Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Panggil aku sayang!


__ADS_3

Setelah siang melewati pagi, dan siang terlewati oleh senja kini malam hadir sebagai pembawa damai bagi semua insan manusia di bumi. Sinar matahari pamit mundur berganti dengan sinar rembulan yang mungkin sampai hari ini masih menjadi sinar yang dirindukan anak anak remaja karena sinarnya yang redup memiliki pesona tersendiri.


Keramaian kota mulai terasa setiap persimpangan dipenuhi dengan kendaraan yang beradu kekuatan dengan bunyi klaksonnya. Semua mengejar waktu karena lelah hari ini berakhir juga.


Disebuah kamar lantai dua, ada dua orang sedang tenggelam dibawah selimut meskipun bunyi perut yang keroncongan mulai terdengar namun keduanya masih nyaman dengan posisinya masing masing.


Gabriela sebenarnya sudah merasa kelaparan namun tubuhnya sama sekali tidak bisa di ajak kompromi. Dia kelelahan setelah adu kekuatan dengan pria gagah yang sedang memeluknya ini. Deru nafas Marco menerpa wajahnya namun gadis itu enggan bergerak takut membangunkan singa yang selalu siap menyergapnya tanpa lihat waktu seperti sore ini.


Aku lapar! aku lapar! bagaimana ini cacing di perutku sudah berdemo minta di tenteramkan. Gabriela sedih melihat tidak ada pergerakan laki laki itu. Yaaa malam ini pasti aku melewatkan makan malam lagi. Kalau aku membangunkannya apa besok aku masih hidup? aku takut walau hanya bergerak.


Karena pasrah dia kembali menenggelamkan tubuhnya yang mungil di bawah selimut. Dinginnya AC mulai terasa. Padahal tadi aku berkeringat sekarang aku kedinginan.


Marco membuka mata dia melirik Gabriela, Senyum tersungging di bibirnya sekilas. Dasar tidak peka! dia menowel hidung Gabriela sambil lagi lagi tergelak.


Bagaimana kau masih takut padaku padahal jelas jelas aku sudah sangat baik padamu. Entah baik dari mana maksud Marco jujur semesta bingung. Aku bahkan memelukmu dan bersikap lembut padamu dan kau masih saja gemetar dan takut padaku. Oh jadi itu maksudnya ya ya itukan menurut mu tuan Marco, Gabriela mana tau soal itu.


Marco sengaja bangun dengan keras kemudian berlalu ke kamar mandi. "Sudah jam 8 bagaimana jam cepat sekali berputar" Marco mengenakan kaos dan celananya. Kemudian melompat ke tempat tidur. Dia manis sekali sih Marco membenamkan bibirnya lagi. "Geby" Gadis itu belum memberikan respon. "Geby...kau tidak lapar?" Marco tergelak karena tidak ada respon dari istrinya. "Kalau kau tidak bangun aku akan membuka bajuku lagi"


"Iya iya" Gadis itu refleks bangun menarik selimut menutupi bahunya yang tersibak. Gerakannya mengundang tawa dari Marco "Apa yang mau kau tutupi geby"


"Jangan!!!!" Gabriela mempertahankan selimut sebagai alat pertahanan terakhirnya. Marco semakin tergelak saat melihat wajah panik gabriela di iringi dengan gelengan kepala. "Tuan pergilah makan malam duluan...


hm hm hm Marco lagi lagi menyambar bibir istrinya. "Aku tidak suka melihat orang yang mengulangi kesalahannya geby" Kesalahan apa gila? Aku tidak merasa melakukan kesalahan kan. Tapi kenapa tatapan mu datar begitu. Gabriela membenarkan selimut yang melorot kebawah bahu. Namun selimut itu melorot lagi. Gabriela membenarkan lagi, di lorotkan lagi. Marco mendesah kesal. "Bersihkan tubuhmu kau lapar kan?"


"Tapi tuan balik badan dulu" Wajah masam penuh harap. Gabriela mengibaskan tangannya. "Jangan ngintip ya" dia sibuk mencari cari dimana bajunya tadi di lempar alien ini, tapi tidak ada.


Marco mengancam akan balik badan hitungan ketiga. Gadis itu berlari ke kamar mandi sebelum Marco  benar benar membalikkan badan. Melihat gadis itu berlari ke kamar mandi  Marco terpingkal. Tawa yang tertahan itu lepas begitu saja. Marco mengambil baju gabriela yang dia sembunyikan di balik punggungnya. Dia mencium sekilas baju itu sebelum melemparnya ke dalam keranjang kain kotor.


Aku seperti menikahi anak remaja saja. Tapi kenapa dia manis sekali apa lagi saat malu malu begitu. Marco melangkah turun dia tidak menunggu Gabriela selesai  mandi karena dia tidak yakin bisa menahan diri lagi.

__ADS_1


"Tuan" Pak haris menundukkan kepala. "Anda makan malam sendiri?" Seperti bertanya dimana nona Gabriela? dia juga belum makan kan. Pak haris melirik jam di pergelangan tangannya. Jam makan malam tuan Marco sudah mundur hampir satu jam.


