
Gabriela sudah selesai menggunakan dres rumahan keluaran terbaru. Rambutnya terlihat masih rapi karena habis di keramas, bahkan masih tersisa sisa basah. Biasanya Kan rambut gelombangnya sudah terlihat mendayu saat dia berjalan. Cahaya di luaran sudah seperti siang bolong, Gadis itu baru bangun setelah merasakan perutnya benar benar mengisap. Tidurnya bahkan tidak terusik walaupun Marco berkali kali mengganggunya tadi, karena tidak ada respon akhirnya Marco menghentikan aktivitasnya.
Disinilah dia sekarang. Kaki mungil nya malu malu melangkah. Dia mengintip sebentar siapa saja yang ada di meja makan. Tidak ada. Wah dimana tuan marco si alien itu? Langkahnya sudah santai dengan senyum mengembang. Akhirnya lapar akan berakhir.
"Selamat pagi nona, silahkan nona sarapan" Lisa menarik kursi agar Gabriela duduk. Gabriela terkejut. "Apa sih kak. jangan memanggil ku begitu" Gadis itu kesal sambil mendekat. Dress kuning nya sedikit kebesaran jadi tubuh mungilnya tenggelam. Tapi itu benar benar manis dan lucu.
Lisa tersenyum hangat. "Silahkan non"
"Apa sih kak! tuan Marco dimana kak?" Gabriela semakin berjalan cepat memeluk Lisa seperti sudah begitu dekat. "Tuan sudah pergi pagi pagi tadi nona" Lisa mundur satu langkah.
"Kak Lisa" Melihat ekspresi Gabriela Lisa benar benar merasa bersalah. Dia dulu pertama kali mengenal dan memperlakukan gadis manis di depannya ini begitu hangat. Entahlah dia pernah menganggap Gabriela sebagai adiknya. Kelembutan Gabriela selalu membuat tenang jiwanya. Mereka sering bekerja sama sama di dapur.
Gadis polos yang tidak tau apa apa ini datang padanya dan berkata. Kak aku takut salah, ajari aku kak aku mohon. Sambil kedua tangannya terkatup di dada. Setelah tau menghidupkan kompor dia memeluk Lisa seperti seseorang yang baru selesai memecahkan misi besar. Dia kegirangan karena hanya Lisa yang mau bergaul dengannya di belakang.
Tapi sekarang hubungan antara dia dan majikannya memang harus tetap punya batasan.
Menikahnya Gabriela dengan tuan Marco memang langsung memangkas jarak antara mereka.
Dan sekarang Gabriela seperti merasa kehilangan "Kakak kenapa seperti itu?" Gadis itu menatap sedih padanya.
"Nona sebaiknya nona sarapan" Bagaimana aku menjelaskan padamu nona. "Nona kan majikan saya, sudah nona jangan seperti itu" Lisa mempersilahkan Gabriela duduk. "Ayok makan sama kak, aku rindu kakak."
Lisa tersenyum. "Makanlah nona saya dan yang lainnya sudah sarapan sebelum nona turun tadi" Bohong. padahal Lisa menahan lapar karena menunggu Gabriela yang tak kunjung. Karena dia mendapatkan tugas dari pak Haris melayani di meja makan pagi ini. Apalagi tadi Marco berpesan pastikan Gabriela makan dengan baik.
"Kak Lisa..." Lisa mendekat. "Iya nona"
"Kita masih bisa berteman kan" Lisa tertawa bagaimana tuan Marco tidak tergila gila pada anda. Sepolos ini sekali anda nona manis.
__ADS_1
"Tentu nona, saya akan selalu ada untuk nona anda kan majikan saya" Ucapan Lisa bukan terdengar sebagai pertemanan. Malah semakin memperjelas bahwa mereka hanya akan sebatas majikan dan pelayan. Jarak antara mereka tidak bisa seperti dulu lagi.
Akhirnya Gabriela melahap makanan di atas meja. Dia sedih Lisa bahkan tidak mau pergi dari belakangnya. Gabriela sudah mengancam tidak mau makan kalau Lisa tidak duduk tapi sia sia.
Gabriela mulai menaiki tangga lagi. langkahnya lambat sambil beberapa kali menoleh ke bawah melirik Lisa yang sibuk merapikan meja bersama satu pelayan laki laki.
Kak Lisa 🙁
"Nona, anda diminta untuk tetap di istirahat di kamar sambil menunggu tuan Marco pulang" Yang artinya kau tidak boleh kemana mana. Hanya di kamar.
