Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Malam akhir pekan tuan Marco


__ADS_3

Malam semakin larut. Setelah makan malam selesai. Semua pekerja kembali ke kamar masing masing. Hanya dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu di sebuah pos kecil yang di lengkapi dengan fasilitas layaknya rumah.


Ada televisi dan juga AC sebagai pendingin. Dua pengawal tadi sudah mobile ke seluruh sudut rumah, memastikan keamanan. Setelah itu mereka duduk sambil menyeduh kopi membuka sebungkus cemilan dimakan berdua. Mereka mengangkat kaki sambil meninjau keamanan dari layar CCTV.


Akhir pekan adalah hari istimewa untuk semua pekerja di rumah utama. Minggu pagi mereka tidak harus melakukan pekerjaan seperti biasa.


Pak Haris sudah menentukan dua orang pelayan yang menyiapkan sarapan pagi untuk tuan Marco dan nona Gabriela.


Jadi pelayan bagian dapur, ruang tengah dan juga bagian londry pakaian bisa bebas bangun kesiangan. Itu adalah sebagai hari off mereka. Waktu yang mereka pakai untuk menghubungi orang tuanya masing masing. Mengobrol panjang lebar menceritakan ini dan itu.


Gabriela menatap dirinya di depan cermin. Dia frustasi sendiri melihat baju menjijikkan ini menempel di tubuhnya. Bagaimana bisa baju kurang bahan seperti ini dijual dengan harga mahal. Dia kesal tidak suka memakai baju seperti ini. Hanya orang yang tidak normal yang mau memakai baju seperti ini.


Gabriela membuka lagi lemari baju. Mencoba mencari pilihan baju yang lebih sopan tapi, Gabriela frustasi.


Dia membanting pintu lemari dengan kekuatannya.


"Kenapa kau kesal?" Sebuah suara bariton yang mengejutkan Gabriela. Hah! sejak kapan? sejak kapan manusia alien ini disini. Tidak bagaimana tadi dia marah bukan lemarinya aku banting.


Eh dia melihat apa? Gabriela mengikuti tatapan Marco.


Aaa.... Gabriela menjerit dalam hati. Kenapa sih matamu membulat begitu. Gadis itu menyambar kimono dari gantungan. Langsung menutupi bagian tubuhnya. Aku tau apa yang kau lihat sialan. Gabriela memaki dalam hati.


"Hahaha" Idih pake ketawa segala lagi. Gabriela menggerutu di dalam hati. Marco malah semakin gemas dan tertarik melihat ekspresi istrinya.


"Sudah ya sayang...aku sudah menuruti kemauan anda memakai lingerie kan" Gabriela masih merengut. "Aku buka ya"


"Dengan senang hati geby" Marco menyeringai langsung merebahkan diri di atas tempat tidur satu tangannya membuka kaos. Gabriela panik. Eh apa ini dia buka baju. Hei tuan anda salah paham.

__ADS_1


"Tu...tuan.. maksudku, maksudku aku mau ganti dengan baju tidurku" Gabriela sudah mau masuk ke dalam walk in closet. Marco melompat dari tempat tidur. "Kau mau mempermainkan ku?" Tangannya menuding kening Gabriela, gadis itu frustasi.


"Tadi kesepakatan kita hanya aku pakai lingerie di depan anda" Udah! itu aja kan! Lantas dia bagian mana aku mempermainkan anda tuan.


"Memangnya aku ada bilang kapan bisa lingerie mu bisa di lepas!!" Sok Membentak Padahal matanya sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Lampu mati. "Aaaa" Gabriela berteriak kencang saat Marco menggendong anak gadis itu keatas tempat tidur.


"Kenapa tanganku ditahan Geby? padahal kau tau kau akan tumbang kenapa kau lama lamakan?"


Kimono yang tadi menutupi tubuh Gabriela sudah melayang. Mendarat di atas meja kemudian kimono menyusul juga pada akhirnya.


Gabriela sudah mulai melayang layang saat kecupan manis menyentuh punggungnya. Sekuat apapun dia menolak tapi tetap aja dia kalah menahan diri.


Marco melepaskan ikat rambut Gabriela. Rambut gelombang itu langsung menyembul kemana mana. Salah satu yang di sukai Marco adalah rambut panjang gelombang gadis ini yang ikut bergoyang saat kegiatan malam panas penuh semangat itu mulai menggelora.


