Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Perkara sakit perut


__ADS_3

Gabriela bersemu senang saat Marco menyuruhnya ganti baju, Berarti jalan jalan jadi kan hehehe.


Tapi kenapa dia rapi ya? Tidak ke kantor apa hari ini? Ah bodoh amat yang penting aku jalan jalan.


Gadis itu membuka lemari lebar lebar sambil bersenandung kecil. Pake yang mana ya? lama memilih akhirnya dia mengambil satu kaos pink dan juga rok agak plisket kembang. Tangannya cekatan menyisir rambut dan menyambar tas.


Suasana mall sudah mulai memasuki pikirannya. Bukannya ada yang mau di beli tapi gadis itu senang saja keluar dari rumah. Bebas walau sehari. Kalau bicara barang Gabriela sudah punya semuanya di lemari. Tapi kan kesenangan orang orang berbeda.


Baiklah kita lanjut siap siap sekarang tinggal sepatu ya, hmhmh nah yang ini aja deh. Gabriela mengambil pansus dari dalam lemari. Setelah itu memasukkan ponsel dan juga dompet ke dalam tas kecilnya.


ponsel baru lagi. Gabriela berdecak kagum, berapa sih kekayaan tuan Marco.


Semenjak menikah aku sudah lebih dari dua kali ganti ponsel. ponsel yang kemarin ketinggalan di pesta habis itu ya hilang kan.


Gadis itu menutup pintu walk in closet sambil menyembunyikan sepatu pansus di belakang punggungnya.


heh! dia mau pergi juga? Marco sudah rapi duduk di sofa sambil scroll layar ponsel miliknya. Kaos di padukan dengan celana pendek. Tidak lupa sepatu branded menempel di kakinya. Rambutnya juga sudah tersisir dengan rapi. "Sudah?" matanya sibuk melihat ponsel tapi dia tau ya aku udah disini.


Ya iyalah ketahuan kau kan menutup pintu agak keras. Gabriela yang bertanya dia juga yang menjawab.


Gadis itu mendekat. "Sayang"


"Pake sepatu mu" Masih sibuk scroll, sepertinya memang ada hal penting yang dia lihat di ponselnya.


"Sudah sayang" Gabriela senyum senyum membayangkan keindahan hari ini sudah di depan mata. "Aku pergi ya"


Marco refleks melotot. Lah kok marah sih.


Pria itu berdiri sambil memasukkan ponsel ke dalam saku. "Ayo"


Idih ngapain pula pake pegang pegang tangan. Dari kemarin tuh tidak ada seperti ini. Gabriela menerima uluran tangan Marco. Tapi ya sudah lah.


Mereka bergandengan tangan sambil menuruni tangga. Supir sudah menunggu di depan sambil bercengkrama dengan anak taman yang sedang menyemprot pupuk pada bunga. Melihat tuannya sudah muncul beliau buru buru membuka pintu.


Kok dia masuk juga sih. Gabriela greget ingin bertanya. Apa dia mau ikut jalan jalan sama kami. "Sayang mau kemana?" Marco baru saja mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Gabriela.


"Terserah ku mau kemana" Menjawab ketus dan acuh. Cih dimana sikap lembut mu semalam. Gabriela menyadarkan punggung lega saat mobil meninggalkan kawasan perumahan. Daripada berbicara dengan pria gila ini lebih baik aku kabari kak Altea.

__ADS_1


"Ke mall X" Ucap Marco yang juga menyandarkan punggungnya.


Pas sekali aku mau kasi tau kak Altea. Mall apa tadi namanya? Gabriela mencoba mengingat nama mall yang disebut Marco. Kemudian dia mengangguk seperti sudah ingat.


Gabriela kemudian mengusap ponsel dan memasukkan sandi. Marco langsung mengerutkan dahi sambil melirik apa yang di pegang dan dilakukan istrinya.


