
Makan siang masih berlanjut. Setelah tatapan tajam Marco yang mengintimidasi, Gabriela jauh lebih hati hati. Setelah suapan makanan masuk kedalam mulut Marco gadis itu berdoa semoga tidak tersedak. Semoga makanan yang kau konsumsi membuatmu semakin sehat. Dan lebih waras tentunya! Gabriela tidak bisa menutupi rasa kesalnya. Karena dia harus menyuapi sang raja makan layaknya anak kecil sedangkan dia?
Aku juga lapar
Marco mendorong tangan Gabriela yang hendak memasukkan makanan kedalam mulutnya. Gadis itu membuka mulut dan mulai makan.
Apa dia tau apa yang ada di dalam hatiku
Suapan pertama habis. Gabriela lagi lagi ingin menyuap makanan kedalam mulut Marco. Pria itu menolak. "Makanlah agar kau tumbuh dengan baik, tidak kecil dan kurus. Minimal kau lebih berisi sedikit lagi" Rasanya Gabriela ingin menendang laki laki yang berkuasa ini keluar. Tapi apa daya saudara saudara sekalian. Kalau aku menendangnya aku yang terlempar.
Gabriela melirik para pengawal dan juga Gerald. Ekspresi mereka tidak berubah datar dan sulit di mengerti.
Kenapa mereka tidak makan ya? apa mereka benar benar alien yang bermutasi ke bumi. Hah, Kalau begitu sepertinya mereka perlu training mandatory tentang hidup di bumi pertiwi ini.
Wahai para tutor ajari mereka senyum, sapa, salam, sopan dan santun. Cih mereka bahkan tidak bergerak. Posisi berdiri juga sama.
Gabriela mulai menikmati makanan di depannya. Dia juga harus mengumpulkan tenaga extra melayani kegilaan Marco setelah ini.
Sementara Gerald yang berdiri tidak jauh darinya hanya bisa menahan senyum. Sebenarnya dia sudah senyum tadi tapi tidak ada yang melihat.
Perkembangan hubungan tuan Marco dan nona sangat signifikan. Apa tuan Marco sudah jatuh hati dengan nona Gabriela? kira kira begitulah pikiran Gerald. Seumur umur tuan Marco belum pernah makan minta di suap.
Setelah menghabiskan makanan dalam kotak Gabriela berdiri ingin membuang kotak nasi ke dalam tong sampah. Pengawal sigap mengambil kotak tersebut dari tangan Gabriela dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
Ku mohon jangan bikin terkejut semua orang. Aku bukan tuan Marco mu yang kau harus kau perlakukan seperti dewa.
Anak anak terlihat mulai membereskan sisa makan siang. Terlatih dengan kebersihan, mereka sudah paham dengan tugas masing masing. Anak laki laki mengangkut semua sampah. Sementara anak anak perempuan mulai menyapu dan mengepel lantai. Sebuah kerja sama yang baik.
Pengawal tetap berjaga di luar. Marco dan Gerald mengikuti kepala yayasan berjalan jalan di sekitar panti asuhan mengamati setiap sudut bangunan yang mulai menua.
Gabriela hanya mengekor di belakang Marco. Saat tangan Marco terulur gadis itu pura pura tidak melihat dia fokus berjalan. Akhirnya Marco juga fokus berjalan sambil mengamati pemandangan kumuh di sekitar panti.
"Apa tempat ini cukup menampung anak anak sebanyak itu?"
Tempat tidur bertingkat, ukurannya sempit. Keadaan kamar sangat sederhana. Tidak ada pendingin ruangan dan juga lemari pakaian hanya ada di sudut ruangan. Bahkan terlihat pintu lemari hanya di ikat dengan tali agar bisa tertutup.
Tempat tidur lusuh itu di tempati dua orang satu kasur. Bantal kecil tanpa guling dan juga selimut tipis. Tidak ada sendal rumahan apalagi cemilan. Hanya ada dispenser di luar kamar sebagai tempat pengambilan air putih saat anak anak kehausan di malam hari.
