Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Penculikan part II


__ADS_3

Gerald berlutut memohon agar Marco segera melepaskan mereka. Ini semua salahku tuan, hukum saja aku tuan tapi jangan sekarang tunggu aku membawa nona Gabriela pada anda tuan. Izinkan aku pergi sekarang menemukan keberadaan nona saya tidak bisa melihat anda terluka begini karena hilangnya nona saya tau anda pasti mengkhawatirkan nona dan tidak ingin terjadi apa apa padanya nona. Gerald meremas tangannya membayangkan betapa bodohnya orang yang mencoba mengambil nona dari samping tuan Marco. Apa kau sudah bosan hidup hingga kau tidak memakai pikiran mu lagi.


Marco meninju dinding dengan keras sambil memaki."Aku tidak akan mengampuni mu jika sampai terjadi apa apa dengan Geby ku" Marco menggebrak meja dengan keras. Dia ingin marah tapi pada siapa? diriku juga salah membawa Gabriela jalan jalan malam itu. Tapi bagaimana si bodoh ini tidak becus mengamankan area. Kenapa bisa penyusup masuk. Marco menendang kursi sementara Gerald sudah berdiri tidak jauh darinya.


"Saya mohon tuan izinkan saya menemukan keberadaan nona" Jangan buang buang waktu lagi. Nona begitu lugu, dia bisa saja termakan rayuan Mahalini. Marco memandang jenuh Gerald. Dia tau pria tangan kanannya ini selalu bisa di andalkan. "Keluar!"


Gerald memandang marah pengawal yang dia tunjuk untuk mengamankan area gebyar tadiĀ  malam. Tapi ini bukan saatnya marah. Mendidik mereka adalah urusan Danri, jadi Gerald pasti akan marah pada Danri yang tidak becus. Surus training semua anggotamu! bila penting kau juga training sana. Tidak terhitung maksud kalimat Gerald. Kalian sama sama tidak becus! itu definisinya.


Marco mendudukkan bokongnya di kursi sambil terus memaki kebodohannya. Harusnya aku lebih mengutamakan keselamatanmu dari pada rengekan mu. Marco menghembuskan nafas dengan kasar. Membayangkan wajah istrinya yang manis yang kemungkinan menangis sekarang sudah membuat darahnya mendidih. "Dasar tidak becus" Marco menunju udara.


.......


"Tante" Pintu terbuka. Seorang wanita masuk dengan sebuah map di tangannya. Wanita itu menautkan pipi pada Gabriela. "Apa kabar sayang" Wanita itu duduk sambil menyilang kedua kakinya. Dia tersenyum ramah pada gadis yang kebingungan di depannya. Gabriela sendiri tidak tau dimana keberadaanya sekarang. Bagaimana dia bisa sampai ke tempat ini dia tidak bisa menemukan jawaban dalam pikirannya.


Aku dibawa ke dalam mobil besar, kemudian tangan ku di ikat dan mulutku di sumpal karena aku memaki. Setelah itu aku tidak sadar diri. Gabriela pusing, kepalanya berdenyut memikirkan kejadian itu.


"Apa tante yang menyuruh orang menculik ku?" Gabriela memegang kepalanya yang berdenyut.


"Hei sayang apa yang kau katakan, tante hanya menyelamatkan mu. Ini kemauan mu kan sayang kita bisa hidup bersama. Kau dan ibu mu akan kembali seperti dulu" Mahalini menyerahkan surat dalam map besar. "Sebagai imbalan kau menolong tante maka tante akan kembali menolong mu sayang" Mahalini melirik map di hadapannya mengatakan jika Gabriela harus membuka map itu, namun jangankan membuka menyentuh saja gadis itu tidak mau. Kejahatan Mahalini pantas di waspadai gadis itu hanya melirik map itu.


"Tuan Max akan menanggung semua pengobatan ibu mu sayang, dan kedepannya masa depan mu terjamin" Seperti yang kita bicarakan waktu itu. Tante akan menolong mu. "Kamu tidak ingin bertemu ibu mu?"


Mahalini berulang kali mencoba memprovokasi pikiran gadis ini. Biar bagaimana pun tidak akan ada manusia di bumi yang tega meninggalkan ibu kan.


Aku juga ingin bertemu dengan ibu. Hidup dan meminta maaf padanya. Aku sayang ibu. Gadis itu melupakan sedang dimana dia sekarang.


Ibu seperti langsung menguasai pikirannya yang terlalu dangkal. Gadis kecil ini tumbuh seperti tidak mendapatkan kasih sayang ibu. Jadi dia merindukan kasih sayang itu.


"Sayang, apa kau pernah menemui ibumu selama ini" Mahalini hanya memiliki senjata ibu untuk menarik gadis itu ada dalam genggamannya. "Apa tuan Marco mengizinkanmu menemui ibumu? ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan mu?"


Gabriela terdiam, jangankan menemui dia saja tidak bisa keluar sembarangan dari rumah. Dia hanya seperti tawanan di dalam rumah mewah Marco.


"Aku sudah menikah dengan tuan Marco Tante" Kalimat ini seperti mengandung makna agar Mahalini jangan lagi berniat menikahkannya pada Max. Aku tidak mau berkhianat.

__ADS_1


Mahalini terkejut. Menikah? dengan tuan Marco? Kemarahan langsung menyambar nyambar wajahnya. "Kenapa kau menikah??"


Mahalini menarik dagu Gabriela. "Kenapa? kau mau menghancurkan semua nya Geby????" Apa lagi nanti yang harus aku katakan pada Max. Aku tidak mau kehilangan namaku dalam perusahaan itu.