Ketok satu per satu kata, Gabriela tersenyum lagi saat membayangkan akan ketemu Altea. Ah aku tidak sabar lagi. Aku kirim saja pesannya. Belum sempat menekan enter Marco sudah lebih dulu merebut ponsel dari tangan istrinya. "Bisa bisanya kau main hp disaat aku mau bicara" Datar dan juga ketus. Ponsel Gabriela masuk ke saku kursi mobil.


Ya kalau ngomong ya tinggal ngomong aja kali!


Tangan Gabriela masih mengambang di udara. Dia melirik saku mobil, disana ponselnya teronggok. Apa pesanku sudah di terkirim ya. Gadis itu penasaran tapi dia tidak punya nyali untuk mengambil ponsel. Wajah Marco terlihat kesal dan marah tadi saat merebut ponselnya.


Kau bisa main hp sesuka mu. Gadis itu protes sendiri saat melihat suaminya masih sibuk dengan aktivitasnya di layar ponsel. Cih! aku baru bentar saja kau sudah menyita ponselku dasar!


Jangan banyak protes dan juga jangan banyak bicara Gabriela. Dia kan dewanya ya suka suka dialah mau ngapain.


"Sayang mau ngomong apa" Bertanya dengan nada imutnya sambil berusaha tersenyum hangat. Berharap laki laki itu menoleh padanya habis itu bisa memohon agar hp di kembalikan padanya. Masih memasang tampang imut sambil tersenyum. Tapi percayalah bahwa di dalam hati Gabriela sudah memaki maki pria di depannya ini.


Marco menunjuk lengannya Gabriela mengernyit apa maksudnya? Loading sebentar. Oh dia menyuruh aku berbaring di lengannya. Gabriela bergelayut sebentar. Sepertinya Gadis itu mulai belajar memahami kemauan suaminya. Bagus Gabriela kau memang harus banyak banyak belajar. "Sayang..."


ihhh kau kan yang suka aneh aneh


Gadis itu menggeleng. Ya sudahlah aku lanjut bersandar di lengan mu saja. Gadis itu pasrah ponsel tidak akan kembali ke tangannya. Sambil mengerucut tapi kepalanya sudah menyandar di bahu Marco.


Apa kak Altea sudah sampai ya? Tapi dia tidak menelpon ku. Walau pasrah dia masih melirik saku kursi mobil. Hp! Hp! Hp! aku mau main Hp!


Gabriela hanya berani berteriak dalam hati.


Nanti kak Altea bawa anaknya tidak ya? siapa namanya kemarin hmhmh Thiago. Iya namanya Thiago, hihi dia manis dan tampan juga gemuk pipinya tangannya lembut. Beruntungnya kak Altea punya anak ya.


Ngomongin anak tunggu dulu, deg! jantungnya seperti mogok tiba tiba. Tanpa sadar melirik perutnya.


Apa aku akan segera punya anak? Sambil menelan saliva gadis itu langsung jantungan. Rasanya dia butuh tindakan untuk memompa jantungnya yang henti tiba tiba. Ahh udara juga tidak menghasilkan oksigen lagi. Aku sesak! sesak!


Dia bahkan meniduri ku hampir tiap malam tanpa lelah. Lalu apa aku akan hamil nanti? Gadis itu menutup mata menahan jantungnya yang semakin lama semakin lambat memompa darah.


Bagaimana ini kalau sampai aku hamil. Tidak! aku tidak boleh hamil. Kau harusnya bersyukur hamil Gabriela diluar sana banyak wanita yang tidak memiliki kesempatan untuk mengandung.

__ADS_1


Bukan itu masalahnya. Letak masalah utama bukan disitu wahai hatiku yang lemah lembut. Gabriela menggigit jari agar nanti tidak tiba tiba keceplosan teriak.


Status kami saja tidak jelas. Aku tidak mau sampai ada anak yang akan membuat semua rumit. Entah besok pernikahan ini akan berakhir dan aku terlempar. Kalau ada anak Bagaimana nasibku. Mengurus ibu saja aku tidak mampu, kalau tambah anak?


