Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Diusir dari rumah


__ADS_3

Marco duduk dengan tenang menunggu perawat membantu Gabriela melepaskan tancapan infus di pergelangan tangan.


Setelah 2 hari di rumah sakit, dokter sudah mengizinkan Gabriela pulang. Sebenarnya bekas merah dan membiru itu masih terlihat di sekujur tubuhnya namun biar bagaimanapun itu akan menghilang perlahan. Setidaknya nyeri hebat itu mulai berkurang. Itu akibat dokter memberikan suntikan obat.


"Berapa biaya yang harus saya bayarkan bu?" tanya Gabriela kepada perawat senior yang membantunya. Sejujurnya dia degdegan menanyakan ini. Ruangan tempat dia menginap saja VVIP belum lagi infus,obat sama biaya kontrol dokter pasti itu semua bukan biaya sedikit. Tapi mau gimana lagi.


"Tidak ada nona" Perawat itu tersenyum kemudian mulai merapikan peralatan medis.


"Tidak ada? Tidak ada bagaimana bu?" Alis dan bola mata gabriela bertautan bibirnya kelu. Dia tau pasti biaya rumah sakitnya sudah di bayarkan oleh Marco. Berhutang lagi kan pikirnya.


"Nona nanti bisa tanyakan langsung dengan tuan Marco jika begitu penasaran. Saya permisi nona" Perawat itu mengakhiri percakapan setelah melihat Marco dan pengawal masuk.


"Bawa dia pulang ke rumah" Ucap Marco dingin. Dia berjalan dengan ponsel menempel di telinganya. Di ikuti oleh dua orang anak buahnya yang menyeramkan, mereka lebih dulu meninggalkan gedung rumah sakit.


"Silahkan masuk nona" Ucap satu pengawal yang ditugaskan untuk memastikan Gabriela pulang kerumah Marco. Saat pintu mobil terbuka,Gadis itu patuh dan menunduk sopan. Namun terlihat dari wajahnya seperti tidak suka.


"Maaf bolehkah saya mampir ke rumah ibu saya terlebih dahulu?" Ucap Gabriela dengan penuh permohonan. Dua pengawal itu saling menatap.


"apakah anda tidak takut mati" Setidaknya ucapan ini sudah mewakili jika mereka tidak setuju.


"Saya hanya ingin menemui ibu saya dan mengambil beberapa pakaian untuk bekerja" Ucap Gabriela. Dia tau bahwa setelah ini pasti pekerjaannya akan semakin banyak untuk mengganti biaya rumah sakitnya.


Pengawal itu tidak terdengar bersuara lagi. namun dia memutar arah menuju rumah Gabriela.


Setibanya di sana Gabriela turun. Dia membenarkan Hoodie yang dia pakai menutupi bekas pukulan di lengannya agar tidak terlihat. Saat kakinya sudah mulai melangkah dua pengawal itu juga berjaga di samping mobil mengamati Gabriela. Tetangga yang melihat itupun banyak bergosip. Tubuh hitam kekar, rambut gondrong dan juga berpakaian hitam. Tampilan seperti ini memang terlihat lebih dari bandit.


"Anda hanya punya waktu 2 menit nona!" Ancaman sarkas dengan suara malas. gadis itu berbalik kemudian mengangguk. Dia mengetuk pintu dan mendapati ibunya berdiri dengan tatapan membunuh. "Berani sekali kau kembali kesini" Suara tajam ibu membuat hati Gabriela terkoyak koyak.


Dalam hal ini sang ibu terlihat tidak merasa bersalah. Dia malah mengusir Gabriela setelah gadis itu masuk satu langkah ke dalam rumah. Sheila terlihat melipat tangan di dada dengan gaya menindas. Ibunya Mahalini sudah pergi beberapa hari yang lalu. Sekarang dia tinggal  disini. Dikamar tempat Gabriela dulunya tidur.


"Apa ibu sudah makan obat ibu?" Gabriela mendekati ibu namun melihat tatapannya yang berapi api itu dia mundur lagi. "Ibu".

