Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Pertarungan di atas tempat tidur


__ADS_3

Setelah dokter meresepkan obat pulang akhirnya Gabriela dan Marco meninggalkan rumah sakit. mereka pulang berbeda mobil dengan Nyonya Reva dan Tuan Andika.


"Terima kasih telah menolongku" di sela-sela perjalanan membuka suara tanpa melirik Marco di sampingnya.


"Aku tidak mau kau mati padahal kau masih memiliki banyak hutang padaku" Marco menyeringai. Sambil menambah kecepatan mobil agar segera sampai di rumah. Sudah dua minggu dia tidak menghabiskan waktu dengan Gabriela. Semenjak kedatangan orang tuanya Gabriela lebih banyak menghabiskan waktu bersama nyonya Reva.


Cih!


Memangnya apa yang kau inginkan lagi Gabriela. Sudahlah masih ada waktu untuk menjauh. Jangan siksa dirimu mencintai laki-laki yang tidak mencintaimu sama sekali. jangankan mencintai melirikmu pun tidak.


Jangan terlena karena dia menyelamatkan mu. Ingat dia hanya tidak mau kau mati meninggalkan hutang padanya. Kau paham kan sejauh ini dengan posisimu.


Jangan mimpi mendapatkan kesempatan memiliki tuan Marco.


Gabriela menertawakan dirinya sendiri yang memiliki otak bodoh dan mudah terprovokasi.


Hanya di belai sedikit sudah jatuh hati. Dasar hati lemah. Hei mulut biadap! jangan banyak bicara ya. Sok menyalahkan lagi. Hati Gabriela berperang dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa kau diam saja" Marco merasa tidak puas ketika istrinya hanya mengucapkan terima kasih setelah itu diam seribu bahasa. Tidak! dia bahkan memalingkan wajahnya padaku.


"Kau tidak senang aku datang menyelamatkan mu" Marco merasakan kehadirannya seperti Hero untuk Gabriela.


"hehehe iya sayang senang sekali rasanya anda menolong saya" Kembali lagi memalingkan wajah.


"Lantas kenapa tidak memberikan aku hadiah" Ide ide di kepala Marco memang tidak akan ada habisnya. "Aku ingin hadiah Geby" pancing terus. Marco menunjuk pipinya mengatakan jika dia ingin di hadiahi ciuman.


Gabriela melepaskan seatbelt kemudian sedikit bangkit dari duduknya.


"Geby aku tau kau ingin sekali kan menciumiku. Tapi bisakah kau sabar sebentar lagi. Rumah kita tidak terlalu jauh lagi kok" Marco menyeringai dengan senyum di bibirnya.


Dasar gila! tadi kau kan yang ingin di berikan hadiah!


Sekarang setelah aku mau mencium mu kau malah meledekku. Gabriela mayun dan kembali memasang seatbelt di tubuhnya. Siapa juga yang ikhlas mencium mu alien!


Cih! kau bahkan terlihat bahagia sekali ya. Kenapa? karena kau baru bertemu dengan wanita pujaan hati mu. Kalau begitu tinggalkan aku! ceraikan saja aku apa susahnya dan kau bisa hidup bahagia dengan perempuanmu.


Rasanya Gabriela tidak terima jika dia berstatus istri tapi Marco memiliki pujaan hati yang lain. Bukan iri tapi tidak terima saja.


Mobil memasuki kawasan perumahan. Nyonya Reva merapikan tempat tidur, kemudian Marco meletakkan Gabriela di atasnya.


Aku seperti bayi saja


"Ma" Marco memberikan kode agar nyonya Reva keluar. Dan wanita paruh baya itu menangkap kode tersebut. "Baiklah Geby istirahat ya. kalau ada apa apa hubungi mama"


Gabriela mengangguk bersamaan dengan nyonya Reva keluar dari kamar.


"Sekarang mana hadiahku" Marco sudah duduk di tepi tempat tidur. Menunggu istrinya menghadiahi ciuman.


Huh! Kau tidak lupa ya. Gabriela bangun dan memberikan ciuman di bibir suaminya.


"Terimakasih sayang sudah menolongku" Dan setelah ini tolong ceraikan aku. Wajah Gabriela pias lagu.


"Hei aku tidak menyuruhmu tidur" Hanya sekali cium saja? Marco kesal padahal dia sudah berharap Gabriela akan bergelayut manja dalam pelukannya menumpahkan rindu seperti tadi ketika Gabriela menghambur kedalam pelukannya.


"Geby"


"Jangan sentuh aku" Marco terkejut mendengar kemarahan Gabriela padanya. Hei gadis kecil ada apa dengan mu. Apa kau kerasukan setan.


Gabriela membungkus tubuhnya di dalam selimut. "Sana pergi temui wanita mu"


"Hahahaha" Tawa Marco pecah. Dia melirik istrinya sibuk membungkus tubuhnya di bawah selimut. "Geby" Tangan Marco sudah merayap di tempat tidur.