Bibir Gabriela semakin bergetar. Kemungkinan kemungkinan besar jika dia hamil langsung bermunculan di otaknya. Marco akan mengambil anaknya dan membuangnya begitu saja.


Selain jadi janda muda dia adalah orang yang paling hancur jika sampai Marco menceraikannya dan mengambil anaknya. Dia laki laki yang tidak punya belas kasih.


Jangan sampai aku hami! Gadis itu melirik langit langit mobil sambil menerbangkan doa. Aku tidak mau terlibat lebih banyak lagi pada laki laki ini.


Entahlah bagaimana pernikahan ini tidak seharusnya terjadi. Tidak ada cinta dan sayang tapi semua penuh paksaan. Aku tidak bisa menolak dan dia adalah kendali dalam hidupku. Bagaimana ini? aku harus bagaimana?


Ibu, wajah ibu langsung terlintas begitu saja. Tidak terasa dia sudah lama tidak bertemu langsung ibu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Aku saja tidak bisa keluar rumah bagaimana aku menemui. Tidak! bukan disitu letak kesalahannya.


Ibu yang tidak mau menemui ku lagi. Ada guratan kesedihan gadis itu saat hidupnya harus seperti pohon pinang yang terasing di pulau. Tidak ada tempat mengadu walaupun hanya sekedar cerita tanpa solusi.


Intinya aku tidak mau hamil! Entahnya aku sudah hamil sekarang? apa ciri ciri wanita hamil ya? Perutnya besar?


Gabriela meraba perutnya, sepertinya tidak ada perubahan pikirnya. Raba lagi mana tau salah, meraba sambil mencoba merasakan ada perubahan tidak.


"Hei kau sakit perut?" Gabriela terkejut ternyata aksinya dilihat Marco. Gadis itu gelagapan. "Tidak tuan.. eh sayang" Kenapa salah salah sih aku. Lihat matanya sudah menajam begitu.


"Lantas kenapa kau mengurut urut perut mu?" Marco melemparkan ponselnya beralih pada perut Gabriela. "Dimana sakit?" Marco juga melakukan hal yang sama. Tangannya sigap mengambil P3K dari dasboard mobil. Mengambil sejenis minyak urut.


Tangannya menelusup dress Gabriela sambil mengoles perut gadis itu dengan minyak seperti ibu yang mengetahui anaknya sakit perut.


Jangan baik padaku tuan! Aku takut menyalahartikan sikap mu tuan aku mohon. Gadis itu ingin protes tapi belaian tangan laki laki ini hangat ya. Seperti serius menunjukkan kekhawatiran. Padahal perutku tidak apa apa. Namun Gabriela merasakan sentuhan tangan ini berbeda dari sentuhan biasa Marco padanya.


Sentuhan ini seperti mengandung perlindungan. Aku takut tuan serius! Aku takut ujung ujungnya aku yang tidak bisa membedakan mana sentuhan mu melindungi ku dan mana sentuhan yang menginginkan aku.


Gadis itu memejamkan mata menikmati sentuhan perlindungan ini. Mau menolak pun tidak bisa. "Kau makan apa tadi? sampai kau sakit perut begini?" Lanjut lagi mengoles minyak.


Aku tidak sakit perut! Tapi tangannya nyaman sekali aku tidak bisa bohong. Marco memijat lembut perut gadis itu sebentar. Mereka sudah tida di parkiran mall. Sopir tau diri, dia langsung keluar agar tidak menggangu. Dan Marco langsung menyingkap dress istrinya hingga ke perut. "Masih sakit?" Marco panik sendiri merasa bersalah sering sekali membuat istrinya telat makan malam.


Apa gara gara itu ya? Bodoh bodoh! Aku memang bodoh. Marco memaki dirinya sendiri yang tidak becus mengurus istri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2