Gadis itu mengangguk. Kamar lagi! Kamar lagi! bosan tau. Aku rindu melihat matahari. Dia menyeret langkahnya hingga ke sofa kamar. Sikap Lisa mengubah mood nya. Aku tidak punya teman lagi. Apa kak Lisa membenciku seperti senior senior yang tidak pernah tampak lagi itu. Kenapa sih semua orang tidak menyukai ku.
Gabriela menghempaskan tubuhnya.
Ponsel bergetar. Nomor baru mengirim pesan. Siapa ya? Karena masih galau dia mengabaikannya begitu saja. Palingan juga pesan promo paket data atau pesan iseng iseng anda mendapatkan hadiah mobil. Gabriela malas membuka pesan itu. Aku tidak butuh Mobil.
Dia berguling lagi sambil terus scroll beranda atas bawah. Nonton konten dan juga main Game. Itu saja pekerjaannya akhir pekan ini. Lama lama ponsel mahalnya yang canggih sudah tergeletak begitu saja. Membosankan.
Gabriela menatap pintu. Marco masuk dengan jeket Hoodie nya.
Kok dia tampan ya pake celana pendek dan jeket begitu. Lisa mengalihkan pandangan. "Ah sayang... anda dari mana, apa anda sudah makan?" Marco mendekat merasa puas setelah tidak mendengar ucapan Gabriela 'Tuan ahh maaf sayang'
Lidahmu sudah terbiasa ya baguslah. "Kenapa kau merindukanku?" Marco membuka hodienya. Sesuatu benda terpental ke lantai. Marco buru buru mengambil dan menyembunyikannya ke balik punggungnya.
Karena gerakan cepat Marco Gabriela sama sekali tidak melihat benda apa itu. Mau bertanya nanti gak punya keberanian. Palingan jawaban Marco nanti hanya akan menambah dosa dosaku memakinya di dalam hati. Akhirnya Gabriela memutuskan tidak bertanya.
"Kenapa kau tidak menjawab ku" Marco menghempaskan tubuhnya ke sofa. Satu tangan sudah menusuk nusuk pipi Gabriela gemes. Wajahmu sepertinya murung kenapa?
__ADS_1
"Hehehe iya sayang tadi aku kecarian saja" Siapa juga yang merindukan mu iblis! sana kau! main pegang pegang aja. Marco sudah melepaskan tangannya yang menelusup di punggung Geby.
"Ke-ca-ri-an saja????" Tidak terima jawaban singkat Gabriela.
Apa lagi sih! "Hehehe iya sayang aku kecarian karena merindukanmu" Puas kau gila! Sepertinya selain bekerja keras jadi budakmu aku harus belajar keras bersandiwara. Entah apa pun mau mu aneh aneh saja.
Mendengar Gabriela merindukannya Marco tersenyum. Dia kemudian masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu dia sudah keluar menggunakan pakaian semi formal. Dia hanya memakai celana jeans panjang, kaos kemudian dibalut blezer coklat.
Dia bebas mau pigi kemana saja. lantas aku? terkunci terus disini
"Sayang anda mau kemana?" Iseng iseng bertanya tapi tidak di jawab. "Aku boleh tidak keluar sebentar sama kak Lisa sebentar saja" Suara imut yang di buat buat semoga meluluhkan hati Marco.
"Siapa Lisa?" Aku tidak suka kau berhubungan dengan keluarga mu.
"Lisa loh sayang, itu kakak yang menyiapkan sarapan pagi" Marco tidak ambil pusing mau siapa pun itu. Kau mau keluar hanya untuk mencoba melarikan diri. Jangan harap!
"Tetap dirumah jangan membantahku, aku sedang emosi" Gabriela murung. Dia berbalik dan mengambil sepatu Marco. Memakaikan seperti biasa. Padahal kalau akhir pekan begini anda kan selalu di rumah.
Mau kemana sih?
"Aku bosan di kamar saja sayang aku juga tidak anda izinkan beres beres di dapur"
Pintu kamar tertutup, ya tuhan dia tidak menggubris. Mau sampai kapan sih aku hanya di kamar ini tidak bisa kemana mana. Bisa gila aku. Aku rindu kerja, makan bakso Kojek di simpang dan juga menikmati telur gulung mang Adam.
Gabriela melangkah ke balkon. Mobil tuan Marco sudah keluar dari rumah. Satpam terlihat menunduk sekilas kemudian menutup gerbang. Mobil itu melaju hingga menghilang.
Gabriela menghentakkan kakinya. Aku istri atau tawanan.
__ADS_1
Bersambung..