"Jaga batasan mu Geby. Aku tidak peduli kau sedang sakit jika aku marah kau bisa tidak tidur semalaman" Karena aku tidak tahan melihat tingkah gemas mu.

__ADS_1


Marco menggigit betis Gabriella yang terekspos.


aw aw... sakit! Dasar Alien gila! Gabriela memaki sambil membuka selimut yang membungkus tubuhnya.


"Sakit tau" Bibirnya mengerucut.


"Makanya jaga batasan mu" Marco menjatuhkan tubuhnya disamping Gabriela. Tangannya terulur agar gadis itu mendekat padanya. Namun Gabriela bukannya mendekat namun malah membuat jarak.


"Hei" Suara Marco sudah terdengar kesal sekali. "Kau mau membuatku marah Geby" Marco sudah ingin menarik paksa gadis itu kedalam dekapannya. Tunggu, aku lihat sejauh mana kau melawan padaku. Marco semakin tergelak saat Gabriela memberikan guling sebagai pemisah.


Jangan menyentuh aku lagi. Sana sentuh wanita mu. Tapi, bagaimana kalau dia benar benar marah ya. Gabriela melirik pria itu sudah duduk. Mampus dia marah.


"Aku kesal padamu Geby" Marco menyandar di headboard tempat tidur. "Kau mengacuhkan aku padahal aku begitu mengkhawatirkan mu sepanjang malam"


Glek! Gabriela menelan Salivanya.


Apa itu hei! jangan bersandiwara di situ ya. Bisa bisanya kau merasa tersakiti. Dan kenapa itu wajahmu seperti terluka begitu. Kau pintar sekali berakting ya.


Kok aku jadi merasa bersalah ya. Ah persetan toh kau punya wanita lain kok.


"Aku kecewa Geby" Suara Marco terdengar lemas tak berdaya, dia tidak sadar suaranya seperti ini membuat Gabriela merasa bersalah dan berutang. Marco meremas tempat tidur karena Gabriela sama sekali tidak terpancing untuk membujuknya.


"Sudahlah tuan. Jangan seperti ini" Ku mohon jangan buat hatiku semakin jatuh. Cukup sampai disini. Aku tidak mau hatiku terluka setelah batinku.


"tuan!" Intonasi Marco sudah menunjukkan ketidaksukaan. Pria itu bangkit dan mengunci Gabriela di bawah kungkungannya.


Ngapain kau naik ke atas ku gila? gak pake baju lagi! Glek


Gabriela menelan ludahnya. Kok dia marah tapi masih tampan ya? Kalau ku balas marah gimana kira kira.


"Kau sepertinya senang ya dihukum" Marco menyambar bibir Gabriela, namun gadis itu menolak. "Kau menolakku?" Marco


"Iya!! Aku menolak mu kenapa! tidak senang?"


"Hahahah"


Malah ketawa!


"Sudah berani melawanku ya?" Marco menunjuk dirinya yang tersungkur tapi masih di atas tempat tidur akibat dorongan keras istrinya. Seperti mengatakan lihat ulah mu ini.


Kau kenapa sih?


"Kau berani melawanku tapi kau tidak berani melawan orang yang menculik mu" Marco menuding kening Gabriela, gadis itu memejamkan mata. "Seharusnya kau lawan bodoh"


"Huh! makanya tuan jangan terlambat datang" Gabriela tersenyum menyeringai bahkan terlihat bangga. "Aku bahkan meninju wajahnya begini"


Bugh!


Gabriela gemetar melihat tangannya yang dia gunakan meninju wajah Marco. Dasar otak sialan!!!!


Kenapa kau malah mempraktekkan cara meninju mu ke wajah tuan Marco gila!


Yang lebih parahnya lagi sepertinya tinjuan Gabriela sangat kuat. Terbukti wajah Marco oleng ke kanan.


Bagaimana ini! Dia marah,ia marah! habis lah aku. Apa apa an tangan gila ini!


"Sayang maaf!" Gabriela memeluk wajah Marco. Mendekap nya dengan erat penuh rasa bersalah. "Tangan ini memang nakal" Gabriela memukul tangannya sendiri ke atas meja. Pukul lagi, pukul terus sampai dia meringis sendiri.


"Geby!!" Suara Marco datar.


Eh dia tidak marah? Gabriela melerai pelukannya sambil memegang wajah Marco. "Sayang maafkan aku" cup cup cup.


Biar saja aku terlihat bodoh di depanmu. Tidak! aku memang bodoh. Gabriela menciumi pipi Marco yang dia tonjok tadi.

__ADS_1


"Jadi kau sudah pandai sekarang ya?" Marco menyeringai. "Ayo kita buktikan siapa paling kuat" Hia!! Marco melompat dari tempat tidur menuju sebuah ruangan.


Mau kemana dia?


