Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Siapkan Pernikahan!


__ADS_3

Aktifitas manusia di seluruh penjuru dunia akan mulai seiring dengan aktifitas cahaya matahari yang malu malu mulai menampakkan sinar terangnya. Seorang wanita paruh baya memasuki sebuah rumah yang entah dimana tempatnya. Rumah itu mirip seperti markas. Penjagaan super ketat. Saat dia mulai melangkah maju. Ada seorang mengarahkan pistol pas di kepalanya.


"Angkat tangan" Wanita itu menurut. Dia memperlihatkan isi tas kecilnya kemudian berbalik. Sepertinya wanita ini aman pikir mereka. "Masuk". Dia melenggok memasuki sebuah ruangan. Di sana ada pria yang sudah menunggu.


Wanita itu melempar foto foto Gabriela ke depan meja. Pria itu mengambilnya. "Kau pikir aku tertarik dengan gadis seperti ini? Akal sehat mu dimana" Pria itu memandang jijik wanita paruh baya itu.


"Bukankah anda menginginkan Adicipta group tuan Maximus Alvaro?" Wanita itu memperbaiki posisi. "Keuntungan saya tidak ada apa apa ketimbang apa yang anda miliki nanti. Satu lagi itu keponakanku. Kau bisa memanfaatkan mengorek informasi. Itu yang anda butuhkan bukan?".


"Informasi mengenai Adicipta masih saya pegang. Termasuk lokasi dimana posisi orang tuanya". Senyum manis penuh keyakinan.


Namanya adalah Maximus Alvaro. Seorang mafia berat yang sudah lama melebarkan sayapnya di bagian penjualan barang barang terlarang seperti Narkoba jenis jenis tertentu.


Tampang dan kecerdasannya juga diatas manusia normal. Kemampuan bela diri dan penguasaan senjata api juga layak di perhitungkan. Dia bukan pemuda sembarangan. Berpuluh tahun melebarkan sayap namun jejaknya sama sekali tidak bisa di deteksi oleh pihak hukum tertentu.


"Aku akan memberikan perusahaan itu untuk mu jika keponakan mu itu berguna dengan baik" Senyum licik terpampang di wajahnya.


Dia beralih melihat biodata Gabriela. "Aku akan menanggung pengobatan ibunya, dan kerugian yang kau perbuat akan aku tangani. Jika kau dan keponakanmu itu tidak mengecewakan".


Begitulah percakapan mereka sebelum wanita paruh baya itu mengenakan kacamata hitamnya. Dia masuk kedalam mobil lalu pergi.


******


Ponsel berdering. Gabriela yang sedang sibuk mengeringkan rambut buru buru melilit rambutnya dengan handuk. Siapa sih pagi pagi begini.


Matanya terpejam memandang nomor itu. Dia mengenali nomor tersebut. "Halo Tante ada apa?"


"Kamu dimana? bisa bicara berdua?"


"Saya sedang di kamar saya. Kalau ada perlu Tante bisa cerita" Gabriela sendiri sebenarnya sudah lelah dengan Tantenya ini. Gara gara dia Gabriela harus terkurung ditempat ini.


Namun begitulah sifat polos dan lugunya. Sekejam apa pun wanita itu tetap dia memperlakukan layaknya keluarga.


Saat ponsel mati, deretan pesan masuk berdering. Gabriela membuka pesan itu dan membacanya.

__ADS_1


"Maafkan Tante sayang. Disini Tante sedang berjuang untuk melepaskan mu. Jangan takut Tante ada di sisimu." Pesan pertama yang membuat hati Gabriela tersentuh. Terimakasih banyak atas kepedulian Tante. Dia melanjutkan membaca lagi.


"Tante ingin bertemu kamu sekarang, kita jumpa di kafe XX. Pastikan kamu hanya datang sendiri sayang. Tante tidak mau anak buah Marco melihat Tante".


Karena sebuah harapan gadis itu kembali bersemangat. Ya keluar dari tempat ini adalah misi hidupnya. Dan orang yang mengharuskannya ternyata masih punya hati. Dia mengumpulkan semangat untuk menemui Mahalini. Orang yang akan menolongnya.


Aku bisa keluar kan?


Tuan bilang tugasku melayani dia. jadi kalau dia tidak dirumah aku bisa pergi sebentar. Toh aku juga tidak bisa mengerjakan apa apa. Semua dilarang. Kadang aku bingung juga.


Dia mengenakan pakaian sederhana sambil menenteng tas mungil di bahunya. "Pak saya izin sebentar. Aku ingin membeli beberapa perlengkapan ku. Aku janji tidak akan lama." Pak Haris memandangi gadis muda ini seperti tidak yakin.


"Maaf non saya tidak bisa memberi anda izin tanpa sepengetahuan tuan Marco".