Marco melahap habis bibir Gabriela. Mata mereka beradu dengan nafas masih memburu. "Geby?"


Gadis itu membuka mata dan kesadaran langsung berakar dalam matanya. Bagaimana semua bajuku sudah lepas hanya tersisa keringat yang mulai menetes dari dahinya. Gadis itu menutupi kedua area terlarang dengan kedua tangan. Malu langsung menelusup kedalam hatinya.


Namun rona rona wajah malu malu ini yang paling di sukai marco. Saat Gabriela malu itu artinya dia tidak menolak tahap tahap yang sudah diberikan marco padanya. "Kenapa wajahmu merah geby?" Kecupan kembali berlanjut. "Kalau kau tidak membalas ciuman ku akan membuatmu tidak akan bisa tidur malam ini walau satu menit saja" Wajah geby sudah menegang. Melanjutkan kegiatannya, Marco menyusuri setiap lekuk di tubuh Gabriela sambil mendaratkan kecupan di seluruh wajah Gabriela.


Gabriela tersentak kaget saat tiba tiba Marco sudah menindih tubuh mungilnya. Ya tuhan bisakah aku menolaknya kali ini. Ini tidak bisa terjadi seterusnya. Aku takut semakin lama perasaanku jatuh. "Aku tidak main main dengan ucapanku geby" Lagi lagi wajah Gabriela menegang.


Marco mulai menyesap rasa manis nikmat yang sudah menjadi candu untuknya. Walau tidak tau Gabriela mencoba menggerakkan lidahnya. Marco seketika menghentikan aktifitasnya, senyum mengembang saat merasakan pergerakan dari bibir gadis mungil yang berada di pangkuannya. "Lanjutkan geby" Kini giliran Marco yang vakum. Dia menuntun Gabriela seperti dia inginkan. Dan gadis itu benar benar mulai belajar.


Gabriela menghirup udara dengan dalam saat Marco memberi jeda. Merasa sudah relax, suara kecapan menghiasi keheningan malam. Gabriela larut begitu saja. Jangankan berusaha menolak kepikiran menolak pun tidak ada lagi.

__ADS_1


Saat nafas sudah saling memburu mereka saling mengguling diatas tempat tidur berganti posisi yang nyaman. Rambut gelombang Gabriela mulai bergerak.


Malam penuh gelora belum berakhir.


.....


Marco menyibak rambut panjang gadis yang sedang terlelap dengan mimpi indahnya. Memperbaiki setiap helaian rambut yang menutupi sebagian wajah mungilnya. Bagaimana bisa aku tidak dapat menahan diri melihatnya. Marco berdecak kemudian senyum tipis tergambar di wajahnya.


Aku bahkan menikahi gadis remaja polos yang bersih bagaikan kapas.


Bahkan berciuman saja dia tidak tau. Dia hanya takut dengan ancaman ku sehingga memaksa dirinya.


Baiklah kalau menakuti mu adalah jalan terakhir maka aku pun terpaksa melakukannya demi mempertahankan kamu disampingku Geby. Marco mengecup dahi gadis itu.


Aku ingin melakukan dengan baik, empat mata kita bicara tapi kau tidak bisa menyadari kebaikanku yang hanya kuberikan untuk mu.


Bahkan kau masih saja takut denganku setelah kau berhasil menguasai pikiranku.


Apa yang aku katakan? Cih! Marco mendengus. Lagi lagi gengsi selalu menjadi benteng dirinya. Terlalu gengsi memperlakukan Gabriela dengan baik padahal itu yang selalu ada di hatinya. Membuat gadis itu bertahan di sampingnya tanpa harus melakukan apa apa.


Namun Gabriela kan tidak tau. Dia bertahan disampingnya karena sebuah kontrak. Dia tidak mau jadi penghianat seperti Mahalini.


Akhirnya semua harus serba paksaan. Hahaha tapi menyenangkan juga bermain main dengannya. Kau tidak akan membosankan Geby.


Marco melihat keadaan kamar yang berantakan. Dia mengabaikannya begitu saja. Marco mulai menyusupkan tangannya memeluk gadis disampingnya. Menyusul Gabriela kedalam mimpi. Lagi lagi dia mengeratkan pelukannya.


Selamat tidur tuan Marco. Gabriela yang menyusul Marco, bukan Marco yang menyusul Gabriela. hahaha jadi tadi waktu di kecup kecup kau belum tidur Gabriela?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2