Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Pagi hari di kediaman Marco


__ADS_3

Setelah mimpi buruk menghampirinya Gabriela sama sekali tidak bisa tidur lagi. Ini baru jam 03.00 subuh namun matanya tidak bisa terpejam sedikitpun. Bayangan-bayangan dari kejadian masa lalu selalu menghantui pikirannya. Tidak jarang dia terbangun di tengah malam ketika mimpi itu datang.


Alam sadarnya sekolah mengeksplor kembali hal-hal yang mencurigakan dan juga yang belum terpecahkan hingga hari ini.


Sekuat apapun Gabriela melupakan itu tapi mimpi itu selalu mengingatkannya.


Dia menatap laki-laki yang di sampingnya. Dadanya yang bidang, lengannya yang berisi dengan otot-otot kekar. Belum lagi hidung yang mancung. Ahh kenapa iblis sepertinya bisa sempurna sih.


Rasanya Tuhan tidak adil menciptakan manusia tampang jelek sepertinya. Dia tidur kok tenang sekali ya. Berbeda dengan aku yang gelisah saat tidur disampingnya.


Sepertinya Gabriela lupa tadi awalnya siapa yang duluan tidur. Gadis itu mulai menurunkan kakinya. Pelan pelan jangan sampai iblis ini terbangun. Sofa mana sofa? Aku mau di sofa aja tidur.


"Hei mau kemana kau!" baru saja Gabriel lama langkah suara dentuman keras sudah terdengar. Ah sial dia tidak tidur ternyata.


"A..aku" Mau ke sofa!


Marco menepuk ranjang di sampingnya. "Cepat!!"


"Iii iya tuan aku naik" Gadis itu reflek naik. Kenapa sih dia tau aku turun. Padahal dia lagi tengkurap. Apa di punggungnya ada mata? Mata paparazi.


"Aku tidak bisa tidur tuan jadi..."


"Jadi kau mau di tidurkan!" Marco berbalik melirik tajam Gabriela yang menyandarkan punggungnya di head board tempat tidur. "Iya kau mau ditidurkan??" Saat Marco menggeser tubuhnya gadis itu menciut. Dia menutupi tubuhnya hingga ke bahu.


Marco tertawa sinis. "Apa yang kau tutupi?" Selimut tertarik. Gabriela menarik lagi hingga ke bahu. "Tidak ada tuan tidak ada"


Aaa kau mau apa sih.


"Mau di tidurkan kan?" Marco bertumpu pada lututnya. Wajahnya tepat di atas wajah Gabriela. "Atau mau...." Tangan nakal Marco mengelus pipi gadis itu.


Sial! kenapa rona wajahnya menggemaskan begitu.


Tangannya masih menari nari di pipi Gabriela. Dan plak! tangannya di tepis.


"Hahahahah" Tawa renyah penuh isyarat.


"Maaf tuan apa tangan anda sakit?" Gabriela buru buru meraih tangan Marco. Meniup bekas tepisan dia tadi. "Maaf tuan tadi saya tidak bermaksud menyakiti tangan anda"


Gadis jelek yang bodoh ini lumayan juga. Bisa bisa nya tidak terbawa suasana tadi. Dia malah semakin kesal.


"Ini aku terakhir memperingati mu. Hati hati dengan tangan nakal ini" Marco menarik tangan Gabriela dan mengecupnya. Gabriela panik langsung menarik tangannya.

__ADS_1


"Belum siap kehilangan tangan mu kan?" Gadis itu gemetar. "Maafkan saya tuan, saya akan hati hati"


"Bagus kalau kau paham" Marco menendang selimut. Kemudian pergi ke kamar mandi. Terdengar suara gemericik air.


Apa tuan Marco mandi se pagi ini? Ya ampun.


Ah terserah lah. Aku turun saja sebelum dia kembali dari kamar mandi. Gabriela membuka pintu ingin turun ke dapur. Pasti pelayan yang bertugas menyiapkan sarapan pagi sudah mulai kerja pikirannya.


"Tetap disitu! jangan kemana mana!!!" Suara ultimatum Marco terdengar dari dalam kamar mandi.


Apa? apa dia punya mata di setiap sudut ruangan ini? dari mana dia tahu aku mau keluar?


Gabriela merinding sendiri membayangkan jika setiap sudut kamar ini diawasi dengan bola mata manusia.


tunggu di sini tidak ada CCTV kan? tapi kalau pun ada di mana layarnya? tidak mungkin di toilet kan?


