
Marco memasuki kawasan menuju rumah yang belum lama dia kunjungi. Pemuda itu menghela nafas sebentar. Dia tahu ayahnya akan marah besar, tapi itu hanya 50% sebenarnya. Kalau 50% lagi tidak tahu senang, penasaran atau malah mencurigainya dengan hal yang tidak baik. Tapi Marco masuk dengan tenang setelah mengingat wajah Gabriela, setelah mengingat wajah wanita itu tadi pagi.
Pikirannya melayang lagi saat Marco memperlakukan Gabriela dengan hangat. "Aku ada urusan di luar kota. Kamu baik baik di rumah." Gadis itu takut takut mengangguk.
"Kamu boleh pergi mengunjungi ibu mu tapi hanya sekali!" Tanda seru artinya ini peringatan keras. "Setelah itu kamu tunggu aku di rumah sampai pulang" Marco menyerahkan uang tunai cash ke tangan Gabriela. "Biaya tambahan berobat ibumu. Kamu bisa memberikannya nanti". gadis itu terharu namun dia menarik senyumnya sedikit hingga memperlihatkan lesung pipinya sebelah.
"Terima kasih banyak tuan" awalnya dia ingin menolak Tapi dia tahu uang itu sangat penting demi biaya pengobatan ibu. Sementara Marco tersenyum penuh kemenangan. Tau kan arti senyum nya itu, tau dong masa gak tau. "Kiss me" Marco menunduk sambil menyodorkan bibirnya. Namun Gabriela mencium pipinya. Walau kesal Marco mengacak pucuk kepala Gabriela.
Akhirnya Marco melewati gerbang dan sampai di depan pintu rumah tersebut. Melewati seorang pelayan Dia tiba di ruang tengah. Sudah ada lelaki paruh baya yang tidak lain adalah ayah Marco menunggunya.
"Papa" sapaan kecil sejenak sambil memeluk ayahnya. "Ibu di mana?" dia mengedarkan pandangannya sejenak.
"Kenapa kamu datang sendiri? dimana menantu perempuan ku?" Suara teduh yang selalu menenangkan jiwanya terdengar lirih seolah menyindir penuh kekecewaan.
Marco mendekati ibunya yang duduk di kursi roda. Dia sudah bersimpuh "Apa kabar ma?" Dia melakukan hal yang sama dengan ayah nya tadi. Memeluk lalu mencium.
"Aku lapar mah,pah...boleh kita makan terlebih dahulu?" Marco tidak bisa gegabah mengambil keputusan di depan ayahnya. Dari semua hal hanya di depan ayahnya Dia terkadang gemetar kalau merasa dia melakukan kesalahan.
Dan hari ini dia merasa membuat kesalahan karena kakinya gemetar. Dia perlu ruang untuk menyiapkan kata-kata yang tidak akan menyakiti orang tuanya.
"Pah, mah aku sudah menikah" kata pertama yang keluar dari mulut Marco setelah menenggak air putih. Mengaku saja dulu pikirnya. Marco meletakkan gelas dan menyandarkan punggungnya. Sepertinya pemuda itu sudah selesai dengan makan dan siap berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Kami sudah tau" Singkat jelas dan padat.
Ibu juga melakukan hal yang sama, Meletakkan gelas lalu menyandar. Jawaban singkat yang membungkam mulut Marco. Dia sudah menduga kalau kedua orangtuanya pasti sudah mengendus aroma pernikahan diam diam Marco. "Dan kami tidak percaya kau melakukan itu" wajah Ibu masih terlihat kecewa. "Menikah diam diam tanpa memberi tahu papa dan mama".
"Kalau aku memberitahu pun apa Mama dan Papa bisa datang ke pernikahanku?" Mencari celah aman.
"Bukan itu yang ingin Mama dan Papa dengar dari mu" ayah yang duduk dengan wajah datar menengahi percakapan keduanya.
__ADS_1
"Apa kau menikah dengan gadis yang memang pilihanmu? atau kau terpaksa memilihnya?" Andika menatap wajah sang anak menunggu reaksi. Sedangkan Marco tidak berani membalas tatapan sang ayah.
Andika tergelak tipis. Melihat gelak tipis itu Marco masam. Sial! papa memang selalu sensitif urusan pribadiku.
"Bawa gadis itu kesini, papa akan menanyakan langsung padanya alasan pernikahan kalian" Wajah Marco langsung tersambar.
Tidak! ini tidak bisa terjadi. Marco langsung membayangkan wajah polos Gabriela. Belum lagi gadis itu selalu gemetar jika ketakutan. Kalau sampai Gabriela bertemu dengan Andika sudah pasti semua tidak bisa ditutupi. Ayah akan dengan mudah mencium dan mencerna semuanya. Termasuk persoalan kontrak.
"Kau tidak berani kan!" Tantangan Andika tidak direspon Marco sama sekali. Dia sibuk dengan pikirannya.
"Aku memilihnya pah! berhentilah berpikir bahwa aku menikah karena sebuah alasan bisnis" Marco memandang jenuh ayahnya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang panik.
"Dan kamu pikir papa percaya?" Marco meremas tangan di atas pahanya.
Kau menikah diam diam, tanpa memberi tahu kedua orang tua mu. Mendadak lagi lantas kau mengaku itu pilihanmu. Pilihan yang dia maksudkan adalah menikah atas dasar cinta.