"Anak anak senang tinggal disini tuan" Ibu yayasan berbicara layaknya fakta. Anak anak tidak pernah protes mengenai fasilitas di panti. Mereka selalu bersyukur karena panti asuhan sebagai tempat mereka berlabuh.
Saat meninggalkan panti asuhan. Ibu kepala yayasan bersujud syukur. Dia berkali kali mengucapkan terimakasih dengan derai air mata.
__ADS_1
Marco memutuskan untuk merenovasi panti.
"Berikan sertifikat panti asuhan ini pada Gerald. Tunggu kami selesai bernegosiasi dengan pemilik tanah itu" Marco menunjuk lahan kosong di sebelah panti asuhan.
Sementara Marco juga menyiapkan rumah untuk ditempati sementara sampai pembangunan Panti asuhan selesai. Marco juga mengatakan akan memberikan fasilitas yang layak untuk anak anak. Dan juga memberikan dana yang tidak sedikit untuk menunjang masa depan anak anak panti.
"Mereka semua harus sekolah" Begitulah percakapan terakhir mereka sebelum meninggalkan panti asuhan.
Anak anak berdiri di halaman mengantar kepulangan Marco dan antek anteknya. Mereka bersorak sorai saat kerinduan akan tercapai.
Sekolah adalah hal yang mereka rindukan.
Doa doa terbaik mereka panjatkan untuk kebaikan hati tuan Marco yang berdarah dingin dan berkuasa.
Marco duduk sok keren. Dia melirik Gabriela yang juga meliriknya. Mata mereka bersitatap. "Kenapa kau melihatku begitu"
"Tidak tuan, eh tidak sayang" aku hanya memastikan bahwa kau masih tuan Marco kan? Bagaimana bisa kau tadi sok lembut dengan anak anak. Dan Jawabannya kau masih Tuan Marco. Ketus ketus dan juga dingin. Cih mau apa juga kau ke panti hari ini? tidak punya pekerjaan?
Tapi, hehehe untung juga sih anda datang tuan Marco yang dingin. Berkat anda panti asuhan bisa di renovasi.
"Geby?" Gadis itu tersentak. "Iya tuan"
Bisa gak sih kalau memanggilku tidak usah berteriak. Aku tidak tuli.
Gerald hanya bisa menggeleng sambil terus mengemudi dengan hati hati. Bagaimana tuan Marco yang dingin ini bisa takluk dengan gadis seperti nona.
Demi bertemu nona semua rapat mundur dari jadwal. Fakta penelitiannya tentang perubahan tuan Marco tidak perlu di revisi lagi. Judulnya sudah jelas. Tuan Marco takluk dengan gadis kecil yang manis. Inilah sebuah judul penelitian Gerald yang berhasil lolos di meja persidangan.
Tinggal pengakuan cinta saja yang belum. Tapi masalahnya nona menyukai anda tidak sih? Eh siapa yang tidak terpesona dengan tampang anda tuan. Tapi nona selalu tidak menyukai anda karena anda memperlakukan nona kayaknya pembantu. Begitu rumitnya dunia percintaan ini.
Gerald melirik ke belakang. Marco tertidur pulas di pangkuan Gabriela, sedangkan gadis itu masih melanjutkan aktivitas memijat kepala sang raja.
Udah tidur gak sih, tanganku pegal
Gabriela menghentikan pijatannya tepat saat mobil berhenti di lampu merah. Dia memperhatikan wajah laki laki gila yang tertidur pulas di pangkuannya.
Dia juga menyentuh dinding mobil. Ini mobil tuan Marco, katanya tidak bisa sembarang orang masuk ke sini. Berarti aku bukan orang sembarangan? Gabriela menutup mulutnya yang keceplosan walaupun dia hanya bicara di dalam hati.
