Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Mengganti semua pakaian


__ADS_3

Pagi harinya semua berjalan dengan baik. Tidak ada yang berubah. Walau takut dan gemetar namun Gabriela ternyata bisa menguasai dirinya dan tidak melakukan tindakan yang membuat Marco marah.


Gadis itu setengah berlari membawa tas Marco. Langkahnya di kali 3 dulu untuk ukuran satu langkah Marco.


Kenapa kaki orang ini panjang sekali sih!


Tergesa dia masuk ke dalam mobil kemudian meletakkan tas kerja Marco di pangkuannya. Rambut panjang gelombangnya sudah berhamburan kemana mana. Karet gelang yang dia pakai mengikatnya tadi sudah hilang entah kemana. Akhirnya dia hanya merapikan sedikit ke belakang telinganya.


"Apa tidak ada lagi pakaian mu yang lebih baik dari ini?" Menunjuk pakaian lusuh yang menempel di tubuh Gabriela. "Kampungan sekali".


"Maaf tuan saya akan menggantinya sebentar jika tuan berkenan".


"2 menit" Marco menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Sedangkan gadis itu masih belum beranjak. Dia bingung tidak tau mau ngapain.


"Nona punya waktu 2 menit untuk ganti baju" Ucap Gerald yang berada di kursi kemudi. Dan gadis itu tersentak. Dia buru buru keluar berlari sekencang mungkin mengejar waktu 2 menit.


Kau manusia bukan sih. Dua menit? dasar gila. kau saja ganti baju Berjam jam.


Gadis itu mengacak acak tas kain yang belum sempat dia rapikan dari semalam. Dia tidak memiliki banyak pakaian yang menarik. Namun setidaknya pakaiannya masih tergolong bersih dan sopan.


Dia bergegas menuju halaman rumah, dari pintu dia melihat bahwa mobil sudah mulai berjalan.


Aku ditinggal. sial


Gadis itu sambil berlari pelan mengetuk pintu. Namun di abaikan raja segala bangsa yang duduk di dalam. Mobil berjalan semakin kencang mau tak mau dia harus menambah kecepatan berlari. Namun ternyata dia tidak bisa mengimbangi kecepatan mobil.


Dia pasrah ditinggal. Gadis itu memegang lutut nya yang sakit.


Ya tuhan bagaimana ini nanti dia marah lagi


Kemudian dia menoleh ke depan tepat saat mobil itu berhenti di gapura komplek perumahan. Klakson berbunyi keras. Gadis itu berlari lagi menyusul.


"Maaf tuan saya lama ya" Dia duduk sambil mengatur deru nafas panjang yang saling memburu.


"Kenapa tampilanmu juga tidak berubah sama sekali?" Marco menatap sinis terhadap gadis itu.


"Maaf tuan" Gadis itu meremas ujung kemeja kebesaran yang dia pakai.


"Kau mau mempermalukan ku dengan tampilan lusuh dan juga pakaian mu yang norak begini?" Marco terus saja mengomentari tentang penampilan gadis itu.


Lalu kau mau aku seperti apa keong racun. Ini kan sudah bagus apa kedua bola mata mu tidak berguna.


Gadis itu setengah menjerit di dalam hati. Namun dia tetap tutup mulut.

__ADS_1


"Kenapa diam saja! saat orang bertanya!" Marco kesal lagi saat gadis itu bungkam.


"Maaf tuan. Tapi saya tidak punya pakaian lagi. Saya juga tidak punya uang lagi untuk membeli pakaian".


Puas kau keong racun. Entah seperti apa standar yang pas di matamu.


"Kau sedang curhat atau sedang pengajuan proposal dana?" Marco menyeringai dengan sinis.


"Proposal dana itu apa tuan?"


Marco tergelak keras. "Kau tamatan apa? kenapa otak mu dangkal dan bodoh?"


Gerald melirik dua manusia yang sedang argumen di kursi belakang. Dia tidak bisa menguasai kontrol konsentrasinya saat mendengar tuannya sang raja agung selalu saja menghina gadis itu.


Namun dia juga tergelak saat mendengar gadis itu bertanya dengan serius disaat Marco sudah emosi.


"Saya tidak tamat sekolah tuan"


Gelak tawa Marco pecah. Dia sampai memegang perutnya yang sakit. Apa? tahun berapa ini ada orang yang tidak tamat sekolah. Pemerintahan bahkan menanggung wajib belajar minimal 9 tahun. Apa hidupmu se susah itu?


Marco masih tertawa mendapat hiburan baru. Gerald yang melihat itu tidak bergeming. Aku bahkan pertama kali melihat anda tertawa lepas tuan. Biasanya anda tertawa untuk membuat orang gemetar.


