
Setelah selesai makan malam, Marco dan Gabriela pamit duluan naik untuk istirahat ke kamar.
Sedangkan Nyonya Reva dan tuan Andika masih menatap Anak dan menantunya yang bergandengan tangan menaiki tangga.
Melihat keakraban ini, tuan Andika seperti mulai ragu. Sampai sekarang pun tidak ada alasan jelas anaknya menikahi gadis itu.
Bukan karena tuan Andika tidak menyukai Gabriela, bukan. Tuan Andika melihat gadis itu lugu dan baik hati jadi tidak ada alasan tuan Andika tidak menyukai Gabriela.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah pernikahan mereka karena cinta atau memang anaknya punya alasan sendiri. Jujur saja tuan Andika tidak yakin anaknya menyukai gadis seperti Gabriela. Kalau memang karena cinta, tidak ada orang tua yang menghalangi kebahagiaan anak.
Dan tuan Andika tidak sejahat itu menentang hubungan anak dan menantunya kalau memang saling menyukai kan.
"Wah... aku jadi senang sekali mama dan papa disini Geby kau jadi patuh dan menurut pada suami mu ini" Marco menepis tangan Gabriela yang mengambil setelan baju tidur. Artinya dia tidak suka warna yang di pilih istrinya.
"Kau pake yang hijau malam ini ya" Senyum Marco menyeringai. Gabriela mengernyit tidak suka. Agar tidak memperpanjang masalah akhirnya Gabriela menerima setelan itu lalu berbalik ke kamar mandi ingin berganti baju.
"Ganti disini saja!" Marco malah menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Cepat!"
Kurang ajar!
"Tapi sayang, apa tidak sebaiknya anda ke kamar duluan saya akan ganti baju" Jangan gila ya! Kau tidak malu ganti baju di depanku. Tapi aku malu gila!!!
"Memangnya kenapa kalau aku disini" Marco berdecak. "Atau mau aku yang gantikan baju mu?" Kesal juga akhirnya. Gabriela masih bersikukuh tidak mau ganti baju kalau ada Marco, sementara Marco sudah ingin naik ke atas tempat tidur rebahan sambil pelukan, telusup sana sini menjahili istrinya.
Gabriela menahan marah. Pada akhirnya dia menanggalkan pakaian satu persatu, kemudian memakai setelan baju tidur yang mirip bikini.
Puas!
Marco tersenyum tipis penuh makna. "Ayo tidur"
Gabriela merebahkan dirinya terlebih dahulu. Marco masih berdiri di ujung tempat tidur. Dia tersenyum licik melihat istrinya sudah bergulung.
Warna bajunya manis juga ya. Marco iseng iseng manarik selimut istrinya. Gabriela yang sudah telentang panik sendiri. Dia meraih bantal menutupi tubuhnya.
"Kau seperti ulat hijau Geby" Marco terbahak sambil melompat ke atas tempat tidur. Mendekap gadis itu dengan erat. Seperti biasa dia mulai menciumi leher istrinya sambil meraba sana sini.
Gabriela menggeliat kesana kemari. Marco Gemas sendiri jadinya. Setelah puas bermain main, Marco menarik istrinya kedalam dekapan.
Sambil menyisir rambut istrinya dengan jari. Marco mulai terpikir dengan ucapan ayahnya semalam. Tentang alasan Marco menikahi gadis di dalam dekapannya ini.
"Geby"
Apa lagi sih! Gak ada lelahnya sedikit pun.
"Kau jangan pura pura tidur ya, atau kau akan tau akibatnya" Marco sudah melepaskan dekapan. Gabriela buru buru mengeratkan kembali. "Iya sayang aku dengar bicaralah"
Tidak usah sok dramatis kalau hanya ada mau mu gila! Tidur saja langsung apa susahnya. Tiada hari tanpa makian.
"Apa kau masih ingat perjanjian kita"
Deg deg deg
Inikan yang selalu aku takutkan. Jantung Gabriela mulai berdetak perlahan. Aku ingat tuan, ingat. Aku ingat aku siapa mu.
"Iya tuan aku ingat" Gabriela menyiapkan hati untuk mendengarkan kelanjutan apa yang mau di ucapkan suaminya.
__ADS_1
"Baguslah kalau kau ingat" Marco merasakan dekapan istrinya mengendur. Gabriela kadang lupa siapa dirinya, apalagi kalau Marco memperlakukan dengan manis. Hatinya rapuh saat laki laki ini memperlakukannya dengan baik.
