Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Perkara make up


__ADS_3

Setelah mendapat ribuan nasehat dari kedua orang tuanya Marco memutuskan kembali ke tanah air. Seorang CEO yang memiliki banyak cabang perusahaan memang tidak boleh lama-lama meninggalkan pekerjaan kan. Di usia matangnya ya pekerjaan lah yang merajai hidupnya. Seluruh waktu dan tenaga dia dedikasikan untuk perusahaan.


Seharusnya dia sudah bisa menjadi Owner. Namun dia menolak hal itu. 'Papa masih ada kan. Aku tidak mau melangkahi papa nama papa tetap ada di perusahaan'. Begitulah struktur perusahaan yang selalu dia pegang. Aku tidak gila jabatan pa. Aku hanya memperjuangkan hak milik kita.


Marco dulunya adalah remaja kecil yang tumbuh dengan penuh perjuangan. Jadi tidak heran wajah dan sikapnya yang sedingin salju itu tercipta karena dia adalah manusia yang pembawaannya selalu serius. Sifat itu tercipta begitu saja karena kerasnya kehidupan yang dia lalui.


Berikan aku waktu pa,ma. Aku pasti akan membawa istriku pada kalian. Tunggu waktu yang tepat. Begitulah akhir dari perdebatan mereka pagi itu setelah selesai sarapan.


Sampai pesawat mengudara pikiran Marco masih terus dipenuhi dengan pernikahannya dengan Gabriela.


Kapan waktu yang tepat mengenalkan Gabriela?


Biarkan waktu yang menjawab.


Mobil berhenti di depan pintu rumah. Gerald membuka pintu kemudian menutupnya lagi setelah memastikan tuannya keluar. "Urus semuanya Ger. Aku tunggu kamu dirumah"


"Baik tuan" Urus semuanya Aku tunggu kamu dirumah. Itu artinya aku yang akan menemui klien dan juga memimpin rapat nanti dan semua hasilnya aku bawa ke depan Tuan Marco. Sepertinya akhir pekan begini aku harus bekerja keras. Baiklah baiklah. Gerald melajukan mobil kembali ke kantor.


Seperti biasa kebiasaan Marco akhir akhir ini adalah memastikan penampilannya menawan sebelum bertemu dengan Gabriela. Ya tuhan kau sudah tampan tuan Marco. Tidak usah menyisir ulang rambutmu sudah rapi kok. Dan itu juga senyummu tidak perlu kau atur atur. Kau mau senyum atau marah di mata Gabriela kau tetap menakutkan.


Saat pintu terbuka wajah Marco surut. Tidak ada Gabriela. Kemana istri ku?


Marco merutuki pikirannya sendiri. Kenapa aku tiba tiba sudah menganggapnya istriku? Bukan itu yang penting sekarang. Kemana Gabriela?


Wah wah wah. Kau benar benar ya! Kau sengaja pergi sesuka mu setelah tau aku tidak dirumah. Dasar tidak patuh. Marco menendang udara, merasa Gabriela mengkhianati janji mereka.


Kau kusuruh menungguku dirumah kan!


Boleh pergi menemui ibumu tapi hanya sekali!


Pak Haris masuk kedalam kamar membawa air putih. "Tuan makan siang anda sudah tersedia. Sebaiknya anda turun" Pak Haris meletakkan gelas air.


"Kemana dia" Pak Haris mengernyit sebentar. Tiba tiba otaknya loading. Oh nona Gabriela ya. "Nona sedang mengunjungi ibu nona tuan" Ekspresi pak Haris tidak berubah saat melihat kepalan tangan Marco.


"Semalam apa yang dia lakukan?"


"Nona juga pergi menemui ibunya tuan" Tangan Marco sudah terkepal dua duanya. Berani sekali kau mengkhianati ku. Aku bilang kau menemui ibumu sekali kan!


