
Marco sedang berada di pesawat pribadinya menuju negara rahasia yang menjadi tempat tinggal orangtuanya sekarang. Marco mengenakan pakaian yang tidak biasanya sebagai bentuk penyamaran. Dia tidak ingin ada yang tau tentang tempat tinggal orang tuannya sekarang.
Untuk mengatur jadwal perjalanan ini pun semua di rencanakan dengan penuh hati hati. Banyak oknum yang tidak terlihat bisa jadi akan mengincar perjalanannya. Maka dari itu dia tidak mau mengambil risiko.
Setelah tiba, Dia segera memasuki sebuah rumah besar yang terletak di pedesaan. Rumah itu terlihat mewah di kelilingi pepohonan. Di belakang rumah ada juga peternakan Kuda.
Marco baru melepas kacamata hitamnya setelah masuk kedalam rumah. Dia tau keadaanya sudah aman.
Andika ayah Marco sudah berdiri menyambut anak semata wayangnya. "Bagaimana perjalananmu nak?"
"Baik pah. bagaimana kabar papa?"
"Baik nak, mama kamu juga baik" Andika menunjuk tangga menuju lantai dua. "Mama ada di atas dia menunggumu".
Andika adalah ayah Marco. Pria berusia senja itu masih terlihat segar di usianya yang mulai menua.
Marco menunduk sekilas kemudian memeluk Reva mamanya yang sedang duduk di kursi roda menunggu kedatangannya. Berbeda dengan Andika, Reva terlihat lebih tua. Faktor kesehatan yang menurun membuatnya wajib bad rest. Dia sudah lama menepi di atas kursi roda. Kelumpuhan pada ototnya membuatnya hanya bisa mengandalkan kursi roda pada saat berjalan.
"Mama begitu merindukanmu sayang. Apa kabar anak mama satu satunya?" Reva mengecup kening Marco yang berlutut di hadapannya.
"Aku baik mah" Ucap Marco melepaskan pelukannya.
"Anak mama udah besar ya." Reva kemudian mengusap rambut Marco yang tersisir Rapi. Menepuk nepuk pundak kekar anak semata wayangnya yang sudah tumbuh jauh di luar akalnya. Dia tidak pernah membayangkan Marco akan tumbuh seperti ini.
Marco dan Andika masuk kedalam sebuah ruangan. Dalam ruangan itu tidak terlihat banyak barang. Hanya ada sofa dan juga meja beserta komputer dan perangkatnya.
"Hindari tindak kejahatannya nak. Papa tidak menyarankan seperti ini." Ucap Andika membuka pembicaraan.
"Apa yang papa katakan?" Marco mengangkat kepalanya bertatap dengan sang papa. "Aku tidak mengerti".
"Kamu lupa papa mengawasi pergerakan mu dari sini?" Andika duduk di sebuah kursi sambil mengisap rokok dengan dalam. "Jangan lakukan kesalahan walau setitik pun" Ucap Andika menatap sang anak. "Aku cukup kehilangan satu anakku aku tidak mau kehilanganmu" Ucap Andika.
__ADS_1
Marco menghela nafas menahan amarahnya. Dia tau seteliti apa pun dia mengelabuhi Andika tidak akan bisa. Kejeniusan Andika belum terpatahkan dalam hal Ambisi.
"Papa disini tapi papa tetap mengawasi perusahaan. Papa tidak ingin pertumpahan darah terjadi lagi nak" Andika masih menatap sang anak. "Hati hati dalam bertindak. Papa tidak mau suatu saat orang orang menjatuhkan mu karena menggelapkan bisnis orang lain" Ucap Andika.
"Tidak ada uang gelap masuk dalam perusahaan. Perusahaan tetap berjalan dengan baik sesuai dengan aturannya. Bisnis gelap itu adalah mainanku tidak ada kaitannya dengan perusahaan. Papa jangan khawatir"
Andika tertawa. "Papa tidak mau ada dendam. Papa minta kamu tetap fokus dengan perusahaan. Berhenti memusnahkan musuhmu papa tidak mau ada dendam yang berkelanjutan. Papa harap kamu mengerti!"
"Aku akan memusnahkan mereka satu persatu" Ucap Andika sambil berlalu keluar. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa papanya selalu menekannya.
"Kamu jangan tinggalkan kota ini buru buru! Pikirkan dengan baik! papa dan mama masih butuh kamu" Ucap Andika yang melihat anaknya melangkah keluar. Dia tau Marco sedang menahan diri.
Akhirnya Marco pergi ke belakang rumah. Dia menunggangi kuda hitam miliknya yang sudah lama tidak dia tunggangi. Karena kuda itu spesial. Jadi Andika sendiri merawatnya dengan baik.
Marco menghentak kuda hitam miliknya berlari mengitari hutan hutan tempat dimana dia semasa remaja sering menghabiskan waktu bermain kuda dengan almarhum kakeknya.
Dia tiba disebuah lapangan hijau yang luas. Dia turun dan membiarkan kudanya menikmati rerumputan. Dia sendiri memilih duduk di batu besar yang juga menjadi saksi masa remajanya yang penuh tekanan.
