
Marco tiba di rumah kediamannya dengan raut wajah yang susah di tebak. Dia bahkan harus pulang buru buru setelah meyakinkan kedua orangtuanya bahwa semua akan baik baik saja. Aku bukan anak kecil lagi mah pah. Jangan khawatirkan aku semua akan baim baik saja.
Begitulah orangtuanya menghela nafas mengantar kepulangan anaknya kembali ke tanah air dengan penuh waspada. "Hati hati nak jangan ada yang menyorot penampilan mu". Namun semua berjalan dengan baik, Marco berhasil pulang tanpa tercium aroma jejaknya oleh musuh yang bisa saja mengintainya.
Pria itu sudah masuk ke dalam kamar dengan menghempaskan pakaiannya begitu saja di lantai. Gabriela yang terkejut kepulangan Marco buru buru masuk ke dalam kamar. "Maaf tuan" Dia buru buru berbalik.
Kenapa ganti baju tidak kunci pintu!
Marco malah berkacak pinggang dan berjalan ke arah Gabriela yang mematung di pintu. Paha kekar dan dada polosnya ter ekspos begitu saja. Gadis itu beringsut perlahan melangkah keluar namun di halau oleh Marco. Gabriela sudah terpojok ke dinding sambil menahan takut. Nafasnya memburu berlomba lomba. Wajah Marco dan wajahnya hanya beberapa centi. "Sekali lagi kau terlambat datang melayaniku akan ku kirim kau ke kolam dan menjadikan mu makanan ikan piranha ku".
"Maaf tuan saya tidak tau anda sudah pulang.." Gadis itu masih gemetar ketakutan.
"Dasar lemah!".Marco berbalik. "Siapkan air hangat!" . Gadis itu segera ke ke kamar mandi mengisi air seperti biasanya.
Marco sedang berada di dalam bath up berendam. Suasana hatinya yang kacau sepertinya perlahan mulai baik. Senyum terangkat di bibirnya. Tidak tau apa yang sedang dipikirkan pria itu. Namun dengan mata terpejam senyum di bibirnya masih tercetak.
Kenapa melihat wajah bodohnya yang jelek itu aku terhibur ya.
hahaha.
Aku tidak pernah memukulnya namun dia selalu ketakutan padaku.
Namun sekilas senyum itu hilang lagi. Aku bahkan melupakan itu. Marco segera keluar dari bath up. Kemudian melangkah menuju walk in closet. Setelah memakai pakaian santai yang disiapkan Gabriela dia duduk di sofa. Beberapa saat pak haris dan Gerald sudah menghadap di depannya.
"Periksa semua rekaman cctv! temukan kesalahan pelayan dan laporkan padaku!" Marco menatap dingin "SEKARANG!".
Lebih dari dua kali kau menyalahgunakan tangan mu lihat apa yang terjadi padamu.
Dan Marco benar benar marah besar saat melihat beberapa potong rekaman CCTV di rumah. Rekaman Dimana Gabriela sering di perlakukan kasar oleh pelayan senior.
Sudah sepintar apa kau berani melewati batasan mu.
Marco meremas sofa tempatnya duduk. Bibir menyeringai dengan tatapan membunuh seperti biasa ketika dia sedang tidak menyukai sesuatu. Dia memang selalu seperti itu. Gerald yang melihat itu semakin ingin mempercepat penelitian. Dia harus tau diagnosa pasti tuannya dengan gadis menyedihkan itu.
"Aku tidak mau melihat manusia sampah seperti itu" Ucap Marco penuh penegasan.
"Baik tuan saya akan memastikan semua pelayan bekerja sesuai dengan aturannya" Ucap pak Haris. merasa bersalah, ya dia merasa bersalah pemandangan seperti ini terjadi di luar pengetahuannya. Dan lebih terkejut lagi dia tidak menyangka Marco akan semarah ini. Pria itu menghembuskan nafas kasarnya. Dia melangkah menjauh setelah melihat isyarat tangan Marco. Dia harus melakukan sesuatu sebelum Marco bertindak. Wanita itu tidak akan selamat dari amukan Marco.
****
Pagi hari di kantor, seperti biasa Marco akan menghabiskan waktu di meja kerjanya. Gabriela datang membawa segelas kopi. "Silahkan tuan". Gadis itu mundur setelah meletakkan gelas di atas meja. Marco melirik sebentar. Dia menggerakkan kepalanya lalu menjentikkan jari. Gabriela mendekat lalu memijat kepala Marco setelah isyarat tangan pria itu.
