Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Perkara air panas


__ADS_3

Gabriela yang baru saja duduk di sofa tiba tiba berdiri saat mendengar teriakan Marco dari dalam kamar mandi. Gadis itu setengah berlari. Dia buru buru masuk kedalam kamar mandi sambil memegang jantungnya yang hampir melayang tadi.


"Kau mau membunuhku?" Marco sudah berdiri sambil menutupi bagian bawah seadanya menggunakan handuk kecil. Sorot matanya yang tajam itu selalu saja menyidang andrenalin Gabriela.


Apa yang salah? bagaimana itu tatapan nya tajam sekali.


"Maaf tuan. Ada apa ya?" Gadis itu memang tidak tau apa kesalahannya. Lalu dia bertanya. Marco menjawab dengan lirikan mata. Mengatakan jika Air itu berbahaya. Gabriela mendekat. Mengulurkan tangannya. "ssshhh"


Gadis itu baru sadar bahwa air yang diisi dalam bath up adalah air panas. bagaimana bisa aku lupa mencampurnya dengan air dingin. aaa mampus aku. bagaimana ini tatapannya! tatapannya selalu membuatku takut!


Gabriela duduk bersimpuh di belakang punggung Marco memegang saleb kecil di tangannya. "Berani sekali kau berniat membunuhku" Masih meluapkan kemarahannya. Kemarahan yang dibuat buat.


Melihat wajah Gabriela merasa takut kok aku merasa sangat bahagia ya.


Lihat! Dia bahkan menyentuh punggungku dengan sangat hati hati.


"Auhh" Gabriela refleks meniup punggung Marco mendengar suara itu. Gadis itu benar-benar merasa bersalah sekali. Karena kelalaiannya punggung Marco merah. Tidak hanya punggung kaki juga. Bisa jadi sebentar lagi itu akan membiru menggelembung berisi air. Pasti pedih sekali, seperti aku waktu itu.


bagaimana aku bisa se lalai ini.


"Kau semakin berani melewati batasan mu ya" Marco membuka suara lagi mengganggu ketenangan Gabriella yang sedang fokus mengoles salep di punggungnya.


"hukum saja aku Tuan!" Gadis itu pasrah. "Pukul aku,a..aku tidak akan keberatan" kesalahanku ini memang sama sekali tidak bisa lagi di toleransi. Mendengar itu Marco bukan senang, tapi malah prihatin. Bagaimana bisa gadis kecil tidak berdaya itu pasrah begitu saja.


"Tentu saja aku akan menghukum mu setelah ini" Seringai tipis yang mengancam. Cih! dasar gadis bodoh. Tadi kau kan yang pasrah di hukum. Lantas kenapa tangan mu gemetar. Jangan jangan kau sudah menangis di belakangku. Marco membalikkan badan. Dan yang dia lihat bukan air mata. Tapi wajah polos yang gemetar karena merasa bersalah.


"Kau menangis" Wajah lugu itu menggeleng. Jarinya masih gemetar. Mata teduh itu tetap terlihat menunjukkan rasa bersalah.


"Punggung anda perih ya tuan. Berikan lagi saya akan mengoles sampai semua terkena" Dia berusaha mencari cara menghindari tatapan intimidasi Marco. "Nanti punggung anda akan melepuh jika tidak segera di obati" Lagi lagi raut wajah khawatir.

__ADS_1


Marco akhirnya membalikkan badan lagi. Sial! Kenapa wajahnya semakin menggemaskan gitu. tidak tidak bukan menggemaskan tapi manis. Manis saat raut wajahnya merasa bersalah. Sepertinya fakta baru ini mulai tersimpan di kepala Marco. Gabriela manis ketika merasa bersalah. Marco tergelak sebentar lagi akan semakin banyak hiburan tentang gadis polos ini.


Aku akan menemukan cara bermain yang tidak bosan bersamamu. Haha


Marco memejamkan mata. Menikmati sentuhan Gabriela. Sebenarnya walaupun punggungnya merah tapi itu sama sekali tidak sakit baginya. Dia hanya ingin melihat setulus apa gadis ini.


Memejamkan mata sebentar, merasai tangan Gabriela semakin turun ke bawah. Ada gejolak yang terpancing tiba tiba. Marco membuka mata sambil mengatur nafas. Namun seketika mata itu terpejam lagi.


Ahh persetan!


Marco membalikkan badannya. Gabriela yang sedang fokus langsung panik. Apalagi saat Marco malah semakin mendekatkan diri. Gabriela menghindar namun terlambat. Marco menghambat dengan tangan.


Wajah Marco semakin dekat. Gabriela reflek mundur hingga mentok di head board tempat tidur. "Aku memintamu mengoles seleb di punggungku! kenapa kau malah menggerayangi tubuhku hah!" Sial! bagaimana bisa bibir mungilnya mengalihkan fokus ku. Marco menelan ludah.


"Aku.. aku.." hmhmhmh Bibir Marco menyatu dengan bibirnya. Gadis itu beringsut menjauh karena terkejut dengan serangan tiba tiba tapi tidak segampang itu Ferguso. Marco sudah menyiapkan bek bertahan untuk mengantisipasi ancaman. Tidak bisa menolak akhirnya dia pasrah. Apalagi saat Marco mulai lari dari jalur. Bibirnya menempel di ceruk mungil sambil mulai melakukan tindakan kriminal. Gabriela mencengkeram bantal. Merasakan sensasi gigitan laki laki gila ini.