"Jam berapa dia pergi semalam?" Tatapan Marco masih berapi api. Kalau saja dinding mengandung bahan bakar pasti sudah terbakar semua isi kamarnya.


"Nona pergi satu jam setelah anda pergi tuan, dan kembali setelah 30 menit kemudian" Wajah Marco terlihat seperti ingin tau tentang keseluruhan aktivitas Gabriela selama dia tidak ada. "Nona bilang bahwa beliau tidak bertemu dengan ibu nona, karena rumah kosong".

__ADS_1


Baiklah aku anggap ini bukan kesalahan.


"Tadi dia jam berapa pergi?"


"Satu jam yang lalu tuan, Nona bilang beliau sudah dapat izin dari Gerald" Pak Haris juga tidak mau mendapat masalah setelah menyetujui Gabriela keluar. "Dan juga nona membawa koper...


Wajah Marco langsung tersambar kilatan kemarahan. Koper? dia kabur? Marco langsung berdiri. Dia siap siap meratakan rumah ini dengan tanah.


"Kata nona Gabriela beliau sekalian ke panti asuhan untuk mendonasikan pakaian nona yang lama" Dan wajah Marco tersambar lagi. Bagaimana gadis kerdil jelek itu memiliki hati mulia seperti ini.


Tunggu apa dia pernah di asuh di panti asuhan? Marco mulai menerka nerka lagi masa lalu Gabriela. Dia berulang kali menyentuh dagunya.


Namun ada yang menghangat di dalam hatinya. Tanpa sadar Marco menyentuh jantungnya. Senyum tipis terlintas.


"Baik pak, lanjutkan pekerjaanmu aku akan turun nanti" Marco bernafas lega. Pak Haris baru akan keluar. Namun Marco memanggil lagi. "Dia di kawal kan?"


"Benar tuan, seperti instruksi anda, nona tidak tau bahwa beliau di awasi dari jarak jauh".


"Baguslah" Gerakan tangan Marco menandakan pak Haris sudah bisa keluar. Pak Haris menutup pintu dengan hati hati. Saat menuruni tangga dia menoleh lagi ke pintu kamar Marco.


Ekspresinya tidak bisa dibaca. Mungkin dia satu pemikiran dengan Gerald.


Selepas makan siang, Marco berjalan menuju area Gym satu lantai dengan kamarnya. Disana sudah ada juga pria bertato yang juga melakukan hal yang sama. Pria dengan paras menyeramkan itu menundukkan kepala sejenak.


"Seperti yang anda harapkan tuan" Jawaban seperti biasa yang selalu di dengarkan oleh Marco. Mereka sama sama melakukan olahraga sore. Pria matang yang bertato dengan otot otot kekar itu mulai mengangkat beban 10 kilo, naik ke 20. Selain Gerald, dialah orang yang berhak masuk ke area Gym milik Marco.


Setelah merasa cukup Marco meninggalkan ruangan Gym bersamaan dengan pergantian sore malam. Handuk kecil yang menempel di lehernya sudah melayang ke dalam keranjang kain kotor tadi. Dia melihat pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup. Artinya Gabriela sudah pulang.


Marco melirik ke dalam dan melihat gadis itu sedang duduk di sofa kamar sambil menggenggam uang cash.


Apa yang dia lakukan?


Marco mengikuti arah tatapan mata Gabriela. Langit langit, hah! kau duduk dengan tatapan kosong melihat langit langit. Pasti kau sedang membayangkan sesuatu ya. Kalau di kerjain enak kayaknya. Marco berjalan dan lagi lagi Gabriela tidak menyadari.


Tik! Lampu padam. Gabriela merayap ke arah stop kontak. Dia menghidupkan lampu. Baru saja berbalik lampu sudah padam lagi. Gabriela menekan stop kontak lagi. Kali ini dia kembali ke sofa tempat duduknya. Dan tik! lampu padam lagi.


Gabriela menyadari kalau padamnya lampu ini bukan lagi hal umum.