Sesampainya di kantor Marco malah menyuruh Gerald untuk mengantar gadis itu ke toko pakaian.


"Kita mau kemana tuan?" Kalau berbicara dengan Gerald dia lebih leluasa. Walaupun pembawaan pria itu juga terlihat serius namun dia masih manusia normal.


"Saya tidak ingin belanja pakaian tuan" Gadis itu mengernyit penuh kebingungan.


"Tuan Marco ingin penampilan ada lebih baik" Ucap Gerald masih dingin sambil menyetir.


"Tapi..."


"Nona duduk saja ikuti apa yang dikatakan tuan Marco" Ucap Gerald mulai malas.


Mobil menepi di sebuah butik mewah terkenal. Gerald membuka seat belt di tubuhnya kemudian membuka pintu untuk Gabriela. "Saya akan antarkan anda ke dalam, anda bisa membeli apa yang anda butuhkan".


Gerald memasuki butik di ikuti oleh Gabriela. Karena ini akhir pekan Butik terlihat ramai pengunjung.


Pakaian elegan berjejer rapi, belum lagi beberapa pakaian bermerek dipajang terpisah di lemari kaca. Gadis itu mengeratkan kedua tangannya.


belanja, ah bagaimana ini uangku? aku tidak punya banyak uang hei ngapain pula kau sibuk disitu.


Gerald terlihat berbicara dengan dua orang staff yang baru saja meliriknya. "Antarkan semua ke rumah nanti" Setelah itu Gerald mendekati Gabriela.

__ADS_1


"Saya permisi dulu nona" Gerald sudah mau berbalik. Namun tangannya di cegat.


"tuan mau kemana? kenapa saya ditinggal?"


"Saya akan segera ke kantor menyusul tuan Marco nona"


"Lalu saya?"


"Oh itu. hari ini nona tidak perlu ikut ke kantor. lengkapi saja keperluan nona" Gerald menunduk lalu pergi begitu saja. Staff yang tadi mendekat.


"Silahkan Mbak lewat sini" Mereka mengajak Gabriela menjelajah pakaian di lantai 2.


Gabriela hanya diam sambil memandangi barisan pakaian. Tanpa sengaja dia menyentuh sepasang pakaian dan melihat harga.


Apa ini harganya bahkan seharga emas.


"Apa nona tertarik dengan ini?" Staff itu memaparkan keunggulan pakaian itu. Bahannya adem tidak luntur bla bla bla.


"Tidak itu mahal sekali" Gadis itu mulai panik sendiri. Dia tau pasti harga pakaian disini tidaklah murah.


Staff melirik temannya. "Mbak tinggal pilih saja yang mana mbak suka. Soal harga itu urusan kami dengan pemilik Butik ini"


Setelah itu akhirnya staff memberi tahu bahwa butik ini milik Tuan Marco. Seketika dia lemas. Kakinya seolah tidak sanggup menopang berat tubuhnya.


Mau sedalam apa lagi kau menjebak ku dengan utang utang.


Gadis itu sedih. Utang Mahalini yang menggunung,belum lagi uang rumah sakit kemarin belum terganti sekarang udah tambah lagi.


Kau sengaja apa bagaimana ini.


Sementara itu di kantor Marco terbahak bahak menonton rekaman CCTV Butik miliknya yang di hubungkan oleh tim staff langsung ke ponselnya.


Matanya hanya menyorot gadis yang sedang berjalan kesana kemari. Gadis itu kebingungan sambil di layani oleh beberapa staff. "Kita ke bagian sepatu sekarang ya mbak ayok kita naik lift saja". Gabriela semakin pusing. Entah bagaimana dia nanti membayar semua ini.


Dengan senyum mengembang. Marco berjalan dengan santai melewati ruang tamu.


"Apa dia Gadis bodoh itu sudah makan siang?" Pak Haris mengangguk. "Nona makan dengan pelayan lain di dapur paviliun".


"Sekarang dia dimana?"


"Nona Gabriela sedang membereskan semua barang barangnya tuan. Nona Gabriela tidak mau pakaian lamanya di buang percuma. Nona ingin semua pakaiannya di antar ke panti asuhan"


Sampai hari ini bahkan aku belum bisa menebak arti senyum anda tuan.

__ADS_1


"Biarkan saja dia" Marco mengibaskan tangannya agar pak Haris pergi. Setelah itu dia berlalu menaiki tangga. Segera mandi dan ganti baju. Dia ingin melihat seperti apa ekspresi Gabriela sebentar lagi.


BERSAMBUNG....


__ADS_2