Jangan ke pedean kau Gabriela kurang ajar. Bisa bisanya otak mu berpikir lancang begitu. Kau bisa masuk kedalam mobil ini karena kau pembantunya. Lihat saat di mobil saja kau tetap jadi babu kan!
Memijat kepalanya, harus patuh padanya. Lihat dia enak enak saja duduk di pangkuanku, tidak tau apa kakiku pegal. Gabriela membentak dirinya sendiri agar menyadari posisinya di hadapan laki laki ini.
__ADS_1
Meskipun di ikat oleh pernikahan namun tetap saja Gabriela tidak merasa jadi istri laki laki ini. Aku hanya di kontrak untuk mengganti apa yang sudah di habiskan Tante Mahalini.
Eh ngomong ngomong Tante dan anaknya kemana ya. Sampai hari belum ada kabar dari Mahalini tentang ucapannya waktu itu. Katanya dia akan membawa Gabriela keluar dari goa hantu yang menyedihkan ini tapi hasilnya mana? Aku malah harus menikah dengannya.
Hah! Walaupun Gabriela ikhlas menjalani perannya sebagai istri berkedok budak. Namun hatinya tidak sekuat itu. Ada kala saat dia di bentak sedih itu menelusup kedalam hatinya.
Merasa dikhianati dan merasa dunia ini tidaklah adil. Bagaimana orang kecil yang tidak tau apa apa harus menghadapi situasi seperti ini.
Tapi... Gabriela melirik Marco. Pria itu masih menikmati tubuh tidurnya. Dia sudah jauh lebih baik sih akhir akhir ini. Apa dia menganggap ku istri? Tidak mungkin lah.
Gabriela langsung menyangkal pikiran sendiri. Level tuan Marco bukan seperti mu Geby. Jadi kau jangan terlalu besar hati saat dia memperlakukan mu lembut di atas tempat tidur. Itu karena dia ada maunya dan sudah kewajibanmu harus mengabulkan kemauannya.
Gabriela meringis saat mengingat semua hal mengenai kerangka perjalanan mengapa dia harus masuk kedalam goa ini.
Ini semua karena mu Tante
Ada Kebencian di dalam hatinya saat mengingat Mahalini. Wanita itu entah sudah di mana sekarang. Untung saja ibu mendapatkan kebaikan hati tuan Marco. Bagaimana kalau tidak? aku gak punya penghasilan dan juga ibu yang tidak bisa bekerja. Semua akan semakin ruam kan. Dia melirik lagi laki laki di pangkuannya.
Kenapa dia tampan saat tidur ya.
Kadang Gabriela merasa aneh saat laki laki ini memperlakukannya dengan baik. Hatinya tidak bisa berbohong saat mulai merasa nyaman dalam dekapan laki laki ini.
Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang sedang sibuk berkutat dalam diriku.
Gabriela tanpa sadar menyentuh rambut Marco yang tertata rapi. Apa selamanya kita akan begini?
Atau sampai kapan aku bisa bertahan. Jangan berbuat baik padaku. Kalau kau hanya menginginkan aku menemani mu di tempat tidur aku tidak akan bisa menolak kan.
Sejauh ini Gabriela masih terus membentengi dirinya. Dia tidak mau terlalu banyak menerima kebaikan tuan Marco. Pokoknya aku tidak boleh terikat terlalu lama lagi.
Aku mau kembali ke ibu dan bekerja seperti dulu lagi. Tidak apa apa badanku lelah. setidaknya aku bebas.
Mobil masih melaju kencang, Gabriela mengelus rambut Marco sambil tangannya bertopang di dagu. Melihat keindahan luar yang tidak mungkin bisa dia sentuh.
Aku kan selalu terkurung di rumah
Tidak bisa kemana mana
Tapi setidaknya aku benar benar senang bisa melihat anak anak panti asuhan sekolah. Dan... entah mengapa dia masih terpikir dengan beasiswa yang diterima laki laki remaja itu.
Apa anda juga yang memberikan beasiswa itu??
__ADS_1
Bersambung