Gadis itu kehabisan akal. "Katakan pada tuan Marco bahwa saya pergi membeli perlengkapan kewanitaan jadi saya keluar sendiri saja ya pak naik taksi" Pak Haris mengernyit tidak paham. Namun dia tetap memberikan informasi itu pada tuan Marco.


"Biarkan saja dia tapi tetap arahkan pengawal mengikutinya" Marco senyum senyum sendiri. Apa lagi nanti yang akan dia beli ya?


Gadis itu sudah memasuki kawasan resto. Dia menangkap seseorang melambaikan tangan padanya. Awalnya dia tidak mengenali karena wanita itu memakai kacamata hitam.


"Tante" ucap lirih mau menangis. Apalagi saat Mahalini memeluknya. "Kau sudah makan sayang? ayo pesan" Mahalini memberikan daftar menu. Namun Gabriela hanya memesan lemon tea. "Aku sudah sarapan tadi Tante"


"Apa kau pernah menghubungi ibumu?" Pertanyaan ini sukses menyambar wajah Gabriela. Dia menggeleng sedih.


"Jangan sedih sayang. Tante tetap kok memberikan ibu mu biaya untuk periksa rutin. Ya walaupun tidak sebanyak dulu" Ada kelegaan di hati Gabriela mendengar itu.


Ternyata Tante tidak sejahat yang aku pikirkan. Terimakasih masih peduli pada ibuku. Kebenciannya terhadap wanita ini sepertinya memudar.


"Sayang... Tante sayang kamu dan juga ibumu. Semoga usaha Tante yang terakhir ini bisa menyelamatkan mu sayang". Ucapan yang penuh dengan sandiwara yang begitu indah dan menyejukkan. Gabriela si pemilik hati polos menahan haru di dadanya.


"Ada pria yang akan menikahi mu sayang" Pembicaraan ini terhenti saat Gabriela langsung mengangkat pandangannya. "Dia pria baik hati yang akan membantu mu. Semua pengobatan ibumu akan dia tanggung. Dan juga kamu akan bebas dari tuan Marco. Itu keinginan mu kan sayang?"


"Apa maksud Tante???????" Kenapa aku semakin banyak beban.

__ADS_1


"Sayang dia teman baik Tante. Semua kerugian tuan Marco yang mengakibatkan kamu harus masuk kedalamnya akan terbayar." Dengan tidak tahu malunya Mahalini membuka akar mula Gabriela harus masuk kedalam jurang menanggung perbuatannya. Gadis polos yang tidak tau apa apa harus terjun ke neraka akibat keegoisannya.


"Kita akan berkumpul seperti dulu sayang. Tante juga akan tinggal dekat dengan mu dan ibumu kita bisa seperti dulu lagi sayang. Tugasmu hanya satu patuh pada suami mu nanti itu saja sayang" Mahalini tau meyakinkan gadis polos ini tidak lagi seperti kemarin. Namun dia juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Jika dana yang Tante hilafkan kembali otomatis kamu akan kembali pada kami sayang. Bukannya kamu sayang sama ibumu?" Dia mencoba memprovokasi pikiran gadis itu.


Kalau aku tidak lari waktu itu maka Tante tidak akan dikejar. Dan ibu tidak akan membenciku. Perasaannya mulai bergejolak.


Tante kan keluargaku juga.


Tante Mahalini dan ibu hanya mereka berdua yang aku punya di dunia ini.


Gabriela setiap malam memikirkan ibunya, dan juga hidupnya ke depan. Dan saat ini ada penawaran yang akan membawa dia keluar dari kegelapan ini.


Guratan kesedihan bisa terbaca di wajahnya. Namun dia bisa apa?


Lama mereka saling memandang Mahalini berkali kali meyakinkan perasaan gadis polos itu.


Dan akhirnya gadis itu mengangguk. Senyum mengembang semakin sempurna di wajah Mahalini. Kemenangan akan semakin di depan.


Perusahaan hasil lelangan Max akan menjadikan namaku. Semua akan beres.


"Baik sayang... Tante akan menghubungi Tuan Marco nanti. Semua akan naik baik saja sayang. Jangan takut ya" Dia memeluk tubuh kecil Gabriela.


Tubuh kecil yang sudah menjadi malaikat penolongnya. Penyangga kejahatannya.


Sementara itu di sebuah gedung pencakar langit vas bunga sudah berserak dimana mana. Pecah seribu. Marco mengeraskan rahangnya. Menggeram keras.


Gerald yang berdiri tidak jauh darinya begitu bersalah. Seharusnya Non Gabriela tidak usah keluar dari rumah.


"Hebatnya kau! mau belajar mengkhianati ku? Hahahahha ada rubah kecil yang main main denganku" Tawa Marco masih memenuhi ruangan. "Ger! hubungi pemuka agama!" Siapkan acara pernikahan!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2