geby" Sheila menarik tangan Gabriela dan menjatuhkannya ke lantai. Rasa sakit langsung menjalar di di pinggangnya. Gabriela meringis tanpa suara. Sheila berjongkok dan mengangkat dagu Gabriela yang kesakitan karena cengkeraman sheila.


"Tapi kalau atas permintaan mu akan dengan sukarela saya berikan dek"  Aw.. Lagi lagi Gabriela meringis karena Sheila memijak tangan Gabriela dengan hills nya. Dengan begini aku tidak akan mau kau perdaya lagi.


Aku tau kau hanya memanfaatkan aku. Gabriela menjerit saat injakan di tangannya semakin terasa. "Apa yang kakak lakukan lepaskan aku"


"Tanda tangan disini setelah ini kau bisa pergi" Kesabaran sheila habis. Gadis di sampingnya ini memang menguji kesabaran. Benar kata mama kau semakin berani sekarang.


"Aku tidak akan mau sampai kapan pun. Aku tau kakak hanya menjebak ku" Satu tamparan mendarat di pipi Gabriela.


"Jaga ucapan mu" Kemudian tangannya menjambak rambut ikal Gabriela dengan kasar. Dari segi tenaga Gabriela kalah jauh. Dia hanya menangis apalagi saat Sheila membenturkan kepalanya ke meja. "Cepat tanda tangan!"


"Aku tidak akan menandatanganinya!" Tegas Gabriela sambil berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Darah segar sudah mengalir dari sudut bibirnya . Dia tergopoh mau berjalan ke pintu namun hanya hitungan detik Sheila kembali menarik rambut Gabriela hingga gadis itu terpental di kursi.


"Dengar baik baik anak tidak tau diri!" Sheila panas sendiri. "Aku dan ibuku sudah merawat mu sejak kecil Beraninya kau membangkang padaku" Ucap Sheila ketus.


"Tidak! aku tidak akan menandatanganinya!" Tangan Gabriela bahkan gemetar saat Sheila berjalan ke arahnya dan melempar vas bunga pada Gabriela.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2