Pijatan itu berlanjut dari kepala hingga ke dahi. Tiba tiba dia terperanjat. Gadis itu terkejut sekaligus takut. Tangan kanannya ditarik lalu pria itu menoleh ke belakang tatapan mereka bertemu.
Gabriela lagi lagi terkejut karena Marco menarik gadis itu berdiri disampingnya. "Kenapa ini? " Marco melirik Gabriela dengan tatapan setengah ragu. Dua jari Gabriela di selimuti hansaplast.
"Kau mau membuat aku mengulang pertanyaanku!" Dingin tapi penuh penekanan.
__ADS_1
"Tidak tuan. tidak apa apa ini hanya kena sayatan" Gabriela tiba tiba menarik jarinya lalu menyembunyikan ke belakang tubuhnya.
Marco menjentikkan jarinya lagi. Dia sepertinya kesal saat Gadis itu menarik tangannya tadi. "Mau aku patahkan kedua tanganmu?" Semakin kesal karena Gabriela tidak mau memberikan tangannya.
Tatapan dan seringai itu membuat nyalinya ciut. "Ini kena pisau tuan" Ucap Gabriela sambil memberikan tangannya.
Marco langsung berdiri. Dia menarik tubuh mungil gadis itu ke sebuah ruangan. "Kau mau mati hah! membiarkan luka separah ini!" Marco tampak menghubungi seseorang. Gabriela sendiri bingung.
"Tunggu disitu sebentar" Pria itu keluar. Kemudian dia masuk bersama orang orang yang memakai seragam putih. Mereka adalah tim kesehatan Adicipta group.
Mereka sigap menangani luka kecil di tangan Gabriela. Gadis itu sempat menolak. Namun melihat tatapan tajam bak pisau silet milik Tuan maha Agung sang dewa pencabut nyawa dia akhirnya bungkam. Entah mengapa tatapan Marco begitu mengerikan.
Padahal kau ganteng tapi kenapa mata mu kayak iblis. Gabriela hanya bisa memaki dalam hati. Dan sialnya lagi Marco terus menatap seperti tau bahwa gadis itu memakinya.
Saat semua selesai tim kesehatan itu keluar. Gabriela berdiri sambil menunduk kepada mereka. Mengucapkan terimakasih sebanyak banyaknya. Entah obat apa itu yang di masukkan jujur saja Gabriela merasa lebih baik luka sayatan di jarinya. Tidak lagi berdenyut denyut seperti tadi.
"Aku akan rapat internal 10 menit lagi Tetap disini jangan kemana mana!" Titah sang raja agung yang harus di iyakan.
"Iya tuan" Gadis itu duduk di sofa sambil memainkan ponsel jadulnya. Memandangi foto ibunya yang sudah entah bagaimana kabarnya. Rindu? iya dia rindu tapi untuk sekedar meminta bertemu dia tidak berani.
Kepercayaan Tuan Marco sudah ternodai kemarin. Dia tidak mau melakukan tindakan yang membuat dirinya akan tersiksa lagi. Tak terasa air mata itu jatuh lagi. Entah seperti apa akhir dari drama hidup ini.
Lama berpikir tentang ibunya dia sama sekali tidak menemukan jalan keluar. Ibu sudah membuang ku. Mengusirku dari rumah bahkan mengutuk dan memakiku. Lalu kemana lagi aku mengadu.
Bahkan saat ini Gabriela tidak tau harus bagaimana. Statusnya seperti apa. Hidup kedepannya gimana. Gabriela pusing sendiri.
Pria itu tersenyum kemudian mendudukkan bokongnya di kursi. "oh begitu".
Siapa gadis ini? Sama sekali bukan tipe Marco. Tapi kenapa dia ada di dalam ini?
Dia memperhatikan penampilan Gabriela dari ujung kaki ke ujung kepala. Fix sama sekali bukan selera Marco. Lalu? siapa dia ini?.
"Kau sudah lama?" Lamunan itu membuyar saat orang yang dipikirkannya datang. Dan lebih parahnya lagi itu tatapannya kok penuh dengan ancaman begitu. Kau kenapa brengsek?. Daniel sama sekali tidak peduli. Dia tersenyum hangat memandangi Gabriela.
kan kan... tatapan makin tajam begitu. Ayo pancing lagi.
Marco melempar jas yang dia pakai yang di tangkap gelagapan oleh Gabriela.
Marco berjalan ke arah lemari. Secepat kilat mengambil berkas yang dia simpan di laci, kemudian melemparkan tepat di hadapan Daniel. "Terimakasih sudah datang sekarang kau sudah bisa pergi?" Ucap Marco dingin.