Gadis itu meraba-raba jalan menuju keluar. Setelah pintu terbuka dia terkejut melihat sekeliling. Lampu di luar menyala dengan terang lantas kenapa di kamar mati hidup mati hidup?


Pikirannya langsung dihantui dengan prasangka-prasangka yang buruk. Wajar kan setiap insan manusia jika mengalami hal seperti ini pasti pikirannya langsung horor.

__ADS_1


"Kenapa Nona di luar?" Gabriela tercinta kaget mendengar suara dari pelayan dari belakang. "Ahh tidak apa apa kok"


"Baik Nona silakan nona ganti pakaian. Makan malam sudah tersedia. Saya permisi nona" pelayan itu meninggalkan Gabriela.


Dengan perasaan takut Gadis itu meraih handle pintu. Cekrek! pintu terbuka. Lagi lagi Gabriela hanya bisa menelan saliva saat mendapati ruangan sudah terang.


Saat sedang sibuk dengan pikirannya Marco yang entah dari mana masuk. "Hei!!" Gabriela tersentak kaget. Dia membalikkan tubuhnya dan mendapati Marco berdiri tidak jauh dari pintu. "Apa yang kau lakukan?" fokus Marco teralihkan melihat dan dandanan Gabriela.


"Hei! kau habis dari mana ha?" Dia meraih dagu Gabriela sambil mengamati setiap inci wajah gadis itu. "Kenapa kau menggunakan dandanan seperti ini! katakan kau dari mana!" Dia melepaskan dagu Gabriela dengan kasar.


"Tuan!! anda sudah pulang?"


"Jawab saja pertanyaanku kau dari mana!!"


Kau bahkan tidak pernah memakai bedak di depanku kan! itu lagi apa itu warna di matamu, pipimu dan di bibirmu juga!


"Jawab!"


"Aku habis dari panti asuhan tuan" Pake baju mu kenapa sih! kenapa kau buka baju dan hanya memakai celana pendek. Mataku ternodai tuan! Mana keringatmu bercucuran lagi. Habis mencangkul ya?


"Panti asuhan? ke panti asuhan kau harus full make up seperti ini!" Marco lagi lagi meraih dagu Gabriela. Lupa sudah dia tentang misinya membuat Gabriela takut.


Prang! Remote melayang ke lantai. Pecah menjadi serpihan.


Kenapa kau hobby sekali memecahkan barang. Apa tidak sayang harus beli baru lagi.


tidak lah kau kan orang kaya. Bukan miskin seperti ku.


Bukan itu yang kau pikirkan sekarang Gabriela! pikirkan bagaimana caramu melepaskan diri dari cengkraman tangannya laki laki gila ini. Kalau kau di cekik lalu mati kek mana?


Tapi tenagaku kalah sialan! Dia kuat sekali menahan kerah bajuku!


Makanya lawan dengan benar. Injak kakinya! injak kakinya sekarang. Ah persetan! Gabriela sudah ingin menginjak kaki Marco tapi niatnya urung.


Dasar kau nyali yang tidak berguna. Kau juga pikiran kurang ajar! berani sekali kau berpikir menginjak kaki Tuan Marco. Kau mau mati!


Gabriela memaki dirinya sendiri didalam hati.


"Tuan! lepaskan saya dulu" Gabriela terbatuk batuk. Dia buru buru menghirup oksigen masuk kedalam hidungnya saat cengkraman Marco lepas. "Tuan saya.... "


"Tutup mulutmu! Bersihkan ini semua!" Marco menunjuk jijik Wajah Gabriela. "Dua menit!" Gabriela buru buru masuk ke kamar mandi. Dan mencuci wajahnya.

__ADS_1


Aku mau menutup pintu, tapi aku takut. Gadis itu keluar setelah memastikan wajahnya bersih dari make up. Dia kembali lagi ke kamar. Marco menjentikkan jari menyuruhnya mendekat.


Bersambung....


__ADS_2