Atau Mungkin layarnya terhubung langsung ke otak tuan Marco. Trus sinyalnya dari mana donk? aaaa bingung aku bingung. Semakin dipikirkan semakin kesal aaa.


Gadis itu kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sekarang udah di sofa ya tadi di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar.


Aku sudah menikah. Menikah dadakan dengan iblis yang gila.


lalu bagaimana hidupku kedepannya?


Tante Mahalini juga belum menghubungiku sampai hari ini.


Ingat-ingat tentang mahalini. Gabriela semakin sadar jika takdirnya memang sudah di rumah ini jadi budak. Istri berkedok budak entah sampai kapan.


Rasa sakit itu hadir lagi. Mungkin semakin kesini sudah mulai membaik. Tuan Marco juga sudah mulai menganggapnya manusia.


Walaupun bola matanya terus mengintimidasi ku. Dan juga tatapannya membelah belah tubuhku. Dan kata kata ketusnya menusuk nusuk hatiku. Tapi masalahnya sampai kapan aku bisa bertahan hidup disini.


Mengingat perjalanan yang sudah sejauh ini Gadis itu murung.


anak remaja seusianya biasanya masih duduk di bangku SMA. Menyusun rencana kuliah ke mana, cita-cita jadi apa. Sangat berbeda jauh dengan nasibnya yang bahkan sampai sekarang tidak tahu terarah ke mana.


Gadis itu memejamkan mata. Mencoba memprovokasi pikiran agar bisa keluar dari tempat ini. Namun hanya untuk memikirkannya saja dia sudah takut duluan.


Untuk tangan dua biji ini saja aku harus hati-hati. bagaimana kalau kakiku juga ikut berbuat kesalahan bisa-bisa kaki ku di potong.


Gabriela mengangkat tangannya membayangkan tangan itu akan hilang dia menggeleng keras.

__ADS_1


Selain bodoh ,apa dia juga gila?


Marco yang berdiri di depan pintu kamar mandi memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Gabriela. Apa yang dia lakukan?


Laki laki itu mendekat. Gabriela belum sadar juga dari lamunannya. Plak! Handuk mendarat di wajahnya. Gabriela gelagapan hingga terbuntang dari sofa.


Dia cepat cepat berdiri. Membungkukkan badan. "Apa tuan sudah selesai mandi?" Dia bahkan tidak berani meringis padahal tadi bokongnya sudah membentur lantai dengan keras.


"Ah baju ya? tunggu tuan saya ambil sebentar" Gadis itu buru buru membuka pintu walk in closet.


Ngapain juga kau bertelanjang dada di depanku. Gak malu apa? Apa saja malu melihatmu.


Sudah mengacak isi lemari dengan buru buru mengambil pakaian. Raja sudah menunggu di kamar jadi aku harus cepat cepat.


Dan brak!! Gabriela terjungkal untuk kedua kalinya.


Baju marco yang tadi dia pegang beterbangan ke langit jatuh lagi pas di wajahnya.


Tubuh kecilnya menabrak tubuh kekar Marco dan dia yang terlempar.


"Hei bodoh! kau tidak apa apa?" Marco berjongkok sambil menyibak kaos yang menutupi wajah Gabriela.


Kok ada kunang kunang ya? Kepala Gabriela berdenyut. Kali ini dia benar benar meringis. Karena ini Sakit sekali.


"Apa matamu tidak berfungsi bodoh?" Marco memandang tajam Gabriela yang berusaha berdiri.


"Maaf tuan. tadi anda kan di kamar. lantas kenapa tiba tiba di belakangku? makanya aku tidak lihat"


"Minggir!! Hebat sekali kau malah menyalahkan aku" Marco sudah membuka handuk yang melilit di pinggangnya. Gabriela buru buru menutup mata dan keluar.


Dasar pria gila! Lihat dia bahkan santai membuka baju di depanku. Gabriela kesal, emosi bercampur marah.


Keningku sakit sekali lagi ih. Tadi aku nabrak Tuan Marco atau nabrak batu gak sih. Kok keras sekali perutnya, aaa kepala juga sakit sekali.


Iyalah diakan es batu yang mengeras.


Sementara itu Marco tertawa geli di walk in closet. Tidak tahu apa yang dia tertawakan tapi ini menghiburnya.


Kenapa semua jenis ekspresi di wajahmu membuatmu terlihat manis.


Senyumnya belum memudar saat dia kembali ke kamar dan melihat Gabriella sedang merapikan tempat tidur sambil mulutnya manyun.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2