"Kau tidak menawariku minum, makan atau apa gitu?" Ucap Daniel menyandarkan tubuhnya. Sekali lagi dia melirik Gabriela yang berdiri di belakang Marco sambil memeluk jasnya. Daniel tersenyum hangat.
"Kau bisa jalan sendirikan? atau perlu ku panggil security menyeret mu dari sini?" Ancaman sarkas Marco tidak main main. Dia mulai jengah melihat biadabnya laki laki ini. Beraninya kau tersenyum melihat dia.
Marco bangun dari duduknya. "Kalau berkas ini tidak siap Minggu ini kira kira bagaimana ya?" Sekali lagi dia tersenyum tipis kemudian segera berlalu ke pintu. mengancam penuh seringai.
Marco yang kesal di jahili hanya bisa menarik nafas. Dia melirik Gabriela yang sedang memeluk jasnya. "Kau sudah makan siang?"
__ADS_1
Gadis itu menggeleng kecil. Marco segera meraih jas dari pelukannya kemudian keluar. Gabriela segera memakai sendalnya lalu tergesa saat melihat Marco masih menahan pintu Lift menunggunya.
Di dalam mobil yang di kemudikan Gerald Marco melirik Gabriela di sampingnya. Cih kau juga tersenyum padanya. Dia mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Mulai besok kau tidak perlu lagi ikut ke kantor"
"Kenapa tuan?" Gabriela tersentak. "Saya salah apa?".
"Kau mau apa di kantor ku? Mau menggoda laki laki? tau mau tebar pesona?" Marco yang tadinya bicara sambil menahan kesal akhirnya benar benar melampiaskan kemarahannya.
Dia mencengkeram dagu Gabriela dengan kasar. "Hebat sekali kau berdua dua an dengan laki laki di kantorku".
"Anda salah paham tuan! Aku tidak...
"AKU TIDAK MENYURUHMU BICARA!" Kekesalan itu menjadi jadi. Gerald hampir saja menabrak pejalan kaki karna terkejut.
Tadi semua baik baik saja. kenapa jadi tegang begini. Gerald melirik dari kaca spion. Memastikan dua manusia itu baik baik saja. Kemudian kembali fokus menyetir.
Di meja makan aura semakin menegang. Gabriela meringis di dalam hati. Ya tuhan semua serba salah. Bagaimana ini, ibu aku mau pulang. Tolong aku. Dia menangis dalam hati meratapi nasib.
"Habiskan makan siangmu dan kembali ke rumah!" Marco sudah duduk dengan garpu di tangannya. Dia dengan susah payah menghabiskan makan siangnya. Senyum Daniel tadi terus mengusik pikirannya. Perasaan apa ini! argh. Awas kau berani memancingku.
Setelah makan siang Gabriela dijemput supir. Sedangkan Marco dan Gerald kembali ke kantor.
"Non jangan sentuh apa apa. Non cukup duduk dan tunggu tuan Marco pulang" pak Haris memberikan info yang membuat gadis itu semakin tegang.
Jangan sentuh apa apa . tunggu tuan Marco pulang.
Nanti aku mau di apa in lagi ya. Ah terserah lah. Aku lapar mau makan di dapur bersama kak Lisa. Tadi bahkan makanan itu hanya bersemayam di tenggorokanku. Aku tidak kenyang! sama sekali tidak kenyang.
"Pak apa aku boleh makan siang lagi?" Gadis itu setengah berlari mengejar langkah pak Haris. Dia menunjuk dapur, mengatakan bahwa dia mau makan di dapur.
"Silahkan non"
Gabriela melangkah ke dapur dan bertemu Lisa. "Kak maaf ya tadi pagi aku tidak bisa membantu kakak" Gabriela berdiri di ujung meja. Merasa bersalah
Lisa tersenyum dan mengambil piring. "Mau biskuit?" Gabriela mengangguk. "Mau kak, terimakasih"
Padahal tadi aku mau makan nasi. Tapi tidak apa apa makan ini juga kenyang kok.
Pagi berganti siang, lanjut ke sore tembus ke malam Gabriela hanya bisa mondar mandir mengecek kepulangan Marco tapi nihil. Jam dinding bergerak semakin malam Lagi lagi tuan Marco belum nampak batang hidungnya.
Akhirnya Gabriela memejamkan matanya di atas sofa sambil memeluk bantal sofa yang kecil. Rambutnya terurai lepas berhamburan kemana mana.
Marco berjongkok tersenyum tipis kemudian dia menyelimuti seluruh tubuh kurus kecil itu.
Bersambung....
__ADS_1