
Jauh seperti yang di harapkan. Hari ini Marco pulang larut malam. Diperjalanan dia sudah bolak balik memaki Gerald agar mengemudi lebih cepat namun asisten sekaligus tangan kanannya yang setia hanya bisa menjawab sabar tuan. Pria itu menghela nafasnya. "Apa kau tidak memprediksi sore seperti ini macet? kenapa tidak naik helicopter saja kan semua lebih mudah!" Marco memukul kursi kesal.
Gerald yang melihat hal itu sedikit terkesima. Akhir akhir ini ada yang berubah dari pria dingin yang sudah dia kenal sekian lama. Biasanya Marco hanya akan duduk sambil berjibaku dengan email. Pokoknya semua tentang pekerjaan dia akan tenang saat semua urusan kantor berjalan dengan baik bahkan macet total sekalipun. Namun Akhir akhir ini rasa sabar pria itu sering tidak terkontrol.
Saat sudah tiba di rumah Marco melempar jasnya dengan kasar.
Dimana gadis bodoh itu
Marco mengibaskan tangannya mengusir Gerald. Pria itu mengangguk sopan kemudian berlalu menuju tangga lain. Pria tampan itu melepas jasnya lalu duduk tergelak di sofa kamar. Ketampanan Gerald mungkin berada satu garis dibawah ketampanan Marco. Namun jangan salah pria ini bahkan lebih bringas dari tuannya ketika ada sesuatu yang dipertaruhkan. Namun sifat itu sangat jarang muncul.
Di Rumah kediaman Marco dia juga punya kamar sendiri. Kamar itu sangat jarang dia tempati kecuali ketika pulang larut seperti ini. Itupun hanya sesekali.
Sementara itu Marco menatap prihatin gadis yang sedang tidur di sofa persis di depan tangga. Gadis itu duduk beralaskan lantai namun kepalanya bertumpu ke ujung sofa. Posisi tidur seperti itu pasti sangat tidak nyaman. Rambutnya yang panjang terurai di punggungnya bahkan sampai menyentuh lantai. Marco menyibak rambut itu tampaklah wajah gadis itu yang mungkin sedang berkelana dengan mimpi mimpi manisnya. Marco ingin membangunkan namun dia enggan melakukannya.
Pria itu berlalu begitu saja. Dia segera mandi. Pakaian dan handukĀ baru sudah ada di atas tempat tidur.
Jam berapa ini. Gadis itu terhuyung karena merasakan keram di sekujur kakinya. "aw aw"
Antara sadar dan tidak suara gemercik air terdengar. Dia menempelkan telinganya ke balik pintu dan ternyata pendengarannya tidak salah. Raja maha agung sudah pulang. Seketika jantungnya berdegup kencang. Gemetar ketakutan.
Aku ketiduran
"Tuan maafkan aku" Gadis itu mulai dihantui rasa bersalah karena tidak bekerja dengan baik.
"Sana kau tidur! renungi kesalahanmu dan persiapkan dirimu besok. Aku malas marah di tengah malam. Kau dipekerjakan bukan untuk tidur" Marco melempar handuk ke sudut ruangan dengan kasar. Gadis itu langsung memungut dan memasukkan kedalam keranjang kotor. "Maafkan saya tuan".
"Enyah kau dari hadapanku!" Gadis itu tidak langsung keluar dia masih berharap marco akan memaafkannya. "Kau tidak dengar aku bilang apa? telingamu tidak tuli kan!" suara Marco yang sudah mulai terdengar kesal membuat nyali Gabriela beringsut. Gadis itu menundukkan kepala lalu pelan pelan keluar. Setelah menutup pintu gadis itu menuruni tangga. Dia menyeka air matanya.
Tuhan bagaimana ini. Aku lelah seperti ini ditekan terus.
Pekerjaan ini sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa tadi aku ketiduran. Bagaimana nasibku besok.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia meyakinkan semuanya akan baik baik saja. Besok minta maaf dan lakukan apa yang dia suruh.
Ngapain juga pulang lama ah menyebalkan.
.....
__ADS_1
Hening malam hari membuat semua penghuni rumah tidur. Mereka akan mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah bekerja seharian. Malam adalah waktu yang pas untuk isi ulang tenaga.
Besok energi akan terpakai lagi untuk membeli energi baru. hah! begitulah rotasi kehidupan di dunia yang penuh dengan sandiwara ini.
Pagi hari Marco sudah ada di meja makan. Dia sedang menahan diri untuk tidak marah. Pagi ini Gabriela keterlaluan. Dia sama sekali tidak bangun untuk melakukan pekerjaannya.
"Apa dia makan tadi malam?" Pak Haris yang berada di belakang punggungnya maju satu langkah.
"Sepertinya tidak tuan. Non Gabriela menunggu anda sesuai dengan aturannya dia akan makan setelah anda makan." Ucap pak Haris yang langsung menyentak perasaan laki laki kejam ini.
Dia menghela nafas sejenak. "Jam berapa dia tidur di sofa?"
"Saya masih berbicara dengannya jam 11 tuan. Saya juga memintanya agar istirahat sejenak biar saya yang menggantikan posisinya sementara. Tapi non Gabriela menolak keras.
Marco akhirnya mulai menyantap sarapan paginya. "Habiskan sarapanmu" Ucapnya melirik Gerald yang juga sudah rapi di meja makan.
Pak Haris menoleh saat seorang pelayan mendekatinya. Dia mengangguk kemudian memberikan isyarat agar pelayan itu pergi.
