Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Lepaskan tangan mu sampah


__ADS_3

Pagi hari Gabriela memberangkatkan Marco ke kantor. Hari ini dia tidak ikut ke kantor. Marco sudah melarangnya tadi, Itu semua berawal dari tatapan dan juga senyum jenaka Daniel sahabatnya semalam. Entah mengapa malam pun terasa lama memikirkan masalah itu. Bukan itu saja, masalahnya Gabriela terlihat membalas senyum itu semalam. "Sial" Marco mengacak rambutnya. "Putar balik kerumah!". Gerald gelapan memutar kemudi. Dia hampir menabrak pejalan kaki yang sedang menyebrang insiden itu berakhir dengan makian.


"Kenapa kau tidak hati hati" Marco merasa tidak berdosa mengucapkan kalimat tidak layak itu. Jelas jelas tadi dia yang tiba tiba bicara. Keras lagi mengejutkan tapi orang lain yang selalu salah. "Maafkan saya tuan". Selalu saja aku salah.


"Tapi kenapa kita putar balik?" ini sudah setengah jalan. Pasti nanti banyak pekerjaan yang terkendala. Belum lagi rapat pagi ini.


"Hubungi pak haris suruh siapa itu namanya" Marco memijat kepalanya yang berdenyut "Gadis itu siapa namanya?". Marco tampak berpikir keras. Ingin mengucapkan sesuatu.


"Apa maksud anda nona Gabriela?".


"Iya! memangnya siapa lagi! biarkan saja dia ikut ke kantor." Aku tidak mau dia bertemu dengan Daniel brengsek lagi. Dia lupa bahwa semalam dia mengatakan agar Daniel mengantar berkas penting semalam ke rumah. "Baik tuan. Informasi dari pak haris tuan Daniel baru saja dari rumah mengantar berkas dan sedang berbicara dengan nona Gabriela". Gerald mengatakan dengan enteng. Dia ingin melihat reaksi tuannya. Dan tepat! tatapan dan wajah Marco sudah berubah. Gerald menarik senyumnya tipis.


Mobil berhenti di depan rumah. Tepat saat Daniel memberikan berkas itu pada Gabriela. Tangan mereka sedikit bersentuhan. Daniel sengaja menatap wajah Gabriela. "Berkas ini sangat penting nona jadi jangan sampai lecet berikan pada Marco saat dia pulang nanti. Saya tidak sempat lagi mengantarnya." Tangan Daniel belum turun.


"Singkirkan tangan mu sampah!" Marco membanting pintu mobil dengan keras turun sambil menarik gabriela kebelakang tubuhnya. Tubuh mungil itu hampir saja terhuyung kalau pegangan tangan Marco lepas. Gadis itu terkejut bukan main.


Situasi macam apa ini. Gerald.


"Kau kan bisa mengantarkan ke kantor ku sialan!" Marco merebut kasar berkas itu yang disambut tawa ejek Daniel. "Kau lupa membebaniku tugas berat minggu ini gila! ahh percuma bicara dengan ufo sepertimu. Alien tidak akan paham bahasa manusia" Daniel melambaikan tangan masuk ke dalam mobil. "Nona Geby..ingat" Daniel menggoyangkan kepalan tangannya di dekat telinga. "Hubungi aku jika perlu" Sebelum pergi Daniel mengedipkan mata sambil tersenyum melihat Gabriela di belakang punggung Marco. Dia tidak tau bahwa tindakannya itu sudah memantik api diantara taburan bensin.


Daniel terbahak seperti menemukan tumpukan harta karun yang sudah ribuan tahun lamanya terkubur di dasar bumi."Hahahaha". Daniel sendiri adalah sepupu Marco. Meskipun bukan sepupu kandung tapi masih ada hubungan darah. umur mereka hanya terpaut beberapa tahun membuat keduanya sama sekali terlihat sebaya. Daniel juga tampan dan mapan keduanya sama sama anak konglomerat yang berkolaborasi di bidang bisnis.


Gadis itu ditarik paksa oleh manusia setengah dewa yunani. Tidak tau apa salahnya. Brak! pintu kamar tertutup rapat.


Gerald mendudukkan bokongnya di sofa. Dia tau hari ini semua agenda atau jadwal batal. Apalagi saat dia menyaksikan tuan Marco sudah membuka jas dan melemparnya dengan sembarang. Terlihat dia mengusap ponselnya menghubungi seseorang. "Semua dilanjutkan besok". Lagi lagi semua pekerjaan hari ini terkendala.


Sementara itu di dalam kamar Gabriela terpojok lagi ke dinding. Tubuh mungilnya terlihat melawan sambil berjinjit saat tangan kekar Marco mencekik lehernya. Dia terbatuk batuk sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Buliran air mata jatuh membasahi pipinya. "Saya salah apa tuan?" Dia sudah sangat sering sekali menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


"Kau tidak tau apa kesalahanmu atau pura pura tidak tahu?" Marco semakin kesal saat Gabriela menepis tangannya yang menempel di pipi.