Aku takut! aku takut hatiku jatuh padamu padahal nanti kau mencampakkan aku akhirnya. Gabriela berharap Marco segera menceraikannya. Namun apa daya, Gabriela bahkan tidak berani menyinggung perceraian. Karena aku pergi ke rumah ibu saja kau sudah marah.
Tapi bagaimana akhir dari semua ini. Kau yang masih nyaman memainkan aku. Sementara aku tidak mau terlalu lama terikat dengan mu. Gabriela menggigit bibirnya kelu menahan sesak di dadanya. Dan bagaimana nanti kalau aku hamil anak mu. Karena kau tidak henti hentinya meniduri ku.
Kali ini Gabriela tidak merasa malu karena berani mengatakan kosa kata menjijikkan ini walaupun dalam hatinya.
Deg...deg... deg....
Detak jantung Gabriela semakin berpacu dengan kencang. Aku belum juga menstruasi sampai hari ini. Padahal biasanya tanggal segini kan darah menstruasi ku sudah keluar
Saat mengingat malam malam yang telah berlalu, malah jadi sakit hati yang ada. Kenapa kau memilihku untuk jadi mainan mu. Kan banyak wanita di luaran sana.
Kalau memang aku harus jadi pelayan ataupun budak mu untuk membayar utang Tante Mahalini aku rela walaupun itu seumur hidup. Tapi jangan buat aku jatuh hati padamu ujung ujungnya kau melemparkan aku ke jurang.
Aku takut jika nanti aku yang malah tidak bisa jauh darimu. Sekarang saja jika boleh jujur aku mulai nyaman kalau kau baik padaku. Membantuku bahkan menolong nyawaku.
Ku mohon suruh aku pergi darimu. Aku masih terlalu kecil untuk mengenal patah hati. Aku mau bebas.
"Mama sepertinya sayang pada mu Geby " Marco malah mengabaikan soal kontrak perjanjian. Jarinya masih terus menyisir rambut gadis yang tidak bergerak itu sama sekali.
Hanya detak jantungnya yang terdengar dan juga hembusan nafas. Pergerakan sama sekali tidak ada. Tapi Marco tau Gabriela belum tidur.
"Mama memang sangat baik kami mengobrol banyak tadi" Mama banyak membanggakan mu.
"Kalian bicara apa? menggosip tentang aku?" Marco menebak.
"Kok tau?"
"Kami tidak menggosip kok. Hanya cerita tentang anda saja dan masa kecil anda" Gabriela menggambar pola abstrak pada dada suaminya yang terbuka. Menusuk nusuk seperti mengukur sekeras apa otot pria ini.
"Mama bilang apa padamu tadi?" Marco menangkap tangan nakal istrinya, menggigit gemas sampai si empunya menjerit.
"Mama bilang anda itu baik hati, pekerja keras ,suka menolong dan juga..." Kalimat menggantung di udara. Tidak,tidak. Aku tidak mau mengatakan ini.
"Dan apa?" Di luar dugaan Marco penasaran dengan apa yang dikatakan mama. "Dan apa Geby?" Iseng iseng Marco menarik rambut Gabriela agar gadis itu bersuara.
"Kata mama aku gadis yang beruntung mendapatkan kasih sayang anda" Walau terbata Gabriela akhirnya berhasil mengucapkan seperti yang dikatakan oleh nyonya Reva.
"Dan kau percaya" Marco penuh selidik. Ekspresi istrinya biasa saja. Tidak menghangat atau senang.
"Hehehe mana mungkin saya percaya tuan. Mama hanya karena tidak tau aku siapa dan hubungan kita bagaimana" Walau terdengar ringan percayalah Gabriela sebenarnya tidak sekuat itu. Gadis itu menggigit bibirnya kelu merasa tertohok dengan ucapannya sendiri.
"Baguslah kalau kau tidak percaya" Bodoh! Marco menyudahi aktivitasnya menyisir rambut Gabriela. Memangnya kau masih bisa pergi dariku?
Marco kesal sendiri. Kenapa ada wanita sebodoh kau? Memangnya apa lagi yang kurang perbuatanku padamu?
Marco semakin geram sendiri, ya ya ya baguslah kau bodoh. Kebodohan mu memang berlipat ganda Geby. Dan tetaplah bodoh. Aku tidak mau kau pintar karena orang pintar berpotensi jadi penghianat. Kalau kau pintar bisa saja kau jadi penipu seperti Tante mu.
"Tapi aku tidak akan melepaskan mu Geby Sampai kapan pun"
Kali ini Marco menelusuri leher istrinya dengan kecupan. "Jadi jangan pernah berfikir lari dari ku walaupun Tante mu menjemput mu"
Dia penjahat. Aku tidak mau kau memiliki hubungan dengan penjahat.