"Kau siap dihukum kan?" Gabriela masih dengan posisi strategis. Sedangkan Marco di atasnya. Posisi yang tepat untuk memulai serangan. Gadis itu kehabisan akal sehat. Dia mulai lelet saat berpikir. Dekatnya wajah mereka benar benar membuat buntu otak Gabriela.


"Kau sudah membuat punggungku merah bahkan melepuh! dan kau masih bisa bertindak diluar batasmu!!" Marco meremas perut Gabriela. Gadis itu menjerit. Dan serangan kedua benar benar terjadi. Marco membungkam mulut Gabriela dengan bibirnya. "Aku tidak akan semudah itu melepaskan kelancangan mu hampir membahayakan nyawaku"


Tangan Marco menahan kedua tangan Gabriela di atas kepala. Bibirnya sibuk menjelajah. Sedangkan satu tangannya sudah bergerilya di balik punggungnya Gabriela. Gadis itu meronta dengan sekuat tenaga.


Walau tenaga ku tidak bisa melawan tenagamu, tapi aku menolak cara mu menghukum ku. Aku tau ini salah! ini sama sekali salah! jangan paksa aku. Air mata Gabriela jatuh saat merasakan ada sesuatu yang lepas di punggungnya. Bibir Marco sibuk mengukir lukisan kemerahan di punggung Gabriela.


Walau dia gadis yang lugu. Namun Gabriela tidak sepolos itu mengenai hal seperti ini.


"Saya mohon tuan jangan lakukan ini" Saat tenaga sudah tidak ada lagi. Gadis itu memohon lewat sorot matanya. Air mata semakin deras. Marco menghentikan aktivitasnya. Gabriela perlahan duduk menarik selimut menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Kaos yang dia pakai tadi entah sudah dimana melayang.


"Hukum aku dengan pukulan tuan, bikin punggungku merah. Aku rela. Tapi jangan lakukan ini padaku. Aku mohon" Mata jinak Gabriela malah semakin memancing emosi Marco. Dia membanting pintu dan kemudian masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Marco mengatur deru nafasnya di kamar mandi. Dia menendang sesuatu di lantai hingga menimbulkan suara yang keras. Bagaimana bisa perempuan lusuh dan jelek menolaknya secara terang-terangan.


Padahal mereka sudah sah jadi suami dan istri.


Marco melihat sendiri Bagaimana Gabriela memohon padanya. Memohon agar aktivitasnya dihentikan. Itu artinya Gabriela tidak siap dengan Marco. Seolah yang dia lakukan tindakan pemerkosaan. Tapi kenapa? kenapa dia bahkan menolak ku? perempuan mana pun akan suka rela naik ke atas tempat tidur berperang denganku. Ini Gabriela lho! Gadis kecil jelek yang lusuh. Marco mengeraskan rahangnya. Disisi lain dia tidak bisa memaksa wanita kan? hubungan dilakukan atas dasar mau sama mau.


Marco buru-buru mengguyur tubuhnya di bawah luncuran air. Dia memukul dinding dan memaki hari ini. Tidak dia memaki dirinya sendiri.


Dari sekian banyaknya gadis yang menyodorkan diri padanya, Kenapa harus Gabriela yang terlihat oleh matanya. padahal Gabriela sendiri menolaknya.


Bugh! lagi-lagi pukulan di dinding terdengar.


ini adalah pertama kalinya dia merasakan ingin sekali bermain. Namun harapannya pupus.


Marco marah, kecewa dan merasa disakiti oleh penolakan Gabriela. Dia tidak tahu apa yang dirasakan Gabriela. Gadis belia yang harus menanggung hutang. Tidak tahu apa-apa dan lebih parahnya lagi dia adalah tumbal keserakahan orang lain.


Saat Marco keluar dari kamar mandi. Dia melirik Gabriela sudah duduk di sofa. pakaiannya sudah lengkap dan rapi bukan seperti tadi yang acak-acakan.


"Aku mau melihat sejauh mana kau berani menolak ku! dan aku mau lihat kau masih bisa menolakku besok atau tidak" Marco naik ke atas tempat tidur. Suasana hatinya berubah menjadi buruk kesal dan juga marah. marah bercampur dengan rasa malu.


"Kau mau tidur disitu?" Ketus.


Aku mana berani mendekat sedangkan wajahmu sudah seperti ingin memakan ku.


"Saya akan tidur di sofa hari ini tuan jangan khawatir" Gabriela sudah menyiapkan tembok pertahanan. Dia tidak mau sampai harus mengambil resiko jika tidur di samping laki-laki itu.


"GABRIELA!!!" mendengar namanya disebut dengan keras, Gadis itu beringsut. Dia mendekat ke tempat tidur. Laki laki itu sudah bergulung dengan posisi miring membelakanginya. Namun Marco masih kesal. Tangannya terkepal apalagi lagi saat merasakan gerakan Gabriela yang takut takut naik ke atas tempat tidur.


Aku seperti seorang penjahat saja di matamu bodoh!!!

__ADS_1


Bersambung.....


Bersambung....


__ADS_2