"Aku menyuruhmu di rumah buat apa? agar kau menjaga dirimu dari laki laki lain!".


"Tapi saya tidak melakukan apa apa tuan!" Gabriela untuk poin ini dia selalu berani menjawab. Dia tidak mau tinggal diam.


Marco tersenyum tipis. "Berikan ponsel mu" Gabriela melirik ponsel yang tergeletak di lantai. Marco mengambilnya. "Siapa namanya? kau simpan dengan nama apa dia di ponselmu!" Marco geram sendiri sepertinya loading gadis itu benar benar lambat.


"A..aku..." Gabriela tidak tahu. Tadi Daniel yang menyimpan sendiri nomornya di ponsel Gabriela.


"Satu...."


"Tidak tau tuan. Tadi tuan Daniel yang simpan sendiri nomornya di Hp Ku"


Prang!!!! ponsel itu sudah berubah menjadi semburan besi besi yang berserak di lantai. Gabriela menutup mulutnya tidak percaya.


"Kau bahkan memberikan ponselmu ke sembarang orang? Bodoh! " Semakin kesini Marco semakin kesal saja.


Dia menarik tangan Altea ke kamar mandi. "Di Bagian mana kau disentuh tadi ha!". Marco baru ingat jika tadi tangan Daniel bersentuhan dengan Gabriela.


Semakin tidak terkendali. Marco mengangkat tubuh altea ke atas batu up. Kemudian menghidupkan shower bath dengan kencang. Dia mengguyur tubuh gadis itu dibawah air panas.


"Kau menyentuh laki laki lain lalu nanti menyentuhku?" Tidak terima. Marco terus menyiram tubuh Gabriela dengan shower tanpa sadar jika itu air panas 90% Celcius.


Emosi yang meledak ledak serta amarah yang tidak tertahan membutakan matanya. Marco yang sesungguhnya memang seperti itu. Gelap mata.


Gabriela menjerit keras sambil berusaha keluar dari bath up. "Aaa tolong aku....Panas!!!! Panas!!!.. Maafkan aku tuan jangan lakukan ini" Gadis itu menangis sambil menjerit jerit. Panas menjalar di sekitar tubuhnya.

__ADS_1


Marco tersadar saat dia melihat asap di air tidak seperti biasanya. "Shiittt" Laki laki itu buru buru mengangkat tubuh Gabriela keluar. Gadis itu masih sesenggukan. Kulit tangannya memerah.


Marco buru buru keluar mengambil handuk kimono. "Buka bajumu!". Gadis itu menggeleng. "Cepat buka!" Marco sudah ingin menarik paksa baju itu namun melihat Gabriela yang beringsut, dia segera tersadar bahwa tindakannya itu salah. kemudian keluar. "Aku tunggu 1 menit".


Gadis itu melorot ke lantai. Tangan dan kakinya gemetar. Panas makin menjalar semakin perih dengan rasa takut yang selalu membuatnya benar-benar tidak bisa menguasai dirinya. Dia benar benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Namun kata kata Tante Mahalini membuat percaya jika tuan Marco manusia berdarah dingin.


Dia melirik bath up tempatnya di guyur tadi. Sebentar lagi saja Marco tidak menghentikan aksinya, pasti tubuh Gabriela akan melepuh rata. Itu air panas lho.


"Tolong aku tuhan" Dia menangis sambil membuka semua baju yang menempel di tubuhnya. Kemudian Menggantinya dengan Kimono handuk. Gedoran di pintu membuatnya menoleh. Dia buru buru menyeka air mata. lilitan kimono dia perketat agar benar benar menempel dengan baik di tubuhnya.


"Kemarilah..." Marco mengulurkan tangan. Gadis itu perlahan mulai melangkah. Dia duduk di sofa tepat dengan tepukan Marco.


"keluarkan tangan mu" Marco melihat jelas tangan itu sudah memerah. Sejenak dia menghela nafas. Kemudian mulai mengoles seleb penyejuk di sekitar kulit yang memerah.


Merasa bersalah wajar. Bukan manusia namanya kalau dia tidak merasa bersalah telah mengguyur tubuh Gabriela dibawah air panas. Namun dia melakukan itu tidak sengaja. Dia pikir itu air dingin. Begitulah kalau sudah emosi. Dunia ini seperti mati lampu. Gelap gulita.


Saat tangan Marco tidak sengaja menyentuh dengkul Gabriela, gadis itu menahan tangannya "Aku saja tuan terimakasih"


Marco tergelak. Dua kali dia kena tolak tanpa peringatan. "Aku tidak tertarik dengan mu jadi berhentilah berpikir macam macam"


Saat merasa semua sudah ter oles Marco meninggalkan kamar. "Istirahatlah aku tidak jadi ke kantor hari ini".


Marco tiba di ruangan kerjanya. Dia mengacak rambutnya sendiri. Rasa bersalah itu datang lagi. Marco hanya mondar mandir tidak jelas di dalam ruangan kerjanya.


Sampai akhirnya.....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2