__ADS_1
Kenapa? kenapa kau tidak mau melepaskan aku? Kau kan bisa menikah dengan wanita yang sesuai selera mu.
"Sayang" Gabriela sepertinya harus mulai membicarakan tentang kejauhan hubungan ini. Tapi bagaimana ini, aku tidak berani menyinggung lebih. "Aku tidak akan lari sayang percayalah. Aku akan pergi kalau utang Tanteku sudah benar benar lunas"
Dahlah. Aku akan menerima nasib ku dengan lapang dada. Semua akan baik baik saja Geby.
Marco mengepalkan tangan. Jadi kau masih berpikir meninggalkan aku? wah wah wah.
Marco geram sendiri. Lantas untuk apa aku baik padamu kalau ujung ujungnya kau meninggalkan aku?
Ah Kalau aku jadi Tuhan,kurasa aku pun bingung melihat isi hati kedua manusia ini. Sama sama takut. Yang satu takut jatuh cinta semakin dalam. Yang satu lagi takut di tinggal.
Berarti sama sama suka kan?
.
.
.
Gerald tidak tau harus menjawab apa pada tuannya. Aku mana tau apa yang anda rasakan tuan lagi pula kenapa anda galau begini.
"Gabriela bahkan menunggu kapan waktunya hutang tantenya lunas agar dia pergi dariku" Marco menyandarkan punggungnya di sofa. Setengah mencengkeram sambil menghela nafas.
Utang Mahalini bukanlah uang sedikit. Bahkan jika di lunasi dengan pekerjaan sebagai pelayan mustahil bisa lunas sampai 70 tahun ke depan. Lantas apa yang anda takutkan. Nona Gabriela secara tidak langsung sudah terikat pada anda seumur hidupnya. Tinggal pengakuan anda saja. sekarang anda sudah mencintainya atau belum. Kalau cinta kenapa masih sembunyi begini tuan. Toh semua musuh anda sudah mengetahui tentang nona Gabriela. Untuk apa masih sembunyi.
"Kenapa anda tidak mencoba membuka hati pada nona tuan" Marco melotot. Apa matamu buat selama ini. Apa kau tidak melihatku baik padanya. Dan kau masih bilang aku belum membuka hati sialan.
"Sudah lah Ger. percuma bicara padamu. Kau tidak tau apa apa"
Gerald panik sendiri. Anda kan yang membuat semua semakin rumit. Jelas jelas anda menyukai nona tapi anda masih ngeles begitu. Anda tau kan istri anda polos. Nona mana tau kalau anda baik hati itu artinya anda suka pada nona. Ah aku pun jadi pusing.
"Nona tidak akan bisa lari dari anda tuan" Hanya kata ini yang bisa aku ucapkan untuk menenangkan pikiran anda yang semakin bodoh tuan.
"Aku tau dia tidak bisa lari dariku!" Marco geram lagi. "Tapi bagaimana kalau dia berhasil melunasi utang utang Mahalini! Kau paham kan! Kau tidak bodoh kan Ger!"
Iya juga ya. Gerald mengepalkan tangan. Max masih mengincar perusahaan yang masih jadi momok bagi para perusuh yang mempertahankan kekuasaannya.
"Kalau anda dan nona saling mencintai, tidak akan mungkin ada perpisahan tuan percayalah"
Marco memijat kepalanya. Masalah hanya berputar putar disini saja. Tidak ada titik temu untuk mengakhiri pembicaraan dan mendapatkan solusi.
"Jadi aku harus jatuh cinta padanya dan dia jatuh cinta padaku begitu?" Marco mencibir seolah mengatakan hal mustahil apa yang kau katakan Ger!
"Tapi bagaimana caranya. Bagaimana caranya agar aku bisa jatuh cinta padanya"
Gerald mengernyit. Kenapa anda masih menyembunyikan perasaan anda tuan. Jelas jelas anda sudah mencintai nona. Menginginkan nona disamping and selalu. Tapi anda masih berlagak seolah anda yang sedang belajar mencintai nona.
"Anda kan yang paling tau tentang nona tuan"
Biadab kau Ger! Marco kesal sendiri jadinya. Kau bukanya memberikan aku solusi malah menyuruhku berpikir keras bagaimana cara membuat Gabriela jatuh cinta padaku.
Sampai mereka memasuki kawasan perusahaan Adicipta group. Titik terang mengenai kerangka yang mereka bicarakan tadi belum temu.
Bersambung
__ADS_1