Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Penculikan part III


__ADS_3

Gabriela memegang pipinya yang memerah. Panas menjalar begitu terasa saat telapak tangan Mahalini menampar permukaan wajahnya. Satu tamparan keras membungkam Gabriela, wajahnya oleng ke kanan sambil berusaha menahan air mata.


"Beraninya kau memaki ku!" Mahalini memojokkannya ke dinding. "Kau tidak ingat siapa yang menolong mu hingga kau masih hidup? ha! Jawab!" Plak! Tamparan kedua mendarat. Gadis itu terlihat menangis sesenggukan sambil memegang pipinya yang merah kebiruan, bahkan terlihat ada darah yang menetes dari hidungnya.


"Kau lupa diri dari mana kau berasal setelah kau menikmati hidup enak?" Mahalini tidak peduli darah yang mengalir dari hidung gadis itu.


"Dengar ya! kau pikir sesuai pengorbanan mu dengan pengorbanan ku? Pengorbanan mu hanya beberapa bulan di depan tuan Marco kau sudah berani memaki ku! itu semua tidak ada apa nya dibandingkan biaya yang dihabiskan ibu mu untuk pengobatannya kau pikir sendiri pake otak dangkal mu" Mahalini melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


"Setelah berkhianat kau malah menyalahkan ku! kau tau dana yang saya gelapkan itu untuk apa? Itu semua untuk pengobatan ibu mu!" Mahalini keluar dan mengunci pintu.


"Tante!!! jangan kurung aku! Tante!! buka pintunya aku takut" Gabriela mendobrak dobrak pintu tapi tidak ada yang bisa menolongnya.


Gadis itu melorot ke lantai. Menangis sambil mengusap darah mimisan yang mengalir dari hidungnya.


Dia melirik pintu yang terkunci. Betapa jahatnya kau Tante.


Gabriela sama sekali tidak merasa bersalah walaupun dia sudah memaki Mahalini.


Yang dia pikirkan hanyalah ibunya. Bagaimana dengan ibu nanti. Apakah dia akan baik baik saja setelah ini. Gabriela sesenggukan sambil memegang kedua lututnya. Pasti dendam Mahalini akan berimbas pada ibu.


Mimpi apa aku semalam hingga bisa sampai di tempat ini. Bertemu dengan Tante yang semakin lama semakin memojokkan ku.


Bagaimana aku keluar dari sini. Gabriela berdiri mencari pintu atau jendela yang mungkin bisa di didobrak. Tapi hanya ada tembok di semua sisi. Sepertinya ini memang ruangan yang di khususkan untuk mengurung orang.


Gadis itu hanya bisa menangis sambil kembali melorot ke lantai. Tolong aku! tolong aku! sayup sayup suara itu masih bisa keluar.


"Tuan Marco tolong aku, aku mohon" Bayang bayang saat Marco memanjakannya langsung memancing kerinduan di hatinya. Kegundahan dan merasa membutuhkan. Laki laki yang selalu mengecup keningnya sebelum tidur. Satu satunya orang yang selalu menanyakan apakah dia makan siang dengan benar atau tidak. Kadang Gabriela merasa tersentuh saat sikap lembut tuan Marco mengikis kebencian di hatinya.


Lalu pertanyaannya sekarang apakah tuan Marco mencari ku? Tidak! itu tidak mungkin. Dia tidak akan mencari mu Geby! kau bukan siapa siapa untuknya.Tapi aku jujur sangat butuh pertolongannya.


Mahalini membenarkan rambutnya. Kurang ajar! Bagaimana bisa dia sudah berani bersikap keras padaku. Bagaimana bisa dia berani melawan ku. Brak! gadis kecil itu sudah berani mengatakan aku penjahat yang tidak terhormat. Dari mana dia belajar kata kata seperti itu.


Mahalini berjalan memasuki sebuah kawasan. Tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya. Apa yang harus aku katakan pada tuan Max. Mahalini menggenggam surat di tangannya.

__ADS_1


"Kau berani ya masuk kesini dengan membawa ketidakpastian mu" satu ucapan memperingati Mahalini agar jangan berbicara banyak tentang gagalnya dia membawa Gabriela ke depan tuan Max.


"Berikan saya waktu tuan. Gabriela butuh waktu untuk meyakinkan dirinya" Mahalini ingin menarik kata katanya karena tau jika pria ini tidak mungkin tidak tau selat belit Gabriela yang sudah menikah dengan Marco.


"Gabriela sudah bersama saya hanya saja dia masih belum siap bertemu dengan anda tuan"


"Dan kau pikir aku percaya" Mahalini mundur selangkah saat Max bangun. "Aku akan menikahi keponakan mu, aku akan lihat se berguna apa dia. Dan jangan harap kau mendapatkan hak atas perusahaan gelap itu jika keponakan mu tidak berguna" Max tersenyum mengejek.


"Kau tau kan resikonya jika aku menikahi keponakanmu sekarang, dan aku tidak akan membantu mu jika ada hal yang tidak bisa kau selesaikan"


Mahalini mengepalkan tangan. Jadi kau mau enaknya saja. Jika nanti tuan Marco datang mencari Gabriela jadi aku yang harus maju menghadapinya begitu? Kau pikir aku bisa apa! Mahalini ingin berteriak kencang.


Ternyata laki laki ini sangatlah licik. Sudah sejauh ini aku berusaha dan seujung kuku pun aku belum mendapatkan apa apa?


Mana janjimu yang akan memberikan aku surat pengalihan nama setelah kau berhasil menikahi keponakanku.