"Kenapa papa dan mama selalu mengekang ku?" Marco tidak bisa lagi menguasai pikirannya. Dia berdiri dan menggebrak meja. "Aku bukan akan kecil lagi pa, ma" Marco meninggalkan meja makan.
"Kau yang membawanya kesini atau papa dan mama yang akan menemuinya" tepat ketika kaki Marko berada di tangga pertama. Ancaman Andika membuatnya berhenti tidak berkutik. dia membalikkan badan dan memandang kedua orang tuanya.
Keadaan semakin memburuk. Kalau sampai kedua orang tuanya mengunjunginya ke Indonesia Marco tidak bisa membayangkan hal-hal apa saja yang akan mengganggunya di depan.
Menyembunyikan orang tuanya jauh di negara ini adalah sebagian dari pemikiran positifnya untuk menyelamatkan kedua orang tuanya dari ancaman masa lalu yang masih mengganggunya hingga sampai saat ini.
"Papa mau semua semakin sulit?" tatapan Marco lurus. "ingat pa ma, kita sudah berjalan sejauh ini" Marco menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
Kemarahan menyambar nyambar di wajahnya. Ini bukan lagi perkara Gabriela ataupun pernikahannya. Tapi tentang betapa sulitnya kehidupan yang dia lalui dengan kedua orang tuanya. Hingga membuat kedua orang tuanya harus berada di tempat terpencil seperti ini.
Dendam yang tadinya masih tersimpan di hati Marco sudah beberapa akhir ini mulai terkikis. Dia sibuk dengan gadis polos yang selalu mengalihkan keseriusannya.
__ADS_1
Marco Tidak bisa menyentuh sejauh mana perasaannya terhadap gadis itu. Intinya dia nyaman dengan Gabriella, dia terhibur dengan kepolosan Gabriela. Itu saja.
Bahkan untuk alasan pernikahan, Marco sendiri tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menikahi Gabriella.
Jaminan sudah ada di depan mata, uang yang digelapkan mahalini akan kembali. Itu adalah hal-hal dulu yang menyebabkan Gabriela masuk ke dalam kehidupan nya.
Namun setelah Gabriela ingin keluar dari hidupnya Marco Tidak terima. Kedua tangannya mengepal. Ada kenyataan yang terlewatkan. Max akan menikahi Gabriela dengan alasan tertentu. Gadis itu akan digunakan sebagai layanan akses berita mengenai Marco.
Semua masalah bergejolak di dalam pikiran Marco. Keselamatan kedua orang tuanya, perusahaan, bahkan keselamatan Gabriela pun ada di tangannya. Masalah itu silih berganti menghantui pikirannya.
Di sofa dia meluruskan kakinya. Dia menoleh saat ada usapan halus di kepalanya. Ya, sepasang tangan yang selalu dia rindukan. Tangan ibu. "Maafkan aku yang kasar tadi mah" Lelaki itu bersimpuh lagi di depan ibunya.
Dia menyayangi ibu dengan tulus. Bahkan pengorbanannya demi kedua orangtuanya tidak tanggung. Marco remaja kecil yang belum siap harus terjun langsung ke dalam lobang besar mengenai perusahaan kala itu. Saat kedua orangtuanya diancam akan dibunuh. Dia harus memutar otak dan menyimpan kedua orangtuanya di tempat ini. Dia besar sendiri di Indonesia sementara orangtuanya di negara lain.
Hidup Marco dipenuhi kerinduan kala itu. Kerinduan, kerja keras dan tahan banting menjadi teman baik yang mendewasakan Marco hingga saat ini. Jadi wajar pembawaannya selalu serius.
"Wajar papa mu curiga nak, dan wajar ibu kecewa. Kamu akan satu satunya. Bagaimana kamu menikah diam diam tanpa memberi tahu papa dan mama".
Reva dengan hati-hati berpindah ke tempat tidur. wanita paruh baya itu menepuk pangkuannya. Marco bangkit dan membaringkan tubuh kemudian menggunakan pangkuan ibu sebagai bantal.
"kamu sudah bekerja keras nak, usahamu tidak pernah mengecewakan mama dan papa. kami di sini selalu merasa bersalah atas ketidakmampuan kami membesarkanmu dengan baik." Marco menoleh. Tangan Reva masih terus mengusap kepalanya.
"Bukan hanya kamu yang merasakan kerinduan, tapi papa dan mama disini tersiksa setiap hari" ucapan tangan Reva mengantarkan Marco menemui mimpi-mimpi dalam tidur. mata Marko tertutup bersamaan dengan dengkuran halus dari mulutnya. Reva mencium kening Marco.
Istirahatlah anakku sayang. Anakku satu satunya. Mama disini menjaga mu sayang..
Saat tengah malam menyambut, selimut sudah menutupi setengah badan Marco. Reva mendaratkan satu kecupan lagi sebelum keluar dan menutup pintu.
"baiklah kita akan bicarakan soal pernikahannya dengan hati-hati besok. sekarang kamu tidur" Andika mengecup pipi Reva. Mereka sudah berada di kamarnya.
__ADS_1
Begitulah malam ini berlalu. Disebuah desa dengan udara sejuk dan minim keributan. Tempat yang selalu dirindukan Marco. Namun dia tidak bisa terus terus berkunjung walau ada waktu sekalipun. Dia harus extra hati hati jangan sampai musuhnya mencium keberadaan orangtuanya.
Bersambung......