"Geby sedang mandi pak nanti dia akan turun"


Pak haris mengangguk kemudian menundukkan kepala sambil berlalu. Jadi anda punya nama khusus untuk nona Gabriela ya. Pak Haris sama seperti gerald yang juga sedang mencoba mencari tau perasaan Marco untuk Gabriela.


Baru saja di bicarakan Gabriela pelan pelan melangkahi satu persatu anak tangga.  Marco mengulurkan tangan agar gadis itu mendekat.


"Makanlah, maaf aku membuatmu terlambat makan malam" . Apa besok dunia akan sama rata dengan tanah? Mau kiamat kah?. Gabriela terbatuk batuk saat permintaan maaf terdengar langsung dari mulut Marco. Biasanya manusia setengah dewa ini selalu merasa benar dan tidak pernah merasa bersalah kan? Lantas apa gerangan dia minta maaf. Gabriela menerima gelas dari tangan Marco. "Terimakasih tuan"


Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Gabriela melahap makan malamnya dengan cepat. Dia sudah kelaparan, tidak peduli Marco memandanginya.


Gadis bodoh! bagaimana bisa sih kau masih saja ketakutan padaku. Padahal aku sudah sangat baik padamu. Baik? baik dari mana sih 🤔.


Aku bahkan memberimu kenyamanan dan juga memberikan dekapan yang tulus. Aku memperlakukan mu berbeda. Oh jadi maksudnya itu. Gabriela mana paham itu. Kalau kau ketus ketus bicara dan juga tatapan mu membunuh kau tetap di anggap Alien Marco catat itu baik baik.


Gabriela mengambil uang dari dalam laci. Dia melirik laki laki itu hendak berjalan menuju tempat tidur.


"Baguslah kalau ibu mu tau berterima kasih" Marco hanya melirik uang itu. Karena Marco hanya melirik akhirnya Gabriela meletakkannya di pangkuan. "Ibu berterima kasih tuan"


"Lalu kau tidak berterima kasih? " Marco menyeringai.


"Sa...saya juga tuan" Marco mencengkeram Dagu Gabriela. "Aku tidak mau mendengar kau memanggilku tuan lagi paham" Marco melepaskan cengkeramannya.


"Lalu aku harus memanggil apa?" Ya tuhan apa benar aku memang menikahi gadis remaja? bukan anak anak lebih tepatnya. Marco frustasi sendiri. Bagaimana kau tidak peka apa maksudku. Kau bahkan sudah istriku, ku cium peluk dan aaaaa.


"Terserah padamu" Gadis itu menyeryit.


"Panggil aku sayang!!!!" Marco berteriak kesal karena tau gadis itu tidak akan paham. Dasar bodoh!

__ADS_1


Kenapa kau marah gila! kau kan bisa bilang padaku baik baik. Panggil aku sayang ya begitu kan bisa. Tapi alien memang beda. Eh kok malah menatapku seperti itu sih.


"Panggil!"


"Iya sayang, aku akan memanggil anda sayang" Gabriela menyunggingkan senyuman palsu yang sengaja dibuat buat. Puas kau gila!


"Lalu uang ini bagaimana sayang" Iss jijik nya aku memanggilmu sayang.


Marco menyunggingkan senyuman. "Gunakan saja semau mu"


"Benarkah?" Gabriela berbinar. Bola mata jernihnya menatap Marco meminta kepastian. Pria itu mengangguk. "Kalau aku kasi ke panti asuhan boleh?" Wajah marco langsung kesal.


Mendengar kata panti asuhan jiwanya meronta ronta. "Kenapa kau berniat menggunakan itu ke panti asuhan? kau punya selingkuhan disana? atau laki laki yang kau sukai? yang sesukanya memegangi wajahmu semalam??? iya??" Kenapa kau marah dan mencecar ku banyak pertanyaan begitu.


Sepertinya aku harus meluruskan kesalahpahaman ini. "Tuan... mereka anak anak yang sedang dilatih kerajinan" wajah ketat Marco belum longgar. "Mereka tidak punya biaya sekolah jadi mereka belajar keterampilan. Nih aku juga di kasi tas" Gabriela memperlihatkan tas yang di terbuat dari gulungan tali temali. "Mereka seperti melatih kemampuan begitu".


"Tapi aku tetap saja tidak senang wajah mu di pegang!" Marco awalnya mengerti tapi tetap saja tidak terima. "hanya Aku yang boleh memegang wajahmu. Kau paham!"


"Iya iya" Iyakan ajalah biar cepat. Dasar aneh gumam Gabriela.


"mereka pasti senang bisa sekolah. Mereka anak anak yang pintar dan baik tuan eh sayang" Marco menepuk pucuk kepala Gabriela.


Kau masih bisa memikirkan orang lain padahal kau pun tidak lulus sekolah.


"Berikan saja pada Gerald. Nanti dia akan mengurusnya. Kau tidak perlu kesana hanya untuk memberikan ini" Gabriela sebal. Padahal aku ingin main main dengan mereka.


Harapan gadis itu untuk bermain lompat tali dan main sembunyi sembunyian pupus. Ah padahal aku sudah janji papa mereka Minggu depan datang lagi. Gadis itu menarik selimut. Wajahnya muram.


"Kau bisa ikut Gerald besok kesana" Gadis itu berbinar. "Benarkah?" Dia memeluk pinggang Marco. "Makasi sayang" Aaa senangnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2