Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Sedang apa kau ?


__ADS_3

Sambil meringis gadis itu bangun. Melihat wajah Marco penuh kemarahan membuatnya tidak berani sama sekali walau hanya untuk mengelus sikunya yang berdenyut.


"Maaf tuan.. saya salah apa?"


Kenapa sih harus berdua kek gini. Di kamar lagi. aku kan jadi takut sekali.


Gabriela menggeser tubuhnya saat Marco maju dan mencengkeram dagunya dengan keras.


"Kau mau jadi wanita j*lng murahan? jawab!" Gadis itu terbata. Tidak atau apa yang dibicarakan pria aneh ini.


"Kau mau jadi j*lang disini? sampai kau berani melayani laki laki lain di hadapanku? Kau sedang tebar tebar pesona mencari mangsa sialan?" Marco melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


Wajah Gabriela langsung oleng ke kanan. Sakit, sudah pasti. Dia sedang menahan diri agar tidak melakukan tindakan yang akan merugikannya


"Tuan... apa yang tuan katakan saya tidak seperti itu" Dia memandang jenuh laki laki di depannya. Merasa sakit hati dengan tuduhan Marco yang seperti merendahkan dan juga menghinanya.


Marco tertawa licik melihat ekspresi wajah Gabriela yang seperti menantang. Pasalnya raut wajah itu menyedihkan sekali.


"Kau berani menantang ku?" Dia menjelajahi pipi Gabriela dengan jemarinya.


Gabriela yang kesal spontan menepis tangan itu. Seketika dia langsung menyesalinya. Matanya memandang nanar tangan yang dia pakai menepis tuan Marco.


Habislah aku


"Maaf...tuan maafkan saya. apakah sakit?" gadis itu ringsek saat tatapannya bertemu dengan pandangan berapi api Marco.


"Berani sekali kau bersikap kurang ajar!"


"Tuan!! maafkan aku" Air mata itu mulai menganak sungai. Dia tau Marco sedang marah. "Aku tidak sengaja tuan sumpah"


Marco tersenyum tipis. "Kau sudah berlutut memohon tadi lantas kenapa kau dengan berani bersikap kurang ajar begini?" sekali lagi jemari Marco menyentuh pipi gadis itu. Sekujur tubuhnya merinding antara geli dan jijik. Namun dia tidak bisa berbuat apa apa.


Ingin sekali dia menebas tangan kekar yang tidak tahu malu itu. Namun dia tidak punya nyali.


Marco masih menggerakkan jarinya di wajah Gabriela. "Tuan jangan seperti ini" Gabriela menyentuh jemari Marco yang menempel di pipinya. Dia menurunkan tangan itu kemudian memalingkan wajah.


Dia tidak tau tindakannya ini membuat pria itu tersinggung.


Sok jual mahal!


Merasa Gabriela melebihi batas. Marco mendorong tubuh mungilnya hingga terjerembab ke atas tempat tidur. Gadis itu sudah beringsut gemetar ketakutan. Keringat dingin langsung membanjiri tubuhnya. Dan pada akhirnya Marco mencium bibir gadis itu dengan penuh paksaan. Buliran air mata yang mulai menganak sungai membanjiri wajahnya.


Marco bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar ketakutan namun dia semakin kesal saat merasakan Gabriela mendorongnya dan parahnya lagi gadis itu mengunci rapat mulutnya.


******* Marco berubah dengan penuh emosi karena merasa ditolak langsung.

__ADS_1


Saat Marco sudah melepaskan ciuman itu, terlihat robekan kecil di sudut bibir Gabriela bahkan sedikit darat menetes di sudut bibirnya.


Marco kemudian berlalu ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Dia memegang jantungnya yang tidak berhenti berdetak. "bagaimana tadi? dia bahkan menolak ku?" Break! Cermin retak seribu.


Saat dia keluar dari kamar mandi dia tidak melihat gadis itu lagi di dalam kamar. Dia juga tidak peduli. Sampai tengah malam Marco hanya bolak balik mengubah posisi tidurnya namun matanya tidak bisa terpejam.


Bayangan Gabriela yang menepis tangannya membuatnya tergelak.


Sementara itu di sebuah kamar sederhana tempat para pelayan istirahat terlihat seorang wanita sayup sayup menangis.


Karena kamar itu berada di ujung jadi tidak ada yang mendengar tangisan itu.


Gabriela menekuk lututnya. Dia sedang berjongkok di sudut kamar. membayangkan betapa kurang ajarnya seorang laki laki yang mencium paksa bibir nya.


Bukan hanya itu, sikap laki laki itu selalu saja membuatnya merinding tak berkesudahan.


Ibu....


Kenapa kau lebih membela Tante Mahalini


Kau dibohongi ibu.


Aku juga dikhianati.


Setelah ini aku harus bagaimana Bu. kemana lagi aku pulang.


Seperti itulah hari ini terlewati. Gabriela bahkan tidak tau kenapa dia kena amukan kemarahan Marco tadi. Sama sekali tidak mengerti.


Karena kelelahan menangis gadis itu tertidur dengan posisi duduk menekuk lutut. Tampilannya lusuh. Belum mandi dan rambutnya acak acakan.


