Mafia Dan Gadis Lusuh

Mafia Dan Gadis Lusuh
Kebodohanmu Menghiburku, Gadis bodoh


__ADS_3

Tidak perduli proyek milyaran itu berlangsung dengan baik atau bukan. Marco dengan gaya sok kerennya memasuki kawasan perumahan. Siulan halus keluar dari mulutnya. Aktivitas di rumah besar itu masih berlangsung. Para pelayan terlihat sibuk di sekitar rumah. Marco melewati mereka dengan sikap dinginnya.


Ya, semua pelayan yang bekerja di rumah megah itu sudah cukup tau seperti apa tuannya. Saat lewat saja mereka hanya menunduk. Tidak suka banyak bicara.


"Dimana Gabriela?" Pak Haris sama terkejutnya dengan pelayan lain. Kok bisa anda pulang secepat ini tuan? bukan itu yang bikin terkejut tapi Tuan Marco menyebut nama Gabriela.


Namun dia tidak berani bertanya. "Ada di kamarnya tuan. Mau saya panggilkan?"


Pak Haris pergi begitu saja. Tanpa perlu mendengar jawaban Marco dia tau apa yang akan dia lakukan.


Marco menaiki tangga dengan senyum mengembang bagai bunga mawar di taman. Jangan tanya bagaimana pesona sang dewa ketika tersenyum. Dingin saja dia tetap tampan apalagi wajahnya sedang bersahabat begitu.


Marco tergelak saat mendengar ketukan di pintu. "Tu... tuan saya masuk ya" tidak ada suara. Ahh mati kau. Nanti terlambat dikit toh kau hukum aku. Gabriela masuk begitu saja.


Kok tumben ya tuan Marco pulang cepat sekali? biasanya dia akan pulang saat aku udah ngantuk ngantuk nya. Dia mulai memilih baju Marco dan meletakkannya di atas sofa.


Wajahnya pucat pasi. Terkejut saat Marco sudah masuk ke dalam walk in closet. Hanya ada handuk sepinggang yang melilit.


Kenapa kau tidak pakai jubah seperti kemarin gila! Aku kan jadi malu.


Gadis itu menunduk. Bersiap keluar namun tangannya di tahan. Wajahnya semakin pucat pasi apalagi saat jemari Marco menyentuh pipinya. Tangannya dingin sedingin sikapnya yang kayak es kutub itu. Air sedikit merembes dari kepala mengalir dada bidangnya yang sempurna. Gabriela memalingkan wajah.


"Keluarlah" Marco tergelak saat melihat tingkah gelagapan Gabriela keluar. Terlihat Gadis itu memegang jantungnya sambil menghembuskan nafas dan itu membuat Marco semakin ingin bermain-main lebih dengan gadis itu.


"Pak Haris bilang kamu tadi keluar" rambut sudah tersisir rapi dan tampilan sudah kasual Marco mendudukkan diri di sofa tepat di samping Gabriela. Gadis itu berjongkok memberikan sendal rumah di bawah kakinya. Dian Marco menepuk lagi sofa di sampingnya agar Gabriella duduk.


"Iya tuan...saya pikir ini hari yang tepat untuk membeli hp saya" Gadis itu masih sama seperti kemarin antara gugup dan ketakutan ketika berhadapan dengan sang dewa. Dewa pencabut nyawa haha.


"Oh aku tidak perduli soal itu" Marco yang ketus membuat Gabriela kesal. Kau tadi yang bertanya gila!


"Masukkan nomormu" mengusap layar ponsel mahalnya. kemudian mengarahkan layar ponsel itu tepat di wajah Gabriela. gadis itu sebel lagi. "Nanti saya akan masukkan tuan, ponsel saya di kamar".


"Kau mulai tertarik untuk melawanku?" Tatapan sudah mulai berubah. Sinyal waspada otomatis berbunyi.

__ADS_1


"Tunggu sebentar tuan saya tidak hapal nomor hp saya" Gadis itu berlari ke kamarnya mengambil Hp. Dasar gila! Wajahmu kayak sifatmu tidak layak jadi manusia. Gabriela memaki sambil tergesa gesa menuju kamarnya. Dia melewati teman temannya yang sedang sibuk.


Aku lebih baik bekerja seperti mereka ketimbang jadi pelayan mu huh. Katanya sebuah kehormatan bisa melayani mu. Apanya yang terhormat. Tersiksa lahir batin tau.


Gadis itu menetralkan dulu deru nafasnya di depan pintu. Mengetuk lalu masuk. Dia melihat sang dewa seloyoran di sofa. Terbangun saat melihat Gabriela masuk. Gadis itu mendekat. Dia menempel jarinya pada sensor Hp.


"Memangnya sebesar apa rahasia mu sampai kau mengunci ponselmu?" Tatapan penuh curiga. Tangannya mengambil ponsel dari tangan Gabriela. "Matikan sidik jarinya. Kau berencana melarikan diri lagi sampai kau takut begitu"


"Tidak begitu tuan. Tadi kakak penjual hp ini mengajarkan saya tentang......


"Jangan banyak bicara. Aku tidak suka manusia yang banyak bicara" Langsung menyela.


Aduh gimana ya aku lupa caranya. Menu mana kemarin di tekan ya. Dan benar saja Marco mulai menikmati pemandangan di depannya. Gadis itu membolak balikkan ikon dalam ponselnya.


Aku lupa! Aku lupa! bagaimana ini.


"Kenapa lama!" Suara dentuman keras membuat orang terkejut.