"Kau mau menghianatiku Geby? dengar ya! aku tidak peduli kau sudah menikah atau belum. Kau kan sudah sepakat untuk menikah dengan tuan Max" Mahalini memegang keningnya yang pusing "Apa kau ingin menghancurkan harga diriku? Aku sudah mati matian memperjuangkan mu dan tuan Max setuju membiayai semua tentang hidupmu dan ibu mu"


Gabriela hanya diam sambil meremas jarinya. "Tante kan yang tidak ada kabar berbulan-bulan" Itu fakta tante, aku menunggu Tante menjemput ku tapi apa! tidak ada sama sekali. Tante bahkan tidak menghubungiku.


"Apa maksudmu menyalahkan tante? apa kau pikir meyakinkan tuan Max itu hal mudah? segampang itu kau menyalahkan aku"


"Aku tidak menyalahkan tante aku hanya..."


"Cukup! Tante tidak mau banyak menghabiskan waktu. Hari ini juga kau akan menemui tuan Marco gunakan ini" Mahalini melemparkan dress untuk Gabriela.


"Tidak" Melihat kemarahan Mahalini semakin menarik perhatian Gabriela. Gadis itu bukannya takut seperti biasa. Dia malah curiga. Kejahatan apa lagi yang mau kau rencanakan. "Aku tidak mau berkhianat" Dia menjatuhkan dress dari tangannya sambil langkahnya gemetar menjauh.


"Kau benar benar tidak tau diri ya" Mahalini menatap tajam Gabriela. "Aku bahkan mengorbankan harga diriku untuk mendapatkan mu kembali beraninya kau sekarang mengkhianatiku"


"Apa! lantas kau sudah sepakat dengan perjanjian kita kemarin tapi kau menikah dengan Marco diam diam apa itu bukan penghianatan???"


Gabriela menggigit bibirnya kelu. Tapi semua bukan salah dia kan. Gadis yang lemah ini tidak bermaksud berkhianat tapi tidak berdaya untuk menolak apa pun yang berkaitan dengan tuan Marco.


"Sekarang Tante tidak mau tau, kau harus menemui tuan Max, dia sudah menunggumu" Mahalini menarik tangan Gabriela. "Ayo jangan buat aku marah Geby. aku sudah berkorban untuk mu" Gabriela meronta namun gadis itu kalah kekuatan untuk ukuran Mahalini.


"Tidak aku tidak mau" Mahalini menghentikan langkahnya saat Gabriela menangis sambil terus berpegang pada ujung pintu.


"Kau mau ibumu di bunuh oleh Max? karena kelakuan mu? Jangan buat semua semakin rumit Geby!" Gabriela berteriak saat Mahalini menarik paksanya tubuh mungil Gabriela di seret begitu saja di lantai. "Aku sudah baik padamu dan kau ngelunjak! dasar tidak tau diri"


"Aaa lepaskan aku!! pinggang ku sakit" Gabriela berteriak namun Mahalini tidak menggubris. Aku tidak akan menyakitimu kalau kau patuh. Dasar tidak tau diri kau dan ibu mu hanya menyusahkan saja.


Pinggang Gabriela berdarah karena bergesekan dengan lantai yang kasar. Gadis itu berusaha untuk berdiri dan mengimbangi langkah Mahalini yang menariknya.


Mahalini tiba tiba menghentikan langkahnya. Sepertinya ada yang tidak beres. Dimana semua pengawal yang tadi disini. Suara tembak menembak terjadi di luar. Mahalini cepat cepat membawa Gabriela ke dalam sebuah gudang peralatan.

__ADS_1


Pengawal Marco sepertinya sudah mencium jejak Mahalini. Kurang ajar bagaimana ini.


"Lepaskan aku Tante!!!"


"Diam!!" Mahalini mengikat gadis itu di tiang besar. "Ini akibatnya kau yang tidak patuh! aturan dari tadi kau menemui tuan Max maka masalah tidak sepanjang ini"


"Apa yang Tante lakukan, lepaskan aku!!!" Suara Gabriela menggema. Mahalini yang sudah mulai panik, biar bagaimana pun dia tidak boleh ditemukan oleh pengawal Marco.


"Tetap disini!!!" Mahalini menyumpal mulut Gabriela dengan lakban. Kemudian wanita itu pergi entah kemana. BIP! lampu mati.


Gabriela menjerit dalam hati. Apa ini Tuhan!


Ruangan ini gelap sekali aku tidak bisa melihat apa apa. Tangan dan badannya di ikat di tiang dengan mulut tersumpal.


Kumohon! siapapun disana tolong aku. Aku mohon, aku takut. Ibu!!! aku takut. Gabriela berkeringat dingin saat trauma itu datang lagi. Kejadian masa kecil seperti di ulangi lagi.


Mau berteriak sekencang-kencangnya pun tetap ada yang mendengar.


Tuan Marco tolong aku tuan. Entah mengapa nama ini langsung terlintas di benaknya. Bayangan bayangan hari bahagia bersama Marco langsung melintas dalam pikirannya.


Mahalini menuruni tangga. Dia tersenyum tipis saat anak buah Marco mengacungkan senjata di kepalanya.


"Apa yang kalian cari?"


"Dimana nona Gabriela!" Danri maju dalam barisan paling depan. Dia sebenarnya sudah jijik dan muak melihat wanita licik ini. "Jangan buat aku membuang waktu menunggu jawaban mu"


"Hahahaha.... cari dimana saja di dalam gedung ibu kalian tidak akan menemukan Geby"


"Kau mau mati" Danri mengokang senjata miliknya. Tindakan dia mengatakan jika ancaman ini tidak main main.


Mahalini tersenyum dan juga mengeluarkan senjata dari belakangnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2