Saat tengah malam tiba perutnya mulai mengisap. Gadis itu sadar bahwa tadi dia melewatkan makan malam. Dia menenggak air mineral untuk mengganjal laparnya. Namun sama sekali tidak berarti.


Saat semua penghuni rumah utama sudah tidur. Dengan langkah goyah gadis itu memakai sendal kemudian berjalan pelan. Tempat yang ingin dia datangi adalah dapur rumah utama. Perutnya konser minta di isi membuatnya mau tak mau harus mencari makanan.


Namun nihil di dapur dia tidak menemukan makanan selain sayuran, buah di kulkas dan juga bahan masakan yang masih mentah Akhirnya dia hanya mengambil dua buah apel.


Saat melangkah ternyata nasib baik berpihak padanya. Di atas meja ada roti tawar. Gabriela mengoles roti dengan selai. Dia kemudian membawanya ke dapur tempat dimana para pelayan makan.


Tanpa sadar sepasang mata melihatnya. Ya, Marco yang tidak bisa tidur memutuskan untuk berjibaku di ruang kerjanya. Saat tenggorokannya kering dia menuruni tangga. Langkahnya terhenti saat melihat siluet orang dari kejauhan.


Dia meraba dinding dan mengambil pistol. Namun ternyata siluet itu adalah bayangan Gabriela yang sedang mencari sesuatu di dapur.


Dia mengikuti langkah kaki Gabriela . Gadis itu sudah duduk sambil memakan roti tawar. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan saat melihat gadis itu makan dengan lahap di kegelapan malam. Cahaya di dapur remang hanya ada pendar lampu kecil. Gabriela sengaja tidak menghidupkan lampu utama. Takut ketahuan.


Fokusnya teralihkan saat melihat apa yang di konsumsi gadis itu. Hanya dua lembar roti selai dan buah apel. Ada rasa tidak tega namun dia menepis rasa itu. Tidak boleh kasihan buktinya dia selalu saja membuatmu kesal.

__ADS_1


"Sedang apa kau disini" Suara itu membuat Gabriela terkejut. Apel yang setengah sudah tergigit jatuh menggelinding di lantai. Dan lebih terkejut lagi saat menoleh dan ternyata pemilik suara itu Marco.


Gadis itu gelapan. "Tuan" Dia berdiri menundukkan kepala. "Ada yang bisa saya bantu" Gadis itu melihat apel malang yang jatuh tadi masuk ke kolong lemari piring.


"Sedang apa kau?" Tanya Marco menunjuk kolong lemari tempat dimana apel malang itu mendarat.


Gadis itu berjalan kemudian mengambil apel itu. "Sa... saya sedang makan tuan. maaf" Dia menyembunyikan apel itu ke belakang punggungnya. Takut bercampur malu.


"Makan apa itu kau malam malam?" Tanya Marco datar melihat masih ada sisa apel satu lagi utuh di atas piring. "Jam berapa ini".


"Maaf tuan tadi saya ketiduran. Jadi mungkin semua hidangan makan malam pelayan sudah habis" Ungkap Gabriela.


"Memangnya kau tidak bisa memasak untuk mu sampai kau harus makan buah tengah malam?".


Gadis itu melirik kompor listrik di sampingnya. Kemudian dia menggeleng. "Saya makan ini saja sudah cukup tuan"


Marco menghela nafas panjang. Kemudian tangannya menekan remote dan lampu hidup dengan terang benderang. "Duduk disitu" Ucap Marco menunjuk kursi yang di tempati gadis itu tadi. Gadis itu menurut tapi percayalah dia sudah ketakutan.


Marco kemudian mengeluarkan daging dari kulkas, dan juga beberapa sayuran segar.


Gabriela melirik apa yang di lakukan laki laki itu. Aroma daging menyeruak di udara. Perutnya semakin keroncongan. Laki laki itu sedang memasak.


Beberapa menit kemudian Marco meletakkan piring berisi steak daging di depan Gabriela.


"Makanlah"


Gadis itu melirik Marco sejenak. Laki laki itu duduk di hadapannya dengan sebotol air dingin. Ekspresinya datar tidak terbaca.


Takut takut gadis itu menyentuh piring dan mendekatkannya. "Terimakasih banyak tuan".


"Aku hanya tidak ingin ada pelayan yang meninggal di rumahku perkara makan"


Gabriela dibuat bingung lagi kan. laki laki ini kadang baik kadang tidak.


Gabriela tidak lagi buka suara dia mulai memotong daging dengan garpu dan memasukkan kedalam mulut. Wajahnya berubah. Dia tidak berbohong jika masakan laki laki ini enak sekali.


Kemampuan Memasak Marco memang sudah terlatih di masa mudanya. Karena dia juga pernah hidup sendiri.


Setelah selesai makan, Gabriela berjalan menuju wastafel. dia mulai menghidupkan air untuk mencuci piringnya.


Namun Marco melarangnya. " Ini jam 1 subuh sebaiknya kau segera tidur karena besok kau tidak boleh terlambat bangun" Ucap Marco.


Laki laki itu menaiki tangga setelah melihat Gabriela sudah berjalan menuju kamarnya di paviliun belakang.


Setibanya di kamar Marco merebahkan tubuhnya. Sekilas senyum samar terlihat di bibirnya. Tidak tau untuk siapa dia tertawa. Beberapa menit akhirnya dia berhasil memejamkan matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2