__ADS_1


"Aku bukan ibumu" Wanita paruh baya itu terlihat bernafas naik turun dia berbalik. "Kau anak yang tidak di untung. Dan kau masih berani datang kesini setelah membuat tantemu harus pergi. Dia memberimu kehidupan yang layak. Memberimu bantuan yang tidak sedikit. Lalu kau mengusirnya dengan kelakuan mu yang tidak terhormat. APA KAU SUDAH KEHABISAN AKAL SEHAT!" Brak!!! wanita paruh baya itu menggebrak meja dengan keras membuat gadis itu tersentak kaget. "Jangan berharap aku mengampuni mu sebelum tantemu kembali kesini". Ucapnya dengan nada penuh emosi.


"Ibu. Aku yang dikhianati" Gabriela menangis ingin meraih tangan ibu. Namun wanita itu sudah berbalik.


"Aku akan istirahat sekarang. Jangan disini saat aku bangun". Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Gabriela.


Sambil menangis dia mulai mengemasi  pakaiannya kedalam tas kain yang lusuh. Dia mencari cari bajunya yang masih baru namun ternyata semua sudah diambil oleh Sheila sepupunya. Dia tidak ambil pusing.


Dengan menenteng tas lusuh dia keluar dari kamar yang dia tempati dari kecil terusir begitu saja. Saat melewati Sheila sepupunya dia bergeming. "Seharusnya kau juga membawa ibu mu yang gila itu keluar dari sini" Ucap Sheila yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Gabriela namun hanya itu saja yang bisa dia lakukan. "Jangan macam macam. ibuku tidak gila".


Gabriela hanya diam membisu setelah masuk kedalam mobil yang di kawal oleh dua pengawal yang menyeramkan  itu. Sementara itu sheila menatapnya dengan senyum licik dari jendela.


Sana menjauh. dasar tidak bergun hanya bikin susah.


Sheila tersenyum lebar saat dia mendapat notifikasi transferan uang dari Mahalini yang entah udah dimana posisinya sekarang.


Sementara itu mobil sudah memasuki kawasan perumahan. Gadis itu menarik nafas dengan dalam. Dia harus mempersiapkan diri dan tenaga lagi untuk berjibaku di rumah besar nan megah ini. Namun Gabriela sendiri hanya penuh dengan balutan berbagai jenis penindasan kehidupan yang dia terima.


Dia menyemangati dirinya sendiri.


Pengawal membantu Gabriela membawa tas kain yang berisi pakaiannya. Setelah menyimpan tasnya kedalam kamarnya yang berada di ujung sana dia kembali ke rumah utama.Tempat yang pertama sekali dia datangi adalah ruang kerja Marco. Sesuai instruksi dari pak Haris agar Gabriela minta maaf.


Dia tarik nafas dulu sebelum tangannya menyentuh pintu.


Ketukan di pintu membuat fokus marco yang sedang mengamati peta teralihkan. Dia menoleh dan melihat Gabriela masuk. "Izin tuan, maaf menggangu." Gadis itu menunduk setelah bersuara. Tatapan dingin penuh misteri itu selalu saja membuat jiwanya gemetar saat masuk kesini. Apalagi saat berdua.


"Kau masih punya nyali rupanya berani masuk kesini". Marco menatap gadis itu. "Apa kau tau jika utang utangmu bertambah?" Senyum tipis yang terlihat menyeramkan itu muncul lagi. "Lari sekali lagi kau tidak dapat pengampunan! kemana pun kau lari jangan pikir aku tidak dapat menemukan mu"


"Maafkan saya tuan saya salah, saya akan bekerja dengan baik". Marco melihat jelas gadis itu sedang menahan diri untuk  tidak menangis. "Saya akan patuh dan tidak lari lagi. Aku mohon" Gadis itu akhirnya berlutut memohon persis manusia yang penuh dosa dan butuh pengampunan. Sudah tidak punya harga diri lagi. Karena inilah jalan satu satunya. Bekerja disini walau tidak di gaji tapi setidaknya masih bisa makan dan tidur ditempat yang layak.