Se perdetik kemudian dia keluar sambil membawa dua pasang sarung tinju di tangannya. "Ayo Geby lakukan! aku mau lihat sejauh mana ilmu mu" Marco melempar sepasang sarung tinju ke pangkuan istrinya.


Apa ini gila! kau mau menyuruhku ngapain? meninju tembok? Dia melirik suaminya yang pergi lagi ke walk in Closet.


"Ganti baju mu dengan ini Geby" Marco melempar satu set pakaian olah raga pada istrinya. Gabriela mengernyit tidak paham.


Ngapain sih! kau lagi hanya pakai celana pendek ketat begitu.


"Pakai!" Marco melompat lompat di lantai sambil meninjau udara. Pemanasan. "Cepat Geby!"


Ia ia! Gabriela buru buru mengganti bajunya dengan set olah raga, kemudian memakai sarung tinju di tangannya. Melihat itu Marco menyeringai, seketika dia melompat ke atas tempat tidur.


"Ayo lawan aku!" Marco meninju kecil kepala Gabriela. Gadis itu langsung terbalik, untung tempat tidur itu empuk dan luas jadi tidak sakit sama sekali.


"Ayo! bangun kau jagoan. Lawan aku" Marco melompat lompat kecil di atas tempat tidur sambil meninju udara menunggu Gabriela bangun.


Gadis itu perlahan bangun. "Apasih sayang! kita seperti sedang berada di ring"


Marco menendang selimut dan juga bantal ke lantai, jadi tempat tidur king size milik Marco lempang seperti arena kecil.


"Hahaha bangun kau lawan aku" Marco meninju tangan Gabriela hingga gadis itu terpental lagi.


kurang ajar.


"Ingat Geby! kau harus menang. Karena siapa yang kalah akan mendapatkan hukuman" Marco menyeringai.


"Memang hukumannya apa kalau aku kalah" memangnya aku ada harapan memang melawan mu gila!


"Aku akan membuatmu tidak tidur satu malaman" Tawa Marco pecah. "Jadi kalahkan aku, karena kalau aku kalah maka kau yang akan melakukannya padaku" Marco menyelipkan kedipan matanya.


Kalau aku kalah dia akan melelahkan ku. Kalau dia kalah maka aku yang melelahkan dia. Inikan sama saja kau menuju goal yang sama tapi cara berbeda sialan. Licik sekali.


"Aku tidak setuju!" Tegas Gabriela. Kau saja akhirnya yang akan di untungkan.


"Kalau begitu terserah padamu mau melakukan apa kalau kau menang" Kuberikan kau kebebasan memilih


"Benarkah???" Gabriela berbinar senang. Hia! Gabriela meninju perut Marco dengan keras. "Hahaha kau kalah"


"Tidak sayang aku tidak akan kalah" Marco mengambil ancang-ancang untuk mencari bagian mana yang akan dia tinju tapi tidak memilik efek samping untuk istrinya.


Tinjuan Marco di halangi Gabriela. Gadis itu melayangkan pukulan balik. Mereka akhirnya saling serang di atas tempat tidur yang sudah mereka jadikan sebagai arena pertunjukan dan penontonnya tentu saja tidak ada.


"Ahhhh sakit" Suara Marco menjerit karena Gabriela curang, malah menggigit paha Marco dengan keras. "Kau duluan kan menggigit telingaku" Gabriela tertawa lepas saat Marco meniup niup bekas gigitannya.


"Kau ya" Marco menyerang Gabriela. Kali ini mereka bergulat di atas tempat tidur dengan posisi ekstrim.


Seandainya ini di dunia nyata wasit pun bingung melihat ini turnamen apa. Dibilang tinju tapi malah saling menggulat. Dibilang gulat tapi mereka menggunakan sarung tinju.


Jadi olah raga apa yang sedang kalian pertandingkan wahai kedua insan manusia! Sekarang posisi Gabriela di atas. Dia duduk di perut Marco dengan suaranya yang terbahak bahak sambil meninju wajah Marco dengan keras. Tentu saja Marco tidak merasakan apa apa.


"Ahh Geby jangan lakukan ini padaku!" Marco berakting seperti sedang di santap istrinya. Tapi tentu saja suara memancing semangat istrinya.


Akhirnya Marco menumbangkan istrinya ke samping. Kemudian mengunci pergerakan istrinya sambil mengecup keras lehernya sampai merah.


"Ahh sayang!" Gabriela menjerit. Sesuatu masuk ke dalam bajunya. Balas lagi, balas lagi. Mereka memang layaknya sedang bertarung.


Suara mereka seperti menghidupkan suasa kamar. Tidak! suasana rumah juga hidup.


"Apa yang kalian lakukan!" Pintu terbuka. Keduanya langsung bubar. Gabriela melompat ke belakang punggungnya Marco sedangkan Marco menatap dengan kesal.

__ADS_1


Menggangu aja!


__ADS_2