Kau sudah terlalu berani mau bekerja sama dengan manusia seperti Max. Mahalini memaki dirinya. Padahal dia tau Max bukan orang sembarangan. Tapi keinginan memiliki perusahaan besar sudah menggebu gebu.


Perusahaan itu tidak boleh jatuh kepada tangan siapa pun. Aku sudah berjalan sejauh ini dan aku tidak boleh sampai gugur jadi debu di jalanan. Mahalini mengepalkan tangannya. Pokok kau harus menikahi Max! Kau tidak boleh menghancurkan semua yang sudah aku perjuangkan.


Bagaimana bisa kau santai meminta ini itu pada ibumu yang sudah pontang panting sana sini memperjuangkan masa depanmu. Hah! Mahalini menggenggam ponselnya dan menarik nafas.


Pokoknya jalan satu satunya adalah membujuk Gabriela lagi agar dia menikah dengan Max tanpa merasa dipaksa. Dia harus yakin dengan apa yang akan dia dapatkan.


Tapi sepertinya meyakinkan gadis itu tidak semudah dulu.


Namun walaupun begitu aku akan tetap mencoba merayunya. Dan tidak ada alasan. Dia harus menikah dengan Max. Agar semua bisa berjalan dengan baik. Ada harga yang harus kamu bayar Gaby! Mahalini membuka pintu. Gabriela tersentak kaget. "Kau sudah sadar?" Gabriela menepis tangan Mahalini yang mencoba meremas dagunya.


"Aku tidak mau tau Geby! deal its deal kau harus menikah dengan tuan Max itu sudah kesepakatan kita kemarin"


"Tidak aku tidak akan mau tante bodohi lagi aku sudah menikah!" Sudah cukup kau menjual ku pada tuan Marco.


"Kau pikir kau bisa lari" Mahalini memanggil pengawal. "Bawa dia masukkan ke dalam mobilku" Dua pengawal masuk langsung mengangkat wanita itu bagaikan karung bekas. Mereka melewati jalan yang tidak di ketahui oleh banyak orang. Biar bagaimanapun tempat ini harus segera di tinggalkan karena pengawal Marco pasti sudah mengetahui titik mereka.

__ADS_1


Mahalini berjalan dengan cepat langsung membuka bagasi mobil. Tubuh Gabriela terlempar begitu saja dengan mulut sudah terlakban. Entah pingsan atau mati entahlah namun tidak ada pergerakan sama sekali.


Setelah mesin mobil hidup, Mahalini menghidupkan lampu agar bisa keluar dari basement. Wanita itu tersentak kaget dia dikejutkan dengan temuan pengawal yang sudah tergeletak begitu saja di depan mobilnya. Kurang ajar!


Ketukan di kaca mobil. Mahalini menoleh seorang pria bertopeng hanya matanya saja terlihat sedang mengacungkan senjatanya.


"Angkat tangan dan segera keluar" Mahalini menelan Salivanya. "Tunggu mau apa kalian?"


Tanpa menjawab Danri menjambak rambut wanita itu lalu melemparkannya ke dalam bagasi mobil. "Ikat dia dan segera amankan!"


Beraninya kau membuat kami semua repot. Dua pengawal masuk kedalam mobil membawa Mahalini entah kemana. Setelah mobil menjauh Danri menatap jijik jenazah pengawal Mahalini yang tergeletak di lantai.


"Amankan semua sampah ini. Kembali ke Markas sebelum pagi" Pengawal langsung sigap mengambil tindakan masing masing.


Danri terlihat ragu membuka bagasi mobil. Dengan kumpulan keberanian akhirnya bagasi terbuka. Tampaklah sosok wanita kecil di ikat dengan mulut terlakban. Di sekujur tubuhnya banyak sekali luka, Wajah gadis itu memar. Sepertinya tadi sebelum dimasukkan kedalam mobil dia mendapatkan kekerasan fisik.


Aku tidak tahu bagaimana kemarahan tuan Marco melihat ini.


"Tuan nona masih hidup"


Danri dibantu oleh satu pengawal perempuan mengangkat tubuh Gabriela kedalam mobil Alphard hitam.


Bunuh saja aku tuan. Bagaimana aku lalai menjalankan tugas yang sangat besar ini. Nona terluka parah, aku tidaklah berguna sebagai pengawal mu. Danri hanya bisa memaki kecerobohan malam itu.


Bagaiman bisa area gebyar sudah di kepung orang jahat tapi aku malah tidak menyadari. Rasanya Danri memiliki dosa besar. Entah bagaimana nanti dia akan menanggung kemarahan tuan Marco.


Kalau nona baik baik saja aku masih punya nyali berbicara atau hanya sekedar minta maaf. Kali ini Danri seperti kehilangan jati dirinya telah kecolongan sebesar ini. Apa yang harus aku katakan pada Gerald nanti.


Danri mengepalkan tangan. Tembakan di kepala seharusnya tidak cukup mengakhiri hidup kalian.


Mobil berhenti di depan rumah sakit. Danri sudah siap menerima luapan kemarahan tuan Marco dan juga Gerald. Kalaupun aku terbunuh itu lebih baik karena aku memang tidaklah layak sebagai pengawal anda tuan.


Lagi lagi Danri meringis melihat tubuh kecil Gabriela yang berlumuran darah di angkat dari mobil kemudian dipindahkan ke bed.

__ADS_1


Dokter langsung melakukan tindakan medis.


"Kemari kau brengsek!!!!" Dentuman suara besar terdengar penuh kemarahan.


__ADS_2