"Sepertinya nona Gabriela sedang sakit tuan. itu sebabnya beliau belum bangun" Marco yang sedang fokus makan meletakkan sendok dan garpu di tangannya.
"Biarkan saja kalau begitu" Ucap Marco acuh. dia kembali melanjutkan sarapan paginya. Di perjalanan ke kantor dia merasa ada yang kurang. Dia melirik kursi yang biasa di duduki Gabriela kemudian dia menatap jalan raya.
"Katakan apa yang kau dapat" Ucap Marco duduk di sofa.
"Nama aslinya Gabriela Isler. Biasanya dia dipanggil Geby. Beliau hanya sekolah sampai kelas 6 SD"
Pantas dia bodoh. hahaha
"Lanjutkan"
Pria itu kemudian menceritakan lagi. "Dia anak pertama dan saudara laki lakinya meninggal sewaktu mereka masih kecil dan satu lagi tuan" Pria itu melirik Marco sejenak dia tau hal ini akan meledakkan kemarahannya."non Gabriela bukan anak Mahalini"
Raut wajah Marco sudah berubah. Seringai tipis dengan rahangnya yang mengeras. Sofa kulit yang dia duduki sudah robek akibat cengkeramannya yang keras. "Seberani itu wanita itu ya" Dia menyeringai tipis. Dia melik pria kokoh di depannya itu.
"Mahalini adalah kakak ibunya non Gabriela, dan Mahalini juga memiliki seorang anak perempuan 23 tahun"
"Wanita yang mencambuk non gabriela kemarin adalah ibu kandungnya" Marco tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Ibu mana yang tega memukul anaknya nyaris merenggang nyawa. "Ibunya mengalami gangguan mental pasca meninggalnya suami dan anaknya beberapa tahun lalu dan usut punya usut Ibunya tidak menyukai non Gabriela karena sesuatu hal. Non Gabriela bekerja keras mulai dari kecil akibat tuntutan biaya pengobatan ibunya".
__ADS_1
Marco menyandarkan kepalanya. Keterangan anak buahnya membuat pikirannya bercampur aduk. Jika di urai dengan jelas Gabriela adalah anak yang menjadi tumbal kebodohan. Mendengar kebenaran itu timbul niatnya akan memulangkan Gabriela dalam kehidupannya yang dulu. Sekejam dan sedingin apa pun dia, Marco tetaplah pria berhati malaikat. Dia tidak pernah menargetkan garis takdir untuk orang yang tidak bersalah. Dan Gabriela masuk dalam list orang yang tidak bersalah. Gadis itu tidak tau apa apa.
Namun ada hal yang tidak terima dalam hatinya. Terlepas dari penghianatan Mahalini dia tidak ingin melepaskan Gabriela begitu saja. Ada hal konyol yang berkecamuk dalam hatinya saat mendengar kebenaran itu.
Selang waktu yang lama mobil memasuki gerbang Marco baru tersadar ketika Gerald memanggilnya.
"Dimana gadis itu?" Pak haris menerima Jas dari Marco. "Non Gabriela sedang belajar memasak di dapur tuan".
Melihat tatapan tidak suka Marco pak haris mulai ragu. "Saya akan memanggil beliau". Pak haris berlalu sambil membawa jas di tangan nya. Namun dia berbalik lagi "Tuan...Nyonya menghubungi telepon rumah tadi siang" Marco buru buru melihat ponselnya dan ada sederet panggilan dari mama.
apa yang terjadi..
Saat orang tuanya menghubungi entah mengapa perasaan Marco tidak karuan. "Periksa keamanan di negara X" dia Sinyal berbahaya mulai terasa.
Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Tuan apa anda sudah lapar?" Marco mengernyitkan keningnya. Biasanya gadis di depannya ini tidak berani bicara kecuali di tanya.
Tunggu kenapa tampilan mu berbeda.
"Kenapa? apa kau pikir aku akan selera mengonsumsi makanan yang kau hidangkan?" Bertanya sekalian merendahkan atau menghina. Jangan berharap lebih itu intinya.
"Tidak" Ucap Gabriela sambil berlutut melepaskan sepatu Marco. "Aku hanya bertanya tuan".
Marco melirik ke bawah. Apa maksudnya?
"Kenapa kau memakai baju seperti ini? Mau menggodaku? " Ucap Marco memandang sinis gadis itu. Dia memakai dress selutut warna pink magenta. Tampilannya hari ini jauh lebih feminim ketimbang hari lalu.
Gadis itu berdiri sambil melirik tampilannya. "Tuan yang meminta saya untuk tidak memakai pakaian saya yang lama". gusar sendiri karena laki laki ini menyebalkan.
"Oh. jadi kau sibuk menata penampilanmu sampai kau lupa tanggung jawab mu setiap pagi! iya?". Marco menarik rambut Panjang Gabriela sampai gadis itu berdiri.
"Maaf tuan bukan seperti itu. Maafkan kesalahan saya. saya janji tidak akan terulang lagi. Tolong maafkan saya tuan. Dan terimakasih untuk kebaikan anda sudah memberikan saya uang mengubah penampilan saya" Ucap Gabriela.
Marco tergelak. "Tidak ada yang gratis di dunia ini"
Aku tau itu. Kau pasti akan menghitung dan menambah kedalam daftar utang ku.
Walau dengan perasaan kesal. Gabriela tetap melakukan tugasnya melayani Marco sampai laki laki itu tidur lagi.
__ADS_1
Bersambung....