"Iya tuan. tunggu sebentar" Wajah polos yang kebingungan itu menarik perhatian Marco dia mulai tergelak. "Kenapa lama!".


"Maaf tuan sepertinya saya lupa caranya mematikannya" Pasrah kemampuan teknologinya mengenai ponsel memang agak kurang. Tidak pernah menyentuh barang semahal ini. Ponsel yang dia miliki hanya untuk sekedar menghubungi Mahalini ataupun ibunya. Tidak lebih dari itu. Jadi wajar saja.


ckckck Marco berdecak menahan tawa. Dia meraih ponsel dari tangan Gabriela. "Ponsel jenis apa ini? seleramu buruk sekali!" Jari Gabriela sudah menempel pada sensor Hp. Saat layar terbuka lagi lagi Marco ingin tertawa.


Bisa bisanya kau berfoto seperti patung hidup. hahaha


Layar Hp Gabriela adalah fotonya ketika uji coba camera di toko kemarin. SPG sendiri yang memasang itu jadi wallpaper. "Begini cara berfoto yang benar" Marco mengambil style Selfi dengan gaya tren terbaru. Senyum melekung sedikit dengan tatapan penuh kharisma.


"Ayo lakukan" Marco merapatkan tubuhnya sambil menarik Gabriela ke pangkuannya. Tentu saja gadis itu menolak. "Melakukan apa tuan?"


"Selfie!! memangnya apa lagi! Aku tidak mau melihat wallpaper patung!" suara keras yang memang menjadi kepuasan tersendiri baginya saat menjahili Gabriela.


Gabriela merapikan rambut gelombangnya yang berkeliaran kemana mana. Wajahnya masih kaku. "Senyum!" Marco tergelak sambil menekan nekan pipi Gabriela. Gadis itu menarik senyum tipisnya.

__ADS_1


Saat foto sudah tertangkap. Sial! kenapa dia jadi imut dan manis begitu. Foto sudah tertangkap sempurna. Marco jadi bingung ingin mengambil gambar lain atau tidak. Tapi masalahnya kok jadi aku yang kelihatan kaku.


Baiklah karena ini sudah manis cukup. Padahal aku masih mengerjai mu. Marco seenaknya mengubah layar depan ponsel Gabriela dengan foto dirinya dan gadis itu.


"Turun! kau mau berapa lama duduk di pangkuanku? sedang cari cari kesempatan? Dasar gadis... Gadis apa ya ?


"Gadis apa tuan?" Marco tergelak lagi ternyata Gabriela juga menunggu terusan ucapannya. "Gadis jelek yang bodoh dan kampungan" Penghinaan yang tidak berperikemanusiaan sama sekali. Wajah Gabriela kesal kesal imut. Dan Marco menyukai itu. Dan itulah alasannya membuat Gabriela selalu jengkel.


Gabriela merenggut saat Marco berkali kali menyentil keningnya. "Kau bodoh sekali! coba ulang seperti yang aku katakan. Lemaskan jarimu sedikit"


Kau suruh aku lemaskan jariku sementara kau kasar sekali menyentuh layar hp ku. Kalau pecah bagaimana.


Bibirnya maju beberapa senti. Sepertinya dia lelah di kerjain terus. Hingga tadinya dia yang fokus malah grogi ketakutan.


Hahahaha jarinya bahkan sudah gemetar tapi dia masih tidak mau berhenti di ajari. Marco semakin terhibur sendiri.


"Terimakasih tuan saya akan terus belajar agar cepat pintar" Udah dong. Jangan lanjutkan lagi. Lebih baik aku belajar sendiri. Aku grogi kalau kau selalu membentak ku.


"Siapa yang mengizinkanmu bebas memainkan ponselmu?" Lagi lagi Jawaban Marco semakin membuat Gabriela kesal.


"Lalu untuk apa tuan menyuruh saya beli Hp kalau tidak bisa di pakai!" Gabriela buru buru menutup mulutnya. Suaranya naik beberapa oktaf. Dia bahkan terkejut karena melihat Marco membulatkan mata. "Maaf tuan aku tidak membentak anda" Habislah aku.


"Kau sudah berani membentak ku? kau tidak suka belajar denganku?" Tangannya sudah mencengkeram dagu Gabriela. "Hati hati dengan mulut mu. Aku punya cara merobek tanpa menyentuh. paham!"


"Senang tuan senang. Sumpah senang aku salah membentak mu aku salah. Maafkan aku"


Marco terkesiap saat bola mata jernih milik gadis itu sudah mulai dikepung air mata. Bibirnya bergetar ketakutan. Jemarinya yang menyentuh tangan Marco terasa dingin berkeringat. "Maaf tuan.... Aku tidak akan main Hp tanpa seizin anda"


"Nah gitu dong" Tanpa sadar Marco mengacak pucuk kepala Gabriela. "Hapus air matamu, seperti anak kecil saja" Gadis itu buru buru menyeka air matanya.


"Sana turun ambilkan aku air" Gadis itu menurut. Sambil menyeka ulang matanya. "Tunggu sebentar tuan".


Marco menyandarkan tubuhnya. Mengusap wajah frustasi. Kenapa menyenangkan melihat dia ketakutan? Tapi kasihan saat dia bergetar. Ahh itu lagi dia imut dan manis saat kesal. Apa lagi bibirnya komat Kamit. pasti dia memaki aku habis habisan tadi. Kebodohannya bahkan Menghiburku haha. Dasar gadis bodoh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2