Saat sedang bersantai. Ponselnya berdering. "Maaf tuan, Bisnis sementara terhenti. Tuan Andika mengancam tadi pagi" Ucap Gerald asistennya.
"Apa emosimu sudah reda?" tanya sang ayah menyindirnya dengan sedikit candaan.
Marco hanya menaikkan bahunya. Sambil menuang anggur kedalam gelas. "Papa sebaiknya jangan ikut campur urusanku pah. Aku bukan anak kecil lagi. Semua itu bisa aku handle". Ucap Marco sambil membersihkan sisa makanan yang menempel di bibirnya.
"Papa sama mama sangat menyayangi mu. Kami tidak mau kamu salah melangkah nak" Ucap Andika menghela nafas.
"Benar kata papa nak, jangan dendam." Reva membelai lembut lengan anaknya dengan penuh harap. "Mama dan papa juga ingin kamu mulai mencari pasangan hidupmu nak, usia mu sudah matang" Reva melirik suaminya sambil tersenyum minta dukungan. Namun andika angkat bahu. "Kalau masalah jodoh papa tidak akan membebani mu. Itu urusan mu kapan kamu akan memikirkan itu. Layaknya papa dulu tidak pernah buru buru dan papa bisa menikahi wanita hebat seperti mama".
Reva melirik suaminya kesal. Bukannya di dukung malah dibiarkan. Tapi ya sudahlah Reva juga tidak mau sampai membebani Marco perihal itu.
"Papa hanya mau kamu fokus di perusahaan itu saja. Dan papa tidak mau mendengar perihal bisnis gelap yang kamu sita itu, kembalikan itu pada orangnya kita tidak butuh itu" Tegas Andika, di ikuti oleh anggukan Reva.
__ADS_1
"Pah... apa papa tidak percaya pada anak papa sendiri? Biarkan aku menjalaninya. Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran. Aku tidak akan mengganggu jika aku tidak di ganggu. Apa papa tau berapa besar kerugian perusahaan akibat penghianatan mereka?
Aku tidak suka dipermainkan. Siapa pun orangnya akan ku musnahkan jika main main denganku" Tegas Marco.
"Satu lagi pah. Perihal bisnis yang aku sita memang tetap berjalan tapi jangan papa kira aku ambil keuntungan dari situ. Aku Ingin lihat siapa saja penghianat yang masih belum terdeteksi. Aku dan Gerald sedang menyelidikinya. Papa tenang saja" Ucap Marco sambil berdiri. "Aku mau istirahat"
"Iya sayang selamat malam" Ucap Reva menatap punggung anaknya yang sudah berlalu.
Sementara itu Marco sudah berada di dalam kamar. Dia akan menginap dua hari disini. Dia mulai membuka pesan dari Gerald perihal Gabriela. Dia juga mengirim foto Gabriela memasak di dapur. "Non Gabriela sedang belajar memasak tuan. Karena kesibukan nona tidak begitu banyak hari ini tuan".
"Selagi dia senang biarkan saja. Setidaknya dia tidak begitu bodoh. Atau kebodohannya perlahan berkurang" Marco terbahak sambil mengetik pesan kepada asistennya. "Kirimkan rekaman cctv dapur". Pria itu masih menunggu Gerald mengirim rekaman CCTV dapur.
Marco tertawa lagi saat melihat Gabriela yang tidak tau menghidupkan kompor listrik dan harus berkali kali di ajari. "Lihat! betapa bodohnya dia hahaha" tawa di wajahnya perlahan hilang saat terlihat senior memarahi Gabriela karena mungkin Gabriela tidak cepat paham.
Marco menyeringai saat hiburan layar hp nya berubah. Pria itu membanting ponsel miliknya .Tangan terkepal dengan nafas memburu.
Hebat sekali kau berani melepuk Kepala orang lain
Ultimatum Marco membuat Gerald mulai menyusun rangka penelitian. Dia akan mencari hipotesa tentang tuannya.
*Tuan Marco Bahkan se marah itu?
Dan lagi lagi aku yang di salahkan.
Baiklah baiklah tuan. Aku akan mencari tau dulu apa yang terjadi*.
Tugas Gerald bertambah lagi. Dia pasrah. Ini pertama kalinya dia harus turun tangan mencampuri urusan rumah. Biasanya dia hanya akan menghandle perusahaan saat Marco menemui orangtuanya. Marco memang tidak pernah membawa siapa siapa saat menemui orangtuanya termasuk Gerald.
Wajah ketakutan Gabriela masih terngiang di benaknya saat dia akan tidur. Marco menggeram kesal. Dan bodohnya kau tidak melawan. Lawan bodoh! lawan!. Marco berperang dengan batinnya sendiri membayangkan wajah dan suara parau Gabriela yang menyedihkan.
Sial! ngapain juga aku pikirkan gadis bodoh yang tidak jelas itu. Dasar!
__ADS_1
Marco merebahkan tubuhnya.
Bersambung......