Toh dia juga sudah di usir ibunya. Dan juga laki laki berbahaya ini tidak mau melepaskannya akibat Mahalini yang menumbalkan nya.

__ADS_1


"Bekerjalah dengan benar jika kau masih ingin bernafas dan makan dengan baik" Ucap marco saat melewati gadis itu yang bersimpuh. Dia berjalan ke sofa dan menelentangkan tubuhnya.


"Kemari" Pria itu memegang kepalanya dengan mata terpejam. Gabriela bangun kemudian mulai memijat kepala laki laki itu.


"Apapun yang aku katakan jangan coba coba membantah atau aku akan mematahkan tulang tulang mu" Marco tergelak merasakan jemari gadis itu bergetar,dan lucunya dia terhibur. "Mengubur mu hidup hidup jika perlu" Gadis itu semakin bergetar dan Marco semakin menikmatinya.


"Siapkan air mandi" Marco bangun dari sofa membuat gadis yang setengah sadar itu gelagapan.


Dia buru buru keluar mendahului Marco. Segera ke kamar mandi dan mengisi bath dengan air panas. Tidak lupa aroma terapi.


Dia kemudian berjalan ke walk in closet untuk mengambil pakaian. Namun lagi lagi dia bingung memilih yang mana.


Akhirnya dia hanya berdiri sambil menunggu Marco keluar dari dalam kamar mandi. Tidak menunggu lama laki laki itu keluar dengan handuk di pinggangnya. Tidak tahu jika tubuhnya yang setengah telanjang itu membuat gadis di depannya ini merinding.


"Maaf tuan anda mau memakai pakaian yang mana?" Gabriela membuka semua lemari. Laki laki itu menunjuk pakaian degan ekor matanya. Dan gabriela pun memberikannya setelah itu dia keluar membiarkan Marco mengganti pakaian. Saat Marco sudah keluar gadis itu membuka pintu mempersilahkan laki laki itu keluar untuk makan malam.


Dan dimeja makan terlihat salah seorang laki yang tampan sedang duduk menunggu.


"Anggap rumah sendiri" Ucap Marco kepada laki laki itu sambil menundukkan bokongnya. Marco menuang minuman ke gelas pria itu "Apa kabar Matteo? kenapa dia tidak ikut".


"Tuan Matteo sedang sibuk mengurus istrinya yang lagi hamil" Ucap Gio.


Ya itu adalah Gio. Asisten yang menjadi tangan kanan Matteo sekarang. Kemampuan laki laki muda ini tidak lagi dipertimbangkan, namun sudah di perhitungkan. Marco sendiri tertarik melihat kejeniusan Gio. Beberapa kali pria muda ini yang menjadi utusan Matteo ketika ada masalah dan semua bisa teratasi.


Marco menegakkan tubuhnya saat melihat Gabriela hendak membuka piring dan mengisinya. Marco sendiri masih terdengar berbincang dengan Gio. Namun fokus Marco teralihkan ketika Gabriela juga membukakan piring untuk Gio dan melakukan hal yang sama mengisi piring itu.


Entah karena Marco tidak suka. Dia mengepalkan tangan di bawah meja sambil menyorot gadis itu dengan tatapan tidak suka.


Setelah selesai makan dan berbincang. "Sepertinya aku harus bicara serius dengan Matteo, Katakan padanya aku akan menemuinya" Tepukan di bahu Gio sekaligus mengakhiri percakapan mereka. Dan gio pun meninggalkan kediaman Marco. Urusan mereka sepertinya selesai.


Marco menarik lengan baju Gabriela dengan kasar. Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Marco. "Tuan ada apa? kenapa tuan menarik saya" Gadis itu meringis saat Marco melemparnya ke atas tempat tidur. "Aw aw".

__ADS_1


Bersambung....


Kira kira gara gara apa ya